Apa Hanya Ada Satu Versi “Sopan Santun”?

Gene Netto

 

Kalau dengan duduk di meja, saya dikatakan “tidak sopan” dan harus dimarahi, maka itu membuktikan bahwa yang memberikan komentar itu beranggapan bahwa hanya ada satu versi sopan, dan diakui secara universal, dan tidak boleh atau tidak mungkin ada pendapat lain yang bisa diterima. Kalau yang mengatakan “tidak sopan” adalah orang Jawa (misalnya), maka mereka anggap “tidak sopan” karena dididik begitu dari kecil oleh orang tua mereka, sehingga tidak sanggup atau tidak mau menerima pendapat yang berbeda. Kalau seandainya orang Jawa itu diadopsi oleh orang Papua, dan dibesarkan di kampung di Papua, apa dia tetap punya pendapat “duduk di meja tidak sopan” sehingga orang yang melakukan itu harus dimarahi dan disuruh berubah?

Jadi yang paling tajam dari pendapat yang disampaikan teman-teman adalah keinginan agar tidak boleh terjadi perubahan. Duduk di meja tidak sopan, apalagi berdiri di meja. Tidak boleh ada bentuk kesopanan yang lain yang perlu dipikirkan. Pendapat yang ada sekarang sudah mutlak benar (karena diajarkan oleh orang tua) dan tidak perlu berubah. Berusaha memahami pendapat lain saja tidak perlu, karena automatis salah karena kita sudah benar sendiri.

Mungkin bisa dikatakan motto kehidupan atau pandangan umum bagi para guru dan orang tua ini adalah “Jangan mengajak saya berfikir dengan cara yang berbeda. Saya sudah mutlak benar, dan tidak ada kebenaran yang lain!” Efek samping dari pemikiran semacam ini sangat luas. Yang paling sederhana, perlu dipikirkan pandangan terhadap kehidupan antar suku di sini. Kalau yang bicara adalah (misalnya) orang Jawa dan mengatakan “tidak sopan” apa berarti orang Papua, Ambon, Maluku, Dayak dan sebagainya wajib setuju dan wajib anggap “tidak sopan” juga?

Kadang ada yang mengatakan “budaya Indonesia” harus dilestarikan. Ini setara persis dengan mengatakan, “Indonesia adalah negara sopan santun”. Dalam kalimat-kalimat ini, “budaya Indonesia” yang mana yang dimaksudkan? “Sopan santun” yang mana yang dimaksudkan? Apa hanya ada satu versi di sini, yaitu yang ditentukan oleh penguasa Jawa (karena kebanyakan pemimpin, pejabat dan penguasa adalah orang Jawa)? Apa tidak ada yang berbeda? Apa rakyat Indonesia dilarang memikirkan ini dengan cara yang berbeda karena hanya ada satu jawaban yang benar, dan yang punya pandangan berbeda harus dimarahi sampai nurut?

Contoh: Kalau anda naik pesawat dan orang di sebelah pakai koteka (dari budaya Papua) apakah orang itu “tidak sopan”? Apa hanya boleh pakai koteka atau bertelanjang dada (bagi wanita) di Papua saja? Apa hanya boleh di kampung? Apa boleh di dalam Ibu Kota di Propinsi Papua? Apa di mall boleh? Apa di bandara boleh? Apa di pesawat boleh? Apa di gedung DPRD boleh? Yang mengatakan tidak boleh karena “tidak sopan” siapa? Yang menentukan sopan dan tidak sopan siapa? Yang berhak menentukan itu secara universal siapa?

Setiap kali saya dengar di sebuah sekolah akan dilaksanakan pentas budaya Indonesia dan semua anak dan guru disuruh memakai “pakaian adat” untuk merayakan beraneka ragam budaya Indonesia, maka saya selalu bertanya apakah guru atau anak boleh pakai koteka? Jawaban selalu “tidak boleh”. Ketika ditanyakan kenapa, dikatakan “tidak sopan” dan “tidak sesuai dengan budaya Indonesia kalau ‘telanjang’ di depan umum!”. Lho??!! Jadi, pada saat dikatakan “budaya Indonesia” maka yang dimaksudkan adalah budaya yang sesuai dengan apa yang dianggap sopan di kota menurut orang Jawa (dan mungkin sebagian suku lain), yaitu menutupi kemaluan bagi pria dan wanita dan juga dada bagi perempuan. Sopan versi Papua dilarang. Budaya versi Papua harus mau tunduk dengan “budaya sopan” versi Jawa. Dan seterusnya.

Apa bisa dipahami dampaknya dari cara berfikir ini yang sangat terbatas, yang selalu menganggap hanya ada satu jawaban yang boleh benar?

 

45 Comments to "Apa Hanya Ada Satu Versi “Sopan Santun”?"

  1. Evi Irons  10 December, 2012 at 21:47

    Begini JC….saat saya membaca komen one by one mulai dari nomor urut 1 s/d terakhir, saya harus membaca mundur mulai dari bawah, pada saat membaca satu komen bacanya dari awal kalimat sampai akhir kalimat kebawah, lalu ketika saya akan membaca komen berikutnya, komen nomor 2 saya harus naik ke atas lagi, begitu seterusnya, inilah yg mempersulit saya, tidak praktis. Mohon dimaklumi.

  2. Korne  10 December, 2012 at 10:38

    Gene Netto, sudah pernah buatkan “Test case” belum?. Bila disuruh berpakaian adat oleh guru, tidak perlu memberi tahukan pakaian apa yg adat mana yg akan dikenakan. Hari “H” nya , muncul saja dengan koteka. Bila ada reaksi penolakan, laporkan guru/kepala sekolahnya ke polisi. Pasti pelapornya akan populer, jadi selebriti mendadak. Aku punya saudara yg menikah dgn orang Papua, pada acara adat mereka di Jkt, tidak pernah sekalipun saya melihat ada yg memakai koteka. Kesimpulan saya, sopan santun itu versinya bisa dikompromi. Salam.

  3. J C  10 December, 2012 at 10:21

    Evi Irons, terima kasih masukannya. Saya bingung membaca masukan Evi ini. Kami sudah periksa, ambil contoh saja di artikel http://baltyra.com/2012/12/03/dagelan-politik-tutup-tahun-2012/, di komen terakhir dari Alvina VB, di atasnya ada Pages [30] 29 28 27 dst… terus di bagian akhir komen nomer 291 by Anoew juga ada Pages [30] 29 28 27 dst…jadi sepertinya tidak perlu scroll naik turun lagi. Mohon masukannya jika masih belum pas dan nyaman. Terima kasih.

  4. Evi Irons  10 December, 2012 at 09:34

    Mohon Saran untuk Admin..saya merasa sulit utk melihat komen mundur dgn melihat no.urutannya karena saya harus melihat dari bawah dan setelah selesai baca 1 komen harus diarahkan kursornya ke atas lagi, cobalah untuk membuat pembaca bisa sepraktis mungkin supaya setelah baca komen kebawah bisa kebawah lagi, tidak perlu ke atas, ke bawah dan ke atas lagi, Terima kasih.

  5. Evi Irons  10 December, 2012 at 09:23

    Menurut saya…budaya sopan-santun budaya Jawa ada baiknya dan banyak benarnya. Suku Jawa banyak memiliki aturan dan adat-istiadat yang baik, saya sendiri sangat menghargai apabila orang yang lebih tua memberitahukan saya hal-hal yang perlu dipatuhi dan memberitahu hal yg tidak baik yg tdk perlu saya lakukan nantinya karena itu demi kebaikkan saya sendiri. Satu hal yang tidak saya sukai adalah ketika di depan tampak manis tapi dibelakang pahit, mungkin karena sungkan atau tidak ingin menyakiti atau tersinggung secara langsung.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *