Draupadi (9 – habis)

Chandra Sasadara

 

Pangeran Uttara bergegas masuk ke dalam balairung pertemuan para senapati dan prajurit yang baru pulang dari medan perang di selatan. Raja Wirata menyambut Yuwaraja negeri Mastya itu dengan suka cita. Kekhawatiran permaisurinya tidak terbukti. Kedatangan Pangeran Uttara dengan wajah berseri itu cukup bagi Raja Wirata untuk mengetahi bahwa perang di utara telah dimenangkan oleh prajurit Mastya yang dipimpim oleh anaknya. Raja mendekap anaknya, meluapkan kegembiraan.

Namun wajah berseri Pangeran Uttara hilang begitu melihat Kangka yang sedang aku bersihkan wajahnya dari bercak darah akibat dilempar gelas oleh Raja Wirata. Entah dorongan apa yang masuk dalam diri Pangeran Uttara, tiba-tiba yuwaraja itu bersujud di kaki Kangka. Semua orang yang berada di balairung terhenyak, tidak terkecuali Raja Wirata dan permaisurinya.

“Pangeran, siapa yang melukai wajah pangeran?” Suara Uttara bergetar. Kangka tidak bergerak meskipun tahu bahwa ucapan Pangeran Uttara itu ditujukkan kepadanya. Kalimat itu tidak membuat pambarep Pandawa yang sedang menyamar itu mengubah sikapnya. Ia hanya tersenyum sambil membalas dengan sembah seorang pelayan raja, seperti yang selama ini dilakukan.

“Uttara! Apa yang kamu lakukan? Mengapa bersujud di kaki pertapa yang memuji si guru tari secara berlebihan ini?” Raja Wirata membentak anaknya. Semua orang yang hadir di balairung tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan Pangeran Uttara.

“Ayah, siapa yang berani melukai wajahnya sampai  berdarah?” Pangeran Uttara mendesak Raja Wirata menjelaskan keadaan Kangka.

“Hi Uttara! Ada apa kamu ini? Tiba-tiba sujud di kaki Kangka dan sekarang mendesak ayahmu menjelaskan sebab luka di wajah sanyasin ini?” Wajah Negeri Mastya itu merah. Suaranya serak menahan geram.

“Ayah, Negeri  Mastya dan semua keturunan Wirata akan lumat dari akar sampai daun kalau sampai orang yang ayah kenal sebagai  Kangka ini marah.” Suara Uttara tersendat. Wajahnya tetap terbenam di lantai tepat di depan kaki Kangka.

Aku tidak bisa menduga apa yang akan terjadi kalau sampai Arjuna menyertai Pangeran Uttara masuk ke balairung dan melihat Kangka wajahnya berdarah. Arjuna tidak akan diam, ia akan marah di balairung. Beruntung yang menghadap raja hanya Pangeran Uttara. Keributan hanya terjadi antara anak dan orang tuanya.

Aku tetap membersihkan wajah Kangka, pura-pura tidak mengerti perdebatan mereka. Sedangkan Kangka tetap diam. Ia seperti menunggu kelanjutan dari penjelasan Pangeran Uttara kepada ayahnya. Meskipun tahu bahwa apa yang akan disampaikan oleh yuwaraja kepada ayahnya itu mengenai Pandawa . Kangka merasa tidak berhak untuk ikut campur.

“Apa maksdmu bahwa negeri kita dan keturunan ayah akan lumat? Apakah sanyasin ini akan mengutuk kita? Seperti kutuk Resi Kimindana terhadap Raja Pandu atau seperti kutuk Parasurama kepada Karna?” Raja Wirata berbicara panjang lebar dengan maksud mencibir Kangka.

“Ayah, sanyasin ini tidak akan mengutuk kita. Tapi kalau sampai empat saudaranya tahu bahwa Raja Negeri Indraprastha terluka maka habislah kita.”  Uttara begitu ketakutan sampai suaranya hampir redup.

