Tentang Bahasa Gaul, Iklan dan Pembuat Soal Ujian

Yeni Suryasusanti

 

Notes ini pendek saja, karena saya sebenarnya sedang tidak punya waktu untuk menulis, tapi ada topik yang membuat hati saya tergelitik. Pertama kali mendapat foto ini dari group BBM SD Bhakti, kumpulan Ibu-Ibu sekolah Ifan. Saya share ke beberapa group lain dan ke beberapa teman juga. Ada yang tertawa, tapi ada juga yang memberi berbagai komentar, di antaranya :

“Beneran nih? Kalau kaya gini pemerintahnya kemana ya? Harus bilang wow gitu he… he… he…”

“Pemerintah paling bilang, ‘Masalah buat loe?'”

“Ini betulan? Pelajaran apa? Pasti penulisnya gaolllll banget deh…

“Anak pinterrrrrr…”

“Hehehe… Up to date n Gaullll abiezzzzz…”

“Hehehe…. sekarang saya pun berkata W O W…”

“Yang bikin soal kreatip yaaaa??? Sayangnya bukan eikehhhh…”

“Wah… bisa 100 nih anak-anak gue hihihi….”

Dan seperti umumnya sebuah materi yang dipublikasikan, maka muncul dua pendapat: pro dan kontra.

Dengan niat menjajaki dan menambah wawasan bersama, saya mengirimkan gambar ini juga kepada 2 orang adik didik saya : Debby Cintya dan Dewi Damayanti ‘maya’. Keduanya belum menikah.

Seperti dugaan saya, awalnya respon keduanya cenderung negatif :D

“OMG… hal-hal yang kurang santun malah tambah ‘dipopulerkan’ ya. Kalau itu sampe muncul di soal ujian, means dunia pendidikan kita sekarang ikut-ikutan juga ‘meng-accept’ trend yg seperti itu…” demikian reaksi pertama Debby.

Maya lain lagi reaksinya, “Hahahaha…. kocak. Itu beneran soal mbak? Kayak nggak bisa pake pertanyaan yang lain aja.”

Reaksi Debby dan Maya inilah yang membuat saya menulis notes ini.

Kedua adik didik saya ini sejak pembinaan ketika menjadi pasukan di Paskibra 78 hingga sekarang terdidik menjadi pribadi yang terbuka, berwawasan cukup luas, diajari untuk tidak hanya melihat satu sudut pandang saja.

Bagi saya, untuk masalah ini mereka menjadi tolak ukur reaksi atas sebuah penerimaan informasi.

Jika mereka saja bereaksi  negatif awalnya, maka banyak orang juga akan demikian.

Terbukti dari komentar di atas, dari penilaian saya, hanya satu komentar yang positif : “Yang bikin soal kreatip yaaaa??? Sayangnya bukan eikehhhh…”

Yang lainnya? Hanya reaksi negatif atau menganggap hanya sebagai lucu-lucuan saja.

Menanggapi jawaban Debby dan Maya pada room BBM kami, saya mulai membuka ruang diskusi seperti biasanya :)

“Satu sisi begitu Deb, tapi ada sisi baiknya. Mereka mau membuat anak-anak ‘aware’ kalau kata-kata itu nggak bagus karena menggambarkan karakter nggak pedulian.”

“Ilmu jadi lebih ‘masuk’ ya mbak?” Debby mulai bereaksi positif.

“Finally, soal itu meminta anak-anak menganalisa dan pada saatnya memutuskan akan menjadi orang yang bagaimana…” saya melanjutkan.

“Yup, setuju juga mbak. However dengan sistem pendidikan sekarang yang saya amati makin mengkarbit dan instan (kurang membangun pondasi pemahaman), saya cuma khawatir kalau yang ditangkap sama anak-anak itu adalah ‘Ihhh soalnya gaol abiss’ rather than menangkap message ‘apa itu peduli dan apa itu tidak peduli’… Debby mulai mengungkapkan jalan pikirannya seperti biasa setiap kali saya memicunya :)

“Mbak ingat kan mbak sempat harus membantu Ifan memahami definisi kata-kata yang terdapat di buku paketnya karena Ifan nggak mendapatkan itu di sekolah? Saya pun sempat melakukan hal yang sama ke Hazel (keponakan Debby)…” lanjut Debby.

“Iya, itulah tugas orangtua di rumah SEHARUSNYA…” tegas saya, “Tapi ya tau sendiri kenyataannya…”

Debby menutup diskusi kami dengan kata-kata, “Jadi prihatin dengan anak-anak yang tidak memiliki sistem support di rumah yang membantu untuk membangun pondasi dan jembatan berpikir itu…”

Setelah diskusi itu, saya pun berpikir.

Ya, soal ini memang ibarat pisau bermata dua : Semakin populernya kata-kata tersebut dan diikuti oleh hampir setiap ABG bahkan orang dewasa, sehingga manusia tidak lagi mengikuti aturan “Berbicaralah yang baik atau diam”, atau kesadaran bahwa kata-kata tersebut mengindikasikan sikap tidak peduli sehingga tidak perlu diikuti.

Dunia pendidikan memang rentan dengan kecaman, entah itu dengan bermaksud menjatuhkan ataupun berupa kritik dengan niat baik untuk membangun.

