Monolog Dalang Kenthir (1)

Taufik Daryanto Jokolelono

 

[Wednesday 25th of July 2012 05:47:51 PM]

“Candi Borobudur itu termasuk tanda-tanda kebesaran Alloh juga ya Bu?” tanya gadis kecil itu pada ibunya, di sela-sela tayangan berbagai keajaiban Timur Tengah khas Ramadhan yang mereka tonton. “tentu saja. . .” jawab sang ibu. “kalau ada pasien sembuh setelah dido’akan oleh pendeta, apakah yang menyembuhkan juga Alloh?” “tentu saja. . .” “Alloh baik ya Bu?” “tentu saja. . .”

 

[Thursday 19th of July 2012 08:30:59 AM]

“Please dech jangan mondar mandir di jalan, aku mau main mobil-mobilan nih” “ini jalan nak. . , tempat orang jalan, bukan tempat main mobil-mobilan” Dialog anak itu kurang lebih sama dengan, “please dech jangan buka warung makan siang-siang lagi puasa nih. . .”

 

[Monday 16th of July 2012 08:13:35 PM]

“Mulai minggu depan sebulan penuh, uang jajanmu ibu kurangi nak.” “lho emang kenapa Bu?” “emm dagangan lagi sepi” kata perempuan setengah baya itu pada putrinya. Dalam hati dia berkata, “maafkan Ibu Nak, setiap Ramadhan tamu-tamu sepi, banyak operasi di sana-sini”

 

[Wednesday 4th of July 2012 07:24:45 AM]

“Sepeda motor Anda ini rusak, tak bisa jalan karena Anda mengisi tanki bahan bakar dengan air, bannya juga tidak Anda pompa, hmmm apakah Anda tak membaca buku petunjuknya??”

“Saya baca kok pak, tiap hari malahan” “lalu kenapa tidak Anda laksanakan petunjuknya?” “Saya tak paham artinya Pak, petunjuknya pake bahasa Arab” “Lalu tiap pagi Anda baca itu buat apa?” “ya sebagai mantra sebelum naik motor ini Pak” “hahaha Anda ini pasti datang dari jaman pra sejarah ya?” “. . . ?!?”

 

[Thursday 28th of June 2012 09:21:47 PM]

Anak muda itu menundukkan wajahnya, butiran air mata melukis wajahnya. “Kenapa kau menangis?” “Hati saya tersentuh, terharu mendengar lantunan bacaan Qur’an itu guru, nadanya begitu indah, tenang dan damai” “Kata siapa itu bacaan ayat2 Qur’an? Itu hanya syair-syair cinta berbahasa Arab” Sejak saat itu sang murid lebih giat lagi mempelajari Al Qur’an.

 

[Tuesday 26th of June 2012 08:30:50 PM]

“Jika domba-domba tersesat dan para kafir bertemu, apa yang akan mereka lakukan?” “Ngopi bareng mungkin?” “Ya mungkin juga, tapi pasti akan diakhiri dengan debat sengit bahkan bertengkar hebat”.

 

[Monday 18th of June 2012 02:57:18 AM]

“Mak tadi Asih ama pak ustadz dibilangin bahwa kita itu harus belajar sabar, kenapa harus belajar sabar sih Mak?” tanya Asih, dalam ringkuk di atas tikar lusuh itu. “Karena kalau kita sabar, kita tetep bahagia walau kita miskin dan lapar” “Lalu anak-anak pejabat dan orang-orang kaya, apakah harus belajar sabar juga?” “Ah Emak gak tau Nduk, mungkin mereka lebih senang belajar tentang syarat rukun ibadah haji, dan ngapalin doa-doanya” “Emang kalau udah haji bisa bahagia Mak?” “Ah ga tau, udahlah tidur aja, besok kita ngamen lagi” Selimut kumal itu dinaikkan untuk menutupi tubuh mereka, pintu tak perlu dikunci karena kolong jembatan memang tak pernah berpintu.

 

[Saturday 9th of June 2012 05:22:42 PM]

“Kenapa akhir-akhir ini sering terjadi Gempa Kyai?” “Lho kok tanya saya? Soal gempa ya tanya orang-orang BMKG sana!”

 

[Sunday 17th of June 2012 11:36:17 PM]

“Kenapa adik saya meninggal Dok?” tanya seorang kakak yang adiknya baru saja meninggal di IGD sebuah Rumah Sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. “Sabar ya Mas! Mungkin ini sudah kehendak Tuhan” kata dokter. “Kecelakaan itu parah sekali Mas, saya lihat kepala Adik Sampeyan terlindas truk, otaknya muncrat, darah berceceran” sahut seorang tukang parkir yang ikut mengantar korban. “Sstts. . .diam kamu! Jangan bikin keluarga pasien jadi tambah cemas!” bentak dokter. “Tidak dok, saya kecewa sekali pada Anda, jawaban Anda sebagai seorang dokter mengecewakan, dan saya berterima kasih atas penjelasan sampeyan Pak” kata sang kakak sambil menjabat tangan tukang parkir.

 

[Thursday 19th of April 2012 08:05:53 AM]

“Banci kok Jum’atan. . .emang wajib juga bagi dia ya?” “iya. . .heran, banci kan biasanya di salon, bukan di masjid. . .” Kasak kusuk di serambi masjid itu menimpali khotbah jum’at sang khotib dari atas mimbar, Mak Wi berjalan tenang memasuki masjid, agak ganjil memang penampilannya dengan sarung dan kopyah itu, sementara buah dadanya menyembul dr balik pakaian kokonya. “aku hanya ingin jadi hamba yang baik dan menjalankan perintahNya, itu saja” kata Mak Wi dalam hati, sambil duduk di antara para jamaah Jum’at di dalam masjid.

 

[Monday 19th of March 2012 04:09:04 PM]

“Memakai celana dalam atau tidak, itu urusan pribadi. Orang lain tak perlu tau dan tak perlu diumum-umumkan!” “Sampeyan ini ngomong opo Cak?” “Bukankah konyol dan menggelikan, jika ada orang yang ga pake CD trus diumum-umumkan di ruang publik?” “Iya konyol, tapi maksud sampeyan itu apa, pagi-pagi dah ngomongin CD, lagi tengkar ama Nyonya ya??” “Bukan itu, aku itu lagi gemes, dari kemarin FB ku berisi status dan komen orang-orang yang koar-koar ngaku atheis ama agnostic, itu kan urusan pribadi?” “Ya maklumi aja, mungkin mereka lagi seneng-senangnya” ~ngopi pagi bareng tukang ojek di terminal~

 

13 Comments to "Monolog Dalang Kenthir (1)"

  1. Yuli Duryat  26 October, 2012 at 18:37

    Tinggal pilah pilih ya….

  2. Bagong Julianto  26 October, 2012 at 17:46

    Banyak perkara…..

  3. Lani  23 October, 2012 at 22:43

    TAUFIK DJ: paling demen alinea paling akhir………esuk2 wis digawe ngakak karo pentulise……..ringan, mesam mesem, tp menohok………sapa ya yg kena tohok????? hehehe ngaku dewe2 waelah………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.