Biru

Pratiwi Setyaningrum

 

Orang-orang mulai penasaran. Gadis itu hanya sendiri, berpakaian seperti yang lain, lembut mengembang. Rambut hitamnya digelung sembarangan, dengan anak-anak rambut berkeliaran di sekeliling oval wajahnya, menari-nari dipermainkan angin. Seperti perempuan kebanyakan. Matanya berbinar biru, seperti juga mata semua orang. Dan ia hanya duduk di sana. Di atas salah satu karang di pantai. Ya, seperti banyak yang lain. Namun juga tampak begitu lain.

 

————————

Siang terik selama tujuh puluh tujuh hari penuh telah memaksa penduduk kota kecil dari sebuah negeri bernama Laputa itu lari ke pantai mencari angin segar. Bersama keluarga atau teman, berenang, berselancar, atau hanya menikmati es lemon di bawah payung-payung merah. Kemudian satu orang memandang gadis itu. Lantas teman orang itu memandang temannya yang berhenti berjalan kerna memandang gadis itu. Satu rombongan orang yang lalu di depan mereka ikut menengok atas dasar ingin tahu yang alami. Lalu begitulah, dan seterusnya hingga akhirnya semua orang di pantai itu mengarahkan pandang ke gadis itu. Gadis yang hanya duduk diam di atas karang. Ia sama. Namun begitu berbeda. Ia sedang memandang langit. Dari tadi. Tanpa henti.

Semua orang lantas saja mengikuti arah pandangnya. Mereka pun memandang ke arah langit. Terdiam. Orang-orang itu menanti. Ada apa di langit? Langit yang selalu ada di atas itu? Lalu? Apakah yang akan muncul? Apakah ada yang telah melintas? Apakah ada yang terlewat? atau, apakah ada UFO? Setelah lima puluh tiga detik yang seakan selamanya –kesabaran penduduk kota kecil itu biasanya memang hanya selama itu– akhirnya orang-orang itu menyerah dan kembali memandangi Gadis itu. Gadis yang duduk diam, memandang ke langit. Kemudian dilihat oleh sekalian penontonnya, kening gadis yang sedang memandang langit itu mengerut. Mengapa?

Seorang Nenek mulai maju ke depan. Berjalan tertatih mendekati batu karang tempat gadis itu duduk, memberanikan diri melakukannya. Melakukan yang berada di dalam pikiran semua orang, namun enggan dinyatakan. Melakukan satu hal sederhana, sekali untuk selamanya, padahal itulah yang membuat mereka penasaran. Apa yang membuat mereka meragu? Tak ingin terlibat? Tak ingin menanggung akibat yang belum tentu ada? Dan Nenek bungkuk itu pun melakukannya. Mengeluarkan kalimat tanya sederhana:

“Apa yang kau lihat, Nak?”

Setelah berhasil mengalihkan matanya dari langit, gadis itu menatap mata Nenek. Dalam-dalam. Ia menjawab pelan:

“Biru.”

Biru. Biru. Kata itu berdengung dari bibir ke bibir hingga akhirnya semua orang mendengarnya. Namun orang-orang kota itu merasa tak puas. Merasa dipermainkan. Bahkan nenek itu pun tak percaya. Bagi mereka jawaban gadis itu terlalu sederhana. “Ah, ia pasti mengada-ada, aku yakin ia menyembunyikan sesuatu”, begitulah kata semua orang.

Orang-orang kota yang mendewakan segala kerumitan. Yang bahkan pada dinding balai kota dipasang moto: “Bila Bisa Dibuat Rumit, Mengapa Tidak?” Dan juga berkat acara-acara kuis televisi lokal, sebuah kuis tentang bagaimana sebuah peristiwa menjadi spektakuler. (Kuis ini sederhana. Tugas penyelenggara adalah melontarkan sebuah peristiwa sederhana, misalnya seorang ibu kedapatan mencuri sebutir coklat. Kemudian permainan dimulai. Pesertanya terdiri dari dua kubu, kubu pencetus ide brilian –dalam kasus ini yaitu tentang apa, mengapa, bagaimana, kapan, dimana, dan bagaimana jika ia musti dihukum. Dan pihak satunya adalah kubu para ilmuan handal yang berusaha mementahkannya. Orang dengan ide paling spektakuler dan paling mustahil serta tak bisa dibantahlah yang menang.) Maka orang-orang kota ini berkembang menjadi orang-orang dengan kepribadian unik, yaitu menjadi bangga jika berhasil menjawab teka-teki. Kerna dengan demikian keberadaannya akan dipandang tinggi.

Kembali kepada Gadis yang duduk di atas karang dan mengatakan biru ini. Maka begitulah yang kemudian terjadi. Asumsi mulai bergulir. Mereka –berdasarkan asumsi-asumsi itu– mulai membuat teori. Bermacam ragam teori. Dari yang paling sederhana hingga paling nokturnal yang pernah terpikirkan. Dan gadis itu –berdasarkan asumsi yang berkembang– menjadi semakin terlihat berbahaya.

