Audrey (13): I Have a Dream

Anastasia Yuliantari

 

Musim panas yang berkepanjangan menerbangkan kumpulan debu, membentuk kabut keputihan di sekitar jendela kantorku. Siang yang terik membuat kerongkonganku terasa kering. Mungkin terancam virus flu yang ikut melayang bersama butir-butir halus itu. Aku berusaha mengusirnya dengan segelas air putih yang disediakan dalam kemasan plastic sebelum terbatuk-batuk karena rasa gatal yang mengkili-kili.

Siang yang melelahkan ketika energiku tersedot habis oleh kegiatan mengajar selama beberapa jam. Well, biasanya mengajar beberapa matakuliah tak membuatku selelah ini, aku menyukai kegiatan membagi ilmu dengan anak-anak muda yang begitu haus pengetahuan, seperti berbincang dengan teman bermain tentang sesuatu yang sama-sama disukai. Mengasyikkan, membuat rindu, dan akhirnya ketagihan. Hanya saja dayaku telah terserap oleh malam panjang penuh kegelisahan hari sebelumnya, dan saat-saat mataku tak dapat terpejam, itu pasti karenamu.

Bermula dari kerinduanku yang tak dapat terbendung, kubuka laman dunia antah-berantah kita. Aku melanggar janjiku untuk mengunjungi dunia itu hanya di akhir minggu. Seperti halnya banyak kisah sejak jaman purba, pencideraan selalu berakibat buruk bagi pelanggarnya. Aku pun mengalami hal serupa, walau hukuman itu terbalut manisnya sebuah pesan di inboksku.

Dadaku berdebar melihat nama dan senyummu terpampang di sana. Sebenarnya aku setengah terpesona melihat foto barumu dengan latar belakang pepohonan berdaun hijau yang masih basah oleh sisa-sisa salju. Pasti gambar itu diambil saat liburanmu ke kampung kecil di kaki pegunungan minggu lalu. Tak banyak yang kau tulis, namun aku menatapinya dengan begitu intens seakan memperoleh undian berhadiah yang membuat rekeningku di bank berubah menjadi segunung, atau justru perintah penting yang harus aku cermati agar tak menimbulkan kerusakan fatal.

Dey, apa kabar? Aku telah kembali ke kota. Tugas semester ini telah menungguku, jadi aku akan semakin sulit bertemu denganmu. Well, mungkin aku akan meneleponmu sekali dua, namun aku harus meminta maaf sebelumnya agar kau tak menganggapku melupakanmu. Bagaimana pun kita semua mempunyai mimpi, dan mimpiku kini adalah meninggalkan institusi ini dengan kebanggaan. That’s my dream.

Sejenak aku tertegun. Setelah pertemuan yang semakin jarang kita lakukan, pemberitahuan ini seakan menjadi klimaks. Entah mengapa aku merasa perlahan terusir dari hidupmu, bukan lagi sesuatu yang penting sehingga keberadaannya bisa tergantikan oleh banyak hal atau orang lain.

Di tengah kekecewaan, kemarahan, serta rasa tersinggung, aku mempertanyakan mimpiku sendiri. Apakah aku pernah punya mimpi? Lalu bayangan Lucinda berkelebat. Kekalahan kembali tergambar dalam benakku. Siapakah diriku kini? Mengapa jauh sekali perbedaan daya hidup yang kupunyai dengan bertahun-tahun sebelumnya?

“Daddy, mengapa foto-fotoku tak sebuah pun berhasil dicetak!” Protesku ketika ayahku datang dengan tangan hampa, foto wisudaku gagal atau istilahnya terbakar semua sehingga tak dapat dinikmati keberadaannya.

“Aduh, saat aku memasang negatif filmnya, kelihatannya tak hati-hati sehingga tak terpasang dengan baik dan tak sebuah pun fotomu dapat diproses.” Ujarnya dengan wajah penuh sesal.

“Jadi gimana, dong. Aku tak punya foto wisuda!” Teriakku kecewa. Empat setengah tahun aku menantikan saat diriku dapat mengenakan toga, namun peristiwa itu berlalu begitu saja karena negatif film yang tak terpasang dengan tepat! Astaga betapa tragisnya.

“Kamu, kan nantinya mendapat copy foto dari universitas dua buah. Kita akan mencetaknya lebih besar dan memajangnya di kamarmu.” Bujuknya.

Namun kekecewaan itu begitu besar, sebuah peristiwa sekali seumur hidup yang berlalu begitu saja, membuat airmataku meleleh diam-diam.

Bapakku menghela napas dan mengelus perlahan kepalaku, “Tak usah kecewa, mungkin kamu akan mengalami wisuda yang lain di jenjang lebih tinggi.”

Mungkin Daddy tak memaksudkannya dengan sungguh, namun perkataan itu terpatri dalam hatiku. Sebuah mimpi mendadak mekar, suatu saat aku harus mewujudkannya, bukan lagi karena ingin mengenakan toga dan terfoto dengan sempurna, namun aku ingin menjadi pendidik seperti ayah dan ibuku. Dunia yang selama ini membuatku tersiksa berubah seketika menjadi firdaus yang kurindukan.

“Apakah ujianmu berhasil dengan baik?” Telepon itu datang suatu senja setelah dua jam kuhadapi ratusan pertanyaan dari lima orang penguji di meja beralas hijau putih yang cukup menyeramkan bagi seluruh mahasiswa.

“Lumayan,” Senyumku mengembang, “Aku memperoleh nilai tertinggi.”

Dua tahun yang tak sia-sia. Apalagi dua tahun itu harus kulalui di tengah pekerjaan yang tak dapat kutinggalkan. Itulah resiko bila bersekolah dengan hasil keringat sendiri.

“Aku dan ibumu bangga dengan perjuanganmu. Selamat, ya.” Ujarnya sebelum menutup pembicaraan.

Air mengaliri pipiku. Aku senang bisa membuat mereka bahagia, terbayang saat wisuda yang akan kujalani untuk kedua kalinya. Terutama karena aku akan menjadi wakil dari jurusanku sebagai yang terbaik.

“Aduh, aku dan ibumu mungkin tak bisa datang ke acaramu minggu depan.” Di senja yang hampir sama dengan bulan sebelumnya Daddy kembali meneleponku.

“Mengapa?’

“Kami hampir tak dapat mandi minggu ini.”

Hah?

“Kemarau yang panjang membuat sumur kita nyaris kering, jadi aku janjian dengan tukang gali sumur untuk membuatnya sedikit lebih dalam.” Sesal tampak dalam suaranya. “Banyak benar yang membutuhkan jasa mereka di musim seperti ini, jadi aku tak ingin melewatkan kesempatan saat mereka punya waktu.”

Jadi aku membawakan pidato di depan lebih dari seribu orang tanpa kehadiran seorang pun keluargaku. Beberapa foto kuperoleh, namun tak sebuah pun berasal dari kameraku. Anehnya, berbeda dari tujuh tahun sebelumnya, aku tak merasa kecewa atau nelangsa. Aku bahkan mengirimkan seluruh foto itu ke rumah. Mungkin Daddy akan memasangnya kembali di kamarku, tepat di sebelah foto saat aku mendapat gelarku yang pertama bertahun lalu.

“Foto yang bagus,” ujarnya begitu memperoleh foto itu. Tak ada elusan di kepala atau rasa sesal dalam suaranya. Mungkin dia telah lupa insiden bertahun lalu atau baginya aku telah lebih dewasa sehingga tak meributkan hal-hal seremonial semacam itu. Esensi dari belajar lebih penting dari perayaan setelah pencapaiannya.

Ketika hasrat meneguk pengetahuan menjadi kebutuhan dan keharusan menyangkut profesionalitas, aku mempunyai hasrat untuk suatu saat kembali ke lingkungan yang begitu bersemangat menularkan kemajuan pencapaian manusia paling mutakhir. Lingkungan yang mengasyikkan dengan diskusi, tugas-tugas, dan kesempatan bagi setiap individu untuk mengeluarkan potensinya.

Oh, Tuhan! That’s my dream!

Angin siang masih menampar-nampar jendela. Hatiku berdetak kencang saat menatapi kepulan debu memburamkan kacanya. Seorang janitor berusaha membuatnya terang dengan semprotan cairan pembersih dan secarik kain. Sebuah tindakan yang nyaris sia-sia namun merupakan bagian dari tugasnya. Rasa bosan tampak pada raut wajahnya, mungkin juga putus asa. Sebuah hidup yang rutin dan kehilangan maknanya memang selalu membosankan. Seperti juga hidupku selama beberapa tahun ini.

Where have you been, Audrey? Dadaku semakin berdebar. Aliran hangat merambati pembuluh darahku. Perlahan sebuah percikan berkelebat menerangi kekelaman anganku.

Kamu dan mimpimu membuatku teringat kembali pada mimpiku bertahun lalu, Sayangku. Aku harus berterima kasih untuk itu. Rasa tertolak dan disingkirkan dari radius pandanganmu tak lagi menjadi sesuatu yang menyakitkan. Walau dayaku belum lagi semenggelora ribuan hari lalu, namun riak-riaknya mulai terasa kini. Menetapkan tujuan selalu membuat bara dalam dada kembali menyala bukan?

Maafkan diriku Sweetie, aku mulai merasa tak nyaman hanya menjadi attachment dari dirimu, menadah remah-remah perhatianmu, dan menjadikanmu fokus dalam hidupku.

Pertanyaan-pertanyaan dan kebimbangan masih bergulat dalam pikiranku. Rasa gamang menyembul di antara tekad yang perlahan tumbuh.

Bisakah?

Haruskah?

Kuambil leaflet yang ditinggalkan oleh Lucinda. Mimpi itu semakin nyata terbentuk dalam benakku. Tersedia cukup waktu buatku untuk mewujudkannya bila aku benar-benar hendak membuatnya jadi nyata.

Kembali kupandangi fotomu yang berlatar belakang rimbunnya pepohonan yang basah oleh sisa-sisa salju. Begitu indah, begitu tampan sebelum kuhela napas panjang.

You said you have a dream, so do I, babe, so do I.

 

13 Comments to "Audrey (13): I Have a Dream"

  1. Lani  16 October, 2012 at 06:24

    AY : sakjane ngimpi opo ta?

  2. Anastasia Yuliantari  16 October, 2012 at 02:38

    Anoew, ABAB e, sopo????

  3. anoew  15 October, 2012 at 17:54

    Ikutan nyimak cerber ini sambil dengerin lagunya ABAB

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.