Sikap

Dewi Aichi – Brazil

 

Quote:

“Just because I take a different road that doesn’t mean I’m lost or evil”

Tulisan ini saya buat setelah menonton talk show yang menampilkan seorang ibu, yang mengungkapkan perasaannya setelah mengetahui anak laki-lakinya ternyata berhubungan dengan sesama laki-laki. Si anak kini telah berumur 27 tahun. Si ibu mengetahui anaknya berpasangan dengan sesama jenis sejak usia si anak 25 tahun. Jadi sudah 2 tahun, si ibu menerima kenyataan itu.

Awalnya memang shock berat. Malu dan tentu saja perasaan seorang ibu yang sedih mengetahui kenyataan demikian. Namun bagaimanapun juga dia adalah anaknya, anak yang mempunyai karier bagus, anak yang pandai dan bertanggung jawab. Tidak pernah berbuat kriminal. Banyak teman, dan bersosial secara normal. Tidak ada perbedaan sama sekali dengan kita.

Setelah 2 tahun, kini si ibu sudah menerima kenyataan dengan biasa. Tidak ada yang aneh dan perlu dirisaukan. Si ibu sudah berkonsultasi ke psikolog karena sempat lábil saat mengetahui anaknya seorang gay.

Banyak orang berpendapat bahwa homo/lesbi merupakan penyakit kejiwaan/mental. Tetapi banyak juga orang berpendapat bahwa hal tersebut merupakan takdir seperti penciptaan terhadap laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini, setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda-beda.

Saya menulis tentang ini bukan karena saya tau banyak mengenai homo maupun lesbi itu suatu penyakit /kelainan jiwa atau bukan. Saya lebih menekankan mengenai “sikap” dari banyak orang dan tentu saja saya juga tetap menghormati perbedaan pendapat yang ada.

Saya sendiri berpendapat bahwa homo/lesbi merupakan orientasi seksual yang berbeda. Dan selama ini yang saya tau, orientasi seksual “bukan” merupakan suatu penyakit. Jadi janganlah pernah memandang rendah seseorang yang memiliki orientasi seksual berbeda, apalagi dengan menggunakan landasan ágama. Tentu Tuhan tidak menciptakan makhluk dengan orientasi seksual yang berbeda kemudian untuk dibenci.

Dalam kitab suci yang saya percayaipun mengatakan bahwa sesungguhnya yang mulia di hadapan Tuhan adalah manusia yang berguna bagi sekitarnya, bukan dari apa orientasi seksualnya. Saya respek sama semua ciptaan Tuhan. Cukup.

Kadang-kadang kita salah menilai, lihat saja, banyak sekali laki-laki straight maupun wanita-wanita anggun dan cantik, tapi kelakuannya jauh lebih buruk daripada gay. Juga banyak sikap yang mempermasalahkan gay itu benar atau salah, penyakit apa bukan. Kenapa tidak kita serahkan saja kepada Tuhan yang menciptakannya. Jadi, kita masih mempunyai waktu untuk instrospeksi diri. Instrospeksi diri apakah kita sudah bisa membuat hidup kita bermanfaat bagi sekitar kita, membuat kebahagiaan di sekitar kita, berbuat baik kepada sesama.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

27 Comments to "Sikap"

  1. Yuli Duryat  31 October, 2012 at 06:39

    “Instrospeksi diri apakah kita sudah bisa membuat hidup kita bermanfaat bagi sekitar kita, membuat kebahagiaan di sekitar kita, berbuat baik kepada sesama.”

    Setuju banget Mbak Dewi.

    Salam hangat

  2. Lani  24 October, 2012 at 00:14

    DA : klu udah nulis komentar buatku dan kang Anuuuuu……..panjang trs ilang……..wah mmg bikin sebel hehehe…….nah, tulis lagi aja di japri pie?

  3. Dewi Aichi  23 October, 2012 at 23:24

    Fidelis…apa yang sedikit itu sebagian menganggap sebagai ketidaknormalan? Karena kita sudah tau pada umumnya bagaimana yang normal dan tidak…jadi beda orientasi sudah dianggap sebagai “tidak normal” dikarenakan jumlahnya yang sedikit(mungkin), kalau mengenai kebahagiaan iya setiap orang menciptakan kebahagiannya sendiri. Dan tentu saja kebahagiaan setiap orang berbeda, semoga…kebahagiaan itu ada dalam jiwa kita , dan semoga kita bisa menciptakan kebahagiaan itu.

  4. Dewi Aichi  23 October, 2012 at 23:19

    Nev….wahhh…apa gara-gara dirimu hadir, makanya baltyra kaget? Tapi, terima kasih dengan komentarmu di sini….buat saya ya itu saja…cukup jelas definisi manusia yang baik….

  5. Dewi Aichi  23 October, 2012 at 23:18

    Aku kemarin sudah nulis panjang-panjang buat menjawab komentar Anoew dan Lani, tapi tiba-tiba baltyra macet….wahhh…ilang deh tulisan panjangku….

  6. Fidelis R. Situmorang  22 October, 2012 at 03:29

    Iya… beberapa orang di sini akhirnya berkata bahwa yang terpenting adalah kasih sayangnya.
    Kalau nonton film ARSAN, sebagai orang batak, aku jadi tersentuh juga ya, karena dalam tradisi Batak, anak lelaki akan meneruskan keturunan, tapi ternyata anaknya berorientasi seksual seperti yang tidak di hrapkan orangtuanya… Lau saya kemudan menonton film lain yang berjudul sox feet under, di mana salah satu anggota keluarganya adalah homoseksual dan anggota keluarga yang lainnya tak kebaratan, selama saudaranya itu bahagia, sampai akhirnya sang ibu menerimanya…

    Dan ternyata ya, Mbak Dewi,… ternyata kebahagian Kita, kebahagiaan setiap individu itu ternyata berbeda ya…

    Semoga cinta bisa mengalahkan segalanya

  7. nevergiveupyo  19 October, 2012 at 12:24

    renungan yang konstruktif tanDA…

    terus terang, saya masih belum tau akan seperti apa bersikap kalau sampai salah satu diantara keluarga saya mempunyai orientasi seksual yg seperti ini…

    tp poin tanDA tentang definisi manusia yang baik… tumbs up!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.