[Senja di Biara Menyurai] Pembaharuan Diri

Angela Januarti Kwee

 

Sejak pagi aku aku sudah merencanakan untuk melewati senja setelah selesai bekerja. Terlebih karena gereja memperingati perayaan wajib St.Fransiskus dari Assisi. Seorang Santo pelindung binatang dan anak-anak.

Menjelang siang, hatiku bersuka cita mendengar kelahiran anak kedua dari abangku. Seorang malaikat kecil yang Tuhan hadirkan untuk melengkapi kebahagiaan mereka juga kami. Maka, semakin bersemangatlah aku untuk segera mengikuti misa dalam senja. Aku ingin bersyukur untuk anugerah yang Tuhan berikan.

Aku berteduh dalam doa seraya menunggu misa dimulai. Sesaat aku melihat Diakon tengah sibuk mempersiapkan bacaan yang akan dibacakan dalam misa. Aku berbisik pada Tuhan untuk keinginan menjadi lektor dalam senja kali ini. Hanya berselang beberapa detik, kudengar Diakon memanggilku dan meminta aku membawa bacaan pertama. Dengan yakin aku menjawab “iya.”

Hari ini anak asrama tidak terlihat sama sekali. Mungkin mereka libur atau ada kegiatan. Misa diikuti para Suster, Bruder, Diakon dan Pastor. Jujur saja, aku sedikit gugup harus maju membacakan bacaan di depan mereka semua. Tapi aku mencoba menenangkan diri dan maju dengan penuh keyakinan untuk menyenangkan hati Tuhan.

Ada yang berkesan ketika aku mendengarkan Injil tentang Yesus mengutus tujuh puluh murid-Nya untuk menyerukan pertobatan, sebab Kerajaan Allah sudah dekat. Ini seperti sebuah ajakan untuk melakukan pembaharuan diri. Bukan hanya dari luarnya saja, tapi sungguh dari dasar hati dimana Roh dan Iman menjadi dasar atas pertobatan.

Aku merenungkan riwayat St.Fransiskus Assisi yang dirayakan hari ini. Ia berani melepaskan diri dari hal duniawi (harta yang melimpah dari kedua orangtuanya) untuk hidup miskin dan melayani Tuhan. Lantas aku berpikir, apa aku juga berani melakukannya? Tapi aku bukan dari keluarga kaya?

Akhirnya aku mengambil contoh hal sederhana dari ponakanku yang baru saja lahir. Bayi mungil seperti malaikat kecil. Aku juga ingin membaharui diriku dengan meninggalkan segala hal yang tidak baik dan lahir kembali untuk melayani Tuhan dalam kesederhanaan.

Ya, senja ini mengajariku bahwa pembaharuan diri penting untuk dilakukan, karena selalu saja ada kekhilafan yang kadang kita lakukan. Entah itu disadari atau pun tidak.

 

Sintang, 4 Oktober 2012

SCA-AJ.020187

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "[Senja di Biara Menyurai] Pembaharuan Diri"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  2 November, 2012 at 07:03

    Kalimat terakhirnha cantik. Setiap orang harus ada penbaruan jika ingin hidup selalu maju dan berubah menjadi lebih baik, Kamu belajaf dari mana Angela bisa menulis cantik seperti ini?

  2. Alvina VB  2 November, 2012 at 02:12

    Angela: Thanks buat sharingnya di sini…congrats punya keponakan lagi ya, tambah rame….

  3. Angela Januarti  1 November, 2012 at 20:50

    Pak Han, Pak DJ, Pak JC dan Kak Linda : Terima kasih ^_^
    Senangnya bisa berbagi.

  4. Linda Cheang  1 November, 2012 at 19:44

    indahnya berbagi pengalaman spiritual.

  5. J C  1 November, 2012 at 17:30

    Angela, aku selalu menikmati sharing pengalaman spiritualmu… sangat teduh!

  6. Dj.  1 November, 2012 at 13:57

    Angela…..
    Terimakasih untuk renungannya dipagi hari ini…..
    Satu keputusan yang laur biasa, untuk memolai “HIDUP BARU”.
    Bukan hal yang mudah, tapi pasti bisa, Doa Dj. dan Berkat TUHAN,
    menyertai Angela….
    Shalom…!!!

  7. Handoko Widagdo  1 November, 2012 at 10:56

    Satu lagi senja indah bersama Angela Kwee.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.