Draupadi (8)

Chandra Sasadara

 

Hardikan Ratu Sedhesa telah menyadarkanku bahwa sekarang Draupadi, istri Pandawa ini bukan siapa-siapa. Bukan putri Negeri Pancala  yang disanjung oleh semua rakyatnya, bukan juga Permaisuri Negeri Indrapastha yang agung dan disegani oleh negeri-negeri lain di tanah Hindustan. Sekarang aku hanya seorang pelayan yang hidup menumpang di negeri orang dengan keadaan menjadi buronan Kaurawa. Aku tidak akan sanggup kalau harus menjalani hidup di pengasingan selama dua belas tahun lagi dan bersembunyi selama dua belas bulan dari mata-mata Hastinapura.

Namun apakah pantas aku menyerah setelah semua penderitan yang aku dan lima suamiku jalani berulang hanya karena kematian Kicaka.  Tidak, meskipun aku hanya seorang pelayan aku berhak untuk membela diri dari kekurangajaran perilaku Kincaka. Lebih dari semua itu, aku tidak pantas menyerah setelah semua penderitaan ini.

Aku sedang mempertimbangkan untuk menjelaskan siapa sesungguhnya Sairandri ini, pelayan yang disebut sudra oleh majikanya. Siapa sesungguhnya Kangka, sanyasin yang menjadi pelayan Raja Wirata itu. Siapa Brihannala, banci yang mengajarkan tari kepada anak-anak pembesar Negeri Mastya.  Siapa Walala, tukang masak dan pencari kayu hutan di barak tentara. Aku juga ingin menjelaskan siapa Dharmagranti dan Tantripala, dua laki-laki kembar yang menjadi perawat kuda dan penjaga ternak kerajaan. Mereka tidak lain adalah Yudhistira, Arjuna, Bhimasena, Nakula dan Sahadewa.

Ratu Sudhesa akan pingsan kalau mendengar kebenaran ini. Tapi apakah itu akan menyelamatkan kami dari mata-mata Kaurawa yang aku yakini telah masuk di istana Negeri Mastya. Bisa jadi Ratu Sudhesa akan ketakutan setengah mati kalau aku sebut nama-nama suamiku, tapi kami juga tidak akan selamat dari hukuman Kaurawa. Memgulang hidup dipengasingan dan bersembunyi dari intaian orang-orang Kaurawa. Oh Dewa, apa yang dapat aku pilih di tengah kesulitan ini.

Di tengah pikiran yang sedang kalut mencari cara selamat agar pengusiranku bisa ditunda beberapa hari lagi oleh Ratu Sudhesa, tiba-tiba laki-laki muda yang sangat aku kenal masuk ke bilik pribadi ratu. Pangeran Uttara, yuwaraja negeri Nastya itu masuk tanpa permisi. Anak tertua Raja Wirata itu dalam keadaan panik dan ketakutan.

“Ibu Negeri kita sedang dikepung oleh pasukan Kaurawa.” Kalimat Pengeran Uttara hampir tidak bisa aku dengar. Wajah putra mahkota pucat.

“Apa maksudmu Uttara, sampaikan dengan tenang!” Ratu Sudhesa menghardik anaknya. Ia kelihatan berusaha meyakinkan dirinya tentang kabar yang baru saja didengarnya. Aku tahu permaisuri tidak kalah panik dibanding anaknya meskipun belum tentu kabar yang dibawa sang pangeran itu benar adanya.  Nampak jelas baik ratu maupun Pangeran Uttara sama-sama ketakutan.  Aku sendiri baru tahu ternyata keluarga Kaurawa dan pamor kesatria negeri Hastinapura membuat negeri-negeri lain bergidik mendengarnya.

“Ibu, kita dikepung dari utara dan selatan. Ternak-ternak kita telah dirampas oleh pasukan Kaurawa.” Suara serak Pangeran Utara menambah pucat wajah Ratu Sudhesa.

“Di mana ayahmu, di mana Raja Negeri Mastya? Mengapa ia tidak memimpin pasukannya?” Ratu Sudhesa mulai panik. Ia mungkin sedang membayangkan bahwa pasukan Hatinapura yang menyerang negerinya di pimpin langsung oleh para kesatria-kesatria sakti seperti Bhisma, Drona, Kripa, Aswatthama, Karna dan Duryodhana.

“Ayah telah memimpin pasukan menuju arah selatan Ibu, di selatan pasukan Kaurawa di pimpin oleh Susarma dari Negeri Trigata. Mereka telah berhasil merampas ternak kita Ibu.” Wajah pucat Pangeran Uttara dipenuhi oleh keringat. Aku tetap membeku, sambil mendengarkan setiap kalimat yang dibicarakan oleh ibu dan anak itu. Tiba-tiba wajah pucat Ratu Sudhesa memandangku.

“Sudra! Aku yakin kamu adalah bagian dari penyerangan Kaurawa ini. Kamu memata-matai kami dengan berpura-pura jadi pelayanku” Kini aku yang pucat, lemas dan hampir tidak bertenaga. Kalau ratu mau saat itu juga ia bisa memerintahkan anaknya atau pengawalnya untuk memenggal leherku dengan tuduhan memata-matai Negeri Mastya. Aku berusaha untuk tenang dan seolah-olah tidak paham maksudnya.

“Apa maksud Ratu?” Aku pura-pura bertanya meskipun mulai bisa menebak arah pembucaraan Ratu Sudhesa.

“Kamu bercerita tentang penyerangan Kaurawa di Negeri Mastya dan sekarang apa yang kamu katakan benar-benar terjadi Sudra!” Suara Ratu Sudhesa setengah berteriak dengan mata mendelik ke arahku.

“Ratu, aku mendengar cerita itu dari suamiku, bahwa Kaurawa menyerang negeri-negeri kecil untuk mengumpulkan kekayaan sebagai persiapan perang besar yang akan terjadi dalam waktu dekat ini.” Aku menjelaskan lebih panjang agar Pangeran Uttara juga memahami kabar yang beredar di luar istana.

“Ibu, apa yang disampaikan oleh pelayan sudra ini benar. Bahwa Kaurawa telah menyerang negeri-negeri kecil lainnya. Kekayaan Negeri Mastya merupakan salah satu yang menjadi incaran Kaurawa.” Pangeran Uttara menjelaskan tidak kalah panjangnya.

“Kalau begitu mengapa kamu tetap di sini. Di mana pedang, tombak dan anak panahmu Pangeran!”  Ratu Sudhesa membentak anaknya. Wajah muda Pangeran Uttara tiba-tiba beku dan berubah tua.

“Ibu, apa ibu ingin anakmu ini berperang melawan Bhisma, Drona dan Aswatthama yang sakti dan agung itu?” Kalimat itu didiucapkan dengan suara yang serak.

“Berperanglah! Bantu ayahmu mengusir para perampok dari Hastinapura itu.” Wajah pucat Ratu Sudhesa berubah merah. Ia kelihatan marah mendengar kalimat Pangeran Uttara yang terdengar ketakutan dan berusaha menghindar untuk menghadapi para kesatria Hastinapura.

“Aku akan berperang Ibu, tapi carikan aku kusir kereta yang berpengalaman biar anak panahku tidak meleset mengenai leher orang-orang Hastinapura.” Pangeran Uttara tetap berusaha menghindar untuk maju perang.

“Uttara! Duduk dan berpeganglah pada ujung kain ibumu ini kalau kau tidak berani maju melawan pasukan Hastinapura.” Ratu Sudhesa sudah kehabisan kesabaran, ia menyindir harga diri pengeran itu dengan sangat tajam.

“Ibu, jangan rendahkan anakmu seperti ini. Aku hanya meminta seorang kusir berpengalaman agar bisa mengendarai kereta perangku.” Harga diri Pengeran Uttara mulai terusik oleh sindiran ibunya.

“Uttara, di mana mencari kusir berpengalaman saat ini. Bukankah semua pasukan telah di bawa ayahmu ke selatan untuk menghadapi Susarma dari Trigata.” Permaisuri kelihatan masih kesal kepada anaknya. Mungkin Ratu Sudhesa berpikir sebagai calon raja harusnya Pangeran Uttara maju paling depan melindungi negerinya.

“Pangeran Uttara, aku dengar guru tari istana pernah menjadi kusir Arjuna dari Negeri Indrapastha.” Aku beranikan diri untuk menawarkan Brihannala yang tidak lain adalah Arjuna untuk menjadi kusir perang Yuwaraja Negeri Mastya.  Aku ragu, tapi itu pilihan yang paling mungkin dilakukan. Kalau sampai Negeri Mastya berhasil ditaklukkan oleh Kaurawa, aku dan Pandawa sudah tidak mungkin lari menghindar. Menurutku satu-satunya jalan adalah menawarkan Arjuna untuk ikut mengusir Kaurawa dengan tetap menyamar sebagai Pirhannala. Aku berharap penyamaran itu tidak terbongkar oleh musuh meskipun hal itu mustahil sebab Drona, Bhisma, Karna dan Aswatthama pasti tahu cara, siasat dan kebiasaan Arjuna melepas anak panah dan melempar tombak.

“Benarkah itu sudra? Benarkah si banci itu pernah menjadi kusir Arjuna, kesatria hebat keluarga Pandawa?” Pangeran Uttara seperti tidak senang terhadap usulanku.

“Benar pangeran, bahkan ia telah belajar ilmu perang dan olah senjata dari Arjuna.” Keputusanku sudah bulat, aku berusaha menyakinkan Pangeran Uttara.

“Panggil si banci guru tari itu ke sini!” Tiba-tiba Ratu Sudhesa berteriak kepada prajurit pengawal Pangeran Uttara untuk memanggil Brihannala.

*****

Aku baru tahu ternyata Kangka, Walala, Dharmagranti dan Tantripala telah menyertai Raja Wirata mengusir pasukan Hastinapura yang dipimpin oleh Susarma di selatan Negeri Mastya. Menurut utusan pembawa kabar dari medan perang di selatan, Raja Wirata berhasil ditangkap oleh Susarma namun berhasil diselamatkan oleh seorang tukang masak yang ikut dalam perang. Aku menduga si tukang masak yang disebut oleh utusan pembawa kabar itu pasti Walala yang tidak lain adalah Bhimasena.

Aku berharap perang di selatan bisa dimenangkan oleh Raja Wirata sehinga mereka bisa membantu Pangeran Uttara dan Prihannala di medan perang bagian utara Negeri Mastya. Aku mencemaskan Prihannala yang menjadi kusir Pangeran Utara di medan perang bagian utara. Kalau dugaanku tidak salah, serangan Susarma di selatan hanya untuk memancing pasukan Negeri Mastya keluar dari ibu kota raja sedangkan kekuatan inti Hastinapura berkesempatan untuk menyerang sisi bagian utara yang tidak terjaga. Seperti yang diduga oleh Pangeran Uttara, kekuatan Hastinapura di utara bisa jadi terdiri dari kesatria-kesatria sakti seperti Bhisma, Drona, Kripa, Aswatthama, Doryudhana, Karna dan Dursasana. Oh Dewata, lindungi Arjuna dan Pangeran Uttara.

Dari luar istana terdengar sorak kemenangan, aku menduga bahwa perang di selatan telah dimenangkan oleh Raja Wirata. Aku tidak meragukan itu, mungkin Susarma sendiri tidak akan sanggup melawan kekuatan Walala, apalagi  ada Kangka, Dharmagranti dan Tantripala. Kabar kemenangan segera masuk ke bilik pribadi Ratu Sudhesa, aku duduk di sebelah ratu ketika utusan Raja Wirata menyampaikan kabar kemenangan itu. Wajah Ratu Sudhesa tidak begitu gembira mendengar kabar itu, mungkin ia masih mencemaskan keselamatan Pangeran Uttara yang maju ke medan perang hanya dengan seorang guru tari banci. Aku bisa merasakan itu, sebab aku sendiri mencemaskan Brihannala.

Ratu Sudhesa memintaku untuk menemaninya menyambut kedatangan Raja Wirata dari medan perang. Kami menunggu di balairung tempat penyambutan raja dan para kesatria yang pulang dari peperangan. Raja diiringi oleh beberapa panglima perang masuk di balairung. Aku tidak melihat Walala, Dharmagranti dan Tantripala yang tidak lain adalah Bhimasena, Nakula dan Sahadewa. Hanya Kangka yang berjalan mengiringi raja dengan wajah terangkat sedikit. Ingin aku menubruk Kangka yang tidak lain adalah Yudhistira. Syukur ia kelihatan segar, wajahnya tetap lembut dan tenang seperti samudra. Hanya ada sedikit sisa-sisa kelelahan  bergurat di matanya. Ia begitu kokoh dalam penyamaran, tidak sedikitpun berusaha melirik ke arahku meskipun aku tahu bahwa Yudhistira mengetahuiku berdiri di sebelah Ratu sudhesa.

“Kita menang ratu.” Raja Wirata mengucapkan kalimat itu dengan kebanggan.

“Aku mencemaskan Pangeran Uttara raja.” Ratu Sudhesa mebalas dengan wajah penuh kecemasan.

“Bersama siapa Uttara menghadapi Kaurawa di utara?” Raja Wirata mulai ikut mencemaskan anaknya.

“Uttara didampingi oleh guru tari.” Ratu Sudhesa menjawab tanpa semangat.

“Bagaimana bisa kau ijinkan anakmu berperang melawan Bhisma, Drona, Aswatthama, Karna dan Kaurawa hanya dengan seorang banci guru tari.”  Wajah penguasa Negeri Mastya itu merah, ia marah terhadap permaisurinya. Suasana balairung tiba-tiba senyap, sebagian wajah tegang. Aku melirik Kangka, hanya ia yang tidak berubah. Wajahnya tetap ajeg, tenang dan dalam. Ia maju dan mohon ijin untuk bicara kepada raja.

