Kurban

Chandra Sasadara

 

Catatan Penulis:

Mungkin cerpen ini ketinggalan momentum harusnya dikirim 2 minggu lalu tuk menyertai Idul Adha, tapi daripada tidak dikirim

 

Kambing tua itu tak peduli genangan air kencing yang tepat di depan hidungnya. Ia tetap merebahkan tubuhnya sambil asyik  menghibur diri dengan mimpi menjadi hewan kurban meskipun ia tahu bahwa umurnya tak lagi muda. Untuk ukuran seekor kambing ia merasa masih pantas dipilih menjadi salah satu hewan kurban pada bulan Ibrahim. Bulan yang dipilih manusia untuk memperingati ketulusan seorang kekasih Tuhan yang merelakan anaknya untuk disembelih.

Ia tak pernah menyangka bahwa Tuhan punya cara sendiri untuk memulyakan binatang peliharaan. Tuhan memerintahkan manusia untuk mengkurbankan hewan peliharaan atas naman-Nya dan menyedekahkan kepada manusia lainya. Pengetahuan yang menurutnya terlambat ia dapatkan. Sejak mengetahui bahwa binatang juga bisa mencapai kemulyaan setelah kematian, kambing tua itu bermimpi untuk dapat mencapainya. Dari cerita yang ia dengar bahwa semua binatang peliharaan bisa mencapai derajat mulya apabila terpilih menjadi hewan kurban. Mimpi yang terus dipelihara sampai usianya cukup seperti sekarang.

Kisah tentang seekor kambing yang menggantikan Ismail, seorang anak laki-laki Ibrahim yang akan disembelih atas perintah Tuhan begitu lekat dalam ingatanya. Kelak ia berharap bisa bertemu dengan kambing itu. Kambing pengganti itu bukan hanya istimewa karena menjadi hewan pertama yang menjadi cikal bakal sejarah kurban yang dianut umat manusia hingga sekarang, namun juga menjadi satu-satunya kambing yang dipilih Tuhan untuk menggantikan tempat Ismail ketika akan disembelih bapaknya.  Ia begitu mengidolakan, memuja dan berharap bisa mengikuti jejak kambing pengganti Ismail. Terpilih sebagai hewan kurban.

Namun ia mulai bimbang dengan kondisi tubuhnya. Ia bukan lagi kambing gemuk seperti dua tahun lalu, bukan kambing dengan bulu yang bersih dan tanduk yang mengkilap. Untuk menjadi hewan kurban, manusia biasanya akan memilih hewan yang tak sedang berpenyakit, gemuk, bersih dan bertanduk gagah.  Ia sadar bahwa banyak kambing lain yang lebih memenuhi persyaratan dibanding dirinya untuk menjadi hewan kurban. Kambing tua itu dihantui oleh pikiran bahwa dirinya tak akan menjadi hewan kurban sepanjang hidupnya. Tak jarang kambing tua itu gelisah, bahkan marah tanpa sebab.

*****

Sejak kambing kurus itu satu kandang dengan dirinya, ia merasa tak nyaman. Kambing kurus itu lebih muda dari dirinya dan kelak akan menjadi saingan untuk menjadi hewan kurban. Di matanya si kurus itu juga  terlalu banyak mengembik. Ia berharap pemiliknya tak akan memilih si kambing kurus itu. Namun ia tetap tidak bisa tenang setiap melihat kambing muda itu, meskipun kurus.

Kambing tua itu bosan dengan cerita si kurus tentang kandang miliknya sebelum dipindahkan satu kandang dengan dirinya. Ia juga bosan dengan kisah kambing betina yang selalu menggesekkan tubuhnya di pohon jambu yang selalau diceritakan si kurus berulang-ulang. Pokoknya ia tak mau mendengar cerita atau kisah tentang kambing lain. Ia hanya ingin mendengar kisah tentang kambing yang menjadi pengganti Ismail. Baginya kambing itu adalah legenda dan teladan bagi kambing-kambing lainya.

Kambing tua itu pura-pura tertidur agar tak mendegar suara si kurus. Ia menunggu sampai kawan sekandangnya itu tertidur. Selama kambing kurus itu belum tidur ia tak bisa melamunkan dirinya bertamu dengan idolanya yaitu kambing pengganti Ismail. Kambing tua itu berharap malam ini si kurus tak mengembik tentang kambing betina dan pohon jambu. Namun Kambing tua salah, Kambing kurus justru mulai mengembik.

“Kambing tua.”  Si Kurus itu mulai mengembik.

“Jangan mulai lagi Kurus.” Kambing tua menjawab ketus.

“Mengapa ketus begitu?” Si kurus menggoda.

“Aku sedang tak bersemangat mendengar suaramu.” Kambing tua melengos.

“Kambing tua, aku tahu kamu sedang bermimpi menjadi hewan kurban.” Si kurus mulai memancing.

“Tahu dari mana kamu?” Kambing tua penasaran.

“Semua penghuni kandang besar ini tahu tentang mimpimu itu.” Si kurus menjawab sekenanya.

“Kalau semua kambing tahu, memang kenapa?” Kambing tua itu mulai jengkel.

“Kalau itu benar, sebaiknya kamu perbaiki dulu pengetahuanmu tentang kurban.” Si kurus memanasi.

“Kurus! aku cukup punya pengetahuan tentang kisah Ibrahim, Ismail dan kambing yang menjadi pilihan Tuhan itu.” Suara Kambing tua itu terdengar sampai ke dalam rumah pemilik hewan peliharaan.

“Bukan kisahnya yang aku maksud, tapi makna kurbannya.” Si kurus menjawab dengan tenang.

“Hai Kurus! Sebaiknya jaga mulutmu atau aku robek perutmu dengan tanduk tuaku.” Kambing tua menghardik dengan suara tinggi.

“Sabar Kambing Tua.” Si Kurus tidak kehilangan ketenanganya meskipun dihardik.

“Aku minta jaga mulutmu!” Kambing tua itu seolah akan meloncat ke arah si kurus.

“Baik, aku akan diam tapi jawab dulu pertanyaanku.” Si Kurus seperti sengaja membuat Kambing tua tambah penasaran.

“Cepat katakan!” Suara Kambing tua membuat penghuni kandang besar mengembik serentak, mereka memprotes suara kambing tua yang terlalu  keras.

“Mengapa Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail?” Pertanyaan Kambing kurus itu diembikkan dengan suara lembut.

Kambing tua itu meringis senang karena merasa bisa menjawab pertanyaan si kurus. Kambing kurus tak menunggu jawaban, ia memutar tubuhnya untuk menghindari kotoran kambing tua yang berceceran di atas rumput kering. Ia bermaksud untuk mencari tempat nyaman agar bisa tidur.

*****

Kambing tua merasa berada di ruang tanpa arah, dinding tanpa batas. Seperti memasuki dunia tanpa warna, tanpa rupa.  Hening tanpa suara, hampa tanpa wujud, lembut tanpa jasad. Seluruh kesadaranya tak bisa ditandai, tak ada satupun ingatan tentang masa lalu yang terlintas dalam pikiranya. Semua kosong, termasuk di mana ia berdiri. Suwung.

Tubuhnya tak berwujud, namun ia merasa lebih nyaman, bebas dan tanpa beban. Tak ada lagi nyeri di pinggangnya dan ingus yang selalu merembes di hidungnya. Tak ada sesal, duka, dendam, harapan, keinginan dan semua yang menjadi beban pikiranya. Ia merasa belum menemui ajal, namun juga tak merasa berada di lingkungan dunia.

Kambing tua itu berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia masih hidup. ingatanya pelan-pelan mulai hadir, Kambing tua itu mulai ingat tentang kandang yang jorok. Si kurus yang suka mengembik dan cerita yang berulang setiap malam tentang kambing betina dan pohon jambu. Kambing tua itu juga ingat tentang mimpinya untuk bertemu dengan kambing pengganti Ismail. Namun sungguh aneh, perasaanya tentang semua itu telah berubah. Tak ada lagi benci terhadap si kurus, tak juga tentang mimpi menjadi hewan kurban. Pikiran, hati dan kesadaranya sebagai hewan peliharaan telah hilang. Kambing tua itu hanya merasa bahwa dirinya adalah pribadi yang lebur bersama ruang kosong tanpa warna dan tanpa arah .

Ruang kosong itu tiba-tiba berubah warna. Tempat di mana ia berdiri telah hadir ribuan, jutaan bahkan ia sendiri tak bisa memperkirakan berapa jumlah kambing di hadapannya. Semua kambing-kambing itu seolah menyapanya, melemparkan senyum persaudaraan. Semua wajah bercahaya, memacarkan kebahagiaan. Mereka hanya tersenyum, tak ada suara mengembik. Namun sungguh aneh, ternyata semua kambing yang hadir di depanya memiliki ciri dan bentuk yang sama. Namun ia tak heran, meskipun tak menemukan jawaban atas keanehan itu. Kambing tua membalas senyum mereka sambil melemparkan pandangan melintasi barisan kambing di depanya.

“Saudaraku, salam sejahtera untukmu.” Seekor kambing bermata jernih maju, keluar dari barisan sambil menyapa dengan suara yang begitu halus. Kambing tua itu tersenyum, menunggu kalimat berikut dari kambing yang menyapanya.

“Perkenalkan, aku adalah kambing pengganti Ismail.”  Suara kambing bermata jernih itu sangat datar. Sedikitpun hati kambing tua itu tak beriak. Entah kekuatan apa yang mengalir dalam kesadarnya, kehadiran idolanya itu tak membuat perasannya meluap, gembira apalagi ingin menubruknya. Ia tetap berdiri di tempatnya dengan perasaan dan hati yang tenang. Kambing tua itu tersenyum.

“Apakah kau masih berharap untuk menjadi hewan kurban saudaraku?” Pertanyaan kambing bermata jernih itu tiba-tiba membuka katup keinginan yang hilang sejak dirinya berada di ruang tanpa warna dan tanpa arah. Tiba-tiba keinginan untuk menjadi kambing kurban berloncatan di pikirannya.

“Tenangkan pikiramu saudaraku, kau tak akan sanggup mendengarkanku kalau pikiranmu berloncatan.”  Kambing tua itu kaget bukan main, kambing bermata jernih itu seolah tahu apa yang melintas di pikirannya.

“Masih, aku masih ingin menjadi hewan kurban.” Kambing tua itu menjawab tergagap.

“Apakah kau telah memikirkan jawaban dari pertanyaan si kurus?” Kalimat kambing bermata jernih itu mengingatkan lagi tentang pertanyaan si kurus.

“Sudah.” Kambing tua menjawab tegas. Ia merasa semua kambing tahu apa jawaban dari pertanyaan si kurus itu. Mengapa kambing bermata jernih itu merasa perlu untuk mengulang pertanyaan si kurus di hadapan begitu banyak kambing lainya. Terlintas dalam pikiran kambing tua, jangan-jangan pengetahuannya tidak cukup untuk memahami makna kurban. Apakah si kurus itu benar bahwa dirinya perlu memperbaiki pengetahuan tentang kurban.

“Menurutmu, mengapa Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya?” Meskipun pertanyaan seperti itu pernah didengar dari si kurus, namun ketika diucapkan oleh kambing bermata jernih pertanyaan itu berasa dalam, berat dan membuat bulunya berdiri. Entah karena pengaruh tekanan suara kambing bermata jernih atau pertanyaan itu memang bukan soal mudah. Kambing tua itu menarik nafas panjang, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa kalimat yang akan diucapkan merupakan jawaban yang benar.

“Tuhan ingin menguji kepatuhan dan ketulusan Ibrahim sehingga diperitahkan untuk menyembelih Ismail.” Jawaban itu akhirnya meluncur dari mulut kambing tua. Sejauh ini ia masih yakin bahwa jawaban itulah yang ingin didengar oleh Kambing bermata jernih dan semua kambing yang hadir di situ.

“Apa menurutmu Tuhan perlu menguji Ibrahim untuk mengetahui kepatuhan dan ketulusan makluknya?” Kambing tua tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan kedua padahal yang ia harapkan adalah penilaian terhadap jawabannya.  Pertanyaan itu membuat nalarnya buntu. Kambing tua berharap bahwa pertanyaan itu akan dijawab sendiri oleh kambing bermata jernih.

“Saudaraku, Tuhan tidak perlu menguji makluknya untuk mengetahui apapun, baik yang nampak atau yang tersembunyi. Termasuk untuk mengatahui kepatuhan dan ketulusan Ibrahim terhadap perintah-Nya ” Kalimat kambing bermata jernih itu mengalir tenang.

“Lalu untuk apa Tuhan memerintahkan Ibrahim  menyembelih anaknya?” Kambing tua itu penasaran.

“Selama puluhan tahun Ibrahim berharap mendapat anak laki-laki, Tuhan akhirnya memberikan Ismail. Anak laki-laki yang sangat dicintai, dibanggakan dan kepada Ismail harapan Ibrahim diserahkan.” Kambing tua itu menyimak setiap kata yang keluar dari mulut kambing bermata jernih.

“Tuhan ingin mengajarkan kepada Ibrahim keluar dari kubangan cinta, kebanggaan dan harapan kepada Ismail.  Ikatan cinta, kebanggaan dan harapan kepada dunia hanya akan menghambat jalan Ibrahim mencapai Tuhan.” Kambing tua masih belum paham apa maksud penjelasan kambing bermata jernih itu.

“Apakah Tuhan cemburu kepada Ismail, karena cinta Ibrahim yang begitu  besar kepada anak laki-lakinya itu?” Kambing tua memberanikan diri untuk bertanya.

“Tuhan terlalu perkasa dan agung untuk mencemburui Ismail karena mendapat cinta Ibrahim. Tuhan tidak perlu cemburu untuk mendapat cinta makluknya.” Kambing bermata jernih itu menjawab dengan senyum yang tidak pernah habis.

“Mengapa Ibrahim harus melepaskan cinta, kebanggaan dan harapan kepada Ismail?” Kambing tua itu mengajukan pertanyaan untuk memenuhi rasa penasarannya.

“Mendaki ke jalan Tuhan itu sangat berat saudaraku. Cinta, kebanggaan dan harapan itu hanya akan menjadi beban, sebab semuanya itu bersarang di dalam pikiran dan hati. Tuhan hanya bisa tercapai dengan pikiran dan hati yang jernih.” Penjelasan kambing bermata jernih itu bergema dalam kesadaran kembing tua.

“Lalu apa hubungan antara jalan menuju Tuhan dengan perintah penyembelihan Ismail?” Kambing tua mulai bisa bertanya tanpa beban.

“Perintah menyembelih Ismail itu hanya penanda dari nasehat Tuhan kepada Ibrahim.” Kambing tua merasa jawaban tersebut mirip teka-teki.

“Apa maksudnya?” Kambing tua tidak mau menunggu, ia bertanya cepat.

“Anak manusia merupakan salah satu sumber cinta, kebanggaan dan harapan. Menyembelih Ismail adalah penanda untuk memotong jeratan cinta, kebanggaan dan harapan terhadap dunia.” Kambing tua itu masih belum sepenuhnya memahami maksudnya.

“Apakah kau masih belum paham saudaraku?” kambing tua itu gelagapan mendengar pertanyaan kambing bermata jernih. Kambing tua itu hanya bisa menggoyangkan ekornya sebagai tanda mengiyakan.

“Bagini saudaraku, anak itu penanda dunia. Sedangkan Tuhan hanya bisa dicapai dengan melepaskan ikatan dunia dari pikiran, hati dan kesadaran. Perintah menyembelih Ismail merupakan nasehat Tuhan agar Ibrahim mampu melepaskan ikatan dunianya untuk bisa mencapai-Nya.” Kambing bermata jernih itu menjelaskan dengan nada yang stabil, jernih dan tanpa tekanan.

“Apakah berkurban hewan ternak di bulan Ibrahim juga memuat nasehat yang sama?” Kambing tua masih melanjutkan pertanyaan.

“Betul saudaraku, hewan ternak adalah perlambang kekayaan, penanda kehidupan dunia dan memotong hewan kurban adalah tanda pelepasan terhadap dunia.” Kambing bermata jernih itu dengan sabar menjelaskan.

“Kalau begitu kurban bukan semata tentang daging, otot, kulit dan tulang yang akan disedekahkan?” Kambing tua itu bertanya seperti cempe, anak kambing yang mengembik pada induknya.

“Betul, tradisi kurban yang diwariskan oleh Ibrahim kepada manusia adalah tentang nasehat untuk melepaskan kecintaan, kebanggaan dan harapan kepada dunia.” Kalimat terakhir kambing bermata jernih itu diikuti dengan menghilangnya barisan kambing dari mata kambing tua.

*****

Genangan air kencing di samping badannya membuat kambing tua terbangun dari tidurnya. Bau pesing begitu kuat memasuki hidungnya. Matanya jelalatan mencari kambing bermata jernih, barisan kambing dan ruang tanpa warna-tanpa batas.  Di mana semuanya. Akhirnya ia menyadari bahwa semua yang dialami beberapa saat lalu hanya mimpi.  Kambing tua menemukan Kambing kurus masih tergolek tidak jauh dari tempatnya tidur. Entah dorongan apa yang terdapat dalam hatinya, kambing tua itu merasa dekat dengan si kurus. Tiba-tiba cintanya meluap-luap. Si kurus yang tadi malam dibencinya, sekarang begitu disayanginya. Kambing tua itu mendekati tubuh si kurus. Ia pandangi lekat-lekat wajah si kurus.

Entah mengapa, hati kambing tua itu gelisah. Seperti ada yang hilang, tapi apa. Ia terus memandang wajah si kurus. Kambing tua itu tiba-tiba melonjak mundur. Ia melihat wajah si kurus sama dengan wajah kambing bermata jernih yang ia temui dalam mimpi.  Terlintas dalam pikiranya, apakah si kurus ini jelmaan kambing bermata jernih. Lintasan pikiran itu membuatnya semakin cinta kepada si kurus, ia bertekad akan menawarkan perlindungan kepada si kurus bahkan kalau mau si kurus akan diangkatnya menjadi saudara. Kambing tua itu menangis, bercampur aduk antara bahagia dan penyesalan. Menyesal, mengapa ia telat menyadari bahwa si kurus itu sebenarnya membawa pengatahuan untuknya.

Tiba-tiba tangisnya berubah menjadi jeritan yang menyayat ketika kambing tua itu menyadari bahwa si kurus  telah dibunuhnya tadi malam. Kambing yang sekarang ia cintai itu betul-betul mati karena tandukannya.

Tadi malam, sebelum kelelahan dan tertidur.  Kambing tua itu berpikir bahwa si kurus akan menjadi saingannya menjadi hewan kurban pada hari Ibrahim. Membunuh adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan saingan. Setelah memastikan si kurus tertidur, diam-diam kambing tua mendekati si kurus dan menghujamkan tanduknya ke dalam perut si kurus. Darah mengalir dari perut si kurus. Tidak ada gerak, tidak ada nafas yang mengalir. Si kurus dipastikan mati.

 

21 Comments to "Kurban"

  1. Chandra Sasadara  10 November, 2012 at 11:59

    Bu’ Dewi : yg nulis artikel ini memang Si Kambing Tua..wkwkwkkw

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *