Gue Bukan Elo (11)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Minggu pagi yang cerah ternyata tak secerah suasana hati Jen, saat sarapan, Papi berceloteh dengan riang bahwa Sabtu depan mereka akan Outbound sambil menginap di caravan. Yati kembang kempis hidungnya saking semangat membayangkan betapa asyiknya bisa gila-gilaan di alam bebas seperti di kampungnya. Lain lagi Jennifer, rasanya dunianya runtuh, dia pernah melihat di TV acara konyol itu sangat penuh kengerian dan juga kotor. Jen mendadak galau.

“Pi kayanya aku nggak bisa ikut, soalnya harus belajar Pi kan hari Seninnya mau Quiz Ekonomi Mikro”, Ujar Jen harap-harap cemas. Dan betul saja dugaannya, Papi pun menolak mentah-mentah.

“Jen, Papi yakin kamu cukup pintar, kan bukunya bisa dibawa? Kamu bisa belajar di mobil kok. Lihat tuh wajahmu pucat karena kurang olah raga dan jarang kena matahari”, Jawab Papi dengan suara datar.

Jen rasanya ingin memutar waktu, kembali ke rahim Mami dan tak terlahir lagi. Diliriknya wajah Maryati yang ribut berkisah bahwa dia sangat gemar memanjat pohon dan menyeberang sungai dengan tali. “Huh! !! Jadi cewek primitif kok bangga! Fine! cukstaw (cukup tahu) tunggu pembalasan gw!!”, Umpat Jen dalam hati.

*****

Kegalauan hati Jen disambut rasa prihatin oleh ketiga sahabatnya. Mereka sejenis dengan Jen, lebih ke gadis-gadis Barbie yang selalu menomer satukan penampilan, tak terbayang Jen akan melayang di atas ketinggian belasan meter, nyebur ke air kubangan, lalu bermain dengan kerbau yang mengerikan dan banyak lagi kengerian di alam yang liar. Belum lagi aneka serangga yang siap menyengat. Jen merinding disko membayangkan suasana terror yang harus dihadapinya. Belum lagi busana konyol yang harus dia kenakan, membuatnya terlihat tomboy, Jen benci hal itu.

Sementara itu Yati tidur telentang di kamarnya, menatap langit-langit sambil tersenyum. Kerinduannya akan segala aktivitas di kampungnya akan segera terobati.. Memanjat, meloncat, menunggang kerbau dan banyak hal asyik yang ingin segera dirasakannya. Yati masih menyimpan pemikiran bahwa Jen telah menerima dirinya seutuhnya. Dia tidak pernah tahu bahwa Jen hanyalah bersandiwara, Yati terlalu lugu. Dalam hati Yati berjanji akan mengajarkan berbagai hal di alam kepada Jen, Yati tak pernah sadar bahwa Jen membenci semua itu.

*****

Hari yang penuh teror-pun tiba, Jen sudah dibangunkan sejak pukul 6 pagi. Wajahnya cemberut saja. Sementara Yati sudah tak sabar, berkali-kali ia menoleh ke arah hall hunian keluarga Tanudjaja berusaha memandang ke arah carport.. Mami berkali-kali menegor Yati yang tidak fokus pada sarapannya. Jen memasang wajah lesu, belagak sakit, berharap Mami akan membatalkan niatannya membawanya ikut serta ke outbound di puncak. Namun sial! Mami terlalu sibuk mengemas perbekalan makanan untuk dimasak saat menginap di caravan.

Tak lama Papi muncul, dilihatnya wajah Jen yang galau dan nampak kusut. “Jen, kamu sakit ya sayang???”, Tanya Papi sambil memegang kening Jen. Jennifer merasa akhirnya ada yang memperhatikan dirinya.

“Iyaa Pi, pusing dan badan rasanya sakit semua, kayanya aku nggak bisa ikut deh ke acara outbound, padahal aku pengen banget”, Jawab Jen penuh dusta.

Papi mengamati wajah Jen yang nampak sehat-sehat saja, “Wah kalau kamu sakit memang tidak seharusnya ikut kegiatan alam, tapi membiarkan kamu di rumah bersama si Mbok juga sepertinya tidak mungkin, biarlah kamu dirawat inap saja di Rumah Sakit, setidaknya bisa lebih optimal”, Papi berbicara sambil mengeluarkan HP seolah akan menelpon ambulance.

Jen memekik pelan, tak diduga Papi sedemikian tega mengirimnya ke Rumah Sakit dan membiarkan dirinya disuntik juga diinfus. “Hmmmm Papi nggak usah repot-repot, aku udah baikan koq”, Ujar Jen dengan hati yang kesal. Papi hanya terkekeh puas.

*****

Suasana sejuk begitu terasa, cuaca mendung membuat angin dingin agak menusuk tulang. Namun keluarga Tanudjaja minus Jennifer nampak sangat antusias. Mami begitu repot membawa tas berisi bekal makan, Papi tak luput diberi tugas menenteng dua tas, “Mi kita ini mau liburan apa mengungsi sih? Banyak betul bawaan Mami?”, Ujar Papi heran melihat bekal makanan dan pakaian yang begitu heboh. Mami hanya tertawa saja, lalu sibuk berteriak pada Yati, “Yati itu tas pakaian kamu dibawa jangan dilempar gitu”. Sementara Jen berjalan gontai sambil menenteng tasnya yang berwarna jingga.

Om Julian menyambut rombongan kecil itu dengan ramah dan selanjutnya keluarga Tanudjaja dibawa menuju sebuah caravan yang nampak indah. Di dalamnya ada dua tempat tidur susun yang diletakkan berseberangan, lalu ada sebuah sofa warna coklat diapit 2 buah nakas kecil. Ada juga sebuah meja makan dengan dua kursi panjang yang masing-masing cukup untuk dua orang. Lalu ada sebuah pantry yang dilengkapi kulkas, kompor 2 tungku dan bak pencuci serta sebuah toilet.

Caravan itu sangat terawat, diluarnya terdapat meja kotak dengan empat kursi di tiap sisinya, taplak warna biru muda dengan motif kotak-kotak kecil terlihat ceria dan hampir di segala penjuru terlihat bunga-bunga dan juga pepohonan yang sangat bernuansa alami. Di bagian lain dari area caravan yang berjumlah sekitar 15 unit dan saling terpisah, terdapat area outbound yang sangat luas dan menantang adrenalin. Flying fox setinggi 15 meter dengan track yang cukup panjang menjadi daya tarik utama. Belum lagi aneka kegiatan alam yang dibuat sedemikian rupa hingga bagai di sebuah pusat pelatihan fisik yang lengkap. Jen sudah ingin menjerit saja, hatinya sangat marah dan tentu saja merasa betapa kedua orang tuanya sudah tidak normal. Seorang gadis sepertinya diajak bahkan dipaksa ikut kegiatan yang kasar, sadis dan menjijikkan. Bahkan Papi dengan tega menegornya gara-gara ia memakai make-up.

“Jennifer?! Kamu ini mau olah raga apa mau fashion show? Papi lihat wajahmu penuh riasan? Apa nantinya tidak mengganggu?”, Papi bicara sambil melihat wajah Jen tanpa kedip. Jen kesal sekali dipandang bagaikan dirinya sejenis makhluk aneh.

Jen mendengus kesal, dalam hati dia tidak sudi seperti Yati yang wajahnya polos tanpa make up mirip anak laki-laki. Lain lagi pendapat Mami soal penampilan, ditegornya Yati yang nampak polos, “Nak?! Kok wajahmu dibiarkan polos seperti bangun tidur? Kemana pensil alis sama lip gloss yang Ibu belikan?”

Yati yang sudah tak sabar mencoba flying fox nampak tergagap, “Eh anu Bu …. Pensilnya udah pendek bangat, Yati raut patah terus, udah tepo (lapuk) kayanya tuh”.

Bu Melody terbelalak, “Hah??? Udah pendek? Kan baru seminggu Nak? Itu bukan pensil tulis, merautnya secukupnya saja, memang kalau pensil alis itu lunak”, Ujar Bu Melody sambil mengusap dada, Yati benar-benar sangat tomboy. “Nah lip gloss-nya mana? Sini Ibu pakaikan agar kamu nampak lembut”, Lanjut Ibu Melody.

“Eh anu Bu …… Udah patah jadi Yati buang, entaran dah Yati makan gorengan biar bibir Yati mengkilap, sama ajakan? “, Jawab Yati seadanya, dia nampak konsentrasi kepada  segerombolan anak-anak seusianya yang sedang dikumpulkan di lapangan, sepertinya akan dibentuk beberapa group.

Ibu Melody diam seribu bahasa, wajahnya nampak putus asa, bagaimana mungkin Yati bisa tampil feminin bila yang bersangkutan nampak tak perduli dengan segala urusan wanita. Papi hanya mengangkat alis dengan kocak melihat istrinya berwajah bingung.

******

Denting BBM terus saja terdengar, Jen sibuk meng-update nasibnya kepada ketiga sahabatnya. “Gila gak seh gw kudu meluncur sejauh itu? Asli makin lebay aja bonyok (Bokap nyokap) gw, mereka udah error, rasanya gw mau kabur deh”..

“Selon (santai) aja cuy, lu belagak biasa aja, jadi Papi lu nggak reseh”, Tulis Yuliza di BBM. “Kalo lo keliatan ngelawan, dia makin maksa-maksain elo kalee”.

Jen menatap area flying fox dengan bulu kuduk berdiri, dan matanya melotot saat dilihatnya Yati sudah memanjat ke atas pohon dan siap meluncur. “Mpok ayoo kita meluncur”, Jerit Yati memanggil Jen. Dan wuzzzz si Yati meluncur dengan kecepatan tinggi sambil berteriak kegirangan.

******

Jen dengan berat hati akhirnya tenggelam dalam kengerian. Yati menarik tangannya dan memaksanya naik ke atas tower di salah satu pohon besar untuk meluncur. Airmata menggenang di sudut matanya. Dia tak berani berulah lantaran Papi dan Om Julian nampak asyik memperhatikan dirinya. Entah ikatan macam apa yang melilit tubuhnya, namun Jen sadar sebentar lagi dia akan menghadapi kengerian. Yati menawarkan diri menjadi pendamping Jen, dan akhirnya keduanya siap dengan tali pengaman. Jen diam tak ingin meluncur, dari posisinya berdiri memang terlihat ngeri sekali, namun tiba-tiba saja Yati mendorongnya. Jen memekik histeris bersamaan dengan meluncurnya dirinya di ketinggian belasan meter. Jeritan Jen begitu menyayat hati, ditambah suara tangisnya. Sementara Yati berteriak riang nampak sangat menikmati.

Akhirnya mereka mendarat dengan mulus, dibantu petugas. Wajah Jen yang basah oleh keringat dan airmata membuat riasannya kacau balau. Mascaranya meleleh membuat wajahnya seperti racoon. Rambutnya awut-awutan, sungguh Jen kehilangan pesonanya. Dia berdiri tak jauh dari sebuah sawah buatan yang di dalamnya ada 4 ekor kerbau, kakinya masih gemetaran. Sementara Yati berjalan terlalu dekat dengan bibir sawah, dan benar saja, ia pun terpeleset, tangan Yati serabutan mencari pegangan dan Jen yang tak jauh darinya dicengkram di bagian betisnya. Jen yang tidak siap langsung kehilangan keseimbangan dan akhirnya sukses terjengkang ke dalam sawah yang becek.

Jen jatuh dengan posisi duduk, akibatnya dia benar-benar mandi air kubangan. Rambutnya gimbal basah oleh air lumpur. Kemalangannya belum selesai, tiba-tiba ada seekor kerbau mendekatinya. Jen memekik histeris dan Yati tertawa terpingkal-pingkal. Yati segera menunggangi kerbau itu dan berputar di dalam area sawah menuju ke pancuran untuk membilas tubuh sekaligus memandikan kerbau.

Jen benar-benar menjadi monster lumpur, dia menepi ke pinggiran sawah, sinar matahari mulai menghalau mendung. Dirinya merasa sangat malang dan dendamnya pada Yati kian berkobar, dia bersumpah akan membuat Yati nampak konyol, tunggu saja!

*****

Akhirnya semua beres, Jen mandi sebersih mungkin, dia sudah ratusan kali mengabari situasi dirinya kepada tiga sahabatnya. Mereka ikut geram membayangkan wajah Yati yang seenaknya membawa Jen ke berbagai atraksi maut.

Makan malam Jen lebih banyak diam, Papi dan Mami tahu Jen marah, namun toh di sisi lain Jen sudah melakukan kegiatan alam yang bagus untuk tubuhnya. Yati melahap sayur asem dengan nikmat, ikan gurame goreng, sambal, ikan asin jambal roti, tempe dan teh hangat memang sangat membangkitkan selera. Papi makan tanpa banyak bicara, Mami sesekali menawari Jen ini itu yang dijawab dengan gelengan. Hati Jen dipenuhi dendam, secepatnya dia pasti akan membalas Yati ….. tunggu saja.

 

5 Comments to "Gue Bukan Elo (11)"

  1. J C  23 October, 2012 at 10:34

    Lhaaaaa kapokmu kapan…byuuuurrrr ambyur di kubangan…

  2. Alvina VB  22 October, 2012 at 06:03

    wah ketinggalan sepurrrr….nanti dulu baca yg ke 8-10 dulu dech baru nyambung sama yg ini….

  3. Linda Cheang  20 October, 2012 at 18:42

    segitunya….

  4. Dewi Aichi  20 October, 2012 at 08:22

    Mas Enief bisa banget wakakakaka…aku cuma ngakak ngikutin serial ini dari kemarin….

  5. James  19 October, 2012 at 12:56

    SATOE Baltyra Slow Jay Jay Walking

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.