Sekolah, Deritamu Tiada Akhir

Juwandi Ahmad

 

The principal goal of education is to create men and women

who are capable of doing new things, not simply repeating

what other generations have done (Jean Piaget)

 

BILA anda membuka kitab suci keagamaan, maka anda pasti akan menangkap kesan dan bahkan fakta bahwa Tuhan dan para Nabi yang diutus-Nya juga pernah gagal merubah manusia menjadi baik, cerdas, dan tunduk kepada-Nya. Sudah cukup lama saya menangkap kesan dan bahkan fakta bahwa tugas ketuhanan dan kenabian yang Tuhan dan para Nabipun pernah gagal mengembannya itu kemudian dibebankan kepada apa yang kita sebut sebagai SEKOLAH: meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan, akhlak mulia, dan budi pekerti yang luhur. Selain tentu saja mengembangkan pengetahuan dan menciptakan murid-murid yang cerdas, kreatif, inovatif. Ini sungguh ambisi dan impian yang gila dan sudah barang tentu tak masuk akal. Dan celakanya, yang harus bertanggungjawab mewujudkan semua itu adalah sekolah. Lebih celaka lagi, kita masih percaya betul akan hal itu.

 

Dimuarakan Pada Sekolah

Akibatnya, apapun masalahnya, dimanapun terjadi, ujung-ujungnya hendak dimuarakan pada sekolah, pada guru. Ada tawuran pelajar, kekerasan di sekolah, seks bebas, dan kasus pornografi: sekolah dan guru yang menjadi sorotan. Prestasi belajar memalukan, tidak lulus ujian: sekolah dan guru disalahkan. Ada siswa yang pintar tapi nakal, bunuh diri, bunuh orang: sekolah dan guru kena imbasnya. Seperti biasa, para pengamat dan praktisi pendidikan mengulang-ulang analisa kadaluwarsa.

Bila menyangkut etika-moral, mereka akan bilang ini karena sistem pendidikan yang hanya menekankan kecerdasan intelektual (otak-akal) dan mengesampingkan kecerdasan emosional (hati-emosi), termasuk kegagalan pendidikan agama (spiritual). Kalau menyangkut prestasi belajar yang buruk, mereka bilang ini karena kompetensi guru yang rendah, fasilitas sekolah yang tidak memadai. Dan beragam analisis yang berujung pada keyakinan tentang muramnya wajah pendidikan kita, yang katanya gagal menanamkan iman dan takwa kepada Tuhan, akhlak mulia, budi pekerti yang luhur dan menciptakan murid-murid yang cerdas, kreatif, inovatif.

 

Silahkan Didik Sendiri Anak Anda

Dengan tugas-tanggungjawab sebanyak dan seberat itu, dan masih menjadi sasaran kritik tak masuk akal, maka seandainya saya seorang guru, saya akan membuat maklumat guru setanah air untuk berhenti mengajar dan mengembalikan murid-murid kepada orang tuanya: “Silahkan didik sendiri anak anda agar menjadi anak yang baik, beriman, bertaqwa, dan cerdas.” Atau saya akan menatap tajam Menteri Pendidikan Nasional, dan berkata: “Silahkan praktekkan sendiri kurikulum yang anda buat.” Ini akan tampak seolah-olah tidak mencerminkan sosok guru yang teladan, pahlawan dan heroik. Tapi tentu saja, tidak teladan, tidak pahlawan dan dan tidak heroik adalah lebih baik daripada mengemban tugas dan tanggungjawab tak masuk akal. Ini bukan lagi masalah guru dan juga murid, tapi ambisi pendidikan dari orang-orang yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.

 

Korban Dewa Mabuk

Oleh karena tanggungjawab pembentukan iman, taqwa, budi pekerti, pengetahuan dan kecerdasan sudah kadung dilekatkan pada sekolah, pada guru, maka setiap ada masalah yang berkaitan dengan siswa dan dianggap krusial, muncul beragam analisis yang ujung-ujungnya adalah ide perombakan kurikulum yang tentu saja akan menambah beban sekolah, guru dan murid. Misalnya baru-baru ini ada kasus tawuran pelajar, pengamat pendidikan dan bahkan Mendikbud mulai berpikir pentingnya pendidikan karakter di sekolah. Ada kasus kekerasan antar etnis, antar keyakinan, muncul gagasan pendidikan multikultural. Seks bebas kian marak, muncul keinginan mengajarkan pendidikan seks. Korupsi merajalela, bikin pendidikan anti korupsi. Dan berderet deret gagasan mulia, yang membuat kita lupa bahwa otak para siswa sudah penuh dengan pelajaran. Agaknya para penggagas pendidikan sudah merasa hebat, puas dan bertanggungjawab dengan merumuskan misi pendidikan yang mulia, berbasis moral-etika-keagamaan dan menaburnya di sekolah. Niat yang terlampau baik sampai-sampai melupakan konteks, dan menjadikan sekolah, guru, dan siswa sebagai eksperimen ide, gagasan, dan mimipi-mimpi yang kalut.

 

Dari Pendidikan, Tapi Tidak Harus Sekolah

Mereka tidak menyadari bahwa benar semua diawali dari pendidikan, tapi tidak harus dari sekolah. Mereka gagal memaklumi bahwa sekolah terlalu sempit untuk dapat mengubah segalanya. Mereka lupa bahwa siswa berada di sekolah tidak lebih dari 8 jam. Mereka tidak sadar bahwa guru bukan petugas CCTV yang mengawasi siswa 24 jam. Kalau mereka sadar dan tahu itu, semestinya tidak membebankan sepenuhnya masalah iman, ketaqwaan, akhlak, budi pekerti, pengetahuan dan kecerdasan kepada sekolah, kepada guru.

Mengapa kita masih saja berpura-pura bodoh, berpura-pura tidak tahu bahwa dunia dan kehidupan ini begitu luas: ada keluarga yang tidak selalu benar dalam mendidik, ada televisi yang tidak berhenti bicara dan selalu memberi contoh, ada internet yang menyajikan tuhan, setan, malaikat, manusia dan hewan dalam satu wadah, ada realitas sosial yang tidak selalu dapat dikendalikan. Banyak anak-anak seperti gelas yang sudah retak, bahkan jauh sebelum mereka masuk sekolah. Dan sungguh naif bila segalanya dibebankan pada sekolah, kepada guru: dari sekedar belajar membaca, sampai urusan etika, moral, spiritual, tuhan dan keselamatan akhirat. Hebat betul sekolah kita ini.

Mereka gagal memahami bahwa banyak siswa yang sekedar korban wajib belajar. Mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya banyak siswa tidak senang belajar di sekolah. Mereka tidak sadar bahwa sekolah telah merampas garis takdir yang semestinya ditempuh para siswa. Mereka sudah cukup bangga bila semua anak dapat sekolah. Mereka telah memaksa ikan untuk terbang. Memaksa burung untuk menyelam. Dan garis takdir berantakan.

Mereka telah membuat sekolah dalam nalar batin anak-anak kita seperti rutinitas wajib yang terus berlanjut dan tidak perlu lagi dipikirkan, dipertayankan. Tidak ada dan tidak penting mengapa dan untuk apa sekolah. Mereka diantarkan ke sekolah untuk dipaksa menelan banyak hal yang belum tentu mereka sukai, dan bahkan berpotensi untuk disimpangkan dari garis takdirnya. Cobalah cek, tanya: berapa banyak anak-anak kita yang benar-benar ingin sekolah, berhasrat mendalami dan menguasai sesuatu, melakukan hal-hal yang sungguh mereka ingin. Bahkan sampai memasuki bangku kuliah, masih banyak yang tidak tahu, mereka ingin menjadi apa. Itulah korban wajib belajar, korban dari doktin: setelah SD kamu masuk SMP, setelah SMP masuk SMA, setelah SMA kuliah. Ini juga niat yang terlampau baik sampai-sampai melupakan konteks, dan mengabaikan manusia sebagai individu yang harus memenuhi garis takdirnya.

 

Mencoba Realistis

Karenanya, mari kita mencoba untuk lebih jelas, pasti, realistis, praktis, konkret. Fokuskan saja apa yang hendak dituju, tak perlu serakah, dengan gagasan-gagasan moral-ideal yang melangit. Pastikan saja bahwa tujuan utama dari sekolah adalah mengembangkan pengetahuan dan menciptakan murid-murid yang cerdas, kritis, kreatif, inovatif. Adapun masalah etika, moral, budi pekerti, spiritual, tuhan dan keselamatan akhirat menjadi tugas utama dari keluarga dan masyarakat. Dengan begitu, akan menjadi jelas mana yang menjadi tanggung jawab sekolah, dan mana yang merupakan tanggungjawab keluarga dan masyarakat. Dengan cara itu pula, pengamat pendidikan akan berhenti bicara dan tidak lagi mengatakan bahwa sistem pendidikan hanya menekankan kecerdasan intelektual (otak-akal) dan mengesampingkan kecerdasan emosional (hati-emosi). Dan tidak lagi membawa masalah-spititual (agama).

Jangan katakan bahwa itu bukan pendidikan yang ideal. Karena sekali lagi, yang ideal tidak dapat dipenuhi hanya oleh sekolah. Kemana dan apa tangungjawab keluarga? Dan apa pula fungsi masyarakat? Dimana dan oleh siapa anak-anak dilahirkan? Dimana pula mereka dibesarkan? Keluarga dan masyarakat harus mengambil peran dan tanggungjawab etik, moral, budi pekerti, spiritual, tuhan dan keselamatan akhirat.

Pengetahuan, kecerdasan, nalar kritis, kreatif, inovatif lebih mungkin dan lebih mudah untuk diukur dan dievaluasi ketimbang etika, moral, budi pekerti, spiritual, iman, dan ketaqwaan. Dengan begitu kita tidak perlu memasuki perdebatan metodologis untuk menentukan mana yang lulus dan tidak lulus. Untuk apa kita sibuk memasukan etika, moral, budi pekerti, spiritual, iman, dan ketaqwaan dalam sekolah yang kita sendiri pusing bagaimana menilai dan mengukurnya.

 

Konsekuensi

Berkaitan dengan gagasan itu, saya sedang merumuskan penerapannya: apakah pada semua jenjang sekolah umum: SD, SMP, dan SMA, ataukah pada jenjang tertentu saja, misalanya SMA. Apapun itu, konsekuensinya akan banyak mata pelajaran yang dihapuskan dari sekolah. Misalnya bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dihapuskan dari sekolah. Itu menjadi tangungjawab pribadi untuk menguasainya, dan digantikan dengan pelajaran kesusastraan. Dan tentu saja pendidikan Pancasila dan pendikan agama juga akan dihapuskan dari sekolah. Hanya ada beberapa mata pelajaran yang diajarkan, yang selaras dengan pengetahuan, kecerdasan, nalar kritis, kreatif, dan inovatif yang dapat diukur dan dievaluasi secara obyektif. Dan sekali lagi, masalah yang berkaitan dengan etika, moral, budi pekerti, spiritual, tuhan dan keselamatan akhirat diambil alih dan menjadi tugas utama dari keluarga dan masyarakat. Pun demikian, masih tetap ada hidden agenda, yang memungkinkan nilai-nilai etik, moral, budi pekerti, spiritual, dan ketuhanan menyusup secara kontekstual ke dalam palajaran melalui kreativitas dan kecerdikan guru dalam mengajar.

 

Gudang Pengetahuan yang Membusuk

Sekolah sudah hampir menyerupai gudang pengetahuan yang membusuk. Dan menjelang ujian tiba, ribuan siswa datang ke dukun, menghamba pada kyai, menunduk di kuburan, menggelar doa massal, belajar dengan terpaksa dan setengah mati. Beragam ritual dan cara, berebut untuk membentuk sesat pikir. Hasilnya: ada yang kesurupan, banyak mesin penghapal dan sedikit yang tercerahkan. Dan kita sudah amat senang melihat anak-anak kita sekedar lulus ujian. Sebuah komedi pendidikan yang tidak lucu. Karenanya perlu benar-benar dipikirkan: apa sebenarnya yang kita inginkan dengan mengantar anak-anak kita ke sekolah? Apakah kita ingin mereka pandai, ataukah menjadi orang yang baik? Atau kedua-duanya? Kalian para orang tua, boleh berharap sebanyak yang kalian ingin, tapi mengertilah: sekolah bukan segala-galanya, dan salah besar bila kalian menyerahkan segalanya pada sekolah. Kemana dan apa tanggungjawabmu? Dimana dan oleh siapa anak-anak itu dilahirkan? Bila ada tanggungjawabmu, bila lahir di rumahmu, dan bila lahir dari rahimmu: cintai, didik, dan rawatlah mereka seolah-olah tidak ada sesuatupun yang lebih penting dari hal itu.

 

18 Comments to "Sekolah, Deritamu Tiada Akhir"

  1. ugie  14 October, 2012 at 01:35

    saya suka tulisan ini , seperti terwakili ..

  2. juwandi ahmad  13 October, 2012 at 13:21

    Bu Dian: Dan dengan demikian, Bu Dian telah mengambil peran sebagai orang tua, dan tidak sekedar menyerahkan nasib ksecerdasan dan emosi anak kepada sekolah.

  3. juwandi ahmad  13 October, 2012 at 13:18

    Elnino: “Sepertinya para orang tualah yg perlu ‘disekolahkan’ bagaimana mendidik anak agar menjadi pribadi yang berkarakter baik, dalam hubungan vertikal maupun horisontal.” Ya, setuju. kita itu penekanannya hanya pada pedagogi (pendidikan anak) dan mengabaikan andragogi (pendidikan orang dewasa).

  4. Dian Nugraheni  13 October, 2012 at 07:51

    bersyukur saat ini saya berada di amerika, wajah “sekolah” di sini sungguh jauh berbeda dengan di indonesia, yang sejak jaman dulu kala pun sudah saya tidak setujui…maka dulu di Indonesia, saya sering bikin aturan sendiri, seperti mengijinkan anak2 membolos dengan alasan capek (emang sekolah di Indonesia kan bikin capek), membiarkan anak2 ketika mereka bilang, nggak mau belajar ahh, dan tentu saja protes pada Gurunya kalau mereka memberikan tugas atau memperlakukan anak2 secara “not make sense”…, enggak marah atau kecewa ketika anak2 nilai ulangannya enggak 100, enggak kasih anak les mapel (cuma les nggambar dan ngaji, dan bahasa Inggris keseharian, artinya yang nggak ngapalin grammar dll), dan lain2…

    Semoga cepat ada perubahan pendidikan di Indonesia, menuju sesuatu yang lebih seimbang antara penekanan pengasahan IQ dan EQ…

  5. elnino  13 October, 2012 at 06:02

    ‘Gugatan’ yang sungguh mengena dan benar belaka. Menempatkan sekolah sebagai bengkel, masukin mobil rusak, ortu ongkang2, gak mau tau, pokoknya mobil keluar harus sudah bagus, sungguh tidak fair… Setuju mas Juwandi, trus apa peran ortu dalam mendidik anaknya, yang adalah amanah Tuhan terbesar dalam hidupnya?
    Sepertinya para orang tualah yg perlu ‘disekolahkan’ bagaimana mendidik anak agar menjadi pribadi yang berkarakter baik, dalam hubungan vertikal maupun horisontal.
    Superb writing!

  6. juwandi ahmad  12 October, 2012 at 22:28

    Terimakasih ilustrasi, gambarnya: sungguh tepat..! Menarik..!

  7. juwandi ahmad  12 October, 2012 at 22:12

    Aneh bagi saya bahwa sekolah dan belajar yang merupakan ranah ilmiah, akademis justru disesaki oleh orang-orang yang menganggap kelulusan diluar jangkauan manusia. Tuhan Maha kuasa, namun tentu saja Ia taat azas, tidak bertindak semau-Nya sendiri, dan tidak tergoda dengan doa-doa yang semata mata menjual kelemahan dan rasa takut. Kelemahan dan rasa takut yang diakibatkan oleh tindakan manusia itu sendiri.

  8. Juwandi Ahmad  12 October, 2012 at 22:07

    Dan anak anak berangkat sekolah dengan berjalan dan pulang sekolah dengan berlari.Mengapa?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.