[Serial Deliku] Me and The Deli

Dian Nugraheni

 

Dear teman-temanku semua, kali ini aku bikin Note, sangat panjang, karena note ini aku harapkan menjadi penutup kisah Serial DELIKU. yang berkenan, yang pengen tau serba-serbi sebuah Deli, monggo dibaca-baca sambil santai aja, sehari, dua hari, atau seminggu dan berminggu-minggu…, bebas saja, nggak usah buruan komen hanya karena, mungkin, nggak enak nih, sudah ditag…harus komen…ha…Enggak lah yaa..aku bikin note, dan nge tag mau pun enggak ngetag, semata-mata untuk berbagi pengalaman saja…Semoga menghibur, dan menambah wawasan…

______________________________________________________________________

 

Me, and The Kitchen

Tak pernah benar-benar mengidolakan tokoh kartun sebelumnya, tapi sejak Sponge Bob Square Pants muncul, aku merasa sangat dekat dengannya. Banyak sifat dalam diri Sponge Bob yang mirip denganku, hixixixixixi… Kali ini, persamaannya adalah, bahwa aku kerja di dapur sebuah Deli, dan Sponge Bob bekerja di dapurnya Crusty Crab.

Dalam salah satu episode, diceritakan bagaimana Sponge Bob membuat sandwich dengan kecepatan luar biasa, karena pelanggannya sangat banyak, bahkan antrian mengular sampai di luar pintu. Ini pun sama kejadiannya dengan Deli tempatku bekerja. Sekali lagi, pelanggan sekitar 1500 sampai 2000 orang per hari, bukanlah main-main, ini, luar biasa.

Pernah juga diceritakan, bagaimana Sponge Bob sangat mencintai spatulanya, “suthil” yang dipakainya untuk membalik Patie, daging berbentuk pipih bundar di grill, dan bagaimana Sponge Bob sampai hafal, bagaimana bunyi sesama daun letuce ketika bergesekan.Grillnya dapur Crusty Crab pun sama dengan yang ada di deli tempatku bekerja, kotak, berasap terus menerus tanpa henti, karena grillnya juga terus berkegiatan.

Kalau ada beda, mungkin, selalu digambarkan bahwa SpongeBob, sendirian di dapur, sedangkan aku, ada dengan 6 crews Deli lainnya, umpel-umpelan, saling berteriak “behind you…” agar enggak tertabrak-tabrak satu dengan lainnya.

Secara keseluruhan, bisa disimpulkan, bahwa Sponge Bob adalah bekerja keras, di dapur, membuat sajian buat para pelanggannya, tapi dia sangat mencintai dan menikmati pekerjaannya itu. Gambaran itu tidak beda dengan diriku saat ini, sebagai salah satu crew di dapur Deliku…

 

Me, and The Sandwiches

Membuat Sandwich adalah perkara “bagaimana menumpuk” bahan-bahan sandwich, dari rotinya, dagingnya, keju, sayuran, dan dressingnya, serta asesories yang lain, bukan perkara bagimana “meramu” sesuatu, karena semua bahan, sudah tersedia dari pabriknya, dalam bentuk sediaan yang bisa dikatakan, sudah final, bisa langsung dipakai, atau setengah final, harus dipanaskan dahulu. Jadi dalam hal ini nggak usah repot-repot mikirin, ini kurang asin atau kurang gurih, dan seterusnya.

Secara resmi, bagi orang baru di kitchen, nggak bakal ada acara training-trainingan, apa dan bagaimana membuat sandwich. Sistem pembelajaran yang ada adalah monkey see monkey do, atau terjemahan harafiahnya, (bagaikan) monyet melakukan apa yang dilihatnya…

Di Deliku ini, saking banyaknya antrian, lebih sering, crews membuat sandwich cepat-cepat. Dalam gerakan cepat itu, hampir semua crews yang sudah bertahun-tahun bekerja di kitchen Deli ini, menghasilkan “tumpukan” sandwich yang rapih dan tidak berantakan. Bahkan beberapa di antaranya ada yang sangat hati-hati, cara mengiris, mengoles, menumpuk, memotong, kemudian membungkusnya.