Namun seringkali saya justru merasa heran.

Mengapa dunia periklanan yang mempopulerkan komentar ini untuk segala kalangan – baik pelajar maupun profesional – hanya demi rating sebuah iklan dan meningkatkan penjualan tanpa memikirkan efek negatifnya justru tidak dikecam?

Namun, ketika dunia pendidikan mengangkat masalah ini, muncullah berbagai kecaman.

Pendidikan memang sebaiknya memiliki “satu paket” antara pengajaran untuk pemahaman dan ujian.

Jika kita belum mampu untuk mengubah sistemnya, mungkin sudah waktunya kita berhenti hanya sekedar menyalahkan, dan mulai melakukan tindakan yang mendukung kearah penyempurnaan.

Seperti soal ujian ini – terlepas dari apakah soal ini benar ada atau hanya hasil rekayasa sang pembuat foto pertama – saya yakin sang pembuat soal dan sang pengirim foto berniat baik mengangkat hal ini.

Soal ini menunjukkan bahwa sang pembuat soal peka dengan gejala lingkungan dan berusaha meluruskannya jika terjadi indikasi penyimpangan.

Saya tidak mengetahui apakah materi ini pernah dibahas di kelas anak-anak, mengenai kesan-kesan akan karakter seseorang dari bahasa yang dipilihnya. Jika memang dibahas, WOW sungguh luar biasa :)

Namun jika belum, maka menurut saya sudah menjadi tugas kita sebagai orangtua, keluarga, sahabat bahkan teman untuk saling mengingatkan akan kebaikan.

 

Jakarta, 18 Oktober 2012

Yeni Suryasusanti

 

13 Comments to "Tentang Bahasa Gaul, Iklan dan Pembuat Soal Ujian"

  1. Yeni Suryasusanti  23 October, 2012 at 12:45

    Alvina : mengenai berita di jakarta post, saya juga dengar. Terlepas setuju atau tidaknya, saya pernah mendapatkan sharing cerita dari psikiater Ifan ketika masih autis dulu.
    Ifan dilarang masuk ke sekolah (playgroup) yg berbasis bahasa inggris. harus yg berbahasa indonesia, karena anak autis umumnya terkendala dgn kemampuan wicara, hingga Ifan menguasai bahasa indonesia dgn baik.
    Kenapa? Karena dalam banyak kasus, anak autis yg mempelajari bahasa inggris ketika belum menguasai bahasa indonesia, seringkali mengalami frustrasi dan akhirnya menolak berbicara karena mengalami kebingungan bahasa. Mereka bingung ketika harus mengungkapkan perasaannya.

    Bahasa Indonesia yang tidak populer harus bersaing dengan bahasa gaul yg nge-trend dan bahasa inggris yang bergengsi, mungkin dikdas khawatir pada akhirnya generasi muda indonesia hanya sedikit yang bisa menguasai bahasa indonesia (EYD).
    Pertimbangannya, mungkin selama bobot mata pelajaran lain tidak berubah, hanya bahasa inggris yg ditiadakan di SD (dan masih bisa mengambil kursus di luar jika berkenan), dirasa tidak akan sampai disebut sebagai “terbelakang”.
    hehehe….. ini hanya kemungkinan yaaaa soalnya saya bukan orang diknas hehehe…

    Anyway, ketika jaman kita, pelajaran bahasa inggris baru diperkenalkan di SMP, toh kita juga bisa menguasai dan tidak terbelakang kan?

  2. Yeni Suryasusanti  23 October, 2012 at 12:35

    All : Temen2…. Maaf ya baru respons sekarang… ketimbun kerjaan euy….
    Untuk soal diatas, jika dilihat dari “kepantasan”, memang bisa dirasa kurang pantas muncul di ujian, apalagi ujian Bahasa Indonesia.
    Mungkin masih bisa masuk di pelajaran yg mempelajari karakter bangsa spt PMP pada jaman kita dulu, tapi tentu soalnya masih harus dimodifikasi lagi shg lebih sesuai (misalnya c. Tidak peduli, shg kurang cocok dgn karakter bangsa Indonesia). Saat ini PMP di ganti PKN (Pendidikan Kewiranegaraan), mungkin saja dianggap kurang tepat masuk kategori pelajaran ini, sehingga dimasukkan ke soal Bahasa Indonesia (krn Bahasa menunjukkan Bangsa).
    Anyway, mungkin yang paling tepat, masalah bahasa gaul hanya dibahas di kelas sebagai bentuk kepedulian guru terhadap bahasa yang digunakan para siswa.

    Saya sendiri menerapkan penggunaan bahasa Indonesia di rumah. Tentu tidak selalu baku dan sempurna, masih sesekali muncul kata “nggak” diantara kata “tidak”, dsb

  3. J C  23 October, 2012 at 11:20

    Dalam hal ini, aku setuju dengan mas Iwan: “berbahasa Indonesia yang baik dan mendingan”

    Semoga selama ini para pembaca (terutama yang silent readers) mendapat pengalaman berbahasa Indonesia yang mendingan di Baltyra ini. Terutama artikel-artikel di sini akan dikawal semaksimal mungkin supaya mendingan Kalau untuk komentar…yaaahhh…semoga mendingan juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.