Oase Kehidupan dari Padang Pasir

Diday Tea

 

Tentang Buku Ini

Saya tadinya memberi judul buku ini “Gado-gado Gurun Pasir”, karena seperti layaknya hidangan Gado-gado, buku ini juga berisi berbagai jenis tulisan. Ada puisi, pengalaman hidup, resensi buku, curhat, bahkan ada juga yang membahas tentang kuliner. Ada yang bisa membuat pembaca tersenyum, tertawa,  bahkan mungkin sedih dan terharu.

Ada juga tulisan yang bisa membuat pembaca akan “ terbakar” oleh pengalaman luar biasa penulis seperti di “Dialog Lima Belas Juta”.

Ada yang (semoga) bisa mencerahkan pembaca, terutama para orang tua dan pendidik seperti “Dunia di Mata Seorang Kurcaci” dan “Kata- kata Beracun”.

Ada yang bisa memancing perdebatan berkepanjangan seperti tulisan “Biar Cepat Atau Selamat” dan “Mengalir Seperti Air? Ke Laut Aje!”

Hampir semua tulisan yang ada di buku ini dimuat di blog saya www.didaytea.com. Beberapa juga ada yang dimuat di website resmi  Rumah Dunia; www.rumahdunia.net dan www.rumahdunia.com.

Buku ini tidak harus dibaca berurutan dari awal sampai akhir, karena berupa tulisan- tulisan pendek yang spontan dan tidak terikat oleh susunan waktu.

Seperti Gado- gado juga, saya ingin buku saya ini dinikmati oleh semua orang, dan memberikan “nutrisi” untuk jiwa  para pembacanya serta “membakar” semangat mereka untuk mencari pengetahuan dan ilmu. Karena keduanya tidak hanya bisa didapatkan dari buku saja, tapi bisa dari kejadian- kejadian kecil yang sering kali luput dari pengamatan mata hati kita.

Semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil setelah menutup lembaran terkakhir buku ini.

 

KATA PENGANTAR DUTA BESAR INDONESIA DI QATAR

Penulis Diday Tea adalah orang yang mempunyai visi jauh ke depan. Kumpulan cerita-cerita ringan dalam buku ini mampu mengkombinasikan pengalaman pribadi dengan dalil Al-Qur’an dan jargon kehidupan serta mengkaitkannya sebagai rumusan sebab akibat. Hal ini merupakan sesuatu dan memiliki arti besar bagi sebuah upaya syiar agama Islam yang mudah dipahami dan dimengerti serta dicerna walau oleh orang yang bukan pemeluk Islam sekalipun.

Datang dari Indonesia dan tinggal di Negara Qatar, berkeluarga dan membesarkan anak dalam suasana dan nuansa Islami yang relatif sama dengan negeri asalnya, walau tentunya dengan budaya yang berbeda antara budaya Arab dan budaya Indonesia, kesemuanya telah banyak memberikan inspirasi bagi Saudara Diday Tea untuk dapat “survive” di dalam perjalanan karir dan pekerjaannya di negeri orang seperti halnya anggota Diaspora Indonesia lainnya yang berada di Qatar.

Mudah-mudahan buku ini akan menjadi motivator dan inspirator bagi anak-anak muda Indonesia yang mempunyai cita-cita dan perjuangan yang tinggi jauh ke depan serta menjadi Best Seller seperti buku-buku sebelumnya yang ditulis oleh anggota Diaspora Indonesia di Qatar, dan hal ini  menunjukkan bahwa Diaspora Indonesia di Qatar adalah Diaspora yang kreatif, dinamis dan mempunyai daya juang tinggi.

 

Doha, Juni 2012

Deddy S. Hadi

Dubes RI di Qatar

 

“CURHAT” MANFAAT BUKU ALA DIDAY

Oleh Gol A Gong

Kubaca  calon buku ini di Novotel, Jambi. Aku baru saja menyulut gempa literasi di Muarabungo dan kota Jambi pada 23 dan 24 Juni 2012. Sambil menikmati sarapan pagi, sayup-sayup lagu “Stand by You” dari Pretender terdengar. Suasananya sangat mendukung untuk membaca buku ini. Kubaca lembar demi lembar “curhat abis” ala Diday tea, Ambasador Rumah Dunia di Doha, Qatar. Sulit mengungkapkan gejolak perasaan saya, ketika isi buku ini sangat luar biasa. Itu karena Diday selalu mengaitkan segala detak jantungnya dengan buku. Diday mengatakan, bahwa modal kesuksesannya di Qatar, selain doa adalah uang sejumlah Rp. 15 juta!

Buku Investasi

Dari semua tulisan di buku ini, episode “Dialog ima Belas juta” sangatlah tepat menggambarkan kondisi potret manusia Indonesia sesungguhnya. Diday membeberkan kepada temannya, bahwa buku-buku yang ada di rumahnya jika diakumulasikan bernilai Rp. 15 jt. Buku-buku itu dibelinya seiring dengan desah nafasnya, bukan dibeli dalam waktu semalam atau semingu. Temannya yang kurang wawasan itu – seperti juga kebanyakan anggota dewan kita di daerah yang tidak memiliki visi – menyayangkan uang sebanyak itu dibelikan buku.

Jika kita sering menggunakan ketrampilan mendengar dan membaca kita, tentu tahu Allah SWT pernah berjanji, bahwa semakin tinggi ilmu kita, semakin tinggi pula derajat kita. Dan kita tahu kalau pemuda Muhammad (sebelum menjadi nabi) berubah hidupnya setelah menerima wahyu pertama dari Allah SWT lewat perantara malaikat Jibril, yaitu surat al-Alaq, yang lebih kita akrabi sebagai kewajiban membaca (iqra). Semua orang yagn gemar membaca karena panggilan hati, pasti sepakat, bahwa “Muhammad SAW dengan iqra bisa mengubah dunia dan kita dengan membaca bisa mengubah diri kita sendiri”.

Terbukti, Diday memetik hasilnya. Ini bukan sekadar panen. Ini panen emas. Lima belas juta rupiah yang dia habiskan untuk membeli huku diganti oleh Allah SWT dengan selembar kontrak kerja di Qatar dengan nilai 15 kali lipt dari gaji bulanannya saat bekerja di Cilegon, Banten. Tidak ada yang sia-sia jika urusannya adalah buku.

 

Orang Biasa Luar Biasa

Diday adalah orang biasa seperti kita. Tapi perbedaannya, Diday melakukan hal luar biasa, yaitu membeli buku, membacanya, dan menuliskannya. Di Indonesia, orang yang gemar membaca buku tidak pernah mencapai angka 5%, apalagi membelinya. Padahal membaca adalah satu cara membuka pintu dunia. Dan untuk memasukinya, kita harus menuliskannya, karena menulis adalah membaca kembali apa yang sudah kita baca.

Diday melakukannya untuk kita di buku ini. Dia tahu dan membagikannya kepada kita, bahwa dunia sedang bergerak dengan cepat (Revolusi Cara Belajar: Belajar Tanpa batas). Dia terseret arus internet, terkena wabah “semua harus dilakukan secara berjamaah” dan tentu inilah yang dinamakan  “World is Flat” (Thomas L. Friedman). Rumah kita tak lagi berdinding, tapi “mari kita buat jendela”. Jika kita tidak ingin menggenggam dunia, maka bersiaplah hidup terasing. Adagium para penyair “sunyi di keramaian” sudah tak tepat lagi. Mari setiap hari kita selalu ramai, tidak peduli apakah sedang berada di lorong-lorong sunyi atau di café sebuah mall terbesar di dunia.

Di episode “Satu Dunia Tidak  Cukup” Diday menulis, bahwa masa kini, dan pasti masa depan, adalah masa di mana orang akan selalu dituntut untuk mempunyai multi tasking ability, kemampuan untuk menguasai dan melakukan banyak hal. Ilmu pengetahuan yang kita miliki tidk akan pernah cukup, karena dari tahun ke tahun terus berkembang. Siapa pernah menyangka kalau jejaring sosial Friendster terlindas Facebook vesi Mark  Zukerberg? Atau, siapa pernah tahu nanti Anda akan merobohkan si Mark?

Intinya kata Diday, kita harus meng-update diri Anda jika tidak ingin terlindas oleh waktu. Dan buku dan internet dan kemampuan berbahasa asing dan kemampuan menulis dan kemampuan berkomunikasi dan tentu masih banyak lagi seiring perubahan dari waktu ke waktu. Pertanyaannya setelah Anda membaca buku ini, “Sudahkah Anda meng-update diri Anda?”

 

Aneka Rasa

Ada sekitar 47 tulisan di buku ini. Seperti halnya “gado-gado”, isinya pun aneka rasa alias beragam. Cocok di lidah, nyaman di hati. Ada respon terhadap buku yang sudah dibacanya, tips cara belajar di kehidupan yang efektif, manfaat buku, bahkan parenting. Diday meraciknya dengan tambahan bumbu-bumbu kehidupan di Qatar, yang sudah dilakoninya sjak tahun 2007.

Bagiku, aneka rasa di buku ini sangat menyehatkan jiwa. Saat membaca buku ini, aku termasuk sedang meng-update diri sendiri. Percayalah, selalu ada manfaat jika kita membaca buku. Apalagi jika buku yang ditulis si pengarang lahir dari kebiasaannya membaca. Diday sudah membuktikan itu, bahwa buku bisa mengubah dirinya sendiri menjadi lebih baik.   Bukankah untuk mengubah dunia harus dimulai dari mengubah diri sendiri dulu?

Sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan masyarakat (Forum TBM) periode 2010 – 2015, yang membawahi sekitar 6000 TBM di 33 wilayah Indonesia, aku sudah banyak melihat manfaat buku terhadap pembacanya. Ada pedagang gorengan yang kini jadi wartawan gara-gara membaca buku, mantan pemulung jadi sarjana gara-gara membaca buku,  dan masih banyak lagi kisah sukses gara-gara membeli dan membaca buku.

Perlu Anda ketahui juga, aku termasuk di dalamnya.

Bagaimana dengan Anda?  (*)

 

*) Hotel Novina, Jambi, Senin 25 Juni 2012, pukul 10:36

 

11 Comments to "Oase Kehidupan dari Padang Pasir"

  1. didaytea  6 November, 2012 at 15:30

    Insyallah ada di Gramedia Palembang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.