“Hey, perempuan ini mencurigakan, bukan?”

“Kau benar! Meski pakaiannya biasa saja, itu malah mencurigakan”

“Gelung di rambutnya juga mencurigakan!”

“Biru matanya juga bersinar mencurigakan!”

“Orang mencurigakan jangan dibiarkan berkeliaran.”

“Ya, Benar. Orang yang mencurigakan musti ditahan hingga mengatakan apa yang sebenar-benarnya kita yakin telah ia lihat!”

“Apa yang telah kau lihat, anak muda?”

“Biru.”

Dan begitulah yang terjadi. Gadis itu pun lantas didatangi oleh tiga orang petugas pantai, dipegangi kedua lengannya seakan pesakitan, hendak digelandang pergi. Gadis itu memandangi semua orang dengan tertegun. Namun ia hanya membisu.  Meski lengan dipegangi dengan erat, ia bergeming. Ia kembali mendongak ke langit.

“Kemana orang yang mencurigakan penduduk musti ditahan?”

“Kantor Walikota!”

“Tidak tidak! Kasus ini lebih pelik dari pada yang biasa terjadi di kota!”

“Kantor Gubernur!”

Demikianlah orang-orang setuju membawa gadis itu pergi ke kantor Gubernur, mengikuti jawaban dari salah seorang di situ, lelaki bercelana motif bunga kamboja besar dan bertopi koboi, yang teori berdasarkan asumsinya paling lengkap daripada yang lain. Asumsi dengan imajinasi paling tinggi.

Sementara ibu-ibu mulai panik. Mengumpulkan semua anaknya dengan histeris. Para ayah mulai meneriakkan perintah-perintah untuk berlindung. Para lelaki mendadak heroik, menarik kekasih mereka berlari jauh dari pantai. Telpon-telpon genggam ramai berdering. Pantai yang riang menjelma nyaring. Semua orang ketakutan. Semua orang takut pada hal-hal yang tak mereka mengerti, yang tak bisa mereka kendalikan.

Di antara kegaduhan, seorang bocah, yang sudah tak tahan lagi, yang kesakitan dan kelelahan oleh karena tarikan ibunya menyakiti lengannya, berteriak protes:

“Aduh! Mama, mengapa semua sebegitu panik? Apa langitnya mau runtuh?”

Suaranya yang bening terdengar membahana. Sejenak semua orang di pantai berhenti bergerak. Berhenti bersuara. Semua orang berusaha mencerna pertanyaan bocah itu. Dan tak lama, pantai pun gempar. Kocar-kacir. Gadis itu begitu saja terlupakan.

Gadis itu memandang semua kekacauan di depannya dengan tertegun. Kemudian lengking suaranya terdengar. Tertawa. Tertawa. Tertawa.

—————————-

Ia memang seperti itu. Jika tidak sedang berteriak melengking, maka ia akan selalu terlihat sedang memukul-mukulkan kepalanya ke tembok. Pelan-pelan, seperti sambil dihitung. Atau menyendok sarapannya dengan mata bermimpi. Atau melangkah pelan, dengan pilihan empat gaya berjalan sesuai suasana hatinya: marah, sedih, bahagia, atau ketakutan. Mungkin kau juga pernah memikirkannya, perempuan itu apakah sudah gila. Sesedih apapun orang biasanya tak akan sampai melukai diri sendiri seperti itu, atau mengekspos suasana hatinya dengan telanjang, terlihat oleh liyan. Kau cenderung memilih bersunyi-sunyi, bersepi-sepi untuk merayakan kesedihan. Tetapi ia tak pernah perduli dengan segala pemikiranmu. Ia hanya melakukannya. Sama seperti sebelah tanganmu yang kemudian merengkuh wajahku, dan yang lain memeluk pinggangku menarikku lebih dekat ke tubuhmu, setiap kali bibir kita saling kulum, atau saat lenganku kemudian melingkar di lehermu kala ciumanmu mulai menjenguk ke dasar hatiku. Kita bertiga, hanya sedang sama-sama tenggelam…

“Kira-kira apa yang sedang berkecamuk di kepalanya?”

“Oh, seringnya tentang sebuah kota kecil yang penuh asumsi, dari sebuah negeri bernama Laputa. Gadis itu pernah bercerita padaku.”

“Bercerita? Kau berhasil membuatnya bercerita..”

“Ya, sebulan lalu ia menceritakan yang menurutnya adalah pengalamannya sebelum dilahirkan kembali, sebelum menjadi langit biru.”

“Langit Biru?”