“Apa kamu bilang, Raja Indraprastha? Yudhistira dan empat saudaranya telah dibuang di tengah hutan oleh Kaurawa dan sampai sekarang belum jelas di mana keberadaanya. Semua prajurit Hastinapura sedang mencari mereka.” Raja Wirata masih belum mengerti arah penjelasan Pangeran Uttara.

“Bukalah mata ayah, sekarang aku sedang bersujud di kaki Raja Indraprastha dan permaisurinya, Putri Pancala yang bernama Draupadi.” Aku segera bergeser, Pangeran Uttara berusaha meraih kakiku untuk dicium.

Sesaat setelah kalimat Pangeran Uttara selesai diucapkan, penguasa negeri Mastya itu menjatuhkan diri dan bersujud di kaki Kangka. Ratu Sudhesa berjalan pelan ke arahku dan mencium lututku.

“Oh Draupadi, hukuman apa yang pantas aku terima karena telah memperlakukanmu dengan buruk selama di Istana Negeri Mastya.” Permaisuri seperti menyesali semua tindakannya kepadaku selama aku menjadi pelayannya.

“Sudahlah Ratu Sudhesa, semua telah terjadi. Lagi pula aku juga membutuhkan tempat sembunyi dari mata-mata Doryudhana.” Aku berusaha melegakan ketakutan permaisuri Negeri Mastya.

*****

Tidak ada lagi penyamaran. Kami telah menjadi manusia bebas meskipun tanpa tempat tinggal. Tidak ada negara, bahkan tidak punya tanah yang bisa di tempati. Tidak mungkin pulang ke Pancala, negeri ayahku di mana aku berasal. Sebab para pendukung, prajurit, pendeta dan rakyat yang masih setia kepada Pandawa pasti akan mengikuti kami. Tidak mungkin juga Kaurawa akan mengijinkan kami pulang ke Hastinapura apalagi menempati istana Indrapastha. Untuk sementara aku dan lima suamiku masih di Negeri Mastya atas kebaikan Raja Wirata dan Pangeran Uttara. Penguasa Negeri Mastya itu berusaha menembus kesalahan dan membalas budi kepada Pandawa yang telah membantu mengusir Kaurawa.

Kami berkumpul di sasana handrawina, tempat makan raja.  Aku dan lima suamiku diundang makan oleh Raja Wirata. Hadir juga Ratu Sudhesa, Pangeran Uttara dan Putri Uttari. Walala telah kembali menjadi Bhimasena. Rambutnya telah diikat rapi, gelang prajurit yang selalu melilit lengannya juga telah dipakainya. Kangka telah menjadi Yudisthira, menyandang baju pangeran. Arjuna tidak lagi mengenakan baju perempuan. Ia telah kembali menghadirkan wajah rembulannya dan tingkah kesatria sejati. Nakula dan Sahadewa tidak kalah gagah. Suami kembarku itu telah kembali menjadi prajurit yang siap memasuki medan laga.

“Kami berhutang begitu banyak kepada Pandawa.” Raja Wirata mengawali pembicaraan setelah kami semua tuntas menyantap hidangan. Pandawa diam, mereka kelihatan masih menunggu kelanjutan dari ucapan penguasa Negeri Mastya itu.

“Aku telah bertekad untuk menyerahkan Negeri Mastya kepada Pandawa dan Putri Uttari untuk diperistri Arjuna.” Kalimat itu diucapkan oleh penguasa Negeri Mastya dengan suara mantap. Tidak ada ragu sedikitpun. Pandawa saling bertukar pandangan. Aku sendiri terkesiap mendengar kalimat itu, terutama penyerahan Putri Uttari untuk diperistri Arjuna. Aku mengerti bahwa Arjuna telah berjasa mengusir Kaurawa di medan perang, tapi Uttari adalah murid Arjuna dalam berlatih tari. Pantaskah guru menikahi muridnya sendiri. Aku cemburu? Entahlah.

