Gaji

Anwari Doel Arnowo

 

Hari ini saya menyaksikan di siaran televisi bagaimana Joko Widodo dan Ahok, yang saya ikut memilih mereka, dilantik menjadi Gubernur dan Wakilnya untuk DKI Jakarta. Siangnya muncul masalah gaji Gubernur DKI selama ini, yang besarnya luar biasa: Rp.743 juta lebih. Pertanyaan saya ini sebulan atau satu tahun? Eh malah muncul tulisan di layar TV itu untuk satu bulan! Sama dengan sepuluh kali gaji Presiden RI !!! Haah? Masak?  Busettt ………  (Buset adalah bahasa Betawi jadi pantas dong kalau kata ini dipakai untuk besarnya gaji sebulan Gubernur DKI Betawi) . http://www.solopos.com/2012/09/20/gaji-gubernur-dki-rp465-miliar-untuk-lima-tahun-331127

GAJI GUBERNUR DKI: Rp46,5 Miliar Untuk Lima Tahun

Pasangan Jokowi-Ahok menang pilgub putaran II DKI Jakarta, Kamis (20/9/2012), berdasarkan hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga. Berdasarkan hitungan itu pula Jokowi menjadi the next gubernur DKI Jakarta.

Berapa pendapatan gubernur DKI Jakarta?

Berdasarkan riset yang dipublikasikan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) belum lama ini, seorang gubernur dan wakil Gubernur DKI Jakarta mendapatkan gaji, dengan tunjangan operasional harian dan tunjangan jabatan, yang totalnya mencapai Rp. 9,3 miliar setahun atau Rp. 46,5 miliar untuk lima tahun masa jabatan.

Menurut Fitra, berdasarkan Peraturan Pemerintah No 59 Tahun 2000 Tentang Hak Keuangan/Administratif Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dan Bekas Kepala Daerah/Bekas Wakil Kepala Daerah Serta Janda/Dudanya, ditetapkan gaji seorang gubernur adalah sebesar Rp. 3 juta per bulan.

Selain itu, seorang gubernur juga mendapatkan tunjangan jabatan sebagaimana yang diatur Keputusan Presiden Nomor 168 Tahun 2000 Tentang Tunjangan Jabatan Bagi Pejabat Negara Tertentu, sebesar Rp. 5,4 juta per bulan.

Sehingga, jika diakumulasi total pendapatan setiap bulan bagi gubernur adalah sebesar Rp. 8,4 juta. Namun bukan hanya itu, di DKI Jakarta, tunjangan operasional seorang gubernur dan wagub dianggarkan sebesar Rp. 17,6 miliar untuk tahun 2012.

Alokasi ini masuk dalam jenis belanja tidak langsung, yang artinya manfaat dari anggaran ini tidak langsung bersentuhan dengan masyarakat, atau tidak diperoleh masyarakat. Dari angka itu, setiap bulan, seorang gubernur dan wagub mendapatkan tunjangan operasional sebesar Rp. 1,47 miliar.

Berdasarkan hitungan Fitra itu, seorang gubernur DKI Jakarta bisa memperoleh Rp. 8,820 miliar pertahun dari tunjangan operasional, plus Rp. 480 juta per tahun dari gaji dan tunjangan pejabat. Total Rp. 9,3 miliar setahun, atau Rp. 46,5 miliar untuk lima tahun masa jabatan.

http://www.paywizard.org/main/VIPPaycheck/world-leaders-salaries  Di dalam link ini ada gaji Presiden-presiden di banyak Negara di dunia yang dirinci selama satu tahun dan satu bulan sampai satu hari. Obama mendapat sekitar US$1600-an, sedang Bapak Presiden kita, SBY menikmati US$496-an per hari. Dengan demikian maka kalau data yang di atas benar maka Gubernur DKI itu menerima per harinya mungkin sekitar US$5000,– (eh ini apakah saya salah hitung, haha hihi hehe karena saya kurang pandai menghitung uangnya orang lain, tetapi kok masih buanyak juuugaaa…). Padahal itu adalah gaji sebulannya seorang sarjana di Canada.

Sekarang anda carilah di dalam link yang ada di bawah ini untuk sekedar melihat dunia di”sana” di mana amat mungkin “dimasuki” oleh orang  yang asal bangsa Indonesia. Pelajari pekerjaan macam apa yang bisa diincar agar bisa di”kira-kira”i cara bagaimana ilmunya yang didapat bisa dipakai untuk menuju ke jabatan/pekerjaan yang gajinya anda anggap akan membuat anda merasa bahagia nantinya. Jadilah orang yang mampu merencana semasak-masaknya untuk mencapai tujuan dari cita-cita.
http://govcentral.monster.com/careers/articles/1250

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis mengenai gaji guru-guru di seluruh dunia, yang mana yang tertinggi dan sebagainya. Mestinya hal itu saat ini sudah berubah. Anda bisa lihat sendiri dan membuka semua search engine dan bisa menemukan bahwa pada waktu yang lalu gaji Kepala Sekolah Dasar di Jepang itu sama dengan gaji seorang professor. Sebaliknya gaji seorang professor di Indonesia mungkin sekitar 20 jutaan Rupiah. Itu sebabnya mereka lebih suka menjadi anggota dpr yang gajinya tiga kali lipat daripada bekerja di lingkungan kampus. Aaahhh ….

 

Anwari Doel Arnowo

2012/10/15

 

14 Comments to "Gaji"

  1. Anwari Doel Arnowo  27 October, 2012 at 06:11

    Dewi dan Matahari,
    Komentar anda berdua mengingatkan saya ada manusia siang dan manusia malam sesuai dengan difat pekerjaan yang ditekuninya. Juga ada manusia yan memerlukan boss di atasnya dan sebaliknya seperti saya, yang hanya mau dipimpin oleh seorang boss yang harus jelas lebih pintar dari saya. Boss yang tidak lebih pintar bagi saya itu amat menyiksa batin saja.
    Salam,
    Anwari – 2012/10/27

  2. matahari  27 October, 2012 at 05:20

    Waktu kecil…guru sering bertanya kepada saya dan teman teman sekelas..”kalian mau jadi apa kalau sudah gede”….ada yang menjawab:Insinyiur….Dokter…Pilot….Guru….Pramugari ( namanya anak anak yang terbayang bisa keliling dunia kalau jadi pramugari”…Mudah mudahan anak anak generasi sekarang kalau ikut baca artikel ini dan ditanya mau jadi apa kalau sudah gede…tidak menjawab”Kami semuaaaa mau jadi Gubernur DKI”…

  3. Dewi Aichi  27 October, 2012 at 04:47

    Gaji seorang karyawan pabrik dengan sistem kontrak di wilayah kabupaten Sleman adalah sekitar rp. 800.000/bulan.

    Di Brasil, untuk pembantu, karyawan pabrik, pramuniaga, resepsionis, adalah r$. 850.00 setara USD 425.00/bulan

    di Jepang, karyawan pabrik, sesuai yang diterima teman saya(bukan kenshusei) adalah Y.1.100/jam, sehari bisa bekerja selama 8-12 jam,

  4. Anwari Doel Arnowo  26 October, 2012 at 09:00

    Saya pernah bergaji sebulan sebagai awal pegawai negeri Golongan E 2 (1965) yang besarnya persis sama dengan gaji pembantu Rumah Tangga di rumah. Meskipun saya belum mempunyai anak, banyak teman-teman saya termasuk yang masih belum bekerja datang serta nempel di rumah saya, dan karenanya saya memerlukan sekitar 100 kilo gram beras sebulannya. Saya berhenti pada tahun 1970 ketika jabatan saya sebagai Kepala Biro Teknik dengan anak buah sekitar 200 orang dan gajinya sebesar setara Rp.700,-. Ini bisa dipakai beli lauk pauk dan sesekali nonton bioskop. Saya minta berhenti bekerja karena kepingin lebih maju menjadi orang swasta. Ini adalah jawaban saya kepada pak Direktur Jenderal dan mengatakan kepada beliau bahwa untuk berbakti kepada Nusa dan Bangsa saya bisa saja “hanya” sebagai orang swasta. Apalagi honor saya mengajar sore hari di Akademi Maritim adalah Rp. 250,- satu jam, dengan demikian gaji Kepala Biro sama dengan honor dosen mengajar selama 3 jam saja. Surat permohonan berhenti saya tidak dijawab oleh Direktur Jenderal, dan gaji buta saya selama dua tahun keluar terus termasuk jatah berasnya, diambil orang administrasi, dinikmati. Saya tidak pernah ambil seRupiahpun dan satu butir beraspun, karena saya sudah berhenti, sesuai janji pak Direktur Jenderal saya boleh berhenti setelah tiga tahun menjabat Kepala Biro. Jadi kepada siapa saya harus percaya kalau atasan seperti itu??
    Salam,
    Anwari Doel Arnowo – 2012/10/26

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.