Chao Phraya dari Balik Kamera

Non Sibi – Chicago

 

Halo apa kabar? Kiranya semua dalam keadaan sehat walafiat.

Beberapa waktu lalu novelis Endah Rahardjo menulis di Baltyra serial berjudul ‘Senja di Chao Phraya’. Perkenankanlah saya membagi pengalaman dengan obyek yang sama, Chao Phraya, melalui pandangan mata, bidikan di balik lensa dan sedikit informasi melatar belakangi foto-foto yang ada.

Bulan lalu tempat dimana saya bekerja mengadakan regional meeting di Sheraton Orchid, Bangkok, Thailand. Hotel ini terletak di bibir Chao Phraya (River of Kings) yang membelah kota Bangkok. Chao Phraya berhulu di pertemuan sungai Ping dan sungai Nan di utara ke selatan menuju Gulf of Thailand, cukup lebar, jauh lebih lebar dari sungai Ciliwung.

Sembilan malam menginap di hotel ini memungkinkan saya mempunyai kesempatan untuk mengamati sedikit kegiatan sehari-hari penduduk Bangkok. Bangunan hotel yang menjulang tinggi ini berbentuk seperti huruf T, jadi semua jendela kamar menghadap ke sungai. Di sepanjang sungai bisa dijumpai beberapa hotel berbintang yang memiliki kapal dan dermaganya sendiri.

Beberapa kuil kuno dan restoran yang berlokasi di bibir Chao Phraya.

Indah sekali menyusuri sungai di malam hari, banyak bangunan dan gedung sepanjang sungai dihiasi lampu warna warni.

Dekat hotel ada dermaga umum, setiap sarapan pagi melalui jendela restoran kami bisa melihat penduduk lalu lalang, naik turun kapal penyeberangan. Saya perhatikan banyak orang setelah melewati pos dermaga berhenti sebentar menghadap arah restoran, mengatupkan kedua telapak tangan di dada sambil menundukkan kepala, oh ternyata di pinggir sungai dekat hotel, ada patung dewi air sedang bersila, cukup besar, berselempang selendang merah jambu cerah bersama sesajen di dekat kakinya yang selalu baru setiap pagi. Sayang saya tidak ada foto-fotonya dan saya sudah tanyakan kepada beberapa kolega, tetapi nihil.

Banyak kapal ukuran sedang maupun kecil melewati sungai ini, terutama di jam-jam sibuk transportasi sungai banyak dimanfaatkan penduduk Bangkok untuk menyeberang dari satu sisi ke sisi sungai lainnya dengan cepat dan murah.

Lihat…. banyak enceng gondok berenang dan berjemur di permukaan sungai. Sampah ulah manusia yang membuangnya sembarangan? Ada juga yang tersangkut di sungai tetapi tidak terlalu banyak.

Terima kasih dan sampai kali lain.

 

Teriring salam hangat dari Chicagoland yang sudah dingin….

 

10 Comments to "Chao Phraya dari Balik Kamera"

  1. non sibi  8 November, 2012 at 09:52

    Terima kasih semua sdh mampir. FYI, Baltyra sdh tdk bisa dibuka lagi di kantor ku, diblokir oleh Honeywell, sedih deh.
    Lany – warna air sungai coklat/butek krn lumpur, tdk bau, subur, maka itu karung2 beras Thailand banyak ditemukan di groceries di Amrik.

  2. Bagong Julianto  6 November, 2012 at 14:55

    Jokowi dan Ahok, restorasi-reklamasi-reboisasi-reindahkembali-resetlementasi, Kali Ciliwung….
    Pasti bisa!

  3. christiana budi  5 November, 2012 at 16:19

    wah.. terimakasih indah sekali foto2 nya ditepi sungai …..sayang di bangkok cuma sampai di bandara …. tapi hampir sama disini…sungai kapuas lebar dan belum segelap kali ciliwung..dan kalau musim kemarau ada pantainya …tapi ndak ada gedung-gedung menjulang tinggi..
    @pak Handoko…udangnya masih hidup sampai menari-narikah?

  4. Dj.  5 November, 2012 at 13:53

    Non Sibi…
    Terimakasih sudah ajak jalan-jalan di Chao Phraya.
    Indah memang kalau ada bangunan ditepi sungai.
    Beda dengan Mainz, bangunannya tidak tepat dipinggir sungai.
    Ada jarak beberapa puluh meter dari bibir sungai.
    Salam,

  5. Lani  5 November, 2012 at 12:57

    air sungainya keliatan buthek ya……….cm msh lbh bersih dibanding dgn CILIWUNG yg bener2 hitam legammmmmm dan banyak yg pating krampullllllll…………..wuiiiiiiiiih!

  6. Linda Cheang  5 November, 2012 at 12:47

    hhmm, memang bagus, sih, tapi belum mampu membuatku jadi ingin ke sana…

  7. Handoko Widagdo  5 November, 2012 at 11:55

    Semoga suatu saat Kali Ciliwung bisa menjelma seperti ini.

  8. anoew  5 November, 2012 at 11:53

    Indah sekali…, seperti kota terapung, restoran mengapung, pagoda mengapung.. Indah!

    ternyata di pinggir sungai dekat hotel, ada patung dewi air sedang bersila, cukup besar, berselempang selendang merah jambu

    untung bukan dewi aichi.., bisa-bisa bubar itu restorannya

  9. J C  5 November, 2012 at 11:50

    Sesuai deskripsi Endah Raharjo dalam novel Senja di Chao Phraya. Tempat ini sepertinya memang eksotis, romantis dan tis-tis yang lainnya lah…

  10. Handoko Widagdo  5 November, 2012 at 11:08

    Rindu menu udang menari

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.