Buruh Migran Indonesia – Penulis dan Bahasa Indonesia

Mega Vristian

 

(Menyambut bulan bahasa Oktober 2012)

Dulu waktu masih sekolah, pelajaran bahasa Indonesia  umumnya diremehkan dan dianggap tidak penting oleh para murid. Pelajaran bahasa Indonesia kalah keren dengan Matematika, Biologi, Fisika, dan pelajaran lainnya.

Sikap meremehkan pelajaran bahasa Indonesia itu terjadi karena para siswa merasa sudah bisa berbahasa Indonesia. Sebab, sehari-hari juga mereka sudah mahir bercakap-cakap dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia.

Umumnya pula, orang Indonesia baru menyadari pentingnya belajar bahasa Indonesia setelah mereka harus menulis atau terjun ke dunia kepenulisan. Saat itulah mereka yang dulu meremehkan bahasa Indonesia karena merasa sudah menguasai bahasa Indonesia, baru tahu bahwa bahasa Indonesianya sangat parah.

Saat itulah mereka baru sadar bahwa dirinya ternyata belum bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dan saat itu pulalah mereka baru merasa perlu belajar bahasa Indonesia dengan lebih serius.

Hal seperti ini, tak terkecuali, juga terjadi pada sejumlah buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong, terutama yang baru mulai bergerak di dunia tulis-menulis. Sebagian dari mereka banyak yang kembali mempelajari ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), juga berlatih membuat kalimat dengan benar dan menata pikiran atau gagasan dalam bentuk tulisan.

Sikap BMI seperti itu sangat bagus karena memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Tidak ada kata terlambat untuk mempelajari bahasa Indonesia.

Dan memang, siapa saja yang hendak terjun di dunia tulis-menulis, yang menggunakan bahasa Indonesia, mau tidak mau dia harus berusaha menguasai bahasa Indonesia, juga harus belajar bagaimana caranya menata pikiran di dalam tulisan supaya tulisan yang dihasilkan dapat dinikmati pembaca karyanya dan pesannya dapat tersampaikan dengan baik pula.

Bahasa bagi penulis merupakan hal utama karena bahasa adalah alat utama bagi penulis. Bagi penulis yang menulis dalam bahasa Indonesia, maka tidak ada bahasa lain yang lebih penting dibandingkan bahasa Indonesia.

Akan menjadi mengherankan bila seorang BMI terjun ke dunia tulis-menulis, tetapi dia enggan mempelajari bahasa Indonesia meskipun bahasa tulis masih tergolong sangat memprihatinkan.

Alasannya enggan mempelajari bahasa Indonesia karena ada editor atau penyunting. Di media massa juga ada editornya.

Sikap menggantungkan pada pihak lain seperti itu sebaiknya tidak ditiru oleh para BMI Hong Kong yang terjun ke dunia tulis-menulis. Sebab, selain tidak memperlihatkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia, sikap seperti itu juga dapat merugikan diri sendiri.

Misalnya, seorang BMI mengirim tulisannya ke media massa. Entah itu artikel, entah itu cerita pendek. Jika ternyata tulisan yang dikirim tersebut bahasa Indonesia dan penyajiannya kurang bagus, ada dua kemungkin yang dapat terjadi ketika naskah tersebut sudah di meja redaksi media massa.

Kemungkinan pertama, naskah tersebut bisa terbit di media massa yang bersangkutan. Mungkin karena ide atau gagasannya dinilai layak disajikan kepada pembaca, berbagai kesalahan dalam penggunaan bahasa itu diperbaiki oleh editor sehingga naskah tersebut menjadi layak terbit.

Kemungkinan kedua, naskah tersebut langsung dimasukkan ke recylce bin. Meskipun sebetulnya ide tulisan itu bagus, karena bahasa Indonesianya buruk, tulisan tersebut ikut bernasib buruk.

Jadi, memang setidaknya ada dua bentuk perlakuan redaktur media massa terhadap naskah yang bahasa Indonesianya buruk. Tentu, para penulis berharap jika ada kesalahan dalam tulisannya, editor media massa akan membetulkannya sehingga naskahnya layak muat. Memang ada editor seperti itu, tetapi sialnya kebanyakan tidak seperti itu.

Itu berarti, keberuntungan para BMI-Penulis yang mau bersusah-payah mempelajari bahasa Indonesia akan lebih besar ketimbang yang tidak mau belajar lagi.

Keberuntungan itu tidak hanya terkait dengan soal pemuatan tulisannya di media massa. Tapi juga terkait dengan kualitas tulisannya yang ke depannya. Mereka yang terus mempelajari bahasa Indonesia, tentu kualitas tulisannya akan semakin baik. Berbeda halnya dengan yang sebaliknya.

 

Tradisi Kritik

Saat ini, di kalangan para penulis BMI di Hong Kong sudah ada beberapa organisasi atau komunitas kepenulisan. Di organisasi seperti Forum Lingkar Pena (FLP) Hong Kong, misalnya, ada tradisi membedah karya anggota.

Karya-karya anggota FLP dikritisi dan dibedah oleh anggota lain, baik dari segi isi maupun pemakaian bahasa Indonesianya.

Tradisi seperti ini sangat perlu dikembangkan. Sebab, peningkatan penguasaan bahasa Indonesia akan lebih cepat dengan cara belajar seperti itu. Dengan tradisi ini, ada semangat saling bantu antar sesama penulis untuk sama-sama dapat meningkatkan kualitas tulisannya masing-masing.

Tak jarang, ada penulis yang dikritik tulisannya, justru memusuhi orang yang telah mengkritiknya. Sikap seperti ini tidak akan mempercepat peningkatan kualitas karya penulis tersebut. Dikritik, seharusnya berterimakasih. Sebab, dengan adanya orang yang mengkritik tersebut, berarti ada orang yang memperhatikan karya kita, memperhatikan secara positif.

Semoga semakin hari kualitas karya tulis BMI Hong Kong semakin oke. (*) – Dimuat di Tabloid Apa Kabar, Hong Kong.

 

Note Redaksi:

Mega Vristian, selamat datang dan selamat bergabung di Baltyra! Make yourself at home. Ditunggu artikel-artikel lainnya…

 

8 Comments to "Buruh Migran Indonesia – Penulis dan Bahasa Indonesia"

  1. Mega Vristian  1 November, 2012 at 13:28

    Sekali lagi saya ucapkan salam kenal, kepada pembaca dan anggota BALTYRA. Terimakasih untuk komentarnya, ini menambah semangat untuk makin aktif berkarya tulis. Semoga.

  2. Handoko Widagdo  1 November, 2012 at 08:01

    Saya adalah pengagum BMI Hongkong yang berhasil melahirkan banyak penulis hebat. Selamat bergabung di Baltyra MV.

  3. ah  31 October, 2012 at 16:51

    buat saya bahasa itu hanya sebuah alat untuk eksplorasi, dan bahasa terus akan berkembang disisipi bunyi2an baru selama manusia masih bisa bersuara dan berpikir. jadi ga usah saklek2 amatlah. kalo mau menulis ya menulislah karena cinta menulis, dan ukurannya bukan semata bisa masuk ke media massa atau nggak. pemikiran begitu terlalu dangkal hehe

  4. Linda Cheang  31 October, 2012 at 15:52

    Baguslah, masih ada yang mau sengaja belajar Bahasa Indonesia yang baik, meski belum tentu benar.

    Daripada anak-anak di sini bilangnya : Cumpaah? Ciyuss? Miapah? gubrakkkk

  5. Lani  31 October, 2012 at 14:02

    Salam kenal……..selamat gabung di Baltyra

  6. Mega Vristian  31 October, 2012 at 13:57

    Salam kenal untuk semuanya. Terimakasih, semoga tulisan saya bermanfaat bagi pembaca.

  7. dinanda  31 October, 2012 at 13:16

    horeeeeee, #gembira, ternyata ada komunitas penulis di Hong Kong, dari BMI dan FLP…., bagooooos…..,mari menulis dan berbahasa

  8. J C  31 October, 2012 at 12:32

    Selamat datang Mega Vristian! Tulisan yang bagus. Membaca info seperti ini sangat menggembirakan, dibandingkan membaca duka-lara-nestapa para BMI yang di Timur Tengah sana…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.