Ketika Mendiknas Bilang,”Wouuu…!”

Juwandi Ahmad

 

TENTANG tawuran mahasiswa yang menewaskan dua orang, tunggu saja, sebentar lagi Mendinas akan bertanya kepada si pelaku, “Apakah anda puas?” Kalau mahasiswa itu pintar, maka dia akan menjawab, “Puas Pak Menteri.” Dan Pak Menteri pun bilang, Wouuu..! Geleng geleng kepala, sembari membayangkan masyarakat yang sakit. Itulah yang ditanyakan Pak Menteri dan jawaban siswa pelaku pembunuhan pada kasus tawuran pelajar kemarin.

(Sumber: http://www.indoboom.com/2012/stories/indonesian-student-brawls-becoming-increasingly-violent.html; warning: graphic pictures -foto yang cukup menyeramkan)

Tapi tahukan anda bahwa jawaban “PUAS ” secara psikologis-mental-spiritual, etik dan hukum adalah jawaban yang benar, tepat dan sehat. Kalau jawabannya “TIDAK PUAS” , maka tentus aja kita akan bertanya, “Orang yang kau pukul, kau tebas dengan celurit sudah mati, kau belum puas? Apa kau akan memotong matong tubuhnya, dan menaburnya di jalanan agar kau merasa puas?” Namun sunngguh mengherankan, ketika jawabanya adalah “PUAS, Pak Mentari dan banyak orang justru malah terkejut, heran setengah mati dan berpikir bahwa siswa tersebut seorang psikopat.

Begitulah, Pak Menteri Pendidikan yang Profesor, pandai, sabar, dan bijak ini salah mengajukan pertanyaan. Tapi maklumlah kita bahwa kesalahan, kekeliruan, dan juga sesat pikir adalah memang seperti rambut: dapat tumbuh di kepala siapa saja.

Kalau saja Pak Menteri bertanya, “Apakah anda menyesal?, “ maka besar kemungkinan jawabanya adalah, “Saya menyesal pak Menteri.” Dan itulah jawaban yang benar. Menyesali perbuatan yang salah, secara psikolgis-mental-spiritual, etik dan hukum adalah jawaban yang benar, tepat dan sehat. Kalau jawabnnya ” Saya tidak menyesal“ maka tentu saja kita boleh membayangkan bahwa orang semacam itu memang berniat dan senang membunuh atau barangkali memang mental pembunuh.

Apakah anda puas dan apakah anda menyesal, adalah dua pertanyaan yang tampak sederhana tapi berdampak pada sesat pikir dan hukum yang serius. Jadi, mari belajar tidak hanya bagaimana menjawab pertanyaan tapi juga bagaimana membuat pertanyaan.

 

13 Comments to "Ketika Mendiknas Bilang,”Wouuu…!”"

  1. Juwandi Ahmad  10 November, 2012 at 19:23

    he he he..Pak DJ…..tulisan itu tadinya hanya status di facebok pak, mau dilengkapi, diperpanjang tapi mbak dewinya sudah nggak tahan, ehh, nggak sabar he he he nungu saya memperpanjangnya.

  2. Dewi Aichi  8 November, 2012 at 04:06

    Pak DJ ngapain juga ikut ikutan Lani…maunya yang panjang he he he

  3. Dj.  8 November, 2012 at 04:04

    Apakah mas Juwandi puas dengan artikel ini…???
    Hahahahahahaha…..!!!
    Dj. menyesal, karena artikel kali ini sangat pendek.
    Ditunggu yang berikutnya.
    salam sejahtera dari Mainz.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *