Aarrggghhhh

Wesiati Setyaningsih

 

Hari Raya Idul Adha adalah masa-masa yang membuat kurang nyaman buat saya karena pada saat-saat ini terjadi penyembelihan hewan di mana-mana. Sudah sekitar setahun ini saya tidak lagi makan daging sapi. Sementara untuk daging kambing, sudah lebih lama lagi saya tidak makan masakan dari daging kambing karena tidak cocok dengan tubuh saya. Kata orang kalau tekanan darahnya rendah harus banyak makan daging kambing. Nyatanya, meski sedang drop tensi, kalau makan daging kambing biasanya malah kepala saya jadi pusing. Alih-alih mengobati malah jadi ganti sakit yang lain.

Akhirnya saya menyerah tidak makan daging kambing sejak lama. Saya mulai berhenti makan daging sapi ketika mulai membaca bahwa energi ketakutan binatang yang disembelih bisa mempengaruhi mereka yang memakan dagingnya. Orang lain boleh tidak percaya. Tapi saya percaya. Jadi saya mulai menghindari daging sapi juga sekitar setahun ini. Alhamdulillah meski tidak makan daging kambing dan daging sapi, saya baik-baik saja.

Karena percaya bahwa hewan-hewan itu juga mengalami ketakutan saat akan disembelih, akhirnya di hari raya Idul Adha, saya ikut sedih melihat hewan-hewan kurban disiapkan untuk disembelih. Saya bergidik ngeri ketika lewat sebuah mesjid dan ada bangkai kambing yang diikat kakinya dan diiris-iris dagingnya.

Masalahnya, semua orang bergembira di masa hari raya ini. Saya jadi seperti orang aneh di dunia nyata yang malah melankolis saat orang lain bersuka ria. Karena saya sendiri sudah lama tidak makan daging kambing dan daging sapi tapi merasa baik-baik saja, saya jadi tidak paham kenapa orang bisa begitu gembira makan daging sapi atau kambing.

Jadi sementara orang lain bersuka ria dan dengan bangga pamer mereka makan sate banyak-banyak di hari ini, saya memandang heran. Ketika di sekolah diadakan penyembelihan hewan kurban, Dila bertanya,

“Mama ikutan motong-motong daging?”

“Enggak lah.”

“Kenapa?”

“Kan kasihan sama hewan-hewannya. Enggak tega.”

“Alah. Alibi.”

Iya sih. Kedengaran seperti alibi memang. Tapi saya sedang tidak ingin menjelaskan panjang lebar sesuatu yang mungkin belum bisa dia pahami.

***

Sore itu saya mengantar Izza latihan dance di Surau-nya Guspar, teman saya. Saya tidak tahu kalau mbak Rini yang akhir-akhir ini biasa ‘ngantor’ di sana, sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk membuat sate. Saya baru saja datang dan duduk membuka laptop, berharap bisa menyelesaikan tulisan yang terbengkalai beberapa hari ini karena harus membuat nilai mid dan rapot mid. Tiba-tiba mbak Rini masuk dan duduk, lalu menghadapi bumbu-bumbu yang disiapkan Okta, pacarnya Wiwin dan mulailah dia bekerja.

Saya tidak ingin membantu apa-apa.

“Ini bagian dari pembantaian,” pikir saya.

Saya tak peduli apa yang terlintas dalam pikiran mbak Rini karena saya tidak membantu tapi saya tidak ingin melakukan sesuatu yang tak ingin saya lakukan.

Selesai latihan, tahu kalau Wiwin dan Okta sedang menyiapkan arang untuk membakar sate, Izza sudah antusias ingin membantu. Tapi bagaimanapun saya memaksa pulang. Tidak ada alasan apapun yang bisa membuat saya tinggal. Saya ingin pulang.

Sampai di rumah Izza ‘mewek’.

“Aku tuh pengen ikut bakar sate, tadi.”

“Udah ah. Enggak usah.”

“Kenapa sih?” Izza seolah bertanya, “mama ini sebenarnya kenapa?”

“Enggak pa-pa!” saya kesal.

Tak berapa lama Dila menyambut kami.

“Izza kenapa?” dia bertanya melihat adiknya mewek.

“Nggak pa-pa,” saya menukas.

“Ma,” kata Dila,”itu ada daging dari tetangga sebelah. Mbak Ani kan lagi pergi, uti kakinya masih sakit jadi enggak bisa ngurusin. Kata uti mama suruh nyuci dagingnya terus direbus atau apa gitu.”

Di dapur sudah ada baskom plastik berisi daging kambing dua tas kresek.

Aaarrgh!

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

96 Comments to "Aarrggghhhh"

  1. anoew  31 October, 2012 at 21:47

    Apakah tidak sebaiknya pemotongan hewan kurban dilakukan di satu tempat saja ya? Supaya tidak ‘mengganggu’ orang yang memang tidak suka / takut terhadap penyembelihan hewan. Baca komentarnya Budi, itu juga terjadi di beberapa daerah.

    Yang jelas takut iya, tapi kalau sapi menangis, saya belum pernah lihat tapi bisa membayangkan. Yang lebih menggelikan atau menyedihkan, ada seekor kambing lagi birahi dan berusaha kawin dengan betina yang dipilihnya dan, kebetulan mereka diikat tak berjauhan. Belumlah sempat mereka merasakan (mungkin) nikmat bercinta, sudah modar duluan disembelih. Alamaak nasibmu wedusss

  2. wesiati  31 October, 2012 at 19:25

    lha iya…. gitu kok ada yang bilang, katanya tteman saya, hewan-hewan yang dikurbankan itu senang dijadikan kurban. halah, tau apa dia? wong ya nyatanya hewan-hewan itu tetap saja ketakutan kok… denger ceritanya christiana gini saja sudah ngeri… huhuhuu…. kasiaaan..

  3. christiana budi  31 October, 2012 at 16:44

    mbak..kemarin bapak kosku nyembelih sapi…pas di halaman disamping kamarku tuh…waduh mbak ngeri kudengar suara ngoroknya sapi mau mati hadeeeeh ngeri aku…..pas ketemu bapak kos bilang wah mbak sayang ndak lihat sapi disembelih blaik…liat darah aja ngeri,……hadeeh kasian kuliat sapi2 itu ketakutan sebelum disembelih..dan ada 2 ekor yang disembelih pas kuintip dr jendela sudah pada posisi siap disembelih…kuliat dengan jelas matanya nangis ik ) sediiihhhhhh

  4. wesiati  31 October, 2012 at 16:08

    lha iya… kan ada jlab jleb nya dulu to…. baru mandi..

  5. Lani  31 October, 2012 at 00:47

    91 WESIATI : ujug2 njur adusssss………..ono sik ketinggalan kuwi Wes……….kkkkkkk

  6. wesiati  30 October, 2012 at 17:31

    dari meremas, menggenggam, sekarang udah tinggal mandinya to? wah…. lha kok ketinggalan adegan klimaks nya….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *