Hedonis

Suaedi Esha

 

Seorang hedonis menempatkan kenikmatan sebagai nilai tertinggi. Yang dicari dan diutamakan adalah kenikmatan badani dan materi. Kenikmatan agaknya dianggap sebagai identik dengan kebahagiaan. Dari sudut agama anggapan seperti ini tentu saja tidak benar. Ini tidak berarti agama menuntut pemeluknya untuk menjauhi kenikmatan. Islam, misalnya, menegaskan bahwa jasmani kita mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi. Makan dan minum, tidur dan istirahat, adalah hal-hal yang diperlukan bagi hidup manusia. Bahkan hubungan intim antara suami istri bukanlah sesuatu yang rendah, malahan dianggap sebagai perhiasan. Agama tidak melawan kodrat manusia. Dan mencari kenikmatan adalah sesuatu yang kodrati.

Masalahnya adalah bagaimana sikap kita agar kenikmatan itu tidak dianggap atau diperlakukan sebagai tujuan hidup. Sebab kenikmatan badani dan materi bersifat fana, bersifat sementara. Ada sesuatu di balik segala yang fana ini yang seharusnya menjadi tujuan hidup kita. Sesuatu yang baqa, yang kekal. Dengan menyadari ini kita tidak akan terpancing dan terpaku oleh hal-hal yang fana. Bayangan dari yang baqa itu adalah nilai-nilai luhur yang universal yang hidup dalam hati nurani setiap orang. Dan untuk itu kita rela mengorbankan apa saja yang bersifat fana, termasuk kenikmatan hidup sekarang.

Kerinduan dan komitmen kita yang terhadap yang kekal itu melahirkan idealisme, sesuatu yang asing bagi seorang hedonis. Sebab idealisme tidak menjanjikan kesenangan. Bahkan acapkali meminta pengorbanan. Namun berkorban demi idealisme memberikan kebahagiaan tersendiri. Ia memberikan kepuasan batin . Malahan sebaliknya, kalau kita tega mengorbankan idealisme kita demi mencapai kesenangan atau kenikmatan yang fana, kesenangan dan kenikmatan itu akan sangat sementara kita rasakan, dan sesudah itu akan timbul rasa penyesalan. Ada semacam rasa bersalah. Dan hal ini merupakan penderitaan tersendiri.

Untuk menghindari godaan hedonisme kita pelu menumbuhkan idealisme dalam masyarakat kita. Ini berarti kita harus menyadarkan masyarakat akan pentingnya nilai-nilai luhur tentang kebenaran, kejujuran, keadilan, persamaan, kemerdekaan kesederhanaan dsb. Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai luhur itu mestilah melahirkan komitmen untuk memperjuangkannya, mewujudkannya dan mempertahankannya.

Sayang sekali lingkungan masyarakat kita belum mendukung penumbuhan idealisme. Orang yang dinilai sebagai idealis, mempunyai integritas, mempunyai komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai luhur, dianggap mahluk langka, dikucilkan bahkan dimusuhi. Bukan teladan utama. Hal ini adalah gejala yang sangat memprihatinkan. Lemahnya idealisme mengakibatkan berjangkitnya berbagai bentuk demoralsasi seperti, egoisme, korupsi dsb. Lemahnya idealisme menyebabkan orang tidak tahan menderita demi mempertahankan prinsip, gampang berkompromi dan bahkan berkolaborasi dengan kebatilan dan kezaliman. Dengan perkataan lain lemahnya idealisme disebakan terutama oleh lemahnya etika masyarakat. Pelanggaran atau penyimpangan etik dibiarkan begitu saja tanpa sanksi sosial. Orang dengan gampang melanggar etika masyarakat tanpa rasa malu. Dalam keadaan seperti ini hedonisme mudah berkembang.

Sebenarnya, kelompok-kelompok dalam masyarakat kita bisa memainkan peranan dalam mengurangi hedonisme, terutama para agamawan. Agama menyadarkan kita tentang dimensi kedalaman atau dimensi spiritual dalam hidup manusia yang bersifat kontinyu. Kematian bukan akhir tapi ambang bagi kehidupan baru yang langgeng. Di sana manusia akan menuai apa yang ditanam di sini. Artinya agama mengajarkan tentang hidup bertanggung jawab. Dan tanggung jawab akan mendasari kesadaran etik yang kuat yang pada gilirannya akan melahirkan idealisme. Wallahu ‘aalam bissowab.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Suaedi Esha! Make yourself at home dan ditunggu artikel-artikel lainnya ya. Terima kasih Dewi Aichi yang sudah mengenalkan Suaedi Esha ke Baltyra…

 

9 Comments to "Hedonis"

  1. Yuli Duryat  31 October, 2012 at 07:29

    Ah rasa-rasanya hedonis telah menguasai Indonessah khususnya.

  2. Alvina VB  28 October, 2012 at 04:13

    Selamat bergabung Sdra/i Suaedi Esha….
    Wuih…Dewi A, emang hebring …….merecruit penulis baru lage….jangan2 akhir thn ini pemecah rekor memperkenalkan penulis baru (di Baltyra maksudnya… ) kl ngumpulin point kamu dah dpt hadiah kali Dew….he..he….

  3. anoew  27 October, 2012 at 17:00

    Agama tidak melawan kodrat manusia. Dan mencari kenikmatan adalah sesuatu yang kodrati.

    Ah betul sekali… Saya jadi teringat wisata nikmat di Tajur – Puncak, Jabar yang konon, wisatawandari Arab banyak mencari istri siri atau juga fenomena kawin siri di berbagai daerah yang dilakukan oleh artis dan beberapa tokoh. Malah konon, ada seorang tokoh yang menceraikan istri sirinya cukup dengan SMS. Betul, agama memang tidak melawan kodrat manusia..

  4. Fikrul  26 October, 2012 at 21:44

    membaca tulisan ini menjadi ingat slogannya Gie “Lebih baik diasingkan dr pd hidup dalam kemunafikan”, memang benar org yg idealis cenderung memiliki integritas untuk menjunjung tinggi nilai2 yg luhur bahkan krn integritasnya itu org pada umunya akan memusuhi atau menyingkirkan dr pergaulan pd umumnya. Semoga tetap selalu ada org2 yg idealis di sekitar kita.

  5. Linda Cheang  26 October, 2012 at 21:34

    iya, begitulah…

  6. J C  26 October, 2012 at 20:09

    Dunia ini memang sekarang semakin lama semakin hedonis…

  7. elnino  26 October, 2012 at 19:38

    Godaan kenikmatan dunia fana ini kalo istilah Silvia kenikmatan KW. Makanya jangan terlena, karena kenikmatan n kebahagiaan sejati adanya nanti di alam baqa. Hidup ini hanyalah sekedar mimpi..

  8. ah  26 October, 2012 at 16:06

    DOEA Idealis

  9. James  26 October, 2012 at 16:02

    SATOE Hedonis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.