Sarapan Pepaya Plus

Bagong Julianto, Sekayu-Muba-Sumsel

 

Seorang kawan mengutip dan berujar: sarapan pagi ibarat sosok raja, makan siang adalah tahta singgasana  sementara makan malam ibarat mahkota. Tubuh kita adalah kerajaannya. Dikesankan, yang terpenting adalah sosok raja. Sarapan pagi mutlak ada dan diadakan. Makan siang juga perlu, tapi makan  malam tidak wajib semeriah makan siang. Makan pagi bermenu lengkap: karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral! Berat bagi saya, entah usus saya?!

Sungguh ini sesuatu yang bukan jadi anggapan saya selama ini. Sarapan pagi cukup semangkok juice dan atau buah-buahan plus susu kalsium 50th+. Makan siang besar sebesar-besarnya, makan malam mengalir saja. Bukan kebiasaan makan tersehat tampaknya.  ­­­

Ada pula yang sebutkan: makan pagilah (sarapan) layaknya seorang raja, makan sianglah sebagai seorang ksatria dan makan malamlah selayaknya seorang pengemis papa hina-dina.

Sama saja, ini bertabrakan dengan kebiasaan selama ini. Haruskah saya mengubah kebiasaan dan menyesuaikan dengan pernyataan-pernyataan tersebut? Bukan hal yang mudah rupanya. Kebiasaan belasan tahun: sarapan cairan digantikan padatan?! Saya pilih jalan tengah saja. Jalan kompromi. Pepaya adalah jawabannya! Pepaya nggak diblender. Iris saja. Kunyah saja. Atau langsung dibrakoti. Yang lain tetap, yaitu segelas susu kalsium 50th+ tambah madu.

Sarapan pepaya plus! Apakah itu? Pepaya plus bijinya. Bukan pepaya plus kulitnya! Rakus nian!    Kupas dan iris pepaya, nggak usah dibuang bijinya. Kunyah dan telan bijinya. Semula saya hanya mengulum dan menelan biji. Saat pertama mengunyah, sungguh itu bukan rasa yang enak. Rasa biji pepaya nggak enak nian! Ada getas, getir. Saat menutup mulut sambil ngunyah, aroma nggak enaknya biji pepaya menembus rongga hidung. Nyegrak-menusuk. Tiga kali mengunyah sesendok biji pepaya, rasanya mungkuk-mungkuk: suatu perasaan ingin muntah! Rasakan sendiri saja!

Manfaat Biji Pepaya

Biji pepaya bermanfaat, karena itu jangan dibuang. Biji hitam dengan selaput bening ini memiliki nutrisi penting dengan khasiat sebagai berikut:
1Antibakteri:Efektif melawan bakteri E. coli, Salmonella, dan infeksi Staphylococcus.
2Menjaga kesehatan ginjal: Ekstrak biji pepaya mampu melindungi ginjal dari racun yang memicu problem gagal ginjal.
3Membunuh parasit dalam pencernaan: Sudah ditemukan bukti bahwa biji pepaya mampu memberantas parasit dalam pencernaan.       Dalam sebuah studi terhadap anak-anak Nigeria yang mengidap parasit dalam pencernaan, 76,6 persennya dinyatakan bebas parasit setelah tujuh hari mengonsumsi biji pepaya.
4.  Membersihkan hati dari racun: Dalam pengobatan China, satu sendok teh biji pepaya dapat membantu mendetoksifikasi hati (liver). Oleh karena itu biji pepaya sering direkomendasikan dokter-dokter naturopati untuk perawatan cirrhosis liver (pengerasan hati).

Untuk menikmati biji pepaya, makan langsung bijinya atau dikeringkan lalu dihaluskan. Atau, campur 1/4 cangkir biji pepaya dengan satu sendok makan madu.

(Dikutip dari: http://keluargale.blogspot.com/2012/06/manfaat-hebat-biji-pepaya.html dan http://agrobuah.com/manfaat-biji-pepaya-turunkan-kadar-kolesterol/.HTML)

Dengan manfaat atau khasiat yang sedemikian banyaknya itu, kunyahan biji pepaya saya ringankan jadinya. Saya harus melatih cecapan rasa di lidah: yang nggak enak bisa menyehatkan, yang enak dirasakan bisa menyakitkan. Selama ini selalu memanjakan lidah. Sekali-sekali menyiksa lidah, nggak apa-apa ‘kan?! Sekali setiap pagi!

Efek Langsung yang Dirasakan

Lebih dari seminggu mengunyah biji pepaya, saya mulai merasakan efek mengenakkannya yaitu maaf, saat BAB. Buang air besar. Lancar, faeses padat lunak, warna lebih gelap dan sekali lagi maaf: bau busuk yang menyengat, terutama setelah makan siang dan makan malamnya dipenuhi protein hewani. Hal itu jarang saya peroleh sebelumnya. Sebagai anggota kaum omnivora, saya harus siap dengan resiko tidak nyamannya perut saat BAB. Jumlah/frekuensi BAB juga ngawur nggak karuan. Terlambat makan, BAB. Kecepatan makan, BAB. Kelebihan makan, BAB. Satu hari satu malam, minimal 3-5 kali BAB. Yang paling menyengsarakan adalah pagi hari. BAB jarang tuntas. Baru empat-lima menit beranjak, sudah mendesak ingin jongkok-duduk lagi. Sungguh, demikian parahkah organ pencernaan saya? Teruk nian tampaknya!

Begitulah!

Saya adalah raja bagi tubuh saya. Sekarang raja titahkan: kunyah itu biji pepaya!.

Nikmati ketidaknikmatannya di lidahmu! Puluhan tahun lidah dan geligimu mencecap rasa nikmat dan sekian lama  pula ususmu kacau! Perutmu mbhlendhing buncit!

“Rasanya nggak enak, Baginda Tuan! Ampun Tuan!”

Nggak perduli! Ayo kunyah! Kunyah!

Sampunnnn. Suwunnnn.. (BgJ, 230812)

 

36 Comments to "Sarapan Pepaya Plus"

  1. Mega Vristian  1 January, 2013 at 01:01

    Saya pernah membaca dalam artikel kesehatan biji pepaya berfungsi untuk kesehatan mata juga.

  2. nevergiveupyo  13 December, 2012 at 08:48

    siap dicoba pakdhe…

  3. Yuli Duryat  21 November, 2012 at 07:32

    Wah wah biji pepaya….

    Kalau saya biasa mencampur potongan pepaya dalam susu dan sereal yang saya konsumsi sebagai sarapan pagi.

  4. Lani  16 November, 2012 at 13:34

    30 BJ : mau tikus………kelinci……..monggo2 waelah……….yg penting kan hasil risetnya berguna……….

  5. Lani  16 November, 2012 at 13:32

    31 CHRISTIANA BUDI : dikirim? ora cucuk dgn ongkosnya…….nanti aja aku bawakan klu mudik………tp hrs ketemuan lo ya

  6. christiana budi  16 November, 2012 at 10:34

    wah bisa dicoba ini…tapi ndak ada paw paw….jadi males heheheeh..mbak lani kirim dulu biji paw pawnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.