Membela Itsmi

Alfred Tuname

 

Tulisan ini berangkat dari sebuah tulisan Itsmi yang berjudul “Agama untuk Orang Dewasa”. Tulisan ini mendapat respon yang cukup signifikan dari keluarga besar Baltyra. Bagaimana tidak, tulisan itu sendiri dianggap mengusik keyakinan dan kehidupan beragama. Saya pun serayakan merayakan “tumpeng” respon tersebut dengan menulis ulasan ini.

 

Agama dan Itsmi

Izinkan saya mengutip sebuah ungkapan terkenal dari filsuf Blaise Pascal bahwa “cinta itu punya ‘logikanya’ sendiri sehingga logika sendiri pun tak mampu memahaminya”.  Itu berarti kategori logika an sich tidak bisa dipakai untuk memahami fenomena cinta. Sedehananya, logika diartikan sebagai proses berpikir dengan menggunakan segenap evidensi untuk menghasilkan konklusi. Boleh juga dibilang post hoc ergo proper hoc (sesudah ini, maka oleh karena ini).

Kalimat pertama pada tulisan Itsmi bertuliskan bahwa “secara logika, sebenarnya semua orang terlahir tanpa Tuhan atau sebagai ateis”. Logika yang dipakai oleh Itsmi untuk membedah fenomena kelahiran bisa dianggap benar. Itu karena Itsmi menggunakan logika murni. Peristiwa kelahiran itu dimaknai sebagai peristiwa natural biologis semata. Di sana tidak tertampak fenomena metafisik (Allah yang hadir) dalam event tersebut. Lalu bagaimana “logika” orang beriman?

Bagi orang beriman (saya menggunakan teologi nasrani), “logika” metafisika sudah bekerja bahkan sejak benih manusia itu terbentuk. Bahwa fenomana ke-Ilahi-an sudah (post hoc) terjadi sebelum sang anak mengenal bahasa atau tercaplok dalam ciptaan budaya manusia (bandingkan Yeremia 1:5). Peristiwa ini disebut miracle, atau filsuf Blaise Pascal menyebutnya dengan Deus absconditus. Itulah alasannya mengapa agama Katolik memilih “pro life” (sejak sperma dan ovum bertemu, saat itulah manusia terbentuk) dalam melihat kejahatan aborsi.

Itu berarti, melihat manusia dari ketegori logika murni tidak bisa dipaksakan dalam kotak “logika” keyakinan. “pemaksaan” itu sendiri pun berarti kejahatan atas kemanusiaan. Kompleksitas manusia tidak bisa hanya dilihat dari kategori logika murni. Logika hanya satu dari kompleksitas manusia itu sendiri. Banalisme berpikir justru lahir ketika melihat keberlangsungan hidup hanya dilihat dari logika murni. Masih ada soal perasaan, empati, simpati, iman dan et cetera dalam kompleksitas manusia.

Kompleksitas manusia dan budaya adalah sesuatu yang resiprokal. Kompeksitas manusia melahirkan budaya dan budaya an sich punya andil dalam kompleksitas  menusia. Kita mengamini tesis Karen Amstrong bahwa agama adalah bagian dari proses budaya. Di sini, kita membedakan fenomena iman (keyakinan) dan agama. Agama adalah ekspresi pengalaman iman manusia.

Itsmi menulis bahwa “Seperti apa yang terjadi pada agama Katolik, dimana bayi yang meninggal sebelum sempat dibaptis, diyakini tidak bisa masuk surga atau neraka”. Dogma ini adalah hasil refleksi iman sang punjangga Gereja, Albertus Magnus, yang ditulisnya dalam buku “Katekismus”.  Pada tahun 2007, Paus Benedictus XVI mengatakan dogma sudah usang. Jelas, sebab ekspresi iman itu sudah tidak lagi sejalan dengan refleksi iman katolik (baca teologi) jaman sekarang. Mundi mutamur et nos muntamur in ilis. Ajaran iman itu harus selaras dengan refleksi dan cara berpikir manusia yang terus berkembang (sitz in leben).

Agama sebagai cara berbudaya pun berubah di dalamnya. Dan adalah kegegabahan berpikir (argumentum ad ignorantiam, bedakan dengan “distorsi kognitif kronis”-Juwandi Ahmad) Itsmi justru muncul dengan sebuah konklusi bahwa “paus mengakui bahwa agama itu tidak ada dasarnya dan tidak rasional”. Dasar agama adalah iman dan iman memang tidak rasional. Kalau mengikuti laju berpikir Blaise Pascal, “iman itu punya rasionalitasnya sendiri sehingga rasio pun tidak mampu memahaminya”. Atau memakai bahasa metamoforis keluarga Baltyra (Juwandi Ahmad), “untuk apa kita meminta orang buta melihat lukisan”.

Orang yang matanya bisa melihat akan mampu melihat dengan benar lukisan di depannya. Akan tetapi reaksi psikologis internal diri penglihat atas lukisan pasti berbeda. Itulah iman dalam konteks beragama. Tetapi “yang buta” masih berkutat pada ontologi lukisan, “apakah ada atau tidak?” Tidak kebetulan keluarga Baltyra mengangkat metafora lukisan. Lukisan adalah ekspresi kreatif manusia atas keindahan fenomena alam dan manusia itu sendiri. Manusia menciptakan keindahan melalui lukisan dengan refleksi atas fenomena. Dengan refleksi (pengamatan, duc in altum) berarti manusia bukan pencipta segala-segalanya. Thomas Aquinas menyebutnya sebagai cuasa secunda. Ada pencipta atas semua ciptaan, Causa Prima. Agama samawi menyebutnya sebagai Allah, Tuhan, Yahwe, dan lain-lain. Karena dahsyat dan keindahannya ciptaanya, manusia (causa secunda) menciptakan cara-caranya sendiri untuk mengagungkan Sang Cuasa Prima itu atas ciptaannya. Di sinilah lahir pemikiran dan tindakan religius. Manusia sebelum Masehi atau sebelum mengenal agama pun sudah memiliki pemikiran dan tindakan religius tesebut. Misalnya, orang Manggarai, Flores, menyebut-Nya sebagai Mori jari agu dedek. Itu berarti mereka tidak ateis. Pengalaman teistik memunculkan pengangungan akan Mori jari agu dedek sebagai creatio ex nihilo, pencita dari ketiadaan.

Sementara, pengalaman ateistik menggeliat dalam abad-20 dengan pengagungan pada rasio. Rasio pun dirayakan untuk menghantam agama yang sudah berabad-abad menubuh dalam budaya manusia. Dengan pemukul rasio, agama didekonstruksi habis-habisan. Apa pun yang ada dalam tubuh agama dibedah habis-habisan. Dalam psikoanalisis Jacques Lacan, gejala ini dianggap sebagai sympthon (return of repress). Sympthon ini semakin kuat ketika rasio bercinta dengan sains. Ateis pun “semangkin” (dictum Orde Baru) mentuhankan sains dan produk-produknya. “Deus ex machina”, dalam bahasa filsuf G.W. Hegel. Sains dan mesin dipaksakan untuk memeriksa fenomena metafisika. Tetapi faktanya? Albert Einstein tetap berdoa pada Tuhan, Sang Super Intelijen, pada saat hari-hari terakhirnya. Albert Eistein pernah memprotes ketika teorinya dipakai untuk politik kepentingan perang dunia II. Di sini, tidak ada pengabaian sains sama sekali, sejauh sians itu memanusiakan manusia dan bukan mentuhankan sains.

Dengan inteligensia pendek, ateis “kecil” merengek (prolonged infantil), dimanakah Tuhan ketika kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, perang dan segala bentuk negativitas itu mengalir bak air bah dalam kisah nabi Nuh? Ini bukan soal ateis atau teis, orang merengek seperti itu. Semua orang yang hati nurani tersentuh akan persoalan itu pasti akan berteriak seperti itu. Tetapi itu adalah hanyalah ekspresi religius kemanusiaan yang fana. Semua manusia merindukan dunia yang damai. Itu tidak berarti Tuhan yang membuat semua negativitas itu. Negativitas itu muncul akibat laku manusia itu sendiri atas pilihan-pilihan, naluri dan kepentingan (kuasa) manusia itu sendiri. Kejongkokan pemikiran juga terjadi jika semua persoalan itu disebabkan oleh agama. Boleh jadi agama terlibat dalam persoalan negativitas manusia tetapi itu dimengerti karena agama dipakai sebagai “kuda tunggang” kompleksitas kepentingan politik dan ekonomi manusia. Bahwa semua agama mengedepankan kedamaian dan tidak ada preferensi soal nilai.

 

Membela, kok Itsmi?

Uraian pikiran ini bukan untuk membela Tuhan tetapi sebagai resapan akal atas iman dan kehidupan beragama (fiat quaerens intellectum). Tanpa dibela pun, Tuhan tetap berada di singgasana-Nya agung. Atau seperti ekspresi religius fisikawan Swedia, Niehlsbor, (pernah diceritakan oleh filsuf Slavoj Zizek) “sebagai fisikawan, saya tidak percaya. Tetapi meski pun tidak percaya ‘Dia’ tetap bekerja”. Artinya, Niehlsbor percaya.

Kembali ke Itsmi. Tampaknya, sosok Itsmi “dikenal” sebagai “anak yang nakal” dalam keluarga Baltyra. Soalnya, “kalo ga nakal, ga kreatif”. Berbeda dengan ulasan Itsmi, justru dalam bayang-bayang agama, Itsmi semakin kreatif menulis. Mungkin benar, Itsmi membongkar praktek “strukturalis” agama. Persoalannya Itsmi bukan “jema’ah” dari struktur agama tersebut. Kejanggalan ini seperti cerita seorang yang sewot akan hijaunya halaman tetangga sebelah. Lah, kok repot amat sih? Soal manghafal Al Qur’an, Sekolah Minggu, berjilbab, ritual kurban, ziarah dan lain-lain, itu adalah cara beragama. Sesungguhnya, inilah kreatifitas (creatio) manusia dalam ekspresi imannya. Dan agama sendiri sangat mendukung kreativitas seseorang, sejauh tidak menista/menghujat iman agama sendiri atau agama lain.

Dalam bayang-bayang agama Itsmi menulis dengan kreatif. Tulisan Itsmi bertema “ateis” dapat dimengerti sebagai perjuangan diri yang fragmental. Hampir sama seperti Ignazio Silone, seorang ateis Italia, yang setelah “sembuh” ia menulis bahwa “perjuangan yang terakhir ialah perjuangan antara orang komunis dengan orang-orang bekas komunis” (The God That Failed, 2005) . Perjuangan Itsmi yang terakhir perjuangan antara diri yang bekas beragama dan diri yang beragama. Tubuh yang diamuk hysteria inilah yang membuat Itsmi menulis.

Akan tetapi, tulisan Itsmi belum (tidak), dalam iluminasi sastrawan Rusia Anton Chekov, membedakan antara penjawaban pertanyaan dan pengajuan pertanyaan yang benar dan tepat. Niat tulisan dalam operasi “Umwerthung aller Werte” (penilaian kembali atas seluruh nilai hasil ciptaan manusia itu sendiri) masih “jauh panggang dari api”. Sebab tulisan-tulisannya mencitrakan rasa haus akan pembenaran dan berujung pada penghujatan. Mungkin dan hanya mungkin, “iman” ateisme Itsmi masih dalam taraf “Sekolah Minggu”, atau seperti anak yang baru belajar sepeda angin.

Akhirnya, bagaimana pun saya pribadi membela hak ekspresi Itsmi. Teringat kata filsuf Prancis, Voltaire, “bahkan jika aku tidak menyukai pendapatmu, aku akan tetap mendukung hak bicaramu”.

 

Djogja, 02 November 2012

Alfred Tuname

 

51 Comments to "Membela Itsmi"

  1. kita  20 November, 2012 at 11:51

    ha8x; cerita itsmi paling pantas dikomentari, sekalipun sudah “out of date”. Saya sering membayangkan apa jadinya baltyra tanpa seorang itsmi dan bahkan mungkin dengan tulisannya seorang itsmi membantu kita2x untuk lebih memahami agama kita masing2x; ……………… buktinya adalah munculnya tulisan ini
    Saya suka itsmi, dan sampai saat ini masih suka membayangkan masa ketika ber-chatting ria di pelataran “koki”, ketika sebagian besar penghuninya terlelap di kegelapan subuh; sementara kami baru menapaki malam. Saya suka itsmi, walaupun saya tidak pernah se-ide dengan itsmi. Saya suka itsmi, dan saya belajar untuk membaca tulisan itsmi sebagai suatu tulisan yang bisa membuat saya tersenyum, bukan karena idenya, tetapi karena bahasanya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.