Sandwich dalam “normal” bread, alias “roti tawar” (Foto diambil dari hasil googling)

 

Sandwich besar, biasanya menggunakan Hoagie Roll, atau Sub Roll…(foto ini aku ambil dari hasil googling, karena aku ga sempet motret sandwich ketika bikin di deli, kurang lebih, tampangnya sama seperti ini)

 

Aku merasa, sebagai salah satu crew yang pengennya perfect, sempurna, aku senang membuat sandwich dengan rapi. Favoritku adalah, ketika Pelanggan memesan sandwich yang di “wrap” dalam tortila, atau pita, yang berbentuk lembaran seperti kulit lumpia. Boleh buktikan, sandwich dalam wrap buatanku, akan amat sangat rapih, meski untuk hal ini aku memerlukan waktu sedikit lebih banyak, dan kadang-kadang dibatin sesama crews..”nge’wrap sandwich kok kayak mbungkus kado…”

Aku juga sedikit agak “gila”, saking sukanya membuat sesuatu yang presisi, kadang tanpa disadari bahwa caraku menumpuk dan memotong sandwich, agak berbeda dengan teman-teman lainnya. Beberapa teman memotong long sub rol, roti sandwich berbentuk pipih panjang, di tengah-tengah, dengan posisi potongan agak miring, rasanya cuma aku yang memotong sandwich besar ini tepat di tengah, dengan model potongan tegak lurus. Atau kalau model rotinya adalah model roti “biasa” (model roti tawar), aku akan memotong sangat diagonally, dengan tepat memotong dari ujung satu ke ujung miring lainnya.

Saking seksamanya aku mengoles roti, seorang teman berkata dengan nada tidak sabar, “ngoles roti tuh sekali usap, nggak usah bolak-balik kayak pelukis memainkan kuas begitu…!!” Hmm, nggak tau dia, memang aku suka main-main dengan gambar dan cat.

Yaa, akhirnya, setelah lama bekerja di dapur Deli, para crews akan mempunyai style sendiri-sendiri dalam membuat sandwichnya. Dan nggak bisa ditawar-tawar, aku tetap bersikukuh bahwa sandwichku harus bersih, rapi, dari ketika membelah roti, mengoles dressing, menumpuk bahan-bahan, kemudian memotongnya tepat di tengah, sampai membungkusnya. Soal kerapihan ini, terus terang aku bilang, “boleh diadu deh….”

 

Me, and The Customer

Semua Customer, Pelanggan, sama dan sebangun kedudukannya bagi aku. Siapa pun yang memesan, akan aku bikinkan sandwich sesuai standard yang ada. Membuat sandwichnya pun, sama juga, dengan hati senang dan penuh semangat.

Sembilan puluh persen lebih pelanggan adalah mahasiswa George Washington University. Namanya juga anak-anak, maka tingkah laku mereka pun berkisar pada “kecerdasan” usia mereka. Rata-rata, sikap mereka adalah sopan dan sangat ramah, banyak pula yang konyol dan menggelikan.

Banyak di antara mereka yang kenal baik denganku dan kuhapal namanya, sekali dikasih tau namanya, biasanya aku akan terus ingat. Mereka ini, bila bertemu di jalanan pun akan menyapa dan memberikan pelukan persahabatan. Ketika mereka ngantri, aku akan memanggil nama-nama mereka. Tapi terus terang, dari banyak yang kuhapal namanya, lebih banyak lagi yang aku nggak tau namanya.

Yang paling bikin gemes, kalau pelanggan ini sudah pesan, kemudian ketika menunggu pesanannya, mereka  “not pay attention”, alias becanda rame-rame dengan kawan lainnya, atau asyik dengan handphonenya, maka “panggilanku” akan sia-sia. Hal ini akan memperlambat laju antrian yang belum mendapat giliran memesan sandwich, juga akan menimbulkan resiko sandwich lain yang sedang aku buat, bisa gosong bila itu sandwich yang harus dipanaskan di grill.

Sebagai catatan, tidak ada satu pun crew kitchen yang melayani pelanggan dengan “take order” hanya satu order. Yang ada, sekali take order, satu crew bisa ambil tiga atau empat order sekaligus. Maka sang Crew harus berpikir dan bergerak cepat untuk mengatur, bagaimana ke empat sandwichnya itu akan selesai dalam waktu berturutan yang tidak terlalu lama.

“Bacon Egg and Cheese Everything Bagel with hot sauce and ketchup, please..,”  begitu misalnya aku teriakkan. Dan nggak ada satu pun yang maju ke Deli Bar untuk mengambil. Bacon adalah daging babi yang digoreng krispi kayak usus goreng, Everything Bagel adalah Roti Keras bolong tengah, yang atasnya ditaburi popi seed, sesame seed, dan onion. Bagel jenis ini termasuk yang paling disukai pelanggan.

