[Serial tentang Karlina] Padang Strawberrry

Dian Nugraheni

 

Karlina tersenyum, melirik mesra pada pemuda di sebelahnya yang terang-terangan menunjukkan ekspresi khawatir. Pemuda yang diliriknya hanya tersenyum tipis, sedikit menggeleng, menyaksikan betapa keras kepalanya Karlina.

“Biar aku yang bawa mobil, Karlina…,” pinta sang Pemuda dengan suara pelan dan lembut, serasa ingin menaklukkan sikap Karlina yang semau gue.

“Nggak ahh, tugasmu sekarang adalah, duduk di sebelahku, temani aku, dan bantuin aku kalau ada apa-apa sama mobil ini. Biar aku yang bawa sampai sana…,” kata Karlina.

“Jalannya sempit, menanjak, berkelok tajam, Karlina. Kamu kan baru saja bisa bawa mobil,” sambung si Pemuda dengan suara penuh sayang.

“Percayalah, aku cukup smart meski baru saja bisa bawa mobil…,” jawab karlina.

“Depan tanjakan tinggi, masuk gigi satu, gas..!” sang Pemuda memberi aba-aba.

“Ahhh, tau akuuu, nggak usah gitu-gitu amat dehhh…diem aja, knapa…,” sahut karlina dengan tetap konsentrasi memegang kemudi di jalanan beraspal, sempit, menanjak dan berkelok itu.

“Masih berapa jauh..?” tak urung Karlina bertanya.

“Jauh.., masih jauh, jangan banyak tanya kalau gitu. Kamu sudah niat nyopir sampai puncak kan, biar aku jadi penumpangmu saja. Aku mau tidur ahh, ngantuk..,” kata sang Pemuda bernada patah.

Karlina merengut, diam, dan tetap pada niatnya, menuju puncak dan tak memeperdulikan, apakah sang Pemuda di sampingnya tidur beneran atau cuma pura-pura tidur.

Tak sia-sia mengemudi satu setengah jam tanpa putus asa bagi Karlina, karena di depannya sudah nampak bentangan bukit landai yang menghijau oleh tanaman rambat. Ahh, inikah padang Strawberry itu…

Sambil memelankan laju mobilnya, Karlina berkata, “Ehh, sudah sampai lho.., bangun dong.., parkir di mana nih..?”

Sang pemuda pura-pura menggeliat, bangun dari tidurnya, “ohh, sudah sampai yaa…, Ahh, ternyata Karlina hebat juga, baru bisa bawa mobil, sudah bisa nyopir sampai padang Strawberry….” Goda sang Pemuda.

Karlina pura-pura memberengut sedikit, “Sudah deh, jangan godain aku macam anak kecil begitu. Turun gih…, aku mau cari adik sepupuku dulu, aku sudah janjian sama dia…”

Karlina segera turun dari mobil, diikuti sang Pemuda, menuju kantor Pengelola Perkebunan Strawberry, dan adik sepupunya, Danu, mahasiswa Fakultas Pertanian, yang sedang melakukan penelitian di situ, segera menyambutnya, “Gimana Mbak, perjalanannya, asyik kan…aku bilang juga apa…aku tau selera mbak Karlina, paling suka kalau diajak main ke gunung, bukit… Nahh, sana, kalau mbak Karlina mau jalan-jalan ke kebun, petik aja sesuka hati…”

“Wahh, makasih banyak ya Danu…bayar nggak nih masuk kebun, petik Strawberry..?”

“Buat Mbak Karlina, enggak usah bayar, aku sudah bilang sama Bos, sudah diijinkan….”

“Baiklah, makasih banyak ya Danu…,” berkata begitu, karlina sambil menyambar tangan sang Pemuda yang sedari tadi hanya diam memperhatikan pembicaraaan Karlina dan Danu.

____________

Karlina berjalan cepat di antara pematang di padang Strawberry, meninggalkan sang pemuda di belakangnya. “Karlina, jangan terlalu cepat berjalan…,”

Karlina berhenti, menengok ke belakang, membalikkan badan, tersenyum lepas, sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, “Selamat datang di padang Strawberry…!!” Polahnya seperti anak kecil. Sang pemuda hanya tersenyum maklum, penuh sayang.

“Kamu ini, Karlina, bener-bener kayak anak kecil deh…,”

“Kenapa emangnya, nggak boleh yaa..?”

“Boleeehhh…Bolehhh, apa pun yang membuat kamu tersenyum, Karlina, lakukanlah. Bilang padaku kalau aku bisa lakukan sesuatu buatmu…”

Sang Pemuda tepat berada di depan Karlina, serasa tanpa jarak. Memeluk pinggang Karlina, dan menyentuhkan dahinya ke dahi Karlina. Karlina mengkeret, terdiam.

“Karlina, kenapa kita pakai blouse yang sama hari ini ya, nggak ada janjian kan kalau kita mau pakai blouse ini..,” kata sang Pemuda.

“Aku suka blouse putih ini..,”

“Dan blouse ini, blousenya cowok lho…,” kata sang Pemuda sambil memegang kerah leher blouse putih Karlina.

Karlina mengangguk, mukanya mendadak sedih dan berkabut demi menyadari, milik siapakah blouse putih yang sedang dikenakannya, “aku tau ini baju laki-laki, aku suka aja pakainya…”

“Oke…nggak masalah, sini, aku peluk kamu…”

Karlina hanya terdiam. Dahulu, sang Pemuda itu pernah menanyakan suatu hal pada Karlina, “Karlina, apa yang bisa aku lakukan buatmu, agar kamu bisa tersenyum, biar kamu bisa ceria, biar kamu bisa bahagia..?”

Dan waktu itu, Karlina menjawab, ” sebuah pelukan akan membuatku merasa tenteram dan nyaman…”

Dan pelukan itulah yang selalu ditawarkan oleh sang Pemuda buat Karlina, setiap saat.

Sang Pemuda yang jauh lebih jangkung ketimbang Karlina, merengkuh Karlina erat-erat sambil membelai rambut Karlina. Sejenak. Kemudian Karlina melepaskan diri pelan-pelan, menengadah ke atas memandang rimbunan sebatang pohon yang ada di dekat situ. Berusaha menahan air matanya agar tak terjatuh, tapi toh jatuh juga, berderai, tertahan, menyesakkan dada. Merasa nyaman dalam pelukan, tapi Karlina tau, ini hanya sementara….

“Karlina..,” sang Pemuda kembali ingin merengkuh Karlina, tapi Karlina menggeleng, menjauh. Sesekali menengadah ke atas memandang sesuatu.

Sang pemuda mendekat, melekatkan tubuhnya pada Karlina, “Kamu pendaki gunung, pasti tau pohon apa ini…?”

Karlina tersenyum dalam isaknya, Pemuda yang sedang memeluknya ini memang piawai menghiburnya, pandai mebuatnya tersenyum, dan kadang juga membuatnya tersanjung, “ini pohon Damar…”

“Oke, pohon Damar… Dedaunannya yang kecil berdesau, dia senang menyaksikan seorang perempuan cantik, perempuan paling cerdas yang pernah aku kenal, mengunjungi padang Strawberry ini…,”  Berkata demikian, sang Pemuda tetap memeluk Karlina. Karlina terkekeh kecil, sang pemuda menyusut air mata Karlina. Setelah itu, Karlina melepaskan diri dari pelukan sang Pemuda, berlari-lari kecil lebih ke atas bukit.

Sang pemuda kembali menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, “tunggu aku Karlina..!!”

Tiba di sebuah dataran kecil, sang Pemuda menggenggam tangan Karlina, “jalan pelan-pelan, sayang.., kenapa sih lari-lari melulu.., apa kamu nggak mau aku ada di dekatmu..?”

Karlina tersanjung, dia berada di atas sebuah batu, sehingga tingginya menyamai sang Pemuda, dilingkarkan kedua tangannya di leher sang Pemuda, diciumnya dahi sang pemuda, “Nggak.., aku suka kamu ada bersamaku, kamu baik, kamu care, peduli sama aku…”

“Karlina, sudah berapa puluh kali, ratus kali mungkin, aku bilang, aku jatuh cinta padamu..? Dan kamu cuek-cuek saja begini…?”

Karlina melepaskan pelukan di leher sang Pemuda, berpaling, berjalan pelan, “Karlina…! Tidak bisa begini, sayang, berhentilah…”

Dan kembali sang Pemuda sudah ada di samping Karlina, menghentikan langkahnya, memeluknya erat, dan mencium bibir Karlina dengan gerakan yang sangat indah. Karlina memejamkan matanya, kedua tangannya meremas punggung sang Pemuda. Hanya sejenak mereka berciuman, karena dari beberapa jarak nampak seorang pekerja kebun Strawberry berjalan ke arah jalanan di mana Karlina dan sang Pemuda sedang berdiri berciuman.

Karlina masih terkesima, ketika sang Pemuda berkata pelan, sambil tetap berpelukan, “Karlina, pipimu memerah…sumpah…indah banget…ha..ha..ha…”

Karlina, memberengut lagi, “kenapa sih mesti diketawain..?”

Sang Pemuda berhenti tertawa, tinggal senyumnya saja yang ada, “aku ketawa karenaaa…., kamu benar-benar kayak anak kecil…”

“Padahal aku sudah tua, begitu, kan..?” rajuk Karlina.

