Warisan

Taufik Daryanto Jokolelono

 

Konon ada seorang laki-laki meninggal di tempat yang jauh dari rumahnya. Sebelum meninggal, ia mengucapkan wasiatnya: “Biarlah masyarakat di tanah di mana hartaku berada mengambil bagi mereka bagian yang mereka inginkan, dan biarlah mereka memberikan bagian yang mereka inginkan kepada Arif Si Rendah Hati.”

Saat itu Arif masih muda belia dan tidak memiliki pengaruh yang berarti di dalam masyarakat tersebut. Para tua-tua mengambil apa saja yang berharga yang bisa diambil, dan menyisakan bagi Arif barang-barang tidak berharga, yang tidak diinginkan siapa pun. Bertahun-tahun kemudian, Arif, yang bertumbuh dalam kekuatan dan hikmat, pergi menemui para tua-tua itu untuk menuntut hak warisannya. “Engkau mendapat barang-barang tidak berharga itu, sebab memang demikianlah isi wasiat tersebut,” kata para tua-tua. Mereka tidak merasa telah merampas sesuatu pun, sebab mereka dibenarkan untuk mengambil apa saja yang mereka sukai.

Tetapi, di tengah perdebatan, muncul seorang laki-laki tak dikenal. Warna mukanya pucat, tetapi ia terlihat penuh wibawa. Katanya: “Maksud dari wasiat itu adalah agar kalian memberi kepada Arif apa yang kalian inginkan bagi diri sendiri, sebab ia dapat memanfaatkan warisan itu untuk kebaikan yang lebih besar.” Kata-kata tersebut membawa pada pencerahan, dan para tua-tua itu kini memahami maksud sebenarnya dari kalimat, “Biarlah mereka memberikan bagian yang mereka inginkan kepada Arif.” “Ketahuilah,” kata penampakan itu, “bahwa pemberi wasiat telah merencanakan semuanya. Ia sadar bahwa sepeninggalnya, hartanya akan sia-sia bila tidak diwariskan. Tetapi, ia tahu bahwa jika secara terang-terangan ia menjadikan Arif sebagai pewarisnya maka kalian akan merampasnya. Atau, setidaknya tentu akan menimbulkan pertikaian. Jadi, wasiatnya seolah-olah ditujukan pada kalian, sebab ia mengetahui bahwa bila kalian pikir harta itu milik kalian, tentu kalian akan menjaganya baik-baik. Itu sebabnya ia mengatur siasat jitu untuk memelihara dan mewariskan harta tersebut. Sudah saatnya sekarang warisan itu dikembalikan untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Demikianlah kekayaan itu berpindah tangan kepada pewarisnya; para tua-tua itu mampu melihat kebenaran.

 

6 Comments to "Warisan"

  1. J C  15 October, 2012 at 17:17

    Hhhhmmm…perenungan yang baik…

  2. anoew  15 October, 2012 at 17:14

    Warisan menyejukkan, yang disampaikan oleh penampakan..

  3. Yuli Duryat  14 October, 2012 at 06:56

    “Biarlah mereka memberikan bagian yang mereka inginkan kepada Arif.”

    Suka kalimat ini, mengingatkan saya pada keiklasan memberi. Terima kasih banyak atas tulisan lezatnya di pagi hari ini.

  4. juwandi ahmad  13 October, 2012 at 13:11

    Dan engkau belum benar benar sampai pada keimanan dan kebajikan yang sebenarnya sebelum dapat memberikan sesuatu yang kamu cintai.

  5. Dj.  13 October, 2012 at 12:18

    Bung Taufik….
    Terimakasih untuk kata bijak dipagi hari.
    Salam,

  6. Handoko Widagdo  13 October, 2012 at 10:19

    TDJ (bukan TTDJ lho), mengapa harus penampakan untuk menjelaskan maksud yang sebenarnya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.