“Raja, jangan cemaskan Pengeran Uttara. Ia didampingi oleh orang yang tepat untuk menghadapi pasukan Hastinapura.” Kalimat itu disampaikan tanpa emosi oleh Sanyasin Kangka. Sungguh luar biasa Yudhistira melakoni peranya sebagai pertapa, ahli Weda dan Wedangga.

“Tahu apa kau tentang si banci itu pertapa!” Raja mengatakan kalimat itu setengah teriak.

“Guru tari itu orang yang pandai olah senjata, siasat perang dan menguasai ilmu-ilmu kesaktian.” Kangka menyampaikan kalimat itu secara tertata dan tanpa riak.

“Dari mana kamu tahu banyak hal tentang guru tari itu pertapa?” Wajah Raja Wirata masih merah padam karena mencemaskan anaknya yang hanya didampingi oleh seorang guru tari.

“Aku dapat memastikan itu raja.” Kalimat terakhir Kangka itu membuat kesabaran Raja Wirata habis. Penguasa Negeri Mastya itu mengangkat gelas di depanya dan melempar tepat di pipi Kangka. Aku berteriak, dengan cepat aku ambil gelas emas dan menadahi darah yang meleleh di pipi Kangka. Namun tindakanku itu justru membuat Raja Wirata marah.

“Pelayan sudra, ada hubungan apa kalian dengan pertapa ini?” Mata raja melotot ke arahku.

“Raja, aku tidak bisa melihat darah pertapa tumpah di tanah.” Aku menjawab dengan tatapan mata tidak berkedip. Jawabanku membuat raja diam, aku yakin ia juga meyakini cerita bahwa darah pertapa yang tumpah di tanah akan membuat tanah menjadi kering. Hujan tidak akan turun selama bertahun-tahun. Raja Wirata kembali duduk di kursinya, diam. Tidak satupun orang di ruangan itu yang memperhatikan aku membersihkan darah di pipi Kangka, pambarep Pandawa yang sedang dalam penyamaran.

Tiba-tiba telingaku menangkap dengung suara Dewadatta. Terompet perang Arjuna yang masyur itu. Aku menatap lekat-lekat wajah Kangka, tapi tidak ada perubahan. Aku berusaha mendapat petunjuk dari perubahan wajah Kangka, tapi wajah itu tetap seperti semula, tenang dan dalam. Aku ingin mendapat jawaban dari dengung suara Dewadatta. Aku khawatir Arjuna tertangkap di medan perang. Dewadatta dirampas dan dibunyikan oleh Kaurawa agar Pandawa keluar dari persembunyian. Oh Yudhistira, mengapa istrimu ini kau diamkan dengan perasaan khawatir. Tidakkah kau mencemaskan adikmu, Arjuna.

 

9 Comments to "Draupadi (8)"

  1. Chandra Sasadara  29 October, 2012 at 14:11

    Bapak/Ibu mohon maaf kalau lanjutan cerita Draupadi sering telat tayang.. memang begitu adanya. penulisanya sendiri dah mengalami kejenuhan.. banyak ide cerita jadi ilang gara-gara serial Drupadi..hehehehhee.

  2. cello mita  26 October, 2012 at 03:42

    Thanks ya artikel nya ditunggu2 dr kemarin, makin gk sabarrr ahhh menunggu lanjutan nya, jgn lama2 dong, dn agak panjangan dikiittt biar puas baca nya, hehehee,,,,

  3. elnino  25 October, 2012 at 07:58

    Lanjut..! Lanjut..! Lanjut..! *demo sambil bawa poster

  4. anoew  24 October, 2012 at 21:35

    Setia mengikuti serial Drupadi, sampai nanti adegan semriwingnya keluar mak blesek mak nyesss.

    Mantep Kang, gaya sastra yang meskipun berat bagi saya tapi dibuatnya bisa mengerti (walau sedikit gemrobyos)

  5. Sierli  24 October, 2012 at 16:44

    Masih bersambung Kang ? haduuuh udah ga sabar nunggu klanjutan ceritanya..

  6. Chandra Sasadara  24 October, 2012 at 14:46

    Bu Linda : di tengah mak-grobyak dan mak-krompyang berharap masih ada mak-cleguk.. jan ra sopan.. di tengah perang kok masih ada adegan “enak”..hehehehe

  7. Chandra Sasadara  24 October, 2012 at 14:44

    Kang JC : saya sangat berharap bisa memasukkan adegan mak-cleguk. hehehehe

  8. Linda Cheang  24 October, 2012 at 13:48

    JC senangnya mengharapkan yang mak cleguk? aeh, aeh, padahal strategi perang lebih asyik, atau “perang” yang lain yang lebih asyik, yah?

  9. J C  24 October, 2012 at 13:14

    Kang Chandra, ini belum masuk fase mak-cleguk lagi ya? Masih fase mak-grobyak dan mak-krompyang (lha masih perang)…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *