Lintas Melawi dan Ella (4): 20 Kilometer Ditempuh dalam 7 Jam

Christiana Budi

 

Krisis Infrastruktur Wilayah Pedalaman Indonesia

Jika seseorang ditanya berapa lama kita menempuh jarak 20 KM dengan sepeda motor? Pasti jawabannya tidak lama bahkan tidak sampai 1 jam. Namun kali ini jarak 20 Km ditempuh 7 Jam dengan sepeda Motor! Sebenarnya lebih cepat dengan berjalan kaki. Kejadian ini nyata jika kita datang di wilayah kabupaten Melawi di Kecamatan Ella, dusun Empola. Tanggal 10 Juni 2012 merupakan perjalanan yang mengesankan bagi kami 5 orang dari program Good Return – CUKK.

Hujan dengan deras membasahi bumi Empola sejak sore hari dan belum berhenti pada keesokan hatinya. Hati miris karena membayangkan jalan yang akan ditempuh apakah bisa dilalui atau tidak. Jalan yang terjal, curam, berbatu dan juga dengan tanah liat kuning yang sangat licin dan berlumpur jika sudah terkena air.

Karena tidak ada pilihan harus ada kegiatan lain di hari berikutnya maka kami ber 5 nekat untuk menerobos hujan yang masih turun dengan lebatnya. Dengan asumsi saat masih hujan jalan tidak terlalu licin dan berlumpur….dan ternyata kami salah.

Pukul 07:00 kita start dari desa Empola kecamatan Ella kabupaten Melawi, untuk menuju ke Ella kota kecamatan. Perjalanan keluar desa belum menemukan halangan yang berarti, jalan masih bisa dilewati dengan mulus dengan motor pada km pertama, pada kilometer ke dua inilah tantangan dimulai.

Jalan yang pada saat kita datang ke desa masih dalam keadaan kering saat ini sudah basah, licin dan berlumpur karena diguyur hujan terus semalaman. Walaupun dengan sedikit kuatir namun kita harus terus melewatinya untuk kembali ke kota kecamatan. Kondisi jalanan yang kita lewati bisa digambarkan dalam beberapa foto di bawah ini:

Satu mantel yang tadinya kita pakai untuk menahan air hujan sudah tidak terpakai lagi, namun dialih fungsikan untuk menutupi barang-barang. Hujan terus menerus mengguyur dan sudah tidak bisa dibedakan lagi apakah baju basah karena keringat atau hujan. Keringat mengucur karena kita harus jalan mendaki dan juga mendorong motor.

Satu-satu motor mulai berjatuhan terjungkal dengan pengendara dan penumpangnya, awalnya masih kita hitung sambil untuk bercanda berapa kali jatuh namun akhirnya sudah tidak terhitung lagi. Biasanya kita yang terbiasa mengambil foto karena badan sudah lelah sekali kita sudah mulai tidak tertarik sedikitpun untuk mengabadikan moment tersebut karena kondisi hujan yang deras dan jalan licin.

Walaupun sudah terasa lelah yang teramat sangat, senyum masih sering terkembang melihat kondisi kita yang memang sudah seperti baru keluar dari kubangan lumpur. Sesekali kita berhenti untuk menghilangkan lelah sejenak sambil mencoba bergurau dan sudah pasti masih sempat untuk mengambil foto walaupun sebelumnya tidak tertarik lagi untuk ambil foto karena kondisi hujan, mendorong motor dan mendaki jalan yang berlumpur dan terjal.

Senyum tetap terkembang…..senyum atau mringis ya??

 

Motor terperosok dan harus dbantu oleh teman yang lain

 

Mengendarai motor harus lebih extra hati-hati karena jalan licin

 

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, motor rusak di tengah jalan

 

Istirahat sejenak di jembatan

 

Saat istirahat di puncak setelah satu bukit… jangan lupa tetap mejeng dulu

Perasaan gembira dan ceria sudah mulai hilang, mulai dengan perasaan jengkel dan marah. Jengkel dan marah bukan karena pengalaman ini namun karena jalan yang dilalui karena jalan ini adalah jalan bekas HPH dari perusahaan yang cukup terkenal dan mempunyai HPH yang luas, yang menghabiskan semua hutan primer yang ada di wilayah kecamatan Ella dan menggantikannya dengan tanaman akasia yang kondisi saat ini banyak meranggas dan mati. Hati ini marah karena begitu banyak hasil hutan yang diambil namun masyarakat sekitar tidak mendapatkan manfaat.

Terlebih lagi dengan melihat peseteruan antara petingi-petinggi negara dan wakil-wakil rakyat yang berkelahi di pusat, hanya memikirkan membangun gedung-gedung tinggi dan mewah sampai trilyunan rupiah, serta dengan gampangnya uang negara yang dikorupsi dengan enak untuk membeli barang mewah, apakah mereka pernah melihat ke bawah di wilayah perbatasan dengan negara lain??? Apakah mereka pernah merasakan yang dirasakan masyarakat Dayak di pedalaman yang untuk sesuap nasi dan menyambung hidup pun mereka harus menempuh perjalananan dengan berjalan kaki, naik rakit dan motor yang sudah sangat layak dipakai di jalan yang sangat berbahaya? Kemana uang pajak dari masyarakat Indonesia? Mungkin pertanyaan ini akan sulit dijawab……

Akhirnya, Setelah melewati tiga bukit yang terjal kita sampai di tempat penyeberangan sungai, Hujan sudah berhenti cuaca sudah cerah kembali, namun perjalanan masih belum selesai karena masih harus melewati wilayah perkebunan karet dengan tanah merah yang pasti akan lebih berlumpur walaupun wilayahya sudah landai. Untuk melepas lelah kami berhenti di satu-satunya warung di tepi sungai tempat penyeberangan.

Alat untuk menyeberangi sungai

 

Berhenti di satu-satunya warung pinggir sungai

Akhirnya lepas tengah hari tepat pukul 14.00 kita sampai di kecamatan Ella,di kantor CUKK. Pengalaman ini tidak akan pernah terlupakan…….kenangan manis bersama team berani klumut… Perjalanan memang sudah sampai Ella namun untuk kembali ke Sintang masih membutuhkan waktu 4 jam dengan menggunakan mobil…..satu hari yang sangat indah…..dan menjadi pengalaman yang bisa jadi cerita. Dan semoga krisis infrastruktur di wilayah pedalaman dan perbatasan di Indonesia bisa diatasi….(mimpi.com tidak ya dengan kondisi pemerintahan Indonesia saat ini)…semoga ada Miracle yang terjadi di Indonesia.

Senyum dan kenangan dari Team GR-CUKK

 

Sintang, June 2012

Christiana Budi

 

72 Comments to "Lintas Melawi dan Ella (4): 20 Kilometer Ditempuh dalam 7 Jam"

  1. Christiana Budi  4 November, 2012 at 10:15

    Dewi Aichi Says:
    November 3rd, 2012 at 08:13
    69 buat aku yaaa…
    _____________________________

    @mbak dewi bikin aku bingung aku mikir opo to 69 ki….ternyata komentar ke 69 to wwkwkwkwkwkwkwk le mikir sambil ndelok komentar apa yg yg terkait dengan angka itu

  2. Dewi Aichi  3 November, 2012 at 08:13

    69 buat aku yaaa…

  3. christiana budi  30 October, 2012 at 14:52

    @ mbak lani iyo ya ehehehehehehe

  4. Lani  30 October, 2012 at 14:25

    CHRISTIANA: jelas dunk hiu indo cilik2…….hiu amerika gede2………..koyok menungsane…….
    soal kekep mengekep sdh ada ahlinya dirumah kita kkkkkkk…………

  5. Christiana Budi  27 October, 2012 at 17:49

    @Pak Handoko…betul itu…angel takut kali sama Pak Han ehehhehehehe….tuh @mbak Dewi pak Han dah bersedia asal pegangan syaratnya..

  6. Christiana Budi  27 October, 2012 at 17:47

    @om Bagong Julianto…waaaaah…..kok gampang dikibulin ya…dan ndak sesuai dengan workplan…mungkin workplannya diadaptasikan pada kondisi setempat kali ya Jadi agenda SBY diadaptasikan sesuai dengan agenda “Raja Hutan”

  7. Christiana Budi  27 October, 2012 at 17:44

    @mbak lani…hehehehe iyo ding guling cuma ada di Indonesia heheheheh…njur ngekep sopo ya hehehehehe….peace mbak…..Hiunya indo masih kecil-kecil pas disini pas ke pacific jadi gede-gede hehehehe

  8. Handoko Widagdo  27 October, 2012 at 09:25

    Kalau minta bonceng harus mau berpegangan. Jangan kayak Angel Kwee yang gak mau pegangan sehingga akhirnya sepeda motor tergelempang.

  9. Bagong Julianto  27 October, 2012 at 07:34

    Kalimantan memang contoh nyata tentang kekinian bangsa kita. Kaya, tapi diperdaya oleh bangsa sendiri.
    “Raja hutan”, (selalu) berada di Jakarta dan punya koneksi dengan pemangku kuasa dan biasanya ada bintang di topi atau pundaknya.

    Tahun 2004 akan tetap dikenang: SBY dalam gegap gempita moratorium penebangan hutan beragenda: kumpulkan seluruh gubernur Kalimantan di Pangkalan Bun, terbang bersama di atas Taman Nasional Tanjung Puting bebarapa saat kemudian baru rapat…..
    Apa yang terjadi?
    Gubernur sudah kumpul di Bandara.
    Rapat hahahihi sebentar di Bandara.
    Sudah itu?
    SBY balik ke JKT.
    Nggak jadi sight-seeing Tanjung Puting……
    “Raja Hutan” bahkan berhasil memelintir agenda SBY…..

  10. Lani  25 October, 2012 at 14:17

    CHRISTIANA B : sapa bilang aku ngekep guling????? di LN ora ono guling……..hahaha………ora ono sing dikekep! baru aja balik dr nggaru, udan pisan diluar sana………asyik, aku plg suka hujan, dan msh anget……..

    heheheh banyak hiu?????? mmgnya dilautan indo ora ono hiu?????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.