Audrey (12): A Sparkling Star

Anastasia Yuliantari

 

Pagi ini aku datang ke kantor dengan mengenakan kacamata hitam. Bukan karena sinar matahari musim kemarau begitu terik bahkan di awal hari, namun karena mataku sembab oleh airmata yang mengucur deras menjelang tengah malam tadi.

Tidak, aku tak akan mengatakan bila dirimu yang membuat mataku meleleh untuk kesekian kalinya, semua salahku. Definitely my own fault. Benar, aku seorang perempuan dewasa yang tahu apa yang kulakukan, dan mau melakukannya, jadi rasanya aneh bila aku menimpakan kesalahan atas penderitaanku pada orang lain, terutama dirimu. Kita memulai kisah ini bersama-sama, bila akhirnya aku tertatih mengikuti langkahmu, pasti bukan tujuanmu untuk melangkah lebih cepat dariku, kan?

Sapaan pertama saat kutiba di ruang kantor berasal dari Sheila. Dia mengangkat alis sempurnanya hingga mengurangi bobot kecantikannya sebelum berkata datar, “Tumben kamu tampil penuh gaya pagi ini?” Tunjuknya pada kacamata hitamku. “Apa kamu akhirnya menyadari kebenaran kata-kataku?”

Pikiranku masih mengambang antara dua dunia sehingga sulit mencerna makna perkataannya. Untung saja, teman baikku itu sudi menjelaskan sebelum aku membuka kedok dan mengatakan padanya bahwa tak sepatah pun kata-katanya yang aku pahami. “Yah, kamu akhirnya tahu bila sunglasses itu perlu agar pangkal hidungmu tak biasa berkerut dan meninggalkan garis serta kerut di sana bahkan sebelum umurmu menginjak tiga puluh.”

Aku menghela napas panjang. Lega rasanya mengetahui bahwa dia tak bicara tentangmu. Sheila secara samar-samar tahu siapa dirimu, dan dia paling suka merecokiku agar segera melepasmu. Otakku sangat mau dan setuju dengan perkataannya, namun hatiku sungguh setia menyukaimu, sehingga apa pun alasan rasional yang kumiliki akhirnya tumbang satu per satu.

Namun kursus lanjutan tentang kegunaan sunglasses berakhir begitu kubuka benda itu dan menampakkan mataku yang kurias sedemikian rupa agar menyembunyikan sembabnya.

O-em-ji!!” Pekiknya.

Aku pura-pura tak tahu dan menyelipkan gambar bunga magnolia kirimanmu yang sempat kucetak pada lembaran seukuran kertas post it. Saat seruan itu berulang tiga kali, terpaksa kuangkat kepala dan memandang kalem padanya.

“Kenapa?’

Dia duduk di hadapanku dengan wajah tegang dan mata melebar, “Kenapa? Itu seharusnya menjadi pertanyaanku, bukan perkataanmu. Kenapa, Drey?”

Aku mengangkat bahu. Bercerita tentangmu di awal jam kerja bukanlah gayaku. Apalagi hari ini aku mengajar nonstop sampai menjelang makan siang.

“Kau tak boleh menyimpan kisah ini sendiri,” Sheila beranjak karena seorang mahasiswi mendatangi mejanya dengan segepok kertas mirip skripsi. “Kutunggu nanti saat makan siang.” Putusnya sambil melenggang pergi.

Aku menghela napas, namun hanya untuk sepersekian menit karena sesosok tubuh yang memasuki ruangan membuatku melongo sejenak sebelum menyerukan namanya dengan girang, “Lucinda!”

Perempuan terkeren di kampusku itu semakin keren setelah pergi untuk mengikuti seminar entah apa di kawasan Pasifik. Ayunan tubuh semampainya tak sampai lima detik telah sampai di depan mejaku dan detik berikutnya hidungku diserbu keharuman parfum bunga lily of the valley kegemarannya.

Pelukan ringannya menyejukkan, bahkan untuk hatiku yang tengah gelisah terombang-ambing rasa karenamu. Secepat datangnya, rangkuman tangan-tangan rampingnya ke tubuhku berakhir detik berikutnya.

“Kamu sehat-sehat saja, kan Drey?” Tanyanya sambil duduk dengan keanggunan Audrey Hepburn yang dikagumi Mamiku sehingga beliau memberikan nama itu bagi puteri pertamanya, diriku, dengan harapan bisa mencuplik sedikit saja keeleganannya. Sayang seribu sayang, Lucindalah yang layak mendapatkan apresiasinya.

“Seperti yang kau lihat.” Ujarku dengan tawa miring antara mengiyakan dan menyanggahnya.

“Matamu agak, hmm sembab, mungkin tanda-tanda insomnia atau inkubasi virus flu?” Kornea yang menggunakan lensa kontak biru terang itu membelalak tulus penuh keprihatinan.

Sebelum sempat kujawab kata-katanya, beberapa teman, termasuk Sheila menyapanya dengan kegirangan yang sama. Peluk cium sedetik, menanyakan oleh-oleh detik berikutnya, dan mereka harus kecewa karena Lucinda tak pernah membawa barang-barang mewah sebagai hadiah, kecuali untuk dirinya sendiri. Justru ditawarkannya jurnal ilmiah dan traktiran makan siang bagi seluruh ruangan.

“Masa tak sepotong pun souvenir kamu bawa, sih?” Sheila menggoyangkan lengan temannya dengan wajah merajuk.

“Aku tak mau sampai over baggage, mahal harganya.” Tolaknya dengan tawa yang menyembulkan gigi putih serata model iklan pasta gigi.

Setelah kegaduhan berakhir, perempuan cantik itu kembali mengarahkan pandangan kepadaku. Kali ini tangannya mempermainkan sebuah pulpen di dalam kotak berbentuk koala kirimanmu saat kau sempat berlibur ke negeri kangguru.

“Semua baik-baik saja di sini, kan?” Tanyanya dengan mata mengerling curiga.

Aku mengangguk-angguk tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Lalu kugiring pembicaraan ke arah yang lebih aman dan nyaman dengan menanyakan kegiatan seminarnya di kawasan Pasifik.

Namun bukannya bercerita tentang hari-hari menggairahkan bertemu para intelektual dari berbagai belahan dunia, dia malah merogoh-rogoh tasnya dan mengambil beberapa lembar kertas mirip brosur dan menjerengnya di mejaku.

“Apa ini?” Tanyaku.

Scholarship.”

“Kau?”

Kepalanya menggeleng perlahan. “Kau.”

“Aku?” Jarang aku kehilangan kata-kata menghadapi lawan bicaraku, namun kali ini Lucinda membuatku seperti burung beo milik tetangga yang hanya tahu beberapa kata saja.

“Aku tahu dirimu sedang mencalonkan atau tepatnya dicalonkan menduduki jabatan struktural di sini, tapi aku tak begitu interesan mendengarnya. Menurutku kamu lebih baik melanjutkan studi sehingga dalam beberapa tahun ke depan bisa melakukan lompatan karir di mana pun kamu mau.”

Ada saatnya kau merasa begitu puas dengan dirimu sehingga tak memerlukan apa pun sampai muncul seseorang yang lebih muda, lebih cerdas, lebih bersemangat, dan lebih penuh percaya diri, sehingga kau merasa kalah segalanya. Nah, inilah saatku. Melihat Lucinda duduk di depanku dengan setelan cream keabuan, rambut dijepit untuk menegaskan keindahan dahinya, dan berbicara tentang kuliah lanjutan membuatku mendadak merasa tua, ketinggalan berita, malas, dan minder sampai tingkat nadir. Bagaimana tidak, di usianya yang ke dua puluh delapan Lucinda telah mengantongi gelar master di bidang sejarah, khususnya sejarah regional, penulis dari beberapa buku sosial politik, konsultan beberapa lembaga, yang tentu saja tak mempunyai lahan garapan yang sama dengan kantor kami ini, dan beberapa kali menjadi pembicara dalam seminar nasional maupun regional. Kini si cantik, cerdas, nan menawan ini hadir di hadapanku setelah sekian lama menimba pengalaman bersama para pakar sejarah dan muncul menenteng leaflet atau entah apa, serta mendorongku untuk melanjutkan studi. Ah, bagaimana aku tak merasa demikian grogi? Dia ibarat a sparkling star di langit malam, sementara diriku kodok di balik tempurung yang mengira tempurung itu segalanya bagiku.

“Mengapa aku?” Tanyaku lebih untuk membela diri karena terintimidasi daripada mempertanyakan tujuannya memberikan saran itu untukku.

Dia memajukan tubuhnya, mengucapkan kata-katanya dengan penuh tekanan untuk meyakinkan dan menatap langsung ke manik mataku, “Kamu perempuan cerdas, Drey. Menyia-nyiakan waktu dengan terjebak mengurusi segala hal administrative tak akan bermanfaat untukmu. Kalau pun kamu masih ingin melakukannya, sepuluh tahun lagi masih dapat kau lakukan.”

Merasa jengah dicecar oleh hal yang sebenarnya telah kusimpan bertahun-tahun dalam anganku kubalikkan pertanyaan padanya, “Kamu sendiri?”

Senyum lesung pipinya terpampang indah di depan mataku, setelah menghela napas sejenak kembali dicondongkannya tubuh ke depan seraya berkata lirih penuh rahasia, “Drey, sebenarnya aku masih ingin menyimpan berita ini sampai detik terakhir keberangkatan, namun tak mungkin aku menyimpannya terlalu lama terhadapmu.”

Apa maksudnya?

“Aku telah diterima untuk program doktoral,” dia menyebutkan nama salah satu universitas terkenal idaman sebagian besar pembelajar ilmu sejarah. “Aku akan berangkat musim semi tahun depan.”

Aku hanya bisa terbelalak tanpa mempunyai definisi yang pas untuk menggambarkan gejolak perasaanku. Berapa ribu langkah lagi aku tertinggal dari Lucinda? Mengapa aku hanya berkutat dengan perasaanku sehingga tak lagi mempunyai visi untuk masa depanku? Bayangan kodok dalam tempurung itu kembali melintasi anganku. Dan aku hanya dapat menghela napas panjang.

Wajah bujur telur berkulit jernih itu menebarkan seulas senyum sebelum mengangkat tangan kiri untuk melihat arloji di pergelangannya. “Maaf, aku harus mulai mengajar. Jadwalnya baru kuterima kemarin dari Widi.” Katanya menyebut nama sekretaris di jurusan ini.

“Thanks, ya Lus.” Ucapku pelan.

Don’t mention it.” Tangannya melambai-lambai sejenak. “Aku berharap kau memanfaatkan kesempatan ini. Waktu terus berjalan tanpa kita menyadarinya, kan?!”

Kembali kuhela napas panjang, sekali lagi kuucapkan terima kasih padanya, lalu menatap langkahnya yang anggun bak seorang puteri berbelok ke koridor. Melalui kaca yang membatasi semua ruangan kantor kulihat para mahasiswa mengerumuninya dengan pandangan kagum. Sementara sosok anggun nan cerdas itu menjelaskan sesuatu seraya menggerak-gerakkan jarinya yang lentik, wajahnya tampak bersungguh walau seulas senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

Kupejamkan mata. Terbayang kisah-kisah kita selama beberapa saat terakhir. Kuingat haru biru kelabu hari-hari yang kujalani meski terbalut manisnya rasa dan luapan bahagia. Sejak awal aku telah tahu, kisah kita tak sama dengan banyak kisah lain sehingga menguras rasa dan membuatku kehilangan kendali. Perlahan tapi pasti tapak kaki kita hampir membawa jalanku ke arah rimba belantara yang tak kukenal.

Apakah telah tiba saatnya kuharus menengok kembali jalan yang telah kulalui? Haruskah kulepaskan segenap mimpi untuk terjaga dan kembali melangkah di atas kenyataan hidup yang tadinya kuanggap sepi?

Sayangku, bukannya aku ingin merubah apa yang telah kita sepakati, namun kisah tanpa ujung dan pangkal ini mulai menguras hasratku serta membuatku terjebak dalam mimpi tak bertepi. Jadi, salahkah aku bila ingin kembali terjaga dan mungkin, ya mungkin saja, sayangku, suatu saat aku memutuskan untuk pergi.

 

10 Comments to "Audrey (12): A Sparkling Star"

  1. Anastasia Yuliantari  12 October, 2012 at 12:47

    Mbak Nur Mberok, ogaaaaahhhh aaahhh. Pokoke wis ditip exx. Selera udah beda, hehehe.

  2. Anastasia Yuliantari  12 October, 2012 at 12:43

    Anoew, hahaha….sajake terpesona karo Lucinda. Jodohke karo Zosh-mu kae po???? Endi koq saiki ora tau metu?

  3. Anastasia Yuliantari  12 October, 2012 at 12:41

    JC, thanks, ya udah dimuat lagi. Lha sekarang waktu menulisnya agak terbatas. Ga tau, nih ngapain aja, koq malah engga bisa menulis dengan baik sekarang.

  4. Nur Mberok  12 October, 2012 at 12:41

    Wehhhhh Badak oh badak…. he is your destiny…xixixixi….. wakkkkkkkkkkkkkkkk

  5. Anastasia Yuliantari  12 October, 2012 at 12:39

    Linda, kan macam di sinetron, tuh hrs ada siksaannya, hahahaha. Masalahnya sdh terlambat utk mengarang seorang ibu tiri dan dua saudara yg pingin merebut warisan, hehehe.

  6. Anastasia Yuliantari  12 October, 2012 at 12:38

    Mbak Nur Mberok….lama juga kita tak bergossip. Piye???? Pasti ga percaya kalo badak minta temenan lagi, to???? Utk kedua kalinya, jal….hehehe.

  7. anoew  11 October, 2012 at 21:49

    Audrey, salam ya buat Lucinda (kali ini bener, bukan Liciana)..

  8. J C  11 October, 2012 at 15:37

    Asiiiikkk…serial Audrey berlanjut…

  9. Linda Cheang  11 October, 2012 at 13:55

    Audrey perempuan cerdas, ngapain sia-\siakan waktu hanya buat mikirin lelaki yang sudah pergi? Audrey, Audrey….

    Ayla, sengaja, yah, kisah Si Audrey di lebay, lebaykan? hehehe…

  10. Nur Mberok  11 October, 2012 at 12:06

    Ah sayangku… lama aku tak membaca kisahmu…. dan melihat gambar-gambarmu….xixixixi…… Ciluk ba……………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.