Indah Taman Karena Bunga, Indah Bangsa karena Bahasa (2)

Dinanda Nuswantara Buwana

 

(Tulisan kedua dari dua tulisan)

sebuah coretan untuk mengenang kegiatan Bulan Bahasa, di mana di dalamnya ada suatu hari yang kita peringati sebagai Hari Sumpah Pemuda

 

Bahasa Eksistensi

Bangsa Belanda, adalah sebuah bangsa yang rata-rata warganya menguasai  satu bahasa asing. Negeri  Belanda  disebut Pays bas oleh orang Francis, Negeri  Rendah, negeri yang akan tenggelam. Negeri kecil yang akan tenggelam jika mereka tidak mendirikan Dam, dan Kincir angin. Mereka berusaha untuk tetap eksis dengan turut pula menguasai setidaknya satu bahasa asing di sekitar wilayah mereka. Dewasa ini hampir tiga perempat masyarakat Eropa memahami  betapa pentingnya kemampuan multi bahasa untuk pergaulan Internasional dan kehidupan mereka sendiri. Mereka berkeyakinan bahwa  pendidikan multi bahasa harus menjadi prioritas politik.  Mereka menganggap penting penguasaan bahasa asing tanpa perlu mencampuradukan bahasa itu sakarape dewek.

Pada kenyataannya negeri  ini memang eksis bukan saja di sekitar wilayah mereka. Dengan ditunjang penguasaan ilmu pelayaran dan navigasi, ratusan tahun yang lalu mereka menjelajah bumi, dan mendirikan berbagai koloni. Benar-benar sebuah  negeri kecil yang Pede namun bisa mempersatukan Nusantara yang besar.

Mempersatukan Nusantara dalam satu perasaan senasib sepenaggungan. Hingga tercetuslah Sumpah Pemuda, yang  merupakan butir-butir ekspresi atas kesadaran berbangsa dan berbahasa yang selanjutnya membangkitkan Nasionalisme. Dan perlu digaris bawahi bahwa para Pemuda saat itu sama sekali tidak menyatakan bahwa kita berbahasa satu, tapi menjunjung tinggi bahasa persatuan, yang berasal dari Bahasa Melayu yang kemudian disebut sebagai Bahasa Indonesia. Mereka para Pemuda itu rata-rata menguasai satu Bahasa Asing, selain bahasa Indonesia dan bahasa Ibu.

 

Bahasa tidak perlu dibeli

Jika  kepulauan Diayou milik China, bisa dibeli oleh Jepang, maka tidak demikian dengan bahasa. Bahasa tidak usah dibeli, cukup dipinjam dan tidak usah dikembalikan. Saling meminjam antar bahasa sudah lazim terjadi  bila terjadi kontak Bahasa, demikian kata Abdul Hamid, seorang Dosen dari UNPAD. Peminjaman bahasa (kosa kata) tidak perlu dicatat dalam buku hutang sejarah, Bahkan kosa kata  bisa dicuri diam-diam, untuk kemudian dimodifikasi.

Bahasa merupakan suatu ekspresi verbal yang terus tumbuh dan berkembang.  Kata-kata yang dipakai dalam berbahasa tidak melulu menunjukan  suatu fakta dan realitas obyektif, namun  juga menunjukkan suatu pernyataan sikap dan  emosi  terhadap realitas obyektif itu.  Nah untuk hal ini  hemispher kanan otak, berhubungan dengan ini proses emosi yang menyertai dalam berbahasa.  Jadi kata-kata yang terlontar memiliki nilai rasa, dan yang menilai tentulah bukan kita, tapi lawan bicara maupun khalayak (audiens).

Orang Banjar bilang kada tahu basa”  “atau tidak tahu bahasa, untuk  orang yang tidak sopan, baik dalam komunikasi verbal maupun non verbal (termasuk bahasa tubuh dan ekspresi wajah), ini merujuk bahwa orang itu tidak berbudaya. Sedangkan orang Sunda bilang Bahasa mah teu Meuli atau berbahasa itu tidak perlu  beli. Artinya segala sesuatu luapan emosi, Senang, susah, sedih dapat diungkapkan dengan bahasa, tampa harus membayar tiap kata.

 

Indah Taman Karena Bunga, Indah Bangsa karena Bahasa

Tulisan itu kami pampang pada pintu masuk kelas kami, ditulis dengan tulisan spidol warna warni yang dihias ornamen  bunga  pada selembar kertas karton putih.  Dan Tulisan itu menjadi juara pada perlombaan Slogan antar Kelas dalam rangka Bulan Bahasa.  Entah apa yang menjadi dasar penilaian juri sehingga kelas kami menjadi juara. Tapi yang jelas situasi kekinian yang khususnya berkaitan dengan bahasa generasi sekarang, membuat memori saya  tentang tulisan itu berkelebatan di otak.

Masa saya SMP,  kita bisa bergaul  dengan tenang, melakukan interaksi face to face, dan mouth to mouth  dengan intim, suatu interaksi dalam sekat yang hangat, tanpa jendela-jendela yang membuat kita bisa sekali-sekali memalingkan diri dari keakraban itu. Sungguh masa tanpa bunyi tang ting tung notifikasi, di Smartphone. Masa di mana, kita tidak terburu-buru  membalas komen status, atau membalas  kicauan orang.  Masa itu tidak perlu bilang wow sambil koprol, karena bisa disangka sebagai orang gila.  Kita terbiasa merangkai kata melalui surat menyurat atau korespondensi dengan sahabat pena, terbiasa pula merangkai kata pada buku harian yang hanya kita, atau orang yang kita anggap dekat saja yang diperkenankan membacanya. Tidak perlu seluruh dunia tahu apa yang ada dalam benak kita. Tidak perlu pula kita mengetahui kegiatan orang-orang dan apa yang sedang mereka makan.

Tiap Generasi memang berada pada zamannya. Fenomena demikian telah terendus oleh Strauss dan Howe dalam Milenial Rising : The next Generation. Mereka  adalah generasi yang lahir antara tahun 1982 dan 2000. Generasi yang ingin serba instan, ingin singkatnya saja, tanpa melewati proses, enggan berjuang untuk berlaku sesuai dengan  kaidah. Apakah sebuah generasi  yang menjadi korban Literasi teknologi, ataukah sebuah bentuk pemberontakan?

Pada  kenyataanya di era Globalisasi dan Teknologi informasi seperti sekarang ini,terjadi peningkatan pesat interaksi peradaban melalui perkembangan media, yang diawali oleh media televisi, koneksi internet, kemudian media  sosial seperti saat ini. Bahkan dalam hitungan Kbs kita dapat mengonsumsi dan menemukan gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang lintas ragam budaya. Ketika informasi tidak lagi melewati sekat-sekat dan labirin, betapa sumirnya antara ruang pribadi dengan ruang publik, serta begitu sangat cepatnya arus itu menyebar lewat berbagai Media Sosial, maka  kita  semua menjadi  stress.  “Kita?  Lo aja kalee gw mah kagak”, mungkin itu respon sebagaian pembaca.    Ada ratusan informasi yang kita terima tiap hari, dan di antara informasi itu otak kita terasa lelah untuk terus menerus menyaring kebenaran dan maksud datangnya informasi itu, ada Nasihat-nasihat gratis, ada kata-kata motivasi yang terasa super, karena disampaikan oleh orang yang super, padahal kata-kata itu sudah ada dalam pepatah lama, ada informasi yang benar, ada yang provokatif, ada yang proaganda dan kampanye, adapula  yang hoax, dan semakin pula kepala ini pening pula dengan bahasa 4L4Y, dan berbagai ragam bahasa slank.

Fenomena-fenomena yang ada menunjukkan kenyataan bahasa kita. Seorang Mahasiswa  mengirim sms pada Dosennya yang diakhiri dengan “Blz Gpl”, Bukan soal penghematan karakter, tapi ini soal Etika, soal berbudi bahasa.  Generasi yang ber-sms dengan menghemat karakter karena sms adalah pesan singkat, generasi  yang malas menulis secara benar  sehingga tulisan sy bkn rt bisa bermakna saya bukan rt, atau saya bikin Roti? Selain itu terbatasnya karakter media sosial semacam twitter “memaksa’ hal demikian terjadi. Namun anehnya ketika berada pada Media sosial yang ketersediaan karakternya lebih banyak maka kata-kata malah dipanjang-panjangkan dan dicadel-cadelkan seperti bocah yang baru bisa bicara. Semua dilakukan agar para pemakai bahasa aneh itu bisa dikategorikan sebagai anak gaul yang moderen, ngota dan diakui eksistensinya.

Mencermati fenomena ini, maka Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia diperlukan, dengan maksud agar Bahasa Indonesia dipakai sesuai dengan fungsi dan kaidah yang berlaku agar Bahasa Indonesia pada masa Globalisasi ini bisa selaras dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi, perdagangan Internasional,  dan bermartabat di mata Dunia.  Coba anda bayangkan bagaimana jika bahasa Indonesia kita acak-acakan struktur kalimatnya? Walaupun kita sekarang semakin dimanja dengan adanya fasilitas Google translate, maka bahasa yang  diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggeris akan acak-acakan pula.  Benar apa yang dikatakan oleh Alwasilah, seorang  Profesor Bahasa Inggeris dari UPI Bandung dalam sebuah Seminar bahwa sebelum kita  berbahasa Inggeris dengan baik, maka kita harus berbahasa Indonesia dengan baik terlebih dahulu.  Itu diutarakan beliau sebelum fasilitas  tersebut disediakan oleh Google.

Pembenahan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar  perlu segera dilakukan oleh pihak yang berwenang dan terkait, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Pendidikan, Media Massa, dan tentunya kita semua.  Bahasa merupakan cermin daya nalar, dan bisa menjadi refleksi dari intelektualitas dan martabat. Cermat menggunakan bahasa, berarti cermat pula berpikir, seperti yang dikatakan oleh Bertens.

Contoh-contoh dari Fenomena yang terjadi

1.            Kutipan sebuah teks yang saya peroleh dari sebuah media Sosial, berupa Joke dari Negara Tetangga; “…Camni..Aku syak isteri aku main kayu tiga ngan aku. So this one day, aku ingat nak perangkap la isteri aku..Aku pura-pura gi keje tapi actually aku park keta aku kat simpang hujung umah aku je. Seperti yang aku syak, masuk sebuah keta kat carpark umah aku. Aku rilex dulu sebab nak carik mase sesuai tangkap diorang.”

Bandingkan pula dengan yang ini,

2.            Kutipan dari status seseorang di Media Sosial : LiFe’s nVeR Flat…yuPs, datz tRue…siNce we boRn in da worLd until na, we hppend mNy stUation, we’re Happy, saD, angRy, depress, diSsatisfied, hteFul, broKen, etc…i blieve ders mgical pwer bhind evry moMent, we mUst b strOng, psitive thinking, then pRaying 2 Allah 4 gving any diRection, after Rainy will appear raiNboW, dnt b saDness nd dnT negatiVe thinking..we mUst hv principle nd digNity 2 fight by self…

Atau yang ini,

3.            Shrusx w gk kr(ii)m tlsn nee, coz mlh bkn cemuwwah pucing, corri akooh bkn pucing kamwuh ja.

Contoh yang pertama, menunjukkan betapa suatu Bahasa sehari-hari non formal, yang mengacu pada Bahasa Nasional begitu banyak singkatan kata dan campur aduk dengan Bahasa Asing. Contoh yang kedua, menunjukkan seorang ABG yang ingin kelihatan lain dan tampil beda, menggunakan Bahasa Inggeris dengan penulisan yang saya kira Orang Amerika atau Australia pun belum tentu faham. Contoh yang ketiga, silakan anda “terjemahkan” sendiri.

 

18 Comments to "Indah Taman Karena Bunga, Indah Bangsa karena Bahasa (2)"

  1. Yuli Duryat  31 October, 2012 at 07:13

    Ya mungkin mau dimulai dari diri sendiri dan kebiasaan berbahasa Indonesia dengan baik walau hanya sekedar mengirim sms. Herannya, yang berbahasa Indonesia dengan baik saat mengirim sms justru yang dianggap aneh.

    Salam hangat

  2. HennieTriana Oberst  31 October, 2012 at 06:30

    Mudik kemarin aku makin bingung, karena banyak para orang tua dengan bangganya mengatakan anak-anak mereka bahkan yang balita begitu pintarnya berbahasa Inggris. Aneh.

  3. Lani  31 October, 2012 at 00:43

    contoh2 bahasa dialinea paling akhir…….maklum aku ora mudenk blasssssss………tp ya ndak perlu anti……..mmg begitulah bhs ABG ato yg bukan ABG, hanya biar tdk dikatakan kampungan??????

  4. Dewi Aichi  30 October, 2012 at 23:06

    Nanda……..setuju, ya memang bahasa gaul tidak bisa dihindari…di mana saja ada.

  5. matahari  30 October, 2012 at 21:45

    “Contoh yang kedua, menunjukkan seorang ABG yang ingin kelihatan lain dan tampil beda, menggunakan Bahasa Inggeris dengan penulisan yang saya kira Orang Amerika atau Australia pun belum tentu faham.”

    DNB…( saya tidak tau apa anda wanita atau pria)..topic yang anda bahas serta cara . anda membahas sangat bagus dan yang saya copy diatas sangat benar…di sosial media sering saya temui status aneh aneh seperti yang anda tulis…

  6. Linda Cheang  30 October, 2012 at 16:25

    Kalau harus anti sekali akan bahasa alay, tentu tidak akan bisa, karena bagaimanapun itu bahasa umum pergaulan anak-anak muda sekarang, Tapi baiknya para pengajar Bahasa Indonesia, termasuk orang tua, mencari cara lebih kreatif lagi untuk menanamkan (baca : mencuci otak) generasi muda agar tetap dapat berbahasa Indonesia, meski kadarnya cuma mendingan

  7. Dj.  30 October, 2012 at 16:23

    Mas Dinanda….
    Terimakasih….
    Satu tuliisan yang sangat bagus.
    Semoga banyaak orang muda yang membacanya.
    Dj. kira, Dj. sudah ketingggalam jaman, karena sering tidak mengerti.
    Mengapa anak muuda sekarang “banyak”, yang meniru anak-anak yang berbahasa sedikit aneh.
    tapi hal ini juga sering Dj. lihat, orang tua yang berbicara dengan anak-anaknya juga memakai bahasa
    kanak-kanak. Sehingga anak-anak tersebut ya belajar juga dari orang tuanya.
    Contoh…
    Suami panggil istrinya dengan jata “mama”, lho…. ( mama mau ikut…??? ) Ini istrinya atau mamanya…???
    Atau ibu memanggil anak nya yang sulung dengan kata “kaka”. ( kaka jangan nakal ya… )
    Lha kan aneh, itu anaknya atau kakanya…???
    Dj. bisa mengerti, kalau itu anak punya adik dan si ibu, berkata ke anak sulung, Aton.. jangan nakall ke adiknya.
    Mengapa tidak panggil namanya…??? Untuk apa itu anak dikasi nama yang bagus-bagus, kalau tidak dipakai…???

    Pernah Dj. memberi tau cucu Dj. ( anak keponakan ) yang bahasanya tidak Dj. mengerti.
    Malah dibilang, eyang kampungan…. hahahahahahaha….!!!!

    Dj. setuju, bahasa yang baik, menunjukan karekkater seseorang….
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  8. J C  30 October, 2012 at 16:20

    Hahaha…aku mumet baca 3 contoh di bagian bawah itu. Tetap berpedoman seperti mas Iwan Satyanegara Kamah bilang: “marilah berbahasa Indonesia yang baik dan rada mendingan”

  9. Chandra Sasadara  30 October, 2012 at 16:02

    bahasa merekam sejarah, hilannya satu-dua kata memang tidak berasa. tapi satu saat kita akan kehilangan sejarah sbg bangsa tanpa agenda melestarikan bahasa

  10. Handoko Widagdo  30 October, 2012 at 10:43

    Pencurian kata oleh bahasa lain berjalan secara evolutif dan wajar. Contohnya kata “merdeka” dicuri dari Bahasa Portugis, kata “bangkai” dicuri dan kemudian dimodifikasi dari bahasa hokian angke yang artinya merah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.