Pintu Besi

Wesiati Setyaningsih

 

Ceritanya saya sedang merenovasi rumah yang saya beli bersama suami. Sejak dua tahun lalu sampai beberapa bulan kemarin, rumah itu kami kontrakkan. Karena kemudian kami memutuskan untuk meninggali sendiri, maka saya putuskan untuk merenovasinya lebih dulu karena rumah itu adalah rumah dengan tipe 36 dengan dapur di halaman belakang. Saya pikir saya ingin menambah satu kamar, satu kamar mandi dan satu lagi ruangan untuk gudang, serta, yang pasti, dapur. Suami menyerahkan sepenuhnya rumah itu mau saya apakan, karena kata dia,

“Itu mimpi kamu. Terserah mau kamu apakan.”

Saya jadi benar-benar bebas menciptakan rumah ala saya. Semua desain sudah tertata rapi dengan tetap meminta pendapat suami, lalu menyerahkannya pada tukang.

***

Setiap membayangkan sebuah dapur, entah kenapa selalu terbayang sebuah dapur yang nyambung dengan ruang makan di sebuah rumah besar peninggalam jaman Belanda di jalan Majapahit. Di rumah milik Eyang Pringgo itulah saya ‘lahir’. Bapak dan ibu kost di rumah itu waktu pacaran, lalu setelah menikah masih juga kost di rumah itu sampai saya lahir dua tahun kemudian. Semua penghuni kost itu akan mengingat seorang bayi kecil yang mereka panggil “Ci”, atau “Weci” dari nama saya Wesi (yang dalam bahasa Jawa artinya besi).

Ketika ibu hamil anak kedua, adik saya, bapak dan ibu kemudian pindah ke rumah kontrakan di daerah Surtikanti. Sempat pindah lagi di rumah kontrakan lain gang sama-sama di daerah Surtikanti, akhirnya bapak mendapatkan rumah perumnas di daerah Banyumanik. Rumah yang akhirnya saya tinggali sampai saat ini bersama keluarga saya dan ibu saya.

Ketika saya kuliah di UNDIP, saya minta pada bapak agar bisa kost di daerah yang dekat dengan Pleburan, tempat saya kuliah. Oleh bapak saya disarankan untuk kost di rumah jalan Majapahit itu karena sampai saat itu rumah itu masih dijadikan kost-kostan. Saat itulah saya mengenang tempat saya ‘dilahirkan’. Tidak banyak yang berubah meski telah berlalu sekian lama selain ruang tamu yang ‘hilang’ karena ‘dimakan’ untuk pelebaran jalan. Ruang-ruang lain masih tetap seperti dulu. Kamar saya dulu juga masih ada tetapi sudah dijadikan gudang.

Entah kenapa setelah setahun, saya kemudian tidak kost lagi di situ, tapi jadi ‘komuter’ Pleburan-Banyumanik. Tapi ada satu yang selalu saya kenang, yaitu dinding belakang ruang makan yang melingkar sampai ke dapur. Dinding paling belakang rumah yang ruangannya dijadikan dapur bersih bersebelahan dengan ruang makan itu sebagian yang bawah adalah tembok, sementara atasnya adalah ventilasi berupa potongan kayu yang bersilangan belah ketupat. Dinding rumah dicat putih dan juga ventilasi itu. Pintu dapur juga pintu kayu dengan model yang sama.

Ketika kost itu, saya sering makan bersama dengan teman-teman kost yang lain, ditunggui Eyang Pringgo, sang pemilik rumah dan Bude Jon, anak perempuan Eyang Pringgo yang membantu memasak untuk anak kost. Dari eyang inilah saya mendapat berbagai petuah hidup. Padahal kata ibu, dulu eyang ini sangat disiplin dan kaku dengan pendidikan Belandanya. Jadi tidak ada makan sambil bicara.

Tapi saat saya kost di situ, eyang sudah melunak. Tubuhnya yang kurus kering dan wajah yang keriput, masih menunjukkan kekuatan yang luar biasa dari matanya yang tajam. Bahkan saat menjelang kematiannya, eyang yang sudah tidak bisa apa-apa selain hanya berbaring, masih bisa bicara sedikit-sedikit dan menunjukkan ingatannya yang tajam.

Di rumah itu saya seperti anggota keluarga yang kembali pulang. Eyang menganggap saya cucunya, bude Jon menganggap saya keponakannya. Saya disayang bagai keluarga sendiri. Di ruang makan itu saya sering bercakap dengan eyang bila sedang tidak pada jam makan. Kalau jaman ibu dan bapak dulu kost di situ ngobrol dengan eyang menjadi hal yang menakutkan, di jaman saya eyang menjadi teman yang mengasyikkan.

Mungkin kenangan tentang ventilasi belah ketupat itulah yang membuat saya bertahan ingin memakai model itu ketika saya ingin membuat pintu besi untuk rumah saya. Di dua bengkel las yang saya datangi untuk membandingkan harga, contoh seperti itu sudah tidak ada dalam katalog model mereka.

“Itu kan model kuno,” kata mereka.

“Iya,” saya bilang, “tapi saya maunya yang kaya gitu.”

Mereka bisa membuatkan, tapi karena tukang masih mengerjakan yang lain-lain, saya belum pesan. Saya pikir saya akan pesan nanti saja saat semua sudah selesai karena kata pegawai di bengkel las yang terakhir saya datangi, temboknya harus sudah jadi dulu sebelum dipasang pintu besinya. Harga pintu sudah termasuk pemasangan.

***

Suatu siang saya bertandang ke rumah seorang teman untuk satu keperluan. Dari situ saya akan ke Tembalang lagi untuk melihat sampai di mana renovasi rumah dilakukan, sambil mungkin berembuk dengan tukang kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginan saya atau malah tiba-tiba ada ide baru. Saya sudah hampir menghidupkan motor untuk pergi dari rumah teman saya ketika dia bilang,

“Eh, mau pintu nggak? Kali kamu butuh. Aku ada pintu besi enggak kepake.”

Surprise.

Saya bilang, “Mau aja. Saya lagi butuh pintu besi.”

Saya melupakan model pintu yang saya inginkan. Namanya pemberian, saya tidak bisa meminta seperti keinginan saya. Yang penting saya bisa menghemat uang, pintu belakang terpasang pintu besi. Selesai.

Jadi saya pasrah saja modelnya akan seperti apa, saya sudah setuju duluan.

“Iya, ini lihat dulu. Kali kamu cocok.”

Saya berkata dalam hati, pasti cocoklah asal bisa dipasang. Teman saya berjalan ke bagian rumahnya di mana dia meletakkan barang-barang tak terpakai. Saya mengikuti di belakangnya.

“Ini,” katanya.

Di depannya ada pintu besi yang teronggok miring, sebagian tertutupi triplek-triplek tak terpakai. Bentuknya persis seperti yang ingin saya pesan!

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

23 Comments to "Pintu Besi"

  1. Lani  26 October, 2012 at 23:11

    WESIATI : soal jodoh mmg bener2 rahasia Tuhan………la kuwi jebul entuk tetangga dewe………..hehehe

  2. Lani  26 October, 2012 at 23:10

    WESIATI : hah??????? dokter SOEDOMO?????? yo jelas sgt familiar nama itu bagiku……….weleh2………DUNIA INI BENER2 MING SAK DAUN KELOR ya???????

    la wong yg di LN wae iso ketemu ngubeg2 balik nang Semarang meneh………jangan2 kita pernah kepethuk yo???? aku di Semarang selama 13 th kost ditempat yg sama, pernah kerja jg dikota ini……….

    klu boleh tau kamu jur apa di UNDIP?

  3. wesiati  26 October, 2012 at 15:21

    mbak lani : tau dokter soedomo? itu mertuaku. rumahny depan dokter kamilah agak ke barat. yang ada jembatan masuk, ada 4 rumah gitu… pojokan kiri. nah, adik iparku ada yang dapet anak gang V. wkekekek… jian ok. ubeng2an kok yo jebul tangga dewe. mbiyen kae kancaku jebul gurune JC. hahaha…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.