Buka Jendela Itu, Walau Didobrak Sekalipun

Bambang Priantono

 

Sebagai seorang pengajar, tentunya anda pernah mengalami fase buntu atau stuck bukan? Fase dimana semua kreativitas buntu, monoton dan membosankan. Diperparah dengan turunnya minat baca pengajar sendiri karena merasa ilmu yang didapatnya lebih dari cukup. Itu hal yang sangat tabu bagi kita sebagai seorang pendidik yang dituntut update terus.

Ketika saya mulai mengajar di sebuah kursus bahasa Inggris untuk anak-anak di awal tahun 2000an, sayapun harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa saya harus atraktif, interaktif dan lincah karena yang saya hadapi adalah anak-anak. Sementara metode mengajar yang saya punya saat itu teramat sangat pas-pasan sekali. Hanya berdiri, bercuap-cuap, kadang juga sambil membaca buku teks yang walhasil juga menuai keluhan-keluhan dari siswa. Saya bingung karena saat itu minat baca saya sedang drop-dropnya, sementara otak saya sangat buntu bagaimana cara menghadapi anak-anak ini. Selain melihat metode mengajar rekan-rekan senior saya, saya akhirnya juga belajar lagi dengan ‘paksaan kecil’ untuk membaca psikologi anak dan kembali membuka buku Grammar Betty Schrampfer Azar yang sudah lama berdebu karena lama tak terbaca. Ah, ternyata sangat berat untuk membaca lagi. Terlebih untuk metode mengajar itu saya harus mengikuti style tempat saya bekerja, namun tetap harus dipaksakan bak mencongkel jendela otak yang sudah lama terbekukan karena tak terasah.

Tapi kembali lagi, rasa monoton itu muncul setelah saya mengajar di sebuah program profesi satu tahun di Malang, dan berulang di Semarang ini. Apa yang saya ajarkan rasanya hanya berkutat di itu-itu saja. Saya sampai hapal mau kemana materi mengalir. Meeting 1 pastilah greetings, dan tenses yang diberikan adalah present tense dengan cukup menyebutkan kalau present A fungsinya bla, bla, bla, atau particle B itu fungsi ini itu.

Jujur saja lama-lama saya bosan sendiri bahkan sampai enggan untuk menyentuh buku khususnya materi bahasa Inggris lagi. Jendela itu kembali tertutup dan monotonisme dalam mengajar kembali saya jalani. Datang, cuap-cuap sesuai konteks tanpa pengembangan, memberi tugas, pulang bablas. Ah, saya harus paksakan diri lagi untuk membaca. Mulai dari buku Practical English Usage  karya Michael Swan sampai membuka-buka situs internet terkait metode pengajaran yang tepat agar tidak membosankan.

Dezigh!! Setelah mengajar di tempat yang sekarang ini, saya mau tidak mau dituntut lagi untuk lebih banyak membaca. Pada dasarnya memang saya sangat suka membaca, namun karena kurikulum tempat kerja saya ini hanya menjelaskan secara garis besar, maka mau tidak mau saya kembali baca. Otak ‘dipaksa’ lagi untuk berproduksi. Berat? Iya! Memang sangat berat, tapi harus dipaksa agar bisa. Perbedaan karakter anak juga harus saya pelajari ulang, apalagi mayoritas yang saya ajar adalah lulusan SMA dan diperlukan metode yang lebih fun.

Situs-situs berkait dengan pengajaran bahasa Inggrispun saya layari. Sampai beberapa file PDF yang saya rasa cocokpun saya salin, khususnya yang ada link dengan materi hari itu. Bahkan buku tentang tongue twister pun saya baca untuk senam lidah. Sebagian dari isi buku tongue twister tadi akhirnya saya pakai sebagai warming up bagi siswa dan hasilnya ternyata mereka sangat senang sampai terpleset lidah dan kemudian tertawa terbahak-bahak saat saya instruksikan membaca satu kalimat yang membuat lidah mlintir tadi. Joke-joke bahasa Inggrispun harus saya lalap sebagai brainstorming saat mengajar dan itu semua saya dapat dengan membaca.

Intinya, saya harus ‘memaksakan ‘ diri untuk membaca bahkan tatkala suasana hati (mood) sedang buruk sekalipun. Isi materi yang diajarkan tidak berubah dari jaman ke jaman, tapi metode pengajaran sifatnya dinamis sehingga kita harus ‘memaksa’ otak dan pikiran untuk mengikuti serta melakukan update setiap waktu. Membaca ini bisa dengan pelbagai cara, bahkan dalam bentuk buku elektronik atau buku-buku tua sekalipun.

Memang rasa malas itu tetap muncul terus dan saya akui itu, tetapi dengan memaksa diri ibaratnya mendobrak jendela kebekuan dalam diri. Namun ada sedikit tips, bila rasa malas atau stuck itu muncul saat ingin update ilmu, bersegera saja cari dokter-maaf- buku terdekat dan kembali niatkan diri untuk meningkatkan ilmu paling tidak metode pengajarannya. Karena buku adalah jendela dunia, maka jangan sampai jendela itu terus tertutup dan berkarat.

 

Bambang Priantono

Tulisan ini dimuat di Majalah Pendidikan PENA

Edisi 25 Juli-September 2011

Terbitan Atase Pendidikan KBRI Riyadh Arab Saudi

(Halaman 22)

 

Dan ter pranala di :

http://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/3269/Kembang_Lambe_Artikel_BUKA_JENDELA_ITU_WALAU_DIDOBRAK_SEKALIPUN?replies_read=8

 

About Bambang Priantono

kerA ngalaM tulen (Arek Malang) yang sangat mencintai Indonesia. Jebolan Universitas Airlangga Surabaya. Kecintaannya akan pendidika dan anak-anak membawanya sekarang berkarya di Sekolah Terpadu Pahoa, Tangerang. Artikel-artikelnya unik dan sebagian dalam bahasa Inggris, dengan alasan khusus, supaya lebih bergaung di dunia internasional melalui blognya dan BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Buka Jendela Itu, Walau Didobrak Sekalipun"

  1. Linda Cheang  8 November, 2012 at 06:08

    Mas Bambang, ya, kalo nggak berani dobrak jendela, mana bisa keluar dari zona nyaman.

    Sama ajah, Mas, otak saya sampe panas dan lidah sampe keplintir-plintir belajar banyak bahasa non Indonesia sekarang ini, tapi kalo nggak gitu saya bisa pikun dini, kan, gawat jadinya.

  2. Dj.  8 November, 2012 at 04:14

    Mas Bambang…
    Matur Nuwun…
    Hebat memang, hari ini BalTyRa membuka mata untuk pendidikan.
    Salut mas…!!!
    Jenuh tidak berarti berhenti, melangkah kebelakang selangkah, untuk bisa maju 100 langkah.
    Selamat berkarya.
    Salam,

  3. Dewi Aichi  8 November, 2012 at 02:49

    Mantap ya hari ini baltyra diisi orang Semarang hi hi…eh maaf, kalau mas Bambang hanya tinggal di Semarang, kalau Nyonyah MBerok, orang Semarang, begitu juga nyonyah Wesiatiyem….eh ndilalah, artikel Pak DJ, yang juga pernah jadi orang Semarang juga masih terpampang jelas…..kemudian, Mpek Dul komentar..wuih…juga Lani, sama sama pernah menghuni kota Semarang…

  4. anoew  7 November, 2012 at 20:53

    Mantab sekali bapak satu ini! Salut! Angkat topi. Tapi topi yang di avatarnya pentulis.

  5. wesiati  7 November, 2012 at 20:32

    terima kasih banyak atas tulisannya…

  6. HennieTriana Oberst  7 November, 2012 at 16:43

    Mas Bambang, aku nih saat ini berada dalam kejenuhan. Terima kasih tulisannya menyemangati.

  7. Dewi Aichi  7 November, 2012 at 15:25

    Ikutan mendobrak…ya mas Bamb….biar bisa kedobrak..kalau yang mendobrak rame rame pasti lebih cepat dan mudah.

  8. J C  7 November, 2012 at 11:01

    Mas Bambang, membuka kebumpetan (kebuntuan) kejenuhan dalam diri kita memang tidak mudah. Terlebih lagi jika kita sudah lama berkecimpung dengan hal yang sama, monoton dan rutin. Terima kasih tips’nya untuk dobrak mendobrak jendela kebuntuan…

  9. Bagong Julianto  7 November, 2012 at 09:53

    Buka jendela dunia,….. buat dan buka lagi jendela itu.
    Nggak ada jendela yang tertutup, rupanya…..
    Yang ada adalah ketidakmauan hati-pikiran-perasaan-niat untuk menggapainya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.