“Iya, katanya ia yang sekarang di sini ini bukan manusia, ia adalah langit biru. Selama kau setuju dengan pendapatnya itu, ia akan tenang seharian. Dan seminggu penuh ia bertindak kalem dan normal. Tapi akhir-akhir ini ia mengeluh sering bermimpi tentang kota kecil itu lagi, makanya jadi sering bertindak diluar kendali. Sama sekali tak bisa diajak komunikasi. Pikirannya seakan tidak di sini.”

“Jadi maksudmu, saat sedang berada di kota itu, maka yang ada di dalam kamar ini sekarang adalah sebuah langit biru?”

“Ha! Pintaar!”

“Aku bisa ikut gila jika terlalu lama di rumah sakit ini. Eit, tak usah bilang, iya, iya, aku ingat penjelasanmu kok. Ini Rumah Sakit Jiwa, bukan rumah orang gila. Jadi kenapa gadis itu jadi seperti itu?”

“Masih dalam penelitian. Kami juga terus mencari informasi melalui keluarga dan lingkungannya tinggal dan tumbuh besar selama ini. Kasihan gadis itu, semoga segera membaik.”

“Amien.. Mm.. Bu dokter?  Sudah larut, mari kita pulang.”

“Ke mana?”

“Ke sebuah dunia tanpa asumsi. Dunia tanpa apa-apa. Dunia di tengah malam yang panjang. Kita pulang ke rumah, istriku sayang.”

“Hm, iya, dunia di mana kita adalah kita. Yuk Mas.”

———————————–

Dalam tidurnya yang dipengaruhi obat penenang, bola mata gadis itu bergerak-gerak, keningnya berkerut.

“Ah di mana ini? Kemarin aku berhasil melarikan diri, naik perahu ke tengah laut. Menjauhi penduduk kota. Dan, sekarang aku masih berada di tengah laut. Eh, apa itu?“ Di hadapannya sebuah gelombang besar bergulung makin lama makin tinggi, bergerak menujunya. Setelah semakin dekat, tampaklah, bahwa gelombang itu rupanya terdiri dari ribuan manusia berwarna biru. Gigi-gerigi mereka runcing seperti hiu. Tubuh mereka licin. Dan berekor. Berenang serentak bersama gelombang. Makin dekat.  Makin dekat.

“Ah, sudah saatnya untuk terbang. Di mana sayapku?”

Dalam tidurnya, gadis itu bergolek-golek gelisah. Kedua tangannya mengepal, mengembang, sembari lengannya perlahan dibentang sejauh-jauhnya dari tubuh. Mengepak-ngepak. Bibirnya mulai tersenyum. Kemudian mulai tertawa. Keringatnya membanjir. Kelopak matanya membuka. Biru. Biru yang menenggelamkan. Suaminya tak tahu-menahu, tidur pulas di sebelahnya.

Bagi langit biru, ini hanya sebuah malam panjang yang lain. (Fin.)

 

———————

Puri Indah, 20 Oktober 2012

 

8 Comments to "Biru"

  1. Pratiwi  29 November, 2012 at 16:57

    Mas Chandra, terima kasih puisinya.. indah.. Langit biru..
    Mba Dewi, terima kasih mbaa
    Mba Endah, terima kasih banyak
    Mas JC, matur nuwun
    Mba Anastasia, iya tak ada yang suka feeling blue.. sangat aduh.
    Mas Anoe, sungguh sayang ya mas, semoga lain kali hasilnya bisa lebih baik, mohon dukungannya
    Mas [email protected], mimpi.. semua orang pernah dilanda mimpi, kerna mimpi adalah situasi alam bawah sadar kita. penyeimbang antara keinginan dengan kenyataan, masa lalu, kini, dan mendatang
    suwun-teman baruku atas apresiasinya ^_^)y aku senang sekalii.. salam kenaaal.
    Maaf saya masih belum bisa sering-sering buka Mail.. semoga.. Amien ^_^)

  2. Chandra Sasadara  13 November, 2012 at 20:15

    ku titipkan rindu kepada embun yanng hampir kering..
    ku bisikkan dendam kepada pagi yang hampir berlalu..
    ku tiupkan benci kepada dingin yg menggigit tulang..
    ku ingin mengenangmu Wahai LANGIT BIRU..
    meski dengan ingatan yang telah mulai kabur…

  3. Dewi Aichi  13 November, 2012 at 20:03

    Keren cerpennya….sangat menarik alur ceritanya wuih….

  4. endah raharjo  13 November, 2012 at 19:54

    Cerita surealis yg asyik

  5. J C  13 November, 2012 at 12:31

    Cerpen ciamik mengalir apik…

  6. Anastasia Yuliantari  13 November, 2012 at 12:23

    Aku suka warna biru, tapi ga suka feeling blue.

  7. anoew  13 November, 2012 at 12:10

    Menarik diikuti tapi sungguh sayang, saya tak bisa nangkap si Biru.

    Salam Kenal.

  8. [email protected]  13 November, 2012 at 11:17

    mimpi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.