Broken Home Will Cause Broken Heart

Ida Cholisa

 

Jumat, suatu siang. Aku tengah mengawas UTS di sekolah. Di sebuah ruang di mana aku mengawas ujian, seorang murid lelaki menyerahkan lembar kertas ulangan. Ia Rocky, siswa yang terkenal pintar dan berkepribadian baik.

“Rocky, bantu Ibu menghitung lembar jawab, ya?”

“Iya, Bu.”

Dan ia mulai menyusun satu demi satu lembar jawab, sementara aku mengemasii lembar soal.

“Gimana soal Bahasa Inggris kemarin?” tanyaku.

“Bisa, Bu.”

“Syukurlah.”

“Tapi Bu, sepertinya saya mengalami penurunan prestasi semester ini.”

“Kenapa?”

Wajahnya seketika meredup.

“Saya nggak bisa cerita, Bu.”

“Katakan saja, barangkali Ibu bisa membantu kamu.”

Mata Rocky tiba-tiba berembun. Berulangkali ia mengusap air mata yang tertahan dengan punggung tangan.

“Kenapa, Rock?”

“Ini masalah orang tua, Bu.”

“Kenapa?”

Akhirnya kalimat demi kalimat pun meluncur dari bibir Rocky. Orang tuanya sedang dalam proses perceraian, dan itu yang membuatnya sedih dan mengalami penurunan dalam prestasi belajar.

“Saya nggak ingin orang tua saya bercerai Bu, tapi saya tahu benar kalau orang tua saya sudah tidak harmonis lagi.”

“Mereka kerap bertengkar?”

“Tidak, Bu. Tapi sudah lama mereka pisah ranjang.”

Aku terdiam seketika. Wajah Rocky masih meredup sempurna. Ada rasa miris menggeliat di relung jiwa.

“Baiklah Rocky, nanti kamu ke ruang Ibu saja, ya? Sementara ini, kamu banyak-banyak berdoa. Semoga orangtuamu bisa menemukan jalan keluar yang baik. Satu yang mesti kamu ingat, apa pun masalah yang menimpa kamu, jangan pernah kamu menyerah. Jangan sampai belajarmu terganggu karena masalah orang tuamu. Kamu harus kuat. Kamu pasti bisa.”

Rocky mengangguk dan menjabat serta mencium tanganku. Dengan gontai ia pun berlalu.

***

Aku berjalan menuruni tangga menuju ruang guru. Sepanjang menyusuri koridor sekolah pikiranku menerawang entah ke mana. Teringat olehku Sisca yang mengalami kegoncangan setelah kedua orang tuanya bercerai. Teringat olehku tetangga yang selalu ‘bermasalah’ dalam mendidik anaknya karena pengalaman masa lalu, tumbuh dalam suasana runyam keluarga broken home. Bahkan teringat olehku kawan yang harus merelakan perpisahan dengan anak kandungnya karena perceraian. Banyak, banyak kasus bertebaran di mana-mana, dan semua bermula dari perceraian.

Menjalin hubungan tidaklah mudah. Bahkan dalam usia perkawinan yang telah mengalami pasang-surut dan asam garam, perceraian bisa menjadi ancaman yang setiap saat bisa menyerang. Beragam faktor menjadi pencetus terpenggalnya sebuah ikatan pernikahan. Ada yang mampu bertahan dari terpaan gelombang, tapi tak sedikit rumah tangga yang karam karena tak mampunya nakhoda melajukan kapal hingga menabrak dinding karang.

Nakhoda dalam rumah tangga adalah suami, dan di sampingnya adalah istri. Mereka harus saling bahu-membahu dalam segala situasi. Hendak dibawa ke mana kapal mereka, semua tergantung dari komitmen mereka. Jika mereka menyadari bahwa tak hanya mereka yang berada dalam kapal mereka, tetapi terdapat anak-anak mereka, tentu mereka akan berpikir ulang untuk membiarkan kapal menabrak dinding karang. Sedapat mungkin mereka menyelamatkan kapal berikut iisinya agar tak karam ke dasar samudera.

Tak ada perceraian yang membuahkan rasa manis, meskipun bisa jadi salah satu dari pasangan merasa lega dengan diputuskannya kesepakatan perceraian. Tetapi bagaimana dengan anak-anak mereka? Apakah hati mereka tak terkoyak melihat orang tuanya tidak lagi tinggal serumah? Apakah hati mereka tidak menangis menyaksikan salah satu orang tua mereka meninggalkan mereka?

Perceraian akan menyisakan bekas hitam pada hati anak-anak. Bahkan meskipun mereka mampu tumbuh tegar dan menggapai sukses di masa depannya, sebentuk rasa tetap berdiam di hati mereka. Broken home will cause broken heart. Sekecil apa pun rasa terluka itu….***

 

Cileungsi, 20 Oktober 2012

 

7 Comments to "Broken Home Will Cause Broken Heart"

  1. Bagong Julianto  5 November, 2012 at 16:42

    Selalu ada korban dari setiap perceraian yang terjadi di sekitar kami.
    Kalau suami-isteri hanya mau dengarkan suara sendiri (=egois), maka masing-masing sudah mulai punya satu huruf C. Kelanjutannya adalah berita sedih.

  2. Alvina VB  3 November, 2012 at 00:10

    mbak Ida, Semoga org tua Rocky bisa menyelesaikan perceraiannya dgn baik2.
    Herannya duluuuu waktu komitmen menikah kan mustinya ada deklarasi sehidup semati, he..he….(wong lagi jatuh cinta waktu itu kali ya… lah kok gampang banget minta cerai/ setuju utk cerai. Di sini perceraian gak segampang di Ind, apalagi kl urusan sama harta gono-gini sama hak asuh anak, dsb.

  3. Dj.  2 November, 2012 at 23:34

    Kalau dalam bahasa Jerman, suami istri itu dinamakan ” EHE PAAR ”
    sedang EHE itu, ada huruf H diantara dua huruf E.
    Dua huruf E, adalah dua mahluk yang Egois ( E = Egois )
    Dan ditengah-tengah ada huruf “H” yang berarti HERR ( TUHAN ).
    Jadi, kalau dua Egois dan ditengahnya ada TUHAN, maka H itu akan mengikat kedua Egois, agar bisa
    hidup bersama dan saling mengerti, mengasihi dan merawat.
    Kalau dalam hubungan suami istri tanpa “H”, ya tidak taulah apa yang terjadi.
    sedang yang dengan “H” juga bisa berpisah….

    Hanya saja, kalau kita percaya dan beriman, maka jangan sekali-kali mengucapkan kata “cerai”.
    karena mulut kita sangat diberkati.
    Apa yang kita ucapkan, bisa terjadi.
    Layanilah satu sama yang lain dan saling mendahului melayani dan jangan minta dilayani.

    salam Sejahtera dari Mainz.

  4. J C  2 November, 2012 at 17:15

    Ah, permasalahan seperti ini memang bikin miris sekali. Semoga orangtua Rocky menemukan jalan terbaik. Dan apapun jalan yang dipilih orangtuanya, si Rocky tetap teguh…

  5. ah  2 November, 2012 at 15:05

    kalo cerai mati, apakah harus ceria pak han? hehe

  6. Handoko Widagdo  2 November, 2012 at 09:33

    Kata cerai dan ceria hanya beda letak huruf.

  7. Dewi Aichi  2 November, 2012 at 09:20

    Kok ya kebetulan banget , tadi siang aku dapat kabar melalui pesan di inbox, temanku cerai sejak April lalu, sidang pertama baru kemarin tanggal 30, aku tanyakan sebabnya(kaget karena teman akrabku), dia bilang karena ekonomi, kok bisa karena ekonomi, tanya ku lebih lanjut, ya…istriku penghasilannya lebih besar, kata temanku. Semenjak temanku kena PHK dari bank, maka agak kacau penghasilannya, usahanya selalu gagal, dari situ hubungan suami istri tidak lagi manis.
    Istrinya menggugat cerai, temanku bilang ngga apa apa, itu hak istriku katanya …, anaknya satu, umur 13 tahun.

    Perceraian …ohh…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.