Pacar Seksiku

El Hida

 

Seorang perempuan yang berjilbab dan berpakaian serba ungu tengah duduk di bangku taman. Aku melihatnya sedang asik dengan netbuknya. Mungkin ia sedang menulis seuatu atau mungkin juga sedang online saja. aku tidak jelas melihatnya.

Angin membelai jilbabnya yang panjang dan lebar, membuatku penasaran dengan perempuan itu. Siapa sebenarnya ia, sebab aku belum pernah melihat ia sebelumnya di sini. Ada ragu saat aku mencoba mendekatinya. Ragu bahwa ia akan menerimaku jika aku duduk di sampingnya. Sebab aku tahu ia bukan perempuan sembarangan yang mudah didekati dari pakaian yang dikenakannya. Jilbab panjang dan lebar sepinggang itu adalah isyarat bahwa perempuan ini tidak boleh aku samakan dengan perempuan lain yang suka mengumbar auratnya.

Aku berdiri mematung beberapa meter dari perempuan berjilbab ungu itu. Ia sungguh membuatku terpesona. Aku merasa perempuan ini adalah perempuan yang selama ini aku cari. Perempuan ini adalah perempuan impianku.

“Tapi kamu kan sudah punya pacar?” Tanya hatiku. Aku tidak menghiraukannya. Aku sedang terpesona dengan perempuan yang berada di beberapa meter dariku itu.

“Bagaimana jika pacarmu datang lalu mengetahui dirimu yang sedang memerhatikan perempuan lain?” Kata hatiku lagi. Ah aku tidak peduli. Kalau nanti pacarku sampai tahu dan ia minta putus sekalipun, tidak jadi masalah buatku. Justru itu akan membuatku lebih mudah untuk mendekati perempuan berjilbab ini.

Aku masih berdiri mematung memerhatikan perempuan itu. Inginku mendekatinya untuk sekedar bertanya nama dan sedang apa. Namun aku masih ragu. Mungkin lebih tepatnya aku takut. Takut kalau nanti perempuan itu tidak suka dengan keberadaanku, lalu aku diusirnya saat aku mencoba duduk di sampingnya. Aku juga takut kalau nanti aku mengganggu aktifitasnya yang entah sendag apa dengan netbuknya itu.

Aku tarik nafas dalam-dalam lalu menata hatiku agar aku bisa sedikit tenang sehingga berani untuk mendekatinya. Setelah beberapa saat aku mengatur diriku, akhirnya aku mendapatkan keberanian untuk bisa mendekatinya.

Posisiku di sebelah kiri beberapa meter dari perempuan itu. Aku lalu berjalan mendekatinya dengan perlahan dan hati-hati.

“Akhm.” Aku pura-pura mendekhm untuk memberikan isyarat keberadaanku. “Assalamu’alaikum, boleh aku ikut duduk? Aku sedang menunggu temanku yang menyuruhku menunggu di taman ini.” Aku basa-basi.

“Wa’alaikum salam…” Jawabmu singkat dan tidak sedikitpun melihat ke wajahku. ia mengubah posisi duduknya dengan bergeser beberapa jengkal ke arah kanan. Mungkin maksudnya untuk memberi tempat untukku duduk. “Silakan duduk.” Katanya lagi dengan tidak menoleh sedikitpun kepadaku.

Sungguh perempuan ini sangat menjaga pandangannya dariku. Aku lalu duduk di sampingnya.

Suaranya mirip dengan suara kekasihku, dan wangi parfumnya sungguh sama dengan parfum yang biasa dipakai kekasihku. Aku jadi ingat pacarku yang tidak tahu bahwa aku sedang mendekati perempuan ini.

“Jangan berbicara yang tidak penting.” Kata hatiku. Kali ini aku menurutinya. Aku pikir hatiku benar. Aku harus berhati-hati berbicara dengan perempuan ini. Ini masalah harga diri. Semakin banyak aku berkata-kata yang tidak penting, hanya akan memperlihatkan kerendahan diriku. Maka aku hanya diam.

Rupanya aku tidak tahan jika duduk di dekat perempuan yang indah hanya untuk diam. aku pikir tidak ada salahnya aku berkenalan. Namun aku masih juga ragu, karena aku lihat dia sedang sangat fokus pada netbuknya. Aku lihat ia sedang menulis, terlihat dari tampilan microsoft word-nya yang penuh dengan tulisan times new roman.

“Ukhti…” Aku lihat dari pojok mataku sedikit ia tersenyum. Entah tersenyum karena mendengarku memanggilnya atau karena ia sedang menulis sesuatu yang lucu. Dan ia tidak menjawab. Sepertinya memang sedang fokus. Atau juga karena suaraku yang terlalu pelan.

“Ukhti…” Aku mencoba memanggilnya lagi dengan suara yang lebih keras.

“Iya Akhi Eddnan…” loh, koq perempuan ini tahu namaku. Jelas aku kaget dan semakin penasaran juga merasa beruntung karena ternyata perempuan ini sudah tahu namaku. Itu berarti ia memang telah mengenalku. Dan artinya lagi aku akan lebih gampang untuk pedekate dengannya. Tapi siapa sebenarnya perempuan ini ya. Aku jadi bengong sendiri dengan ketakjubanku padanya. Namun aku belum berani untuk menatap wajahnya. Takut nanti ia malah masygul lalu mengusirku dari tempat duduk itu. Itu tidak boleh terjadi. Aku biarkan dinginnya angin yang berhembus dan suara burung pipit yang sedang membuat sarang di atas pohon yang di bawahnya bangku tempat duduk kami, menenangkan hatiku.

“Dari mana Ukhti tahu namaku?” Tanyaku kepadanya. Ini kesempatanku untuk bertanya banyak hal kepadanya. Mungkin nanti akan aku tanyakan apakah ia sudah menikah atau belum. Kalau belum, apakah ia sudah punya pacar atau belum. Dan kalau belum lagi, aku akan bertanya bolehkah aku menjadi pacarnya. Ini kesempatanku.

“Dari dulu aku tahu namamu. Karena aku juga sudah lama mengenalmu.” Dia bilang sudah lama mengenalku. Subhaanalloh, ini kebetulan yang benar-benar kebetulan. Berarti aku juga sudah mengenalnya. Tapi siapakah sebenarnya perempuan ini ya. Seingatku aku tak pernah mempunyai teman perempuan dengan busana setertutup perempuan ini. Semuanya hampir tak memakai kerudung, apalagi jilbab panjang dan lebar seperti perempuan ini. Kekasihku apalagi. Setiap hari ia pakai rok mini, kalau tidak ya pake celana pendek atau pankang tapi ketat. Pakaiannya apalagi. Mana pernah ia memakai gamis, atau baju kurung yang menutupi sekujur tubuhnya. Setahun sekali mungkin iya, saat lebaran Idul Fitri saja. Aku semakin heran dan penasaran.

“Dari dulu, dari sejak kapan?” Tanyaku dengan penuh rasa heran dan tanya namun masih belum berani bertanya. Aku ingat, dulu aku pernah punya teman perempuan yang tinggal di Pesantren. Tapi ia kan sudah menikah dengan anaknya Kyai. Apa mungkin sudah bercerai. Ah Tuhan, aku semakin bertanya-tanya, aku semakin penasaran. Hatiku bilang; mungkin perempuan ini anaknya temanku. Aku pikir, mana mungkin. Bukankah menikahnya juga baru sekitar enam tahunan. Masa sudah punya anak sebesar ini. Aku tidak percaya kata hatiku.

“Dari sejak awal kita bertemu.” Yaa Salaam, perempuan ini semakin membuatku penasaran.

“Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya ya Ukhti, kapan dan di mana?” Aku bertanya kian dalam. Berharap mendapat jawaban yang menerangkan hatiku.

“Pertama kita bertemu di Situ Patenggang. Saat itu kita sedang mengadakan camping dengan teman-teman SMA dulu.”

“Oh My God!!! Jangan-jangan…” Aku kini memberanikan diri untuk melihat wajahnya. “Yaa Tuhan… Hizaa, sayangku?? Aku tidak menyangka kau sekarang sudah menutup aurat seperti ini. Sudah lama sayang? Sejak kapan?” Ternyata perempuan ini adalah kekasihku. Selama sebulan ini aku memang tidak pernah bertemu. Ia sedang pulang kampung. Dan kami hanya berhubungan lewat telepon saja. tidak pernah sekalipun ia mengirim potonya. Di pesbukpun gambarnya dihapus semua. Pantas saja. hampir saja aku mendekapnya, tapi kini aku malu. Hampir juga aku memegang tangannya, tapi sekarang aku segan. Apalagi untuk mencium kening dan bibirnya. Aku tidak bisa. Aku harus menjaga kehormatan kekasihku.

“Kaget ya. Sengaja aku memberikan kejutan. Aku tidak memberitahumu bahwa aku ke sini hari ini. Aku rindu, karena itu aku datang ke sini. Tadi aku tahu kau di sini dari Mamamu.” Kekasihku bercerita dengan ringan. Dan aku bangga menjadi kekasihnya. Semoga ia pun bangga kepadaku.

“Qiqiqi.” Hatiku menertawakanku.

 

elhida

91012

 

15 Comments to "Pacar Seksiku"

  1. el hida  13 November, 2017 at 14:58

  2. Bagong Julianto  6 November, 2012 at 08:30

    Sang aku begitu menggebu-gebu hingga lupa timbre modulasi/suara sang pacar……

    Kesimpulan kasar: nafsu memang buta…..

    Atau memang sang pacar lihai menyaru?!

  3. Sang Pelacur  6 November, 2012 at 08:08

    Sy suka tulisan ini mas El Hida..!!

    Akhirnya si sexy yg suka mengumbar aurat itu menyadari klu menutup aurat itu kewajiban sbgi muslimah.
    Memang sih tiap yg berjilbab tidak semua sholehah tp ku yakin wanita sholehah pasti akan menutup auratnya.

    Keep write!!!

  4. Linda Cheang  5 November, 2012 at 22:53

    pacaranya pintar menjebak kalau si cowoknya mau selingkuh

  5. anoew  5 November, 2012 at 22:44

    Kalau Buto tanpa dibungkus dari dulu memang anteng-alim-pendiam…

    berarti kalau dibungkus malah jadi mbradal lepas ke mana-mana

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *