Master Chef

Wesiati Setyaningsih

 

Kegilaan terjadi malam ini. Sudah menghindari untuk tidak masak daging, eh, tetangga sebelah mengirim daging kambing kira-kira 2 kilo. Begitu membuka satu tak kresek yang berisi jerohan, saya sudah hampir muntah karena baunya. Tapi karena tidak ada lagi yang bisa mengurus daging-daging itu, akhirnya saya tahan-tahan untuk mengambil daging-daging yang ada, mencuci dan mengiris-iris. Suami saya minta untuk membeli tusuk sate dan bumbu gule yang sudah jadi di toko dekat rumah.

Dasar lebay, tidak hanya membeli apa yang saya pesan : tusuk sate dan bumbu gule, dia juga membeli bumbu-bumbu jadi yang lain. Ada bumbu rawon, rendang, lada hitam, dan bumbu bali selain bumbu gule. Karena sudah sudah ngebet ingin membuat sate, daging yang sudah saya potong-potong itu saya uleni dengan bawang, merica dan kecap lalu saya rangkai dalam tusukan sate. Baru dapat beberapa tusuk saya sudah bosan jadi saya serahkan pada suami dan Izza. Saya mulai membakar beberapa yang sudah jadi ke atas wajan yang biasa digunakan untuk memanggang.

Tapi tak lama kemudian suami juga mengeluh lelah dan Izza merasa sudah cukup jumlah sate yang ada. Toh nanti yang makan cuma dia, kakaknya dan ayahnya. Jadilah sekitar lima belas tusuk sate. Sementara daging yang tersisa masih cukup banyak. Semua sudah saya potong-potong, saya beri bumbu bawang dan merica. Suami usul agar daging yang tersisa dibuat lada hitam atau rendang saja. Sementara Izza ribut minta dibikinkan gule.

Karena daging masih banyak, saya buat daging dengan menggunakan bumbu lada hitam. Saya tinggal menumis bawang lalu memasukkan daging, menuangi sedikit air, lalu membuka bumbu instan lalu menuangnya ke daging yang sedang direbus. Berikutnya saya buat lagi dengan menggunakan bumbu rendang. terakhir saya buat lagi dengan bumbu gule.

Malam ini di meja tersedia sate kambing, kambing lada hitam, rendang kambing dan gule kambing.

Sambil makan dengan mencicipi sedikit-sedikit masakan yang tersedia, suami saya mengatakan pada anak-anak,

“Mamamu suruh ikutan master chef aja.”

Izza tertawa dengan keringat membanjir kepedasan. Karena sebelumnya potongan daging sudah saya bumbui dengan bawang dan merica.

Malam ini Izza menulis di status facebooknya, “Pilih sate,rendang,bumbu lada hitam atau gule?!!pilih mana?!yg mau kerumahku sini….aku kasi deh…slurp..wenakkk..tenan…!!”

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "Master Chef"

  1. Lani  2 November, 2012 at 03:46

    WESIATI : lurah=aki buto sama dengan tuan redaksi BALTYRA RUMAH KITA BERSAMA……..

  2. Alvina VB  2 November, 2012 at 02:33

    Mbak Wes, kelihatannya eunak tenan ttp kl kambing lewat aja dech, kl diganti sama ayam gimana? (lah gak bisa ya..dptnya daging kambing, kok nawar sich… he..he…

  3. wesiati  1 November, 2012 at 19:29

    maksude lurahe ki sapa mbak?

  4. Lani  31 October, 2012 at 23:10

    WESIATI 12 : wakakakak……..mengko disamber karo lurahe lo……dikunyah-kunyah njur dilepeh-ke………

  5. wesiati  31 October, 2012 at 16:05

    buat yang enggak makan daging, boleh kok dikunyah aja. habis itu dikeluarin lagi, jangan ditelen…

  6. HennieTriana Oberst  31 October, 2012 at 04:26

    Wesiati, satenya itu menggoda sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.