Pendidikan

Suaedi Esha

 

Pada dasarnya misi pendidikan adalah membebaskan manusia dari kebodohan. Karena kebodohan sering beriringan dengan kehinaan, kemiskinan dan keterbelengguan, maka pendidikan juga dimaksudkan untuk melepaskan manusia dari derita lahir dan batin. Dalam bahasa Al-Qur’an, pendidikan, tegasnya fungsi ilmu, adalah untuk meningkatkan derajat manusia.

Tapi setelah itu pendidikan lepas dari kodrat manusia,  ketika pendidikan menjadi komoditas. Hukum ekonomi berlaku, karena pendidikan memiliki tarif yang bervariasi sesuai mutu sarananya. Maka, pendidikan dalam perspektif ini, menjadi milik orang kaya. Artinya, pendidikan berkualitas hanya menjadi milik mereka yang mempunyai sejumlah uang. Sementara orang miskin hanya bisa menikmati lembaga pendidikan murahan. Kondisi ini terus bergulir hingga situasi yang mengharukan. Lapangan kerja yang baik hanya tersedia bagi mereka yang berpendidikan baik. Sebaliknya, lapangan kerja kasar menjadi milik mereka yang berpendidikan rendahan. Ironis memang.

Keprihatinan seperti ini pernah dideskripsikan dengan bagus oleh Paulo Preire dalam The Oppressed Pedagogy: orang miskin hanya memperoleh pendidikan murah sehingga akhirnya menjadi tenaga kerja murah dengan upah rendah. Dengan kata lain, orang miskin hampir tak mungkin bisa keluar dari belenggu kepapaan karena tertindas oleh sistem pendidikan yang bertarif.

Keprihatinan ini diperjelas oleh Ivan Illich dalam Deschooling Society yang melihat masyarakat berkelas-kelas akibat dari sistem pendidikan yang berpihak pada orang kaya. Seakan pendidikan hanya biang dari pengkastaan masyarakat. Logikanya, masyarakat akan menjadi merdeka dari belenggu penindasan manakala manusia tidak lagi melihat pendidikan sebagai satu-satunya penentu masa depan.

 

8 Comments to "Pendidikan"

  1. Bagong Julianto  9 November, 2012 at 08:57

    maka Sting (The Police) nyanyi dan bersahutan pula dengan Madonna:……we are living in a material world……

    Baiknya melihat pendidikan formal, hanya satu dari sedemikian banyak “alat” atau “perangkat” untuk menghadapi dan menjalani kehidupan……

  2. Dj.  9 November, 2012 at 04:21

    Bung Suaedi….
    Apa yang anda tulis, banyak benarnya.
    Karena uang berbicara dengan bahasa yang lain…

    Ada teman Dj. yang karena warisan, jadi kaya..
    Dia sendiri, pendidikannya sangat rendah….
    Tapi dia memiliki satu usaha, dimana semua pekerjanya, lulusuan akademiker…
    Disii Dj. lihat, orang Pinter yang bekkerja kepada orang bodoh ( tapi ber uang )

    Dan hal ini, bukan satu atau dua saja.
    malah sangat banyak, orang yang sudah mempunyai pendidikan tinggi, toch malah akhirnya bekerja untuk
    orang yang pendidikannya biasa-biasa saja.
    Karena uang, maka dia bisa mengerjakan orang-orang yang berpendidikan tinggi.
    Jadi, masalahnya kembali ke uang….

    Terimakasih dan salam,

  3. Linda Cheang  8 November, 2012 at 16:21

    ya, begitulah…

  4. J C  8 November, 2012 at 15:05

    Sepertinya yang ditulis Kang Chandra Sasadara memang benar semua. Alat rekayasa sosial, status quo dan alat perubahan…

  5. Handoko Widagdo  8 November, 2012 at 13:26

    Sekolah adalah institusi sosial terlama setelah perkawinan dan dianut hampor semua kebudayaan manusia.

  6. [email protected]  8 November, 2012 at 13:19

    kalo pendidikan esek2 gimana….?
    daripada di indonesia… kerjaannya perkosaan lah, mencabuli lah dan jg…. yang suka anak kecil itu….

  7. Anoew  8 November, 2012 at 12:06

    Pendidikan yang tepat guna, itu yang seharusnya dijalankan.

  8. Chandra Sasadara  8 November, 2012 at 11:11

    pendidikan=alat rekayasa sosial. mempertahankan status quo ato menjadi alat perubahan?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.