Tentang Bicara Anak-anak Kita

Wesiati Setyaningsih

 

Saya sudah benar-benar kehabisan akal ketika akhirnya saya meminta murid saya menulis curhatan mereka dalam ‘hukuman’ yang saya sebut ‘silent time’. Dalam silent time yang pernah saya lakukan sebelumnya, mereka cuma saya suruh diam dan mengikuti nafas. Entah kenapa beberapa anak malah menangis saat silent time itu.

Ketika setelah itu beberapa guru masih saja mengeluh tentang murid-murid perwalian saya yang masih saja suka ramai di kelas, terlintas untuk memberikan silent time lagi tapi kali ini berbeda. Saya suruh mereka diam dan sama sekali tak bicara pada siapapun, namun mereka boleh menuliskan semua yang terlintas di kepala mereka.

Murid perempuan yang saat silent time sebelumnya menangis kali ini dia menangis lagi. Tapi kini saya tahu kenapa. Dia menulis begini,

Aku sedih mikirin orang tuaku. Berantem terus. Aku anak terakhir, cewe sendiri. Kakakku 3 cowo semua. Sejak kelahiran kakakku pertama, rumah tangga papa mama memang sudah hancur.

Yang mengagetkan saya adalah tulisan setelahnya karena dia menulis apa yang dia lakukan saat SMP,

Pagi itu aku minum obat apa aja, aku minum 17 tablet paracetamol. Di sekolah pagi itu aku habis ulangan matematika bu, enggak bisa ngerjain, tambah stress. Akhirnya aku keluar sebentar dan beli obat itu.

Gara-gara itu dia sempat masuk rumah sakit dan dimasuki selang lubang hidungnya untuk menguras isi lambung. Dia bilang,

Yang aku pengen cuma di rumah sakit bu. Paling suka aku kalo udah berbaring di rumah sakit.”

Saya terpana. Anak ini memang kelihatan sekali agak caper. Tiap kali guru bicara dia nyambung karena dia memang pandai. Tapi beberapa guru tidak suka dibegitukan. Keseharian dia ceria dan suka menyanyi. Tidak ada yang mengira dia sebenarnya mengalami hal seperti ini. Dari capernya saya sudah membaca ada yang tidak beres. Baru sekarang saya tahu apa yang dia rasakan.

Karena penasaran, akhirnya saya kelompokkan tulisan anak perempuan dan anak laki-laki. Beberapa anak laki-laki menuliskan keinginan-keinginan mereka. Kalaupun ada yang sedang kesal, paling hanya karena sering dimarahi guru gara-gara ada teman yang ‘bikin masalah’ terus tiap kali pelajaran. Hanya satu dua yang kesal karena dimarahi orang tua dan dipaksa mengikuti keinginan orang tua padahal mereka punya pertimbangan mereka sendiri.

Sementara anak-anak perempuan menulis dengan lebih dramatis. Biasanya karena dimarahi orang tua, kesal karena orang tua yang ribut terus, ada juga yang kangen orang tuanya karena orang tuanya tugas di kota lain atau dititipkan ke neneknya karena orang tuanya berpisah. Seperti tulisan pendek ini,

                “Keluargaku broken home.. Aku tinggal sama nenekku & kakakku. Aku merasa kurang kasih sayang dari orang tua. Orang tuaku gak peduli sama aku. Dari kecil aku diasuh nenek, aku merasa gak punya orang tua!!!

Apa yang bisa kita lihat dari sini? Anak perempuan memang lebih sensitif dari anak laki-laki sehingga masalah yang sama akan menjadi beban yang berbeda kadarnya pada anak perempuan dan anak laki-laki.

Hal lain, ternyata masih banyak orang tua yang tidak mau mengerti anak-anak mereka. Memaksakan kehendak, marah-marah seolah itu satu-satunya solusi, bertengkar di depan anak tanpa mau meredakan ego sendiri, adalah hal-hal yang dikeluhkan anak-anak tanpa orang tua mau menyadari bahwa mereka harusnya mengubah sikap di rumah.

Saya kira saya sudah melakukan langkah yang tepat tiap kali ada anak yang ‘bikin masalah’ dan memanggil orang tua mereka, saya selalu menekankan, “ajak bicara putranya”. Itu saja. Karena tak jarang orang tua cuma menggunakan mulut untuk menghadapi anaknya tapi jarang menggunakan telinga mereka.

Semoga ini menjadi bahan perenungan kita semua, agar tidak mudah menghakimi begitu saja bahwa anak-anak sekarang itu nakal dan bejat. Sempat terlintas dalam pikiran saya, apa yang sebenarnya dilakukan orang tua si anak yang menusuk anak lain saat tawuran di Jakarta dan bukannya menyesal dia malah mengatakan puas? Selalu ada alasan di balik sesuatu. Dan bila ada seorang anak yang bermasalah, sepertinya kita patut bertanya, apa yang dilakukan orang tuanya pada putra-putrinya.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Tentang Bicara Anak-anak Kita"

  1. wesiati  23 October, 2012 at 20:22

    speechless. terharu kalo ada orang tua yang mau berbenah diri demi putra putrinya… di antara orang tua yang egois, ada kok yang mau berkorban habis2an untuk anaknya. kemarin pas pertemuan orang tua dan komite, selesai pertemuan ada yang curhat soalnya. beliau cerita bahwa sampai bela-belain bangun jam 4 pagi buat masak. lalu nemenin anaknya belajar pagi2… dan hasilnya memang bagus. anak yang tadinya malas, jadi semangat belajar… :”

  2. erni  23 October, 2012 at 16:26

    makasih ya bu guru wes, saya sampai menitikan air mata membacanya. ini adalah teguran buat orang tua, penyambung lidah dari anak2 yang seringkali para orang tua sepelekan. padahal dari hal “sepele” ini banyak mengakibatkan perbuatan anak2 kita yang sangat tidak bisa dikatakan “sepele”. sekali lagi terima kasih.semoga lebih banyak lagi guru2 yang mau mencari sebab dan bukan melihat akibat.

  3. J C  23 October, 2012 at 10:43

    Indonesia memerlukan lebih banyak lagi guru seperti Wesiati ini…

  4. wesiati  19 October, 2012 at 15:37

    masalahnya dia ingin minta maaf secara verbal karena dia habis ‘bermasalah’ dengan orang tuanya, tapi kemudian orang tuanya baikan sama dia dan dia dibelikan motor seperti permintaannya. dari dia merasa perlu untuk mengatakan secara langsung. soalnya dia bilang sendiri, “aku pengen bilang sama mama papa, ma’am. kan dibeliin motor. barang mahal.” itu latar belakangnya. ya sudah. saya kasi tau gitu aja. mungkin enggak cukup dengan perilaku dia selama ini yang memang baik karena dia memang baik dan rajin di sekolah.
    demikian latar berlakangnya.

  5. matahari  19 October, 2012 at 12:18

    Komen 5 : Ibu Westi..minta maaf tidak harus dengan kata kata..dan saya fikir murid anda juga tau bagaimana mengatakan minta maaf..yang dia tanya adalah cara minta maaf itu bagaiamana …Minta maaf bisa juga dengan perbuatan..misal murid Ibu rajin bantu mama papa nya sebagai bentuk penyesalan…atau anak menabung uang jajan dan membelikan sesuatu yang disukai mama papa nya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.