Sebelum Pengantin Baru

Alfred Tuname

 

:untuk sahabatku yang mau menikah

 

Pernah aku bertanya pada langit yang mencintai awan dan menjadikannya tiada*. Sedikit bergaya puitis kulukis kalimat pendek di atas lepas pantai, “adakah cinta sedalam lautan hingga menghidupkan jutaan mahkluk bernyawa di dalamnya?” Langit tak bergeming. Hanya mendung menggantung. Guntur pecah setelah kilat mengencang.

Benarkah ada cinta yang dalam untuknya sebelum “hari itu”? Cinta yang dalam itu seperti apa? Aku bertanya pada diriku. Diriku yang lain ada dalam diriku. Aku bertanya padaku. Aku harus sadar soal cintaku sebelum aku terbuai kasur malam pertama. Cinta hanya sebiji sesawi. Selanjutnya ada proses materialisasi cinta dan statistika hati. Setelah “hari itu” proses ini semakin jelas. Cinta menjadi mesin pemburu kebahagian. Tetapi sebelumnya, adakah cinta yang dalam  itu?

Cinta sudah ada sejak lama. Ia adalah semangat keabadian yang kian mekar dan menghiasi bumi dengan forma yang silih berganti. Cinta yang sama selalu pindah dari satu angkatan ke angkatan yang lain. Cinta meratakan semua perbedaan dengan masing-masing cerita dan kenangan. Sekarang cinta yang sama itu sedang hinggap di dalam diriku. Sebenarnya, cinta sudah lama mendiami diriku. Sekarang kurasakan ia semakin mengembang. Cinta yang mengembang berarti ada ruang kedalaman cinta. Cinta yang dalam itu ada dan sudah ada.

Pakaian pengantin sudah ada. Sewanya cukup murah. Foto prawedding sudah tercetak. Lumayan ada sahabat yang bersedia memotret dengan gratis. Undangan siap disebarkan. Rintangan adat-istiadat pun sudah selesai. Orang tua sudah bertemu. Dialog dan negosiasi sudah larut dalam komunikasi tradisi nan santun. Seminggu lagi, tumpangan tangan akan menguduskan hubungan kami. Apa yang telah dipersatukan tidak boleh diceraikan manusia. Persatuan itu sakral menguduskan.

Aku sudah menanyai diriku sendiri tentang cinta yang mendiami diriku. Cinta itu sudah utuh untuknya, pengatinku. Ia telah menjadi tuan di hatiku. Tetapi apakah aku telah menjadi tuan di hatinya? Berpikir tentang ini membuatku takut. Aku semakin takut karena ketika aku diam sejenak, kisah tentangnya mencuat di benakku. Dulu ia pernah “bermain” di belakangku. Ada idaman yang lain. Idaman lain itu berada jauh darinya. Komunikasi maha rahasia dan tupai-tupaian  terjadi. Untunglah tupai tidak pernah hebat dari pohonnya. Motif penelikungan itu ketahuan. Dan itulah selingkuh. Jati dirinya mudah terlacak dan  gelinjangya hanya sesaat kontak. Dari kejadian ini aku berpikir bahwa seorang  yang mulai me-“nyontek” akan berakhir dengan rasa malu. Pesan positif yang tertumpah begitu manis bahwa ia, pengantinku, sedang memastikan pilihannya dengan bertanya atas pilihannya, aku.  Ah, aku ingat seorang filsuf, Elvis Presley of Philosophy, Slavoj Zizek. “The one measure of true love is you can insult the other”, begitu katanya.

Tingkah anehnya, pengantinku, juga memecahkan kepala dalam ingatan. Amarahnya sering kumat dan menjadi-jadi. Masalah enteng bisa memetamorfosakan sebentuk mulut menjadi bibir Anaconda yang bisa menelan apa saja. Dalam primbon Jawa, bibir tipis berarti (terlalu) banyak bicara. Tetapi itu tidak berarti semacam lisensi kepada siapa pun berbibir seperti itu. Dalam situasi pathos, semua bibir seperti sama saja. Kebingungan menekan ke segala arah. Akan tetapi, Ada keyakinan bahwa segala sesuatu pasti berubah. Timbunan keyakinan Heraclian ini kuharap mampu membenamkan asa yang nyaris patah arang.

Aku berhenti menaruh energi pada semua ingatan itu. Cukuplah jadi kenangan. Kutenangkan pikiranku. Kuarahkan imajiku pada hari pengantin baru di tempat suci itu. Aku hampir pasti mirip dengannya. Kecemasan mendapati “hati itu”,  membuatku memutar kembali semua laku subjektivikasiku. Tak mau jauh tenggelam, aku sudah memutuskan pilihan, saat ini.

Saat ini, itu lebih penting. Penting sebab ada cinta yang dalam. Cinta pasti menang atas apa pun. Di dalamnya ada maaf dan harapan. Cinta itu masih berakar dan tidak akan tercerabut. Tetapi cinta tidak buta. Rasionalitas atasnya masih ada. Karenanya selalu ada negoisasi atas Event realitas cinta itu. Negosiasi itu semacam persetubuhan ego untuk tetap mempertahankan rasa kemanusiaan dan manusia itu sendiri. Paolo Coelho pernah bercerita; “di zaman dongeng seorang putri mencium katak dan tiba-tiba katak itu berubah menjadi pengeran. Tetapi di zaman sekarang, ketika seorang putri mencium seorang pangeran, sontak pangeran itu berubah menjadi katak”. Jangan sampai ini terjadi. Berpikir untuk “mau menjadi katak asal bersamanya” saja aku tak mau. Aku memilih terus bernegoisasi.

Hari menjelang “hari itu” aku tak mau bertanya lagi. Sudah cukup aku mendapat jawaban dari diriku. Kubuai rasa cintaku dengan lagu-lagu yang memanjakan hati. Kulakukan apa yang biasa aku lakukan. Hari-hari seperti biasa sebelum hari yang luar biasa. Aku hanya butuh satu jawaban suci atas pertanyaan suci di tempat suci  di “hari itu”. Itu saja. Jawaban itu akan menentukan semuanya akan masa depanku; dengan atau tanpa dirinya, pengantinku.

 

Djogja, 05 Oktober 2012

Alfred Tuname

*dari puisi Sapardi Djoko Damono

 

16 Comments to "Sebelum Pengantin Baru"

  1. anoew  30 October, 2012 at 00:13

    Al, seperti kutipan di Kidung Agung itulah betapa, saat-saat mendebarkan dan penuh sensasi menjangkiti. Gemrobyos, deg-degan dan akhirnya, uh yeaah goal.

  2. J C  29 October, 2012 at 05:31

    Ketemu filsuf seperti Alfred Tuname, mau jadi manten pun artikelnya penuh makna. Kalau sudah jadi manten beneran, adegan malam pertama bisa jadi artikel penuh filosofi yang lain…

  3. Dj.  29 October, 2012 at 04:19

    Alfred Tuname Says:
    October 29th, 2012 at 02:02

    bang DJ…. huah… ternyata cinta itu berbunga indah…

    ——————————————————–

    Sangat benar, itu yang kami alami sampai saat ini.
    Hanya ingin menyenangkan pasangan dangan penuh kasih sayang.
    Minggu lalu, karena Dj. ada dirumah dan istri sekolah lagi, maka setiap pagi Dj. antar dan sore Dj. jemput.
    Kami bergandengan tangan dan jalan kaki perlahan, sambil cerita masa lalu dimana dia dulu sekolah dan Dj. juga yang antar dan jemput. Bedanya, dulu kami masih bisa jalan cepat dan penuh senda gurau.
    Sekarang jalan perlahan, sambil cerita dan menikmati….
    Salam,

  4. Alfred Tuname  29 October, 2012 at 03:14

    tenang aja mba Lani… undangan khusus untuk mba Lani hehehhe… ehem, saya minta satu diundang juga ya mba kalo moment kebahagiaan itu juga terjadi di Kona.. saya ikut mendoakannya…

  5. Lani  29 October, 2012 at 02:34

    2014????? wah aku mudik, hrs dpt undangan……….nek ora yo kebangeten bangeti………selamat ya…….moga2 yg di Kona segera nyusul jd bs nggandeng dia ke indo……….jok lali doanya buatku.

  6. Alfred Tuname  29 October, 2012 at 02:32

    mba Lani… hahhahahaha… 2014 baru aku nikah mba… pasti diundang nanti hehhe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.