Aku tunggu sejenak, karena aku  nggak mau sandwich yang sudah kubuat, akan sia-sia.

Kemudian, mau nggak mau aku akan teriak dengan nada lebih “kejam” lagi, “Miss, your sandwich please..!”

Kalau belum dengar juga, aku akan sangat berteriak, “Bacon Egg and Cheese, with hot sauce and ketchup, pleeeeese..!!” (bukan plis lagi, tapi sudah pleees…).

Percaya nggak, sering kali sudah begitu kenceng teriaknya, belum juga si Pemesan menyadari bahwa pesanannya sudah diteriakkan berkali-kali. Kalau sudah demikian, maka aji pamungkasku akan keluar, “Excuse me…bacon egg and cheese with hot sauce and ketchup on the Everything Bagel,…please..!!”

Nahh, kalau sudah pakai “excuse me”, biasanya orang akan langsung “terbangun”, karena dalam ukuran sopan santun, kata ini cukup sakti digunakan untuk “memaksa mengundang perhatian”. Kalau sudah begini, biasanya, baik sesama pelanggan maupun si Pemesan sendiri akan saling gemremeng, mengingatkan, “I think that’s your sandwich..”. Nahh, baru deh si Mbak atau si Mas pemesan sandwich yang not pay attention ketika menunggu pesanannya siap, akan tergagap-gagap, “ehh, oohh, I’m so sorry…yaa, my sandwich, thanks you very much.., my bad…!”

Huhh..!! Cepek kalau sudah ketemu yang beginian ini, iya kalau cuma satu di antara ratusan pemesan, kalau puluhan..? ha…ha…

 

Me, and Other Crews

Di kitchen Deli, masing-masing crew bekerja sendiri. Artinya, dia harus take order sendiri, dan menyelesaikan ordernya itu secara mandiri. Juga nggak ada manajer, pengawas, atau apa. Sang Owner sudah pasrah bongkokan pada semua crews Kitchen, tanpa perlu mengontrol apa pun, kecuali mengontrol stok.

Ini mungkin yang paling “lucu”, bagaimana aku bergaul dengan crews lainnya. Terus terang saja, bekerja di dapur deli, tidak memerlukan pekerja dengan pendidikan tinggi. Tujuh crews di Deliku adalah campuran, antara orang yang tidak bisa baca tulis dengan lancar, ada yang mendapat sertifikasi dengan melakukan kursus “persamaan” tingkat SMA, ada TKW yang cuma lulus SMP, ada bekas boss di salah satu perusahaan minyak di Indonesia, ada juga yang jebolan sarjana penuh di Indonesia.

Masing-masing “bekal” itu memang akan nampak pada beberapa sisi. Maksudnya, antara yang nggak bisa baca tulis lancar dengan yang bekas boss maupun yang sarjana penuh, ketika membuat sandwich, boleh sama bagusnya, tapi, ketika dia “berlaku”, bagaimana berbicara dengan customer, bagaimana bersikap dengan sesama pekerja dan lain-lain, akan tetap nampak beda antara satu dengan lainnya.

Bekerja, di dapur sempit, dengan jumlah customer yang demikian banyak, mengantri, mengular selama berjam-jam non stop, bekerjasama dengan teman-teman dengan berbagai latar belakang kebangsaan yang berbeda, budaya yang berbeda, yang masing-masing mempunyai masalah hidup sendiri-sendiri, membuat sandwich dengan tingkat kecepatan tingkat dewa, mustahil bila tidak ada singgungan, friksi, atau bahkan pertengkaran.

Sempat beberapa teman saling bertengkar dan beradu mulut mau pun fisik, saling meneriakkan kata-kata yang menyakitkan hati. Sering pula barang-barang dapur dibanting-banting bila ada yang sedang marah.

Beberapa teman, nampak cool, termasuk aku pun, berusaha tetap cool meski sering terlalu jengkel, ujung-ujungnya, aku malah ngudang, atau nembang, dengan suara yang aku bikin “sendeso” mungkin, “tak deleng-deleeeeng, jebule kinjeng, tak inceng-inceeeeng, jebule nggantheng…” Ha..ha..ha…

Lalu salah satu teman Indonesia, akan menyambung dengan lagu-lagu dengan kalimat sendiri, tapi dengan nada lagu Cucak Rowo. Tak ketinggalan, salah satu teman dari Vietnam, Kevin Nguyen, pemuda yang sangat centil ini akan menambah dengan lagu daerahnya, “machiya maaaa…”, nadanya terdengar seperti lagu berbahasa Bali. Ketika menyanyikan sepenggal kalimat itu, Kevin Nguyen menghentikan sejenak kegiatan menumpuk sandwichnya, dan melambai-lambaikan tangan seperti menari. Bibirnya mincis, nampak lebih seksi dari bibir perempuan. Suasana tambah gayeng. Lha wes ngapain, susah-susah kerja, kerjaan juga nggak ringan, kalau nggak bisa asyik ya rugi batin sendiri lah yaa…

Beberapa crews, bersikukuh bahwa mereka mempunya customer favorit. Dan ketika customer-customer itu datang, maka mereka lah yang harus “melayani”. Bila, misalnya, ada salah satu customer mereka, secara kebetulan aku layani, mereka bisa marah besar, ngambek, dan bilang bahwa aku “mengambil boy friend” mereka.

Beberapa saat setelah bekerja dengan mereka, aku jadi hapal, mana saja “boy friends”nya crew A, B, C, dan seterusnya. Maka untuk tidak mengundang kegaduhan, bila mereka-mereka ini datang, maka akan aku serahkan kepada “yang berhak”. Dan biasanya mereka senang hati, akan bilang, “thanks for respect me…”

Bagi aku, this is kind of silly, karena bagi aku, siapapun customernya, aku akan layani sama rata sama rasa, sama seriusnya ketika membuatkan pesanan mereka.

 

Me, and The Owner

Ownernya, Pemiliknya, namanya Pak John, orang peranakan Amerika Italy, romannya kalem setengah der, bahkan cenderung tanpa ekspresi. Baik budi, dan sama sekali tidak “bossy”. Namun demikian, aku tetap melihat bahwa dia seorang pebisnis, yang menghitung untung dan tentu saja nggak mau rugi.

Dia ngepel sendiri kopi atau apa pun yang ditumpahkan Pelanggan, ngecek jar kopi apakah perlu ditambah, berdiri di meja kasir dari jam 6 pagi hingga jam 3an sore, pakai baju amat sangat sederhana, bahkan kadang sobek di sana-sini…hixixixi…

Secara pribadi, aku nggak merasa dekat dengan Sang Owner. Ini memang sudah menjadi “kebiasaanku”, di mana pun aku bekerja, sejak dulu kala, aku nggak pengen dekat atau mendekat-dekat pada Pemimpin atau Owner. Nggak tau kenapa. Mungkin aku terlalu idealis, dalam artian, aku ingin bisa bekerja secara profesional, di bidang apa pun aku sedang melakukan pekerjaan itu. Dan kedekatan terhadap Owner, kadang malah akan membuatku “serba salah”, atau enggak bebas dalam bekerja.Dengan bekerja secara profesional, berarti aku membuat puas diriku sendiri, sekaligus akan terlihat dari “hasil kerjaku”, itu yang aku inginkan. Bila baik, tentunya akan membuat senang banyak pihak, bila ada salah atau kekurangan, aku sangat suka untuk ditegur atau diberi tahu.

Aku rasa, aku selalu profesional ketika mengerjakan pekerjaanku. Entah itu pekerjaan mandiri, terutama yang menyangkut hobiku, seperti mendesain kostum, mendesain pernik-pernik dan sekaligus membuatnya, atau ketika bekerja pada orang lain, bersama-sama dengan para pekerja lain.

Dalam keprofesionalanku itu, tak sekali pun aku merasa rendah diri atau malu, bahkan ketika saat ini aku bekerja sebagai Sandwich Maker di sebuah Deli. Aku bahkan bangga, dan aku merasa nggak kalah dengan Iron Chef Amerika, misalnya mbak Cat Cora, salah satu Iron Chef perempuan yang malang melintang dalam berbagai “food batle” yang sering aku tonton di Food Channel, di TV. Dan ngemeng-ngemeng, aku berani saja lho, kalau ditantang duel memasak dengan mereka, para Iron Chef ini. Ini enggak becanda..suer ewer-ewer, aku serius…

 

Me, and The Salary

Sang Owner membayarku cukup, dalam artian, di atas standard rata-rata selevel pekerja “kasar” di Amerika. Jadi, tidak perlu berkecil hati, bukan…? Buruh atau bukan buruh, yang penting merasa merdeka ketika bekerja, dan mendapatkan upah yang bisa digunakan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.

