Return to Solo (2): Kursi-kursi yang Terbengkalai

Bambang Priantono

 

Setelah selesai belajar bahasa isyarat meski sesaat, saya kembali lanjutkan perjalanan menuju kawasan Beteng dimana saya akan menemui mantan rekan kerja saya yang sekarang sibuk kuliah di UNS. Berhubung Car Free Day-nya sudah habis, maka kendaraan bermotorpun melintas bebas kembali masuk ke Jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan utama di kota tempat berdirinya Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran ini.

Saya memilih berjalan kaki, karena sekalian menikmati suasana kota Solo saat itu. Trotoarnya tetap sama seperti terakhir kali saya ke sana dua tahun yang lalu. Kursi-kursi yang dipasang di pinggir jalan dan sepanjang Slamet Riyadi ini saat pertama kali saya ke Solo sangat bagus. Terlihat asri dengan kursi-kursi panjang dari kayu dan besi berukir plus lampu taman yang bagus, menjadikannya tempat yang cocok untuk duduk-duduk santai sembari menikmati suasana jalanan. Trotoar yang rindang menyejukkan udara Solo yang sering panas meski tidak sepanas kota Semarang, tempat saya bermukim saat ini.

Kalau soal penataan kota saya akui Solo jauh lebih baik dibanding kota Semarang. Padahal notabene sebagai ibukota propinsi seharusnya Semarang bisa jauh lebih baik dari Solo. Hanya sayangnya ketika saya susuri sisi kanan trotoar Slamet Riyadi ini, sebagian kursi-kursi yang dulunya asri itu dalam kondisi tidak terawat. Tempat sampahnya yang artistikpun banyak yang tinggal kerangkanya belaka. Bagian kayu yang biasa jadi dudukan para pejalan kaki ataupun yang ingin bersantaipun banyak yang sudah hilang atau lapuk, meski di bagian lain jalan ini kursi-kursi nan asri itu masih ada.

Lantas saya akhirnya berpikir, apakah dinas pertamanan atau tata kota setempat memperhatikan kondisi ini? Saya sangat memprihatinkan kondisi kursi-kursi yang melapuk dan menyisakan kerangka besi berukirnya ini. Berapa besar ya biaya yang dikeluarkan pemkot setempat untuk membangun ini semua? Berapa besar biaya perawatannya dan kenapa kondisi ini dibiarkan terus-menerus, padahal Solo begitu terkenal dan tertata setelah dikelola oleh Joko Widodo (Jokowi) yang sekarang menjadi gubernur DKI Jakarta. Jalur Solo Batik Trans dikembangkan, kemudian ditambah relokasi PKL yang sukses dan adanya bis tingkat Werkudara yang menjadi daya tarik tambahan bagi kota Solo ini.

Kursi-kursi di sepanjang Jalan Slamet Riyadi ini seharusnya diperbaiki segera. Tempat sampahnya juga demikian. Memang ada kemungkinan tangan-tangan jahil turut andil dalam kerusakan sarana umum ini, d