“Raja Wirata yang kami hormati. Ini semua berlebihan. Sambutan dan perlindungan yang selama ini raja berikan kepada kami lebih dari cukup. Kami takut tidak bisa membalas kebaikan yang akan raja berikan kepada kami.” Jawaban Yudhistira itu seperti mewakili pikiran adik-adiknya, tepatnya mewakili aku istrinya. Entah mengapa aku seperti khawatir kalau Arjuna akan menerima Uttari sebagai istrinya.

“Tidak Yudisthira, kebaikan yang kami terima dari Pandawa harus kami balas dengan kemurahan kami. Pemberian kami ini tidak ada artinya.” Raja Wirata memaksa. Yudhistira memejamkan mata, ia sedang berpikir keras. Empat Pandawa yang lain menunggu keputusan Yudhistira.

“Raja Wirata, penyerahan Negeri Mastya akan kami terima sebagai penghargaan atas kebaikan raja. Tapi kami juga akan menyerahkan kembali kepada Raja Wirata.” Sepertinya Yudhistira menemukan jalan untuk menolak tanpa mengecewakan Raja Wirata. Penguasa Negeri Mastya itu tersnyum.

“Aku begitu mengagumi ketulusanmu Yudhistira. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Pandawa hidup tanpa tempat tinggal. Aku serahkan sejengkal tanah di Upaplaya agar Pandawa dan para pengikutnya bisa membangun kehidupan di sana.” Wirata tersenyum, berharap pemberiannya kali ini diterima oleh Pandawa.

“Baik Raja Wirata, kami terima kebaikan ini. Pandawa akan segera menuju Upaplaya. Adapun tentang Putri Uttari. Aku serahkan kepada Dhananjaya.”  Mata Yudhistira mengarah kepada Arjuna. Yudhistira sepertinya tidak mau memutuskan tawaran Raja Wirata tentang Putri Uttari. Semua diserahkan kepada Arjuna. Aku mengeraskan rahang, berharap Arjuna punya cara yang halus untuk menolak tawaran pernikahan dengan Putri Uttari. Menolak? Ya menolak, aku menginginkan hal itu. Arjuna pasti tahu itu.

“Aku tidak pantas menerima kebaikan ini Raja Wirata. Bukan hanya aku yang berjasa mengusir Kaurawa dari Negeri Mastya. Saudaraku yang lain juga ikut bertempur di medan perang bagian selatan, lagi pula Putri Uttari itu muridku.” Hatiku bersorak mendengar jawaban Arjuna. Kalimat itu memang ditujukan untuk mewakili Pandawa yang ikut dalam perang mengusir Kaurawa, tapi sebenarnya Arjuna telah mewakili perasaanku. Aku tersenyum.

“Jadi apa keputusanmu Arjuna.” Kali ini yang mendesak Arjuna bukan Raja Wirata, tapi justru Yudhistira.

“Aku bermaksud menikahkan Putri Uttari dengan anakku, Abhimanyu.” Arjuna menjawab tanpa ragu. Raja Wirata setuju, Putri Uttari juga tersenyum senang dan Ratu Sudhesa kelihatan bahagia. Tapi kebahagiaanku melebihi mereka semua. Arjuna seperti tahu apa yang aku pikirkan sebelum menjawab tawaran Raja Wirata.

*****

Pandawa sibuk mengirim utusan kepada para kerabat, sekutu dan para brahmana yang pernah dikenal sepanjang pengembaraan di hutan. Kami bermaksud mengundang mereka untuk menghadiri pernikahan Abhimanyu dengan Putri Negeri Mastya, Uttari. Semua keperluan telah dikirim dari Kotaraja Negeri Mastya ke Upaplaya di mana kami tinggal.

Tamu mulai berdatangan di Upaplaya. Raja Wirata datang lebih awal untuk menyambut para tamu. Krishna datang bersama Baladewa, Subhadra, Abhimanyu dan para bangsawan keturunan Yadawa seperti Satyaki. Indrasena, Raja Kasi dan Raja Saibya juga hadir diiringi oleh panglima perangnya masing-masing. Ayahku, Raja Pancala, adik-adikku Dristadyumna dan Srikandi juga datang. Mereka diiringi tiga pasukan perang yang dipimpin langsung oleh Srikandi.

Yang membuatku bahagia dan terharu  adalah kehadiran anak-anakku bersama rombongan dari Pancala. Tidak menyangka mereka sudah menginjak usia remaja. Tiga belas tahun tidak bertemu mereka. Hampir tidak ada yang aku kenali wajahnya, kecuali kalung yang melingkar di leher mereka. Melihat wajah-wajah mereka, aku menjadi khwatir Bharatayudha benar-benar terjadi. Sejak bebas dari hukuman buang yang kami jalani selama tiga belas tahun, semakin banyak para pertapa yang mengingatkan Pandawa agar bersiap menyambut perang besar itu. Bagaimana dengan anak-anak ini kalau perang benar-benar terjadi. Itu yang menghantui pikiranku.

*****

Pesta pernikahan Abhimanyu dan Putri Uttari telah selesai. Para tamu sebagian telah meninggalkan Upaplaya kecuali rombongan dari Dwaraka, Pancala dan Mastya. Mereka sengaja menunda kepulangan untuk membicarakan pengembalian hak Pandawa atas Negeri Indraprastha dan jajahanya yang telah direbut Kaurawa di atas meja judi. Bagiku, pertemuan para penasehat Pandawa itu tidak lebih dari upaya untuk mempersiapkan perang, sebab tidak mungkin Kaurawa akan menyerahkan Indraprastha secara damai.

Krishna duduk di samping Yudhistira dan Wirata, sedangkan Baladewa dan Satyaki duduk bersebelahan dengan ayahku, raja Drupada. Mereka semua duduk di kursi yang telah disediakan. Aku dan empat Pandawa lainya duduk dibawa untuk mendengarkan pembicaraan dan keputusan para penasehat. Hanya enam orang di atas kursi itu yang akan berbicara.

“Saudara-saudara pasti tahu bahwa Yudhistira telah ditipu oleh Kaurawa sehingga kehilangan mahkota dan negerinya. Istrinya dihina dan harus menjalani hidup sebagai buangan selama tiga belas tahun” Krishna menjadi pembicara pertama.

“Karena itu kita harus mencari jalan damai agar hak-hak Pandawa bisa dikembalikan. Tidak perlu ada darah yang tertumpah kalau damai masih bisa kita capai” Kalimat Krishna meluncur lembut dan menyenangkan. Namun aku tetap ragu. Ragu Kaurawa rela menyerahkan hak Pandawa. Aku yakin Krishna tahu itu.

“Aku seuju dengan apa yang disampaikan oleh Krishna, peperangan harus dicegah. Putra-putra Kunti harus mendapat haknya, tapi kehormatan Kaurawa juga harus tetap dijaga.” Baladewa angkat bicara. Kakak Khrishna yang biasa dipanggil dengan sebutan Balarama itu memang seperti memihak Pandawa, tapi kalimat terakhir yang ditujukan untuk menjaga kehormatan Kaurawa itu membuatku tidak mengerti. Mungkin tidak hanya aku yang tidak mengerti.

“Penting mengutus seseorang di antara kita untuk datang ke Hastinapura agar maksud Pandawa mendapat haknya atas Negeri Indrapastha dapat tercapai. Utusan itu harus bisa kerja sama dengan Bhisma, Dristarasta, Drona, Kripa, Widura dan Aswatthama. Kalau perlu utusan itu harus bisa melakukan pendekatan kepada Karna dan Sakuni.”  Baladewa melanjutkan usulannya. Tapi aku melihat beberapa orang penasehat yang hadir sudah mulai tidak enak duduk. Wajah Satyaki sudah mulai merah padam mendengar usulan Baladewa.

“Siapapun yang akan menjadi duta Pandawa. Tidak boleh mudah marah, apalagi memojokkan Kaurawa atau mengungkit-ungkit permainan dadu yang mengakibatkan hilalangnya Indrapastha dari tangan Pandawa.” Baladewa mengucapkan kalimat itu seperti tidak berada dihadapan Pandawa. Seolah-olah hilangnya hak Pandawa atas Indrapastha juga akibat kecerobohan Yudhistira di meja judi. Aku lihat ayahku, Raja Drupadi mencengkeram kainya. Ia marah, mungkin mengingat peristiwa yang menimpahku ketika dilecehkan di arena perjudian dan di hadapan tamu manca negara.

“Hi Baladewa! apa matamu sudah buta?!” Akhirnya yang aku khawatirkan terjadi. Bukan ayahku yang marah dengan ucapan Baladewa, tapi Satyaki. Kesatria Yadawa yang masih satu leluhur dengan Baladewa itu berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya merah, telunjuknya mengarah ke wajah Baladewa yang sebelumnya duduk di sebelahnya.

“Apa kamu tidak tahu bahwa permainan dadu telah diatur secara licik oleh Sakuni?” Satyaki menggeser tempatnya berdiri agar bisa membuat jarak dengan Baladewa. Aku melihat Krishna masih tetap duduk tenang, begitu juga Yudhistira. Hanya Bimasena yang duduk di bersebelahan denganku  yang mulai panas pantatnya.

“Apakah kelicikan macam itu masih pantas mendapatkan penghormatan dari Pandawa, para kesatria yang memegang dharma?  Ayo jawab  Baladewa!” Baladewa tetap duduk dikursinya, mungkin ia tahu watak Satyaki yang mudah marah.

“Apakah kamu akan menyembunyikan permainan dadu busuk yang telah diatur oleh Sakuni dan Kaurawa sehingga Pandawa kehilangan negeranya, Draupadi dihancurkan kehormatanya dan mereka harus hidup sebagai pengemis selama tiga belas tahun?” Kalimat Satyaki semakin tidak terkendali. Semua yang hadir mulai khawatir Baladewa akan terpancing amarahnya. Arjuna, Nakula dan Sahadewa masih tidak bergeming. Hanya Bhimasena yang sesekali bergerak-gerak seperti akan berdiri.

“Satyaki, kendalikan amarahmu.” Krishna akhirnya angkat bicara. Satyaki menghentikan ucapanya. Ia tidak lagi duduk di kusrinya yang bersebelahan dengan Baladewa tapi memilih duduk di belakang Arjuna. Duduk dibawa bersama kami, tanpa kursi.

“Raja Wirata dan Raja Drupada apa pendapatmu?” Krishna meminta pendapat Raja Wirata dan ayahku. Raja Wirata merupakan penasehat paling tua yang hadir dalam pembicaraan para penasehat Pandawa.

“Aku setuju, kita harus mengirim utusan. Mungkin Raja Drupada bisa mengutus pendeta Negeri Pancala yang cerdik  dan banyak kenal dengan para tetua Hastinapura.”  Ayahku mengangguk mendegar usulan Raja Wirata. Namun entah mengapa, aku tetap ragu dengan usulan tersebut. Kaurawa akan bergeming dengan sikapnya. Tidak akan mudah meminta Indrapastha dari tangan Dristarasta, mungkin raja buta itu tidak akan tegah mendengar keponakanya terlunta-lunta tanpa negara. Tapi Duryodhana, Sakuni, Karna dan Kaurawa lainya pasti akan menghalangi orang tuanya untuk mengembalikan Indraprastha kepada Pandawa.

Ayahku, Raja Drupada, Raja Wirata, Krishna dan orang yang hadir dalam pertemuan itu pasti bisa menduga sikap Kaurawa, Sakuni, dan Karna tentang pengembalian Indraprastha kepada Pandawa. Mereka tidak mungkin memilih jalan yag mudah dan damai. Jalan damai mungkin hanya ada dalam pikiran para penasehat Pandawa.

Bhisma, Kripa, Aswatthama, Drona dan Dristarasta mungkin juga ingin Kaurawa dan Pandawa berdamai. Mereka tidak akan rela melihat wangsa Bharata hancur karena perebutan negara. Tapi aku ragu, para tetua Negeri Hastinapura itu akan sanggup melunakkan hati Doryudhana, Sakuni, Karna dan Kaurawa lainya agar mau berdamai dengan Pandawa.

Satyaki benar, meskipun tidak tepat. Kalau pihak Pnadawa menunjukkan kemarahan kepada Kaurawa, itu hanya akan mepercepat pecahnya perang besar antar keluarga Bharata seperti yang telah diramalkan oleh para brahmana dan pertapa. Namun memilih jalan damai juga sesuatu yang mustahil dilakukan. Meskipun aku tidak mau kehilangan para suamiku, anak-anakku, kerabatku dan rakyat yang akan menjadi korban peperangan. Mengingat watak Kaurawa, Sakuni dan Karna, perang seperti sudah di depan mata.

Kalau kemungkinan damai antara Kaurawa dan Pandawa tidak dapat dicapai, mengapa tidak memusnahkan sumber perangnya yaitu Duryodhana, Sakuni, Dursasana dan Karna saja. Tidak perlu perang besar kalau mengorbankan beberapa orang bisa mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Bangsa Yadawa dan Wrisni saat ini hidup damai setelah kematian Sisupala dan Kamsa. Itu yang aku pikirkan. Tapi rasanya mustahil para Pandawa, Satyaki, Dristadyumna dan Srikandi akan mempertimbangkan cara itu untuk menghindari perang.

Perang adalah dunia laki-laki. Aku hanya perempuan yang tidak berhak berbicara ketika keputusan untuk menyatakan perang diambil.  Seperti nasib semua perempuan di negeri Hastinapura, Dwaraka, Pancala, Mastya dan lainnya yang menjadi sekutu Pandawa atau Kaurawa. Kami hanya bisa menunggu sampai korban berjatuhan dan kaum perempuan yang harus menanggung semuanya. Menang tidak ikut menikmati, kalah sudah pasti harus memikul semua akibatnya.

-Habis-

 

18 Comments to "Draupadi (9 – habis)"

  1. anoew  20 November, 2012 at 21:26

    Sip, mangstab! Semua bagian ayam saya suka dan terfavorit adalah DADA, kemudian PAHA. Kedua bagian itulah yang sering membuat gelap mata dan salah arah. Ada satu lagi bagian yang methuthuk, tapi pantangan buat saya makan yaitu, brutu.

    Ditunggu cerita hot hot tentang paha dan dada.

  2. Chandra Sasadara  20 November, 2012 at 17:26

    Kang Anoew : urusan HOT bisa diatur, lha wong wajane urung di angkat. pasti HOT. paha, dada, sayap, opo mane? cakar..wkwkwkwk.

  3. Chandra Sasadara  20 November, 2012 at 17:24

    Bu’ Dewi : wisanggeni ora ono pakeme di kitab Hamabharata..hahahahahaha. wis engko nulis wisanggeni edan

  4. anoew  20 November, 2012 at 16:35

    Kang Chandra, harap nanti di cerita berikutnya diselipkan adegan semriwing dan hot. Paha dan dada ayam goreng, yang disantap saat lapar, akan mengenyangkan jasmani dan rohani. Yang muluis-mulus dan bening seperti misalnya, air putih galon. Jangan lufa.

  5. Dewi Aichi  20 November, 2012 at 09:34

    Warakadah…kok tamat??? Request..Wisanggeni ahhh…yo mas yo…ya ya yaaaa…

  6. Chandra Sasadara  20 November, 2012 at 07:29

    Benar Bu Anastasia : begitulah perempuan di masa perang

  7. Chandra Sasadara  20 November, 2012 at 07:28

    Abhimanyu.. bagus juga Kang CJ

  8. Chandra Sasadara  20 November, 2012 at 07:25

    Elnino : Ki dalang sedang ada tanggapan di desa sebelah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *