Tembak di Tempat (3)

Endah Raharjo

 

Terbirit-birit aku keluar kamar hotel. Tim sudah di restoran untuk sarapan. Pagi ini aku kemrungsung sekali, sampai lupa memakai bra. Untung sewaktu menyusuri koridor hendak menuju lift aku merasa ada yang aneh di dadaku, enteng dan semriwing; lalu aku berlari kembali ke kamar.

“Kamu baik-baik saja, kan?” Tim manatap rambutku yang belum kering dan berbagai perlengkapan di kedua tanganku.

“Terlalu lama mendengarkan berita…” Sambil duduk kulolos ransel dari punggung. Satu-satu perlengkapanku kumasukkan ke dalamnya.

“Jangan khawatir. Akhir-akhir ini situasi cukup terkendali. Suasana di sana tidak seseram yang ditulis media.”

Tim terlihat segar, semalam ia pasti tidur nyenyak. Mata coklatnya terlindung di balik kacamata minus tiga, sibuk membaca Bangkok Post. Kuamati wajah tampannya: sepasang alisnya lebat dan panjang, dagunya dicukur kelimis, tulang pipi dan rahangnya cenderung feminin, membuatnya terlihat muda meskipun satu-dua kerut mulai muncul di sudut-sudut mata dan tengah jidatnya.

Ia jarang tersenyum, namun baik hati dan mudah berteman. Ibunya seorang antropolog yang sering bermuhibah ke negara-negara Asia. Itulah awal ketertarikan Tim pada bagian dunia yang oleh teman-teman ayahnya sering disebut sebagai Timur Jauh. Menurut ceritanya, tiap kali ibunya melakukan penelitian di wilayah Asia Tenggara, mereka akan bilang “Oh, ibumu sedang berada di Timur Jauh!”

Bagi Tim, tempat yang disebut Timur Jauh oleh teman-teman ayahnya itu tidak lebih jauh dari kamar ibunya. Ia sering mendongeng tentang negara-negara itu sebagai pengantar tidur.

Aku merasa nyaman bekerja dengan Tim. Selama lima tahun tak sekalipun kami bertengkar, kalau sekedar berbeda pendapat itu biasa. Kali ini aku akan bersamanya selama tiga minggu, di tiga tempat berbeda. Lembaga tempatnya bekerja, Center for Research in Peace Building, Conflict and Negotiation, tahun ini menerima hibah hampir tiga kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Setiap mengerjakan proyek, ia berhak merekrut sendiri stafnya. Ia punya tiga tim tetap: di Afrika, di Amerika Selatan, dan di Asia Tenggara – aku salah satu stafnya.

Hasil penelitian kami berguna bagi pihak-pihak yang berurusan dengan konflik: membantu mereka mengelola konflik, mengembangkan teknik negosiasi dan mediasi, kolaborasi multipihak, menganalisa dampak konflik pada berbagai pihak khususnya kelompok rentan – anak-anak, lansia, dan perempuan – serta masih banyak lagi.

Tahun ini aku dikontrak untuk dua proyek. Ini proyek pertama. Yang kedua akan kukerjakan Agustus nanti. Selain mengerjakan penelitian, tugas kami kali ini diselipi misi kerelawanan: menyusun proposal untuk sebuah LSM yang mengurusi korban konflik khusus anak-anak yatim dan ibu tunggal yang punya bayi.

Tim melipat koran, menyelipkannya ke saku ransel. “Kita akan menginap di Sangkhlaburi. Tidak sampai setengah jam bermobil ke Three Pagodas Pass. Sekitar 25 kilometer.” Ia menepikan cangkir, meraih peta dari ranselnya, menggelarnya di atas meja. Peta itu sedikit kumal karena terlalu sering dibuka-tutup.

“Saya sudah pelajari lokasinya. Ada reservoir yang sangat indah di sana,” ujarku, “Khao Laem namanya. Ini. Di sini.” Kubuat lingkaran kecil di atas peta.

“Kalau begitu sebaiknya kita segera sarapan.” Ia melipat peta lalu berdiri. Aku mengikutinya. Kurang dari 10 menit, sarapan kami selesai.

Kami keluar hotel lewat pintu belakang, sebuah SUV dengan supir sudah disiapkan. “Tong Rang minta dijemput di hotelnya,” kusampaikan pesan Tong Rang, salah satu anggota tim yang menginap di hotel lain.

Thaung Rangan Sanders adalah psikolog kelahiran Burma. Pada usia sepuluh tahun ia diadopsi oleh pasangan Amerika, Arianne dan Larry Sanders. Orang tua dan adiknya mati tertembak di Rangon – sekarang lebih sering disebut Yangon – dalam pergolakan di bulan Agustus 1988. Ketika duduk di bangku SMA, ia mengubah ejaan namanya menjadi Tong Rang. Lelaki berusia 30 tahun, berwajah oriental ini menguasai 4 bahasa: Thai, Burma, Inggris, dan Perancis. Sedikit-sedikit ia mengerti dan bicara bahasa Melayu, Arianne dan Larry sudah 10 tahun tinggal di Singapura.

“Semua barang sudah masuk?” Tim membuka pintu SUV kiri depan. Kepalanya melongok ke jok tengah, memandangku. Aku mengangguk. Tim senang duduk di samping supir. “Ada kabar dari Rudi?”  ia menanyakan anggota tim kami yang satu lagi, yang kemarin berangkat dari Chiang Mai dan semalam sudah sampai di lokasi.

Lalu lintas di Jalan Rama 1 – pusat kota Bangkok – belum padat, belum pukul 7, sebuah tuk-tuk hampir menyerempet mobil kami, penumpangnya, sepasang wisatawan kulit putih terkekeh senang. Kutelpon Tong Rang, kuminta siap di lobby hotelnya yang tak jauh dari hotel yang kutempati bersama Tim.

“Beres! Aku akan berdiri di depan hotel sambil mengacungkan bendera,” Tong Rang bercanda.

Karakter Tong Rang sulit ditebak. Ia kadang kekanak-kanakan. Suatu saat Rudi memakai surjan oleh-olehku. Tong Rang tak henti-henti bertanya tentang surjan lurik warna coklat tua bergaris putih-hitam itu. Rudi akhirnya memberikan surjan itu, membuat Tong Rang melonjak-lonjak serupa anak kecil yang diberi mainan baru.

Badan Tong Rang 2 inci lebih pendek dari Rudi, namun leher dan dadanya kokoh-lebar, kedua lengannya berotot kekar. Selain rajin ke pusat-pusat kebugaran, ia juga suka berenang. Kalau sedang senggang, ia bisa berenang tiga kali sehari.

Ia selalu memilih tinggal di hotel terpisah. Mungkin ia perlu privasi lebih dari yang lainnya. Ia jarang menceritakan dirinya padaku meskipun sesekali ia bertanya urusan pribadiku. Bulan April 2009, tahun lalu, kami terjebak di hotel. Bangkok sedang rusuh. Aku dan Tong Rang menghabiskan waktu seminggu duduk-duduk dan membaca, saling bercerita tentang apa saja. Ia ingin tahu mengapa aku – yang menurutnya cantik, cerdas dan menarik – belum menikah. Kujawab apa adanya. Aku terlalu mencintai pekerjaanku, tak rela melepasnya demi seorang lelaki. Kuceritakan kalau aku pernah serius pacaran, sekali, tapi dia melarangku pergi ke Amerika untuk sekolah lagi. Kami putus. Tong Rang berkeras kalau aku hanya butuh jatuh cinta. Mungkin saja dia benar, jadi aku tidak mendebatnya; mungkin juga lelaki memang tidak tertarik padaku. Aku tak mau pusing memikirkannya.

Aroma parfum memenuhi mobil begitu Tong Rang masuk. Tubuh berototnya terbalut kaus biru muda dan celana kargo broken white. Kakinya terlindungi sneakers kulit sewarna celananya. Menurutku ia lebih pantas jadi instruktur senam para selebriti, di sebuah pusat kebugaran mewah, di dalam gedung pencakar langit yang untuk memasukinya harus terdaftar sebagai member dengan annual fee yang mahal.

Lelaki itu menyodorkan sekotak praline yang masih utuh. “Rudi sudah di lokasi, ya?”

“Sudah. Tadi malam,” jawabku.

Terlahir di Semarang 32 tahun lalu, Rudi, anak bungsu dari tiga bersaudara, tidak pernah melihat ayahnya. Saat usia kandungan ibunya 7 bulan, ayah Rudi meninggal akibat penyakit gula. Selepas SMA Rudi kuliah di Jogja, mengambil jurusan arsitektur, satu angkatan dengan kakakku, Mbak Nia.

Sejak kecil ia hobi memotret. Tiap mendapat tugas menggambar sketsa di ruang terbuka, ia justru menghabiskan waktu untuk memotret. Hobinya itu kini jadi gantungan hidupnya. Keahliannya di bidang arsitektur hampir tidak ia pakai.

Karya-karyanya menghiasi berbagai media online dan cetak. Banyak pula yang dibeli Associated Press. Sering ia mendapat pesanan foto dari majalah ternama. Awalnya Rudi tidak memilih-milih lembaga yang mengontraknya. Namun sejak tahun 2005, ia menolak disewa oleh perusahaan-perusahaan yang disinyalir ikut andil dalam perusakan lingkungan. Tak peduli bayarannya.

“Sakit, Mia. Di sini,” Rudi menyentuh ulu hatinya. Saat itu, dua tahun lalu, ia hadir di pesta pernikahan Mbak Nia, lalu kuajak bergabung di proyekku. Tim memintaku membantunya mencari fotografer, pengganti fotografer yang sudah lama bekerja bersamanya – yang mati tertembak dalam konflik Kivu, Congo, pada November 2007.

**

Ternyata perjalanan sekitar 6 jam dari Bangkok menuju Three Pagodas Pass menyenangkan. Sepanjang jalan mataku menikmati rangkaian perbukitan hijau-teduh-rimbun. Jalanannya mulus. Masing-masing jalur untuk satu arah dan tiap jalur terdiri atas 2 lajur. Kendaraan yang berpapasan sebagian besar keluaran terbaru, didominasi four-wheel drive berbagai merk aneka warna.

Four-wheelers itu milik para petani,” jelas si supir, melihatku melalui kaca spion. Nama lengkapnya Saw Ku Moe, panggilannya Mo. Ia lahir di Burma. Bersama keluarganya Mo pernah menghuni salah satu kamp pengungisan di Mae Sai, di perbatasan Burma-Thailand bagian utara. Pada akhir tahun 2003 sebuah LSM Swedia berhasil membawa keluar 30 pengungsi dari kamp itu, termasuk keluarga Mo. Sebagian dari mereka kini tinggal di berbagai negara Eropa. Mo dan keluarganya memilih jadi warga negara Thailand. Laki-laki murah senyum yang istrinya baru melahirkan anak kedua itu ingin berbuat sesuatu untuk para pengungsi yang tidak seberuntung dirinya.

Sudah lima tahun Mo bekerja sebagai supir sekaligus pemandu bagi orang atau tim yang mendatangi kawasan perbatasan Burma dan Thailand. Pelanggannya macam-macam, dari wisatawan muda hedonis hingga para professor yang melakukan penelitian.

Ia pandai membawa diri, tidak pernah merokok di dalam mobil. Rokoknya ia simpan rapat-rapat di dalam kantung, ditaruh di dalam tas supaya aromanya tidak menguar kemana-mana. Reputasi baiknya tersebar dari mulut ke mulut sehingga sepanjang tahun Mo selalu mendapat pekerjaan yang memberinya penghasilan layak.

Ia bercita-cita punya biro perjalanan sendiri dan akan merekrut mantan pengungsi Burma yang sudah mendapat ijin tinggal di Thailand. Mo juga sopan pada siapa saja, memanggil semua lelaki dengan embel-embel mister dan semua perempuan dengan tambahan madam. Ia menolak memanggilku Mia saja. Tim berkali-kali memintanya memanggil nama depan kami. Permintaan itu dia iyakan tapi tak dilaksanakan. “Yes, Mister Tim. Yes.”

“Tim.”

“Yes, Mister.”

Tawa kami berderai.

“Kita hampir sampai.” Mo mengecilkan suara musik klasik yang mengiringi perjalanan kami. Salah satu kesamaan kami berempat adalah suka mendengarkan musik klasik dalam perjalanan darat yang panjang. Saat merekrut tiga anak buahnya, Tim tidak menanyakan tentang musik yang kami sukai. Kesamaan itu sangat membantu, kami tidak perlu bertengkar atau saling menahan diri bila ingin mendengarkan musik di perjalanan. Namun Mo tidak suka musik jenis itu.

“It’s killing me,” kata Mo di hari pertama. “Tapi saya akan belajar menyukai karena kalian majikan saya yang harus saya layani sebaik-baiknya.” Mo memegang kata-katanya. Ia menjadi bagian penting dalam ekspedisi kami.

**

Three Pagodas Pass. Nama kawasan perbatasan Burma dengan Thailand bagian barat itu diambil dari tiga buah pagoda yang tidak begitu tinggi, sekitar 3 meter, yang terletak di ujung jalan dari wilayah Thailand. Tiga pagoda itu berada di tengah ruang terbuka, semacam bundaran, dikelilingi deretan kios suvenir dan warung-warung kecil. Di pinggir jalan yang mengelilingi bundaran itu para pengunjung memarkir kendaraan.

Tidak jauh dari bundaran ada Kantor Imigrasi Thailand – bangunan serupa kios  drive-thru – dan checkpoint untuk masuk ke wilayah Burma, dilengkapi pos militer. Begitu melewati checkpoint itu, orang sudah memasuki wilayah Burma. Perbatasan dibuka-tutup sesuai panas-dinginnya suhu politik.

Pengunjung bisa masuk ke wilayah Burma dengan visa kunjungan sehari, cukup dengan fotokopi paspor, dua buah pasfoto dan uang US$ 10 atau 500 Baht. Kami hanya berniat melihat-lihat sebentar, tidak berencana masuk ke wilayah Burma. Akibat konflik terbuka minggu lalu, perbatasan ditutup untuk pengunjung, kecuali warga lokal yang tinggal di kedua wilayah di sepanjang perbatasan.

“Mau turun?” Tim menoleh ke belakang, bergantian memandang aku dan Tong Rang. Kami bertiga turun. Mo tetap di dalam mobil. Kacamata hitamku tidak kulepas.

Siang itu tak kulihat seorangpun selain kami. Suasananya tenang, serupa desa yang warganya sedang menikmati tidur siang. Selain dihuni orang Thai kawasan itu juga rumah bagi etnis minoritas Karen dan Mon yang terusir atau sengaja bersembunyi dari pegunungan di perbatasan Burma.

Sungguh, suasana konflik sama sekali tidak terlihat di permukaan walaupun banyak orang percaya Three Pagodas Pass merupakan wilayah nirhukum. Setiap saat bisa saja meletus konflik antara kelompok pemberontak – atau kelompok apapun yang mengatasnamakan pihak manapun – dengan pihak militer Burma atau patroli perbatasan Thailand.

Tong Rang menjauh dari bundaran, menuju checkpoint yang kosong, mendekati palang-palang yang menghalangi jalan menuju wilayah Burma. Mataku menangkap sosok berseragam militer keluar dari bangunan mirip bedeng, menyandang senapan. Dari sikapnya naluriku mengingatkan kami harus waspada.

“Hati-hati,” seru Tim. Mungkin ia juga mencium aroma bahaya.

Tong Rang melambaikan tangan kirinya sementara tangan kanan menenteng kamera. Dengan senapan teracung penjaga itu memberi isyarat agar Tong Rang menjauhi palang. Entah apa yang ada di pikiran Tong Rang saat itu, ia mengangkat kameranya, mungkin minta ijin memotret.

Tim berteriak memeringatkan bersamaan penjaga itu mengokang senapan. Sepersekian detik kemudian sebuah letusan merobek keheningan. Terdengar suara kepakan sayap serombongan burung meninggalkan reranting pohonan disusul kokangan dan letusan kedua.

Satu-dua detik aku kehilangan kesadaran akan sekelilingku; tahu-tahu badanku tertelungkup di aspal. Mo sudah di dekatku, berusaha mengangkatku. Jantungku berdentum cepat dan keras. Kulihat Tim dan Tong Rang berhadapan dengan dua penjaga berseragam, si pembawa senapan marah-marah, yang satunya menenangkan. Lamat-lamat kudengar Tong Rang bicara entah bahasa Thai entah Burma.

Mo membantuku berdiri. Tim berlari menuju kendaraan. Ia mengambil tas lalu kembali berlari menemui dua penjaga itu. Aku tak bisa melihat dengan jelas namun aku yakin Tim menunjukkan paspor dan dokumen. Beberapa menit kemudian Tim dan Tong Rang berbalik, menuju kendaraan, wajah mereka tegang.

Dua penjaga itu mengawasi. Kurasakan mata si pembawa senapan menembus tubuhku. Mo membantuku masuk kendaraan. Air mataku bercucuran karena ketakutan. SUV kami meninggalkan bundaran. Gemetar tubuhku baru kurasakan.

Suasana di dalam kendaraan hening beberapa saat. Mo mematikan musik. Kucari-cari tisu dari saku ransel. Tidak ketemu. Seluruh tubuhku masih gemetaran.

“I’m sorry. I’m truly sorry…” lirih suara Tong Rang. “I was just…”

“Are you okay, Mia?” Tim menoleh ke belakang, memandangku, tanpa mempedulikan Tong Rang yang minta maaf. “Lenganmu?”

Aku baru sadar ada luka memanjang di bawah siku kiri. Darah pelan-pelan mengalir dari luka gores itu. Tim menyuruh Mo berhenti. “Kamu pindah ke depan.” suaranya ketus memerintah Tong Rang bertukar tempat duduk. Mereka berbarengan membuka pintu dan melompat turun dari kendaraan. “Jalan,” perintahnya pada Mo sebelum pintu benar-benar tertutup. Kuhapus air mataku dengan punggung tangan kanan. Tim meraih kotak P3K dari belakang jok yang kami duduki.

“Kamu akan baik-baik saja….” ujarnya, membuka kotak. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil kapas dan betadin. “Lukanya cukup besar….” gumamnya. Rasa perih menyengat kulitku begitu Tim menorehkan kapas penuh betadin ke lukaku. Dengan ekor mata kulihat Tong Rang menoleh ke belakang dan meminta maaf lagi.

“Aku tidak tahu bagaimana aku bisa jatuh…”

“Madam Mia tadi berlari…” suara Mo halus sekali. Aku sama sekali tidak ingat itu. Kulihat celana kargoku robek di lutut kiri.

“Ada klinik dekat sini, Mo? Ini lukanya cukup besar.”

“Ada, Mister Tim. Di dekat pasar, tak sampai 10 menit lagi.” Mo mempercepat laju kendaraan.

“Kamu akan baik-baik saja…” Tim mengulang kata-katanya. Ia meraih pundakku, mengecup pelipisku. Selama lima tahun bekerja bersamanya, belum pernah ia melakukan itu. Sesekali kami berpelukan, sewaktu bertemu kembali setelah berpisah beberapa bulan, saat merayakan sesuatu, atau ketika berpamitan di bandara.

Kembali kami diam. Aku yakin kami semua berusaha meredakan rasa takut yang baru kami sadari setelah kejadian. Tim duduk kaku di sampingku. Matanya melihat keluar, ke pohonan jati diselang-seling ekaliptus yang merindangi perbukitan, ke gubug-gubug yang sesekali terlihat di sela-sela kerimbunan. Dari belakang, kulihat tengkuk kokoh Tong Rang menegang. Mo berkali-kali menghela nafas dan menghembuskannya keras-keras.

“Itu kliniknya, Mister Tim.”

“Thank you, Mo…”

“I’m sorry…” Tong Rang menatap kami satu persatu, “I truly am…”

“It’s fine…” Tim mengangguk-angguk. “We’re all fine…”

***

 

10 Comments to "Tembak di Tempat (3)"

  1. anoew  12 November, 2012 at 20:28

    Waaah…, sering-sering kemrungsung dong, biar semriwing

    Hai ER, aku sepakat dengan Pak Hand untuk menunggu novelnya saja daripada tersiksa, apalagi enunggu yang “serba kemrungsung’ tadi

  2. Dewi Aichi  12 November, 2012 at 18:06

    Saya mengakui kualitas Endah Raharjo sebagai penulis cerita, baik cerpen maupun novel…sepakat dengan komen no 4.

  3. endah raharjo  12 November, 2012 at 17:30

    @ Mas Bagong: endah, edi, peni, bambang, budi, amir, dan hasan
    Itu bisa jadi ide, ntar diselipin ‘tembak2an’ antara Mia dengan… enaknya siapa ya…

  4. Bagong Julianto  11 November, 2012 at 18:14

    Makin endah edi peni ini…..
    Mulai ada dar-der-dornya….
    Endingnya Tim “nembak” Mia atau Mia “nodong” Tim…..

  5. endah raharjo  11 November, 2012 at 15:21

    Hai JC.
    Kata Bu Guru, semua ketrampilan bisa diajarkan, termasuk nulis. Tapi nulis yang baik dan menarik, konon tidak bisa diajarkan, hanya bisa dipelajari alias dipraktekkan. Saya saat ini sedang belajar menambah kosa kata. Caranya: lebih rajin membuka tesaurus bhs Indonesia dan KBBI. Kadang2 saya tergoda memakai padan kata yang belum banyak dikenal, tapi kuatir kalau pembaca harus membuka kamus (persis yg saya lakukan kalau saya nemu kata baru dlm tulisan orang lain).

    JC jeli juga, ya. Memang bener, saya pernah berada di hampir semua tempat yang saya sebut dlm cerpen, cerbung, atau nove sayal. Kalau sy blm pernah ke sana, akan saya cari peta, saya baca profilnya dan bila perlu saya telusuri cerita/sejarahnya. Saya memang suka menyertakan detil, karena nurut saya akan membuat kisah lebih hidup dan nyata.

    Sekedar sharing: dalam novel Senja di Chao Phraya, saya riset tentang perang Inggris-Irlandia, Perang Dunia I dan II, jalur kereta api uap trans Siberia, kisah para imigran di New York di tahun 20-an, dan bangunan2 tinggi yang dibangun di New York di masa itu, sekedar untuk menulis 3-4 halaman tentang latar belakang keluarga Osken O’Shea. Menurut saya, akan aneh bila saya bicara soal lelaki Amerika keturunan Irlandia-Kazakhstan tanpa memberi detil apapun, seakan dia muncul begitu saja. Selain pembaca jadi tidak kenal tokoh yang mereka baca, sbg penulis saya jadi terkesan ‘mengada-ada’, asal naruh tokoh

    Saya juga masih tahap belajar. Monggo dibaca beberapa artikel dan hasil wawancara dengan penulis terkenal di blog ini: http://www.kampungfiksi.com dicari label ‘interview penulis’

  6. endah raharjo  11 November, 2012 at 14:56

    Sobat-sobit, mohon maafkan saya, baru bisa nongol
    @Pak Han: monggo aja, Pak. Kayaknya yang ini belum ada rencana dijadikan novel heheheheee… ben kerso moco. Tp jgn sampai tersiksa, Pak. Nanti saya sedih hati *sedih kok mringis*

    @Lani: iya, nih, kayaknya ekspedisi mereka kali ini banyak ‘hampir celakanya’, padahal dulu2nya enggak lho

    @Novita: Madam Mia cuma jatuh aja, nggak ketembak…

  7. J C  9 November, 2012 at 15:38

    Endah, apakah menulis novel bisa diajarkan? Apakah pemilihan kata-kata dan kalimat yang indah bisa dipelajari? Yang aku perhatikan lagi, Endah selalu menceritakan detail topografi dan demografi tempat-tempat di mana kisah berlangsung yang membuat aku berpikir, sepertinya Endah sendiri pernah ke tempat-tempat itu, dan mungkin di sana sini Endah sendiri yang mewakili salah satu karakter salah satu tokoh…

    Ah, aku sok menganalisa ya…

  8. Novita  9 November, 2012 at 14:44

    Ternyata yang ketembak Madam Mia……..(

  9. Lani  9 November, 2012 at 14:04

    ER : wadoooooh………..hampir saja celaka mereka ya…….moco karo deg2-pyuuuuuuuur………hayooooook lanjot jok kesuwen……..

  10. Handoko Widagdo  9 November, 2012 at 10:13

    Ijinkan aku membaca novelnya saja ya Mbak Endah Raharjo. Soalnya aku tersiksa kalau harus menunggu kelanjutannya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.