Indah Taman Karena Bunga, Indah Bangsa karena Bahasa (1)

Dinanda Nuswantara Buwana

 

(Tulisan pertama dari dua tulisan)

Di Penghujung Oktober, adakah yang patut kita kenang sebagai Bulan Bahasa ? sebuah coretan untuk mengenang kegiatan Bulan Bahasa ketika aku duduk di Bangku sebuah  Sekolah Menengah Pertama

 

Manusia berbahasa dan berbudaya

Manusia adalah makhluk biologis sekaligus juga sebagai makhluk budaya. Berbeda dengan binatang yang  untuk menjaga kelestarian populasinya dan memenuhi kebutuhan hidupnya hanya memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia  dengan menggunakan insting yang melekat padanya.  Maka manusia  dengan kecerdasan berbahasa yang dimilikinya berupaya untuk mengembangkan kebudayaan   dan kemudian menciptakan peradaban.  Pada Hakikatnya karena kecerdasan berbahasalah maka manusia bisa menjadi manusia modern seperti  saat ini.  Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa adalah alat komunikasi  untuk bertukar informasi, dan menyampaikan sejarah peradaban melalui lisan dan tulisan, bahasa juga menjadi sarana pernyataan sikap dan emosi , dan sekaligus untuk saling mengakali (baca; menipu)

Kebudayaan lahir semenjak manusia sadar akan eksistensinya di atas muka bumi. Interaksi antar sesama manusia dan interaksi dengan lingkungan atau habitatnya menggiring manusia pada perwujudan gagasan menjadi sebuah bentuk.  Ketika Manusia mengasah kemampuan berpikir dan mengembangkan nalar, maka  segala hasrat dan naluri bertansformasi menjadi sebuah aktifitas  yang dapat dikatakan sebagai peradaban.  Peradaban adalah teknologi itu sendiri. Terus berkembang sejak manusia  sebagai pemburu dan berpindah-pindah tempat mengikuti binatang buruan, berkembang ke Masa Agraris, ke Masa Revolusi Industri  hingga tibalah masa Youtube, Yahoo, Whatsapp, Google, Apple, Blackberry, yang juga disebut sebagai masa Teknologi Informasi yang membuat Bola Bumi menjadi menyusut. Mendekatkan yang jauh, namun ironisnya juga menjauhkan yang dekat.

Berbagai teori tersaji mengenai hubungan antara bahasa dan kebudayaan.  Sebagian  berpendapat bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang berbeda, namun mempunyai hubungan yang sangat erat, hubungan yang  koordinatif, yakni hubungan yang sederajat.  Makin baik penguasaan seseorang terhadap bahasa dan makin banyak bahasa yang dikuasainya  dengan baik maka, maka semakin besar pulalah peluang orang itu untuk menjadi manusia yang berbudaya dan meng-create suatu kebudayaan.

Bahasa dan kegiatan berpikir

Antonio  Gramsci mengatakan bahwa kebudayaan memiliki arti bahwa orang harus berpikir dengan baik, apapun profesi orang itu.  Sejalan dengan pendapat itu seorang Filsuf Francis, Bertens berpendapat bahwa kemampuan berpikir seseorang dapat dilihat pada bahasa yang digunakan, dengan mengutip sebuah pepatah bahasa Francis : “Qui se comprend bien, s’ explique bien ; “ barang siapa yang berpikir baik maka dia dapat menjelaskan dengan baik . Apakah dapat dilanjutkan bahwa barang siapa yang berpikir dengan jelek dia tidak dapat menjelaskan dengan baik?

Berpikir adalah dialog dengan diri sendiri di dalam bathin, orang yang berpikir menggunakan “pengertian-pengertian’ atau konsepsi.  Dalam proses berpikir kita merangkai-rangkaikan sebab akibat, dan menganalisinya. Berpikir berarti merangkai konsep-konsep. Dapat dikatakan bahwa Pikiran adalah proses pengolahan stimulus yang dapat dikategorikan sebagai proses perhitungan (computational process).

Namun jika isi pikiran itu hendak kita informasikan pada orang lain tentulah kita harus mengungkapkannya dengan tanda -tanda atau isyarat atau dengan kata-kata.  Berpikir dengan lurus menuntut pemakaian kata-kata yang tepat.

Howard Gardner  dengan konsep kecerdasan majemuknya, menyatakan bahwa kemampuan berbahasa  adalah bagian dari Kecerdasan.  Selanjutnya Biologi modern telah mengindentifikasikan hubungan antara Kemampuan berbahasa dengan otak.  Dr. Paul Brocca mengatakan bahwa kemampuan berbicara pada manusia terletak pada hemispher otak sebelah kiri, Setelah Paul Brocca, menemukan daerah itu selama mengamati pasien afasia,  atau pasien memiliki gangguan bahasa. Gangguan bahasa itu terjadi jika terjadi kerusakan fisik pada otak. Gejala yang ditimbulkan bisa berupa  artikulasi kata yang kurang jelas, dan ucapan-ucapan yang kurang baik lafalnya.

 

Batas bahasaku adalah batas duniaku

“Die Grenzen meiner Sprache bedeuten der Grenzen meiner”  demikian kata Ludwig wittgenstein, Filsuf Austria ini berpendapat bahwa masalah filsafat sebenarnya adalah masalah bahasa. Masalah penyampaian dan retorika, Menurutnya bahasa terdiri atas proposisi-proposisi yang menggambarkan dunia. Proposisi adalah ekspresi pikiran atas apa yang dapat diidentifikasi oleh panca indera.  Pikiran adalah gambar logis dari fakta. Jadi asumsinya, pikiran (melalui bahasa) menggambarkan fakta atau realitas.  Sebagai contoh, Orang Jepang mempunyai pola pikir yang sangat tinggi karena orang Jepang mempunyai banyak kosa kata dalam menjelaskan suatu realitas. Hal ini membuktikan bahwa mereka mempunyai pemahaman yang mendetail tentang realitas. Demikian halnya dengan Orang Arab. Bahkan  Bahasa Arab adalah sumber kosa kata utama untuk berbagai seperti bahasa seperti, Kurdi, Persia, Swahili, Urdu, Hindi, Turki, Melayu, dan Indonesia

Pemikiran Wittgenstein ini dengan sangat  gamblang  terpancar dari pernyataannya: “Makna sebuah kata tergantung penggunaannya dalam sebuah kalimat, makna sebuah kalimat tergantung penggunaannya dalam sebuah bahasa, dan makna sebuah bahasa tergantung penggunaanya dalam sebuah kehidupan.”

Seorang  tokoh psikologi kognitif  yaitu Jean Piaget menyatakan bahwa ada keterkaitan antara pikiran dan bahasa. Bahasa adalah representasi dari pikiran. Hal berlandaskan hasil observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap perkembangan aspek kognitif anak.

Menurut Pieget, ada dua pikiran, yaitu pikiran terarah (directed) atau intelligent dan pikiran tidak terarah atau autistik (autictic). Pikiran yang terarah adalah pikiran yang akan menghasilkan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki landasan kuat, sedangkan pikiran tidak terarah umumnya pikiran yang sering menimbulkan kekeliruan atau dampak yang tidak terduga. Jika ini terjadi maka  selanjutnya akan timbul suatu kekacauan dalam berbahasa.  Bahasa berkembang menjadi sesuatu yang membingungkan karena simbol-simbol bahasa yang telah disepakati menjadi bias, bermunculanlah bunyi-bunyi bahasa (fonem) baru menjadi kata (butir leksikal) yang tidak sesuai dengan aturan bahasa  yang kita gunakan, dan dengan cepatnya muncul istilah-istilah dan tatacara penulisan baru.

(bersambung)

 

15 Comments to "Indah Taman Karena Bunga, Indah Bangsa karena Bahasa (1)"

  1. dinanda  30 October, 2012 at 11:35

    @mbak Lani, hehehe makasih, tapi aku ra iso melayu kenceng kalo pake Kebaya dan kaen …,

  2. dinanda  30 October, 2012 at 08:41

    tapi anehnya, biarpun katanya binatang tidak berbahasa. Tapi kalo kita mengumpat suka bawa-bawa mereka, Anj**ng, B**i, Mon**t, dll. Saya tertarik dengan ucapan bung J.C, Di Baltyra kita mencoba berbahasa Indonesia yang baik dan mendingan : )

  3. dinanda  30 October, 2012 at 08:40

    tapi anehnya, biarpun katanya monyet tidak berbahasa. Tapi kalo kita mengumpat suka bawa-bawa mereka, Anj**ng, B**i, Mon**t, dll. Saya tertarik dengan ucapan bung J.C, Di Baltyra kita mencoba berbahasa Indonesia yang baik dan mendingan : )

  4. Dewi Aichi  28 October, 2012 at 04:02

    Bahasa , apapun itu menurutku ajaib…luar biasa…

  5. Lani  28 October, 2012 at 03:47

    pentulise jg gantenk……lah……kan dikau pria/lanang/laki2……….gantenk, mosok cantik…….nanti semuanya pada lari kenceng………….hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.