Tapi percayalah, aku sama sekali bukan jenis seorang “pengabdi”. Baik pengabdi pada Owner maupun pada perusahaan. Kalau pun ada pengabdian, itu adalah pengabdianku pada diriku sendiri. Artinya ketika dalam bekerja, aku senang, mendapatkan apa yang aku harapkan, dan masih ingin bertahan di suatu tempat, ya aku akan bertahan. Bila sudah “tidak ingin” bertahan, maka aku easy going saja, biasanya aku akan berhenti, atau cari pekerjaan lain. Sejauh ini yang aku yakini hanya, harus bekerja dan mencari nafkah secara halal, apa pun bidangnya, di mana pun tempatnya….

 

The Breakfast

Sandwich dalam sediaan roti bagel atau roti “tawar”, atau English Muffin, atau roti-roti kecil lainnya, biasanya isinya sederhana, seperti Egg and Cheese, atau hanya Fried Egg saja, Tyler Porkroll, Ham egg and cheese, Bacon egg and Cheese. Atau yang paling sederhana, adalah, Toasted Bagel yang dileleti butter atau cream cheese saja, dan lain-lain.

 

The Lunch

BLT (Bacon Lettuce Tomato), Steak and Cheese, Chicken o’ Philly, Chicken Barbeque, Beef Barbeque, Italian Sub, Cold Cut Sub, Californian, Beef Brisket, Pastrami, Roastbeef, Cornedbeef, Meatball Sub, Chicken Parmesan, Fish Fillet, Gyro (Lamb over the Pita), Boneless Barbeque, Portabela Mashroom, Fresh Mozarella Sandwich, Corned Beef Hash, Rueben, Veggie Burger, Burger, Veggie Sandwich, The Club, Grilled Cheese, Breaded Chicken, Grilled Chicken, dan masih banyak lagi.

 

The Dressing

Dressing dasar adalah mayonnaise dan mustard. Kemudian dressing “turunan” dari kombinasi mayonnaise dan dressing-dressing lainnya, akan menghasilkan dressing seperti Italian Dressing, Russian Dressing, Ranch, Honey Mustard, Chipotle Mayo, dan lain-lain.

Saus yang banyak digunakan, Barbeque sauce, Hot sauce, Ketchup (Saus tomat), dan lain-lain.

 

The Salad and Pasta

Turkey Vegetable, Mediteranian Salad, Tuna Pasta, Tuna Salad, Chicken Salad, Egg Salad, Lasagna, Mac and Cheese, Beef-peroni, Spagheti, Potato Salad, dan lain-lain.

Lengkap sudah paparanku tentang serba-serbi salah satu Deli di Amerika. Note ini aku harapkan menjadi penutup Serial DELIKU, kecuali ada ide cerita lain yang perlu aku ungkapkan…

 

Salam Deliku,

*Sengaja aku pakai kata Me untuk menyebut diriku, karena kadang aku terkontaminasi oleh bahasa yang digunakan salah satu temanku yang berbahasa Espanyola, dia, dengan bahasa Inggrisnya yang cukup mawut, selalu bilang, “Me no thinking (saya enggak berpikir), Me no see (saya enggak melihat), me no have (saya engak punya), dan seterusnya…he..he..he…

 

Virginia, 

Dian Nugraheni

Selasa, 18 September 2012, jam 10.37 malam

(Hujan cuma sebentar, kurindukan hujan berikutnya, Fall is coming..)

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

15 Comments to "[Serial Deliku] Me and The Deli"

  1. Alvina VB  28 October, 2012 at 04:56

    Dian: Cerita yg menarik, gak pernah denger cerita2 dibalik counter Deli. Di sini yg ngetop itu Subway dan sudah jual tempe segala loh utk yg vegetarian. Cheers….

  2. Bagong Julianto  26 October, 2012 at 18:00

    Siippp…..
    Nunggu Me and Me yang berikut…..

  3. triyudani  24 October, 2012 at 20:46

    anakku ngilerrrrrrrrrrr..nyawang gambare

  4. nevergiveupyo  24 October, 2012 at 14:13

    nice story mbak!

  5. ugie  24 October, 2012 at 10:54

    Dian , ceritamu menarik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *