Pejaten (6)

Fidelis R. Situmorang

 

Embun merekam hening malam di lembutnya, di beningnya, di setiap butirnya.

Memutarnya di ranting-ranting, di daun-daun,

di jalan-jalan yang kemudian terlihat basah.

 

“Aku tertidur ya…?”

“Iya, tidurlah lagi…”

Dia merapatkan pelukan

Embun menyimpan cerita malam di lembutnya, di beningnya, di setiap manis butirnya.

Bulan yang hanya separuh, pulang kembali ke balik gedung-gedung tinggi.

“Tidurlah lagi…” bisikku, mengusap kepalanya.

Dia secantik bunga. Senyum selalu mekar di wajahnya. Sepasang alis manis tumbuh indah di dekat kelopak matanya.

“Riri…” ia menyebut namanya dan menjabat hangat tanganku.

“Sudung…” balasku memperkenalkan diri.

“Siapa?”

“Sudung. Aneh namaku ya?”

“Iya…” jawabnya jujur dan tersenyum.

“Rain Hasundungan Siallagan lengkapnya.”

“Oh… Panjang ya, 3 gerbong… Hahaha… Rain hujan?”

“Iya, rain hujan, bukan rain kereta api…”

“Hahaha…” Dia tertawa cantik sekali.

“Aku suka nama Rain. Aku panggil Rain aja ya…”

“Boleh… Itu nama pemberian ayahku. Dia seorang penyair. Selain jatuh cinta pada ibuku, ia juga jatuh cinta pada hujan…”

“Hahaha… Serius?”

“Nggak. Ayahku guru matematika…”

“Hahaha… Serius?” ulangnya lagi.

“Nggak. Ayahku Bill Clinton.”

“Hahaha… Kamu lucu ya, kayak Tukul!”

Nah lho.

Begitulah awal perkenalanku dengan Riri. Kejadiannya di satu toko buku di Pejaten Village. Saat itu aku tak menyadari bahwa ada dia di dekatku, karena sedang asyik memperhatikan salah satu buku terbaru dari pengarang kesukaanku. Lalu tangan kami berdua hampir bersentuhan meraih buku yang sama. Kami bertemu pandang dan bertukar senyuman. Aku persilakan ia mengambil buku itu lebih dulu.

Saat dia bilang aku lucu seperti Tukul. Aku menerimanya sebagai pujian, siapa tahu dengan melucu, aku bisa jadi selebriti terkenal seperti Tukul. Kemudian kami bertukar nomor ponsel dan saling menyapa melalui sms. Dan tentu saja membuat janji untuk bertemu lagi.

“Rain, kamu suka ngopi nggak?”

“Iya, suka. Kamu suka juga?”

“Iya. Kita ketemuan yuk, ngopi-ngopi…”

“Ayo… Di mana?”

“Di mana ya? Kamu biasa ngopi di mana?”

“Aku ngopi di mana aja… Biasanya di pinggir jalan… Hehehe…”

“Di pinggir jalan?”

“Iya. Eh, Ri, kamu mau ngopi di pinggir jalan, nggak?”

“Boleh deh… Di mana?”

“Dimana ya? Di Istora mau nggak? Kebetulan ada pesta buku tuh… nah, di depannya pasti banyak warung makanan dan tempat ngopi…”

“Boleh, boleh… Jam berapa?”

“Jam 4 gimana…”

“Sippp… Sampai ketemu jam 4 ya…”

“Oke…”

Pada hari itu aku mandi dan gosok gigi lebih serius. Memperhatikan wajah sendiri dengan seksama di depan cermin. Memastikan penampilan sudah sekeren mungkin untuk menemui dia yang secantik bunga.

Pukul 3 tepat aku sampai di tempat yang dijanjikan. Tidak ada tanda-tanda sedang ada pameran. Sunyi senyap seperti rumah kosong. Aku jadi bingung sendiri. Kemudian aku bertanya pada salah satu petugas di sana, ternyata pameran buku sudah selesai 3 hari yang lalu. Kampret. Bodohnya aku tidak lebih dulu memeriksa informasi yang kuterima.

Segera kukirim pesan pada Riri. “Ri, aku sudah sampai di Istora. Pameran bukunya sudah selesai Hahaha… Bego banget aku ya, nggak memperhatikan selesainya sampai tanggal berapa…”

Sampai 15 menit tidak ada jawaban. Kok, Riri nggak jawab sih… Kataku dalam hati. Tak lama kemudian ponselku bergetar. Ada nama Riri muncul di layarnya.

“Rain… Sorry, aku ketiduran… Semalam nonton bola…”

“Hahaha… Enak betul tidurnya ya…”

“Hehehe… Maaf ya… Kamu tungguin aku sebentar ya…”

“Iya, ngaak apa-apa. Tapi pamerannya sudah habis… Di sini sepi banget…”

“Gimana dong? Apa kita ketemuan di tempat lain. Di Plaza Senayan atau di Senayan City aja mau?”

Aku diam memikirkan kedua tempat itu. Memang tidak terlalu jauh juga dari Istora.

“Oh iya… Kita kan mau ngopi di pinggir jalan ya?” Dia meralat sendiri ajakannya.

“Iya…”

“Di mana ya? Di Bulungan aja mau?”

“Bulungan, di warung Apresiasi?”

“Iya, di situ. Kamu keberatan nggak, nunggu aku sebentar di situ?”

“Nggak dong…”

“Oke kalau gitu. Kita ketemu di sana aja ya…”

“Iya… Aku tunggu ya…”

“Bye…”

“Bye…”

Sesampai di Bulungan, ternyata warung apresiasi, tempat kami janji untuk bertemu belum dibuka. Akhirnya aku masuk ke gelanggang remaja dan menunggu di sana. Memesan kopi dan mengirim pesan pada Riri

“Ri, aku sudah sampai ya. Warung Apresiasinya belum buka. Aku ngopi di Gelanggang Remajanya ya.”

Ponselku bergetar, Riri langsung menelponku. “Rain, sabar sebentarnya, ini agak macat nih…”

“Iya, gapapa… Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut…”

“Hahaha… Aku naik taksi…”

“Iya, bilang sama Pak supirnya, jangan ngebut…”

“Hahaha… Iya… Sabar sebentar ya, Rain…”

“Iya, Ri… Aku punya sejuta sabar untukmu…”

“Hehehe… See you soon. Bye.”

“Bye”

“Doorrrr…!!!” Teriaknya mengagetkan aku. “Busyettt… udah 2 gelas kopi ternyata ya… Hahaha… Maaf banget ya, Rain, tadi betul-betul macet.

“Iya, nggak apa-apa, kok, ” jawabku senang melihat wajahnya.

“Udah makan? Makan yuk…” ajaknya

“Aku udah. Riri belum ya?”

“Iya, belum nih. Tadi bangun tidur langsung buru-buru pengen ketemu kamu… Mandi buru-buru, dandan buru-buru, eh nggak taunya macet juga… Hehehe…”

“Ayo, aku temani kamu cari makan.” Ajakku. Lalu aku membawanya ke taman Ayodya di Barito. Dia memesan nasi goreng, aku memesan kopi.

“Kamu serius udah makan?”

“Udah…”

“Aku makan ya…”

“Iya…”

Sambil makan ia bercerita banyak tentang dirinya, tentang teman-temannya, tentang hal-hal yang disukainya. Sungguh  menyenangkan melihat caranya bercerita. Bibirnya, matanya, alisnya, semuanya bergerak sangat indah mempertegas segala yang sedang disampaikannya. Air mancur menari indah, lampu-lampu di taman bergantian menciumi keindahan wajah perempuan di hadapanku dengan sinarnya.

“Sayang…”

“Enak tidurnya?” kubelai kepalanya.

“Enak banget. Kan ada kamu… Kamu nggak tidur ya?”

“Nggak?”

“Mikirin apa?”

“Mikirin kamu… Teringat waktu awal-awal kita ketemu.”

Dia tersenyum menatapku.

“Rain…”

“Ya…”

“Tahu nggak aku barusan mimpi apa?”

“Mimpi apa?”

“Mimpiin kamu!” jawabnya tersenyum merapatkan pelukan.

Ah, Riri. Cantik sekali. Secantik bunga. Senyum mekar di wajahnya. Sepasang alis manis tumbuh indah di dekat kelopak matanya.

 

8 Comments to "Pejaten (6)"

  1. Fidelis R. Situmorang  18 October, 2012 at 20:18

    @Om DJ: Hahaha… Kapan-kapan, mudah2an malamnya bisa sama yaaa…
    @Chandra: Makasih ikut mampir di masa lalu ya
    @Mbak Dewi : Hehehe… Swit swit cihuyyyyy
    @Mas anoew: aihhh… aihhhh… Ayo dikopi, Mas

    @[email protected]: Pejaten hehehe
    @Bang JC: Hahaha… suit suit yuhui, kalo kata Mbak Dewi
    @Elnino: Iya, lebih enak happy ending ya…

  2. elnino  18 October, 2012 at 17:09

    Serial Pejaten ini dialognya ‘sesuatu’ banget.. Ikut tersipu2, hehe… Semoga happy ending.

  3. J C  18 October, 2012 at 13:19

    Makin asoi saja dialognya…

  4. [email protected]  17 October, 2012 at 22:28

    pejanten…. apa penjantan….. hmmmm

  5. anoew  17 October, 2012 at 21:07

    Jadi kepengen mundur 20 taun lagi, ngopi-ngopi, belai-belai, ai aiiii…

  6. Dewi Aichi  17 October, 2012 at 20:40

    Kok Riri..N-nya dikemanain? He he….ini dialog Pejaten suit suit nih yuhui…..

  7. Chandra Sasadara  17 October, 2012 at 17:09

    terima kasih. mengingatkan masa lalu

  8. Dj.  17 October, 2012 at 11:29

    FRS….
    Terimakasih untuk ajakan makan nya…
    Masih telalu pagi, 2 jam lagi baru bisa sarapan.
    Selamat makan…!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.