“Aku nggak bilang begitu, Karlina. Aku bahkan tak tau berapa usiamu, aku tak peduli. Yang aku tau cuma, aku jatuh cinta padamu, meski aku tau benar, kamu nggak ada rasa secuil pun jatuh cinta padaku…”

Karlina tiba-tiba bicara, “aku juga jatuh cinta padamu..”

“Hhhaaah..!! Jangan asal ngomong Karlina. Kau hanya menyenang-nyenangkan hatiku saja…Simpan kata-kata bohongmu itu, cukuplah aku yang babak belur karena terlalu jatuh cinta padamu, meski aku tau ini akan bertepuk sebelah tangan..,” kata sang pemuda sedikit marah dengan nada kecewa.

Karlina terhenyak, dihampirinya Pemuda yang berada beberapa jarak darinya, memeluknya, menempelkan pipinya ke dadanya, mendengar detak jantung yang sedang berpacu di dalamnya, “jangan marah…, aku cuma nggak bisa menjanjikan apa pun…”

Sang Pemuda menggeleng sedih, kembali memeluk erat Karlina, dan menangis, “jangan pergi, jangan tinggalkan aku Karlina…. Kalau kamu nggak ada di sini, aku bagaimana..? Please, Karlina…”

Karlina terisak-isak sangat sedih, dirinya pun tak tau harus berbuat apa.., mencintai, tanpa menjanjikan kebersamaan, main-main namanya. Bilang tidak jatuh cinta..? Nyatanya dia pun sedang jatuh cinta. “Aku tak tau, aku ingin terus ada di sini bersamamu, tapi banyak hal yang harus aku lakukan, dan itu bukan di sini…”

Sebentar kemudian, Karlina berkata, “hei, kemari, Sayang…” panggil Karlina pada sang Pemuda, yang segera mendekat. “Bedeng yang ini lucu deh, kok pakai dinomerin ya..?” tanya Karlina.

“Ohh, mungkin itu salah satu bedeng yang sedang dipakai penelitian adik sepupumu dan kawan-kawannya, biar nggak keliru, kan padang Strawberry ini luas banget, dan mahasiswa yang sedang penelitian di sini kan harus memantau perkembangan tanamannya…”

“Ohh, gitu yaa..” kata Karlina ceria, seperti lupa bahwa baru saja mereka berdua bertangis-tangisan.

“Sayang, lihat ini, bedeng nomer 1223…, itu nomer 1224, itu nomer 1226.., di mana 1225nya yaa.?”

Sang pemuda ikut-ikutan mencari-cari, “mungkin memang nggak ada 1225..he..he..he.., who knows.., ntar ditanyain ke adik sepupumu yaa…”

Karlina memeluk pinggang sang Pemuda, dan berkata, “Sayang, ingat yaa,suatu hari nanti, kalau kamu pergi kemari lagi, sama pacarmu, atau sama siapa pun orang yang membuatmu jatuh cinta, tetap ingatlah aku. Ingatlah bahwa kita pernah bersama di sini…, lihat, di dekat bedeng 1223…”

Sang pemuda berkata, pelan di telinga Karlina, “Karlina, kamu tau nggak, kamu itu keterlaluan, masak sih kamu tega bilang begitu sama aku..?”

Karlina berkeras, “aku cuma bicara fakta, setelah aku pergi, tak mungkin kamu akan sendirian, kamu pasti punya pacar lain…”

Sang pemuda melepas pelukannya, menatap tajam pada Karlina, “Nikahi aku, Karlina..!! Please..!”

Karlina menunduk, “Kamu yang nggak berani jalan sama aku Karlina.., aku tau, karena aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa…!”

Karlina terus menunduk memandang ke sepatu kestnya, “Tolonglah.., aku juga ga tau harus bagaimana..”

“Jangan pergi, kataku..!!” kata sang Pemuda.

“Aku ingin…, tetap di sini..,” kata Karlina lirih, tertahan.

Sang Pemuda menggeleng putus asa. Permasalahan yang tak berujung dan berpangkal ini, akan terus menjadi lingkaran yang tak menjanjikan penyelesaian.

“Karlina, sudah jam tiga sore, sebentar lagi kabut akan datang, pulang yok..?”

Karlina mengangguk, melompat kecil ke arah sang Pemuda, kembali mereka berpelukan, “jangan lupakan aku yaa..”

Sang pemuda menggeleng, memeluk Karlina erat, mengusap kepala Karlina penuh sayang. Sang Pemuda kembali memerahkan pipi Karlina dengan ciuman panjang di bibirnya.

Kabut, mulai datang, menari-nari gemulai, menepis-nepis tubuh sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

“Tak akan, Karlina.., tak akan bisa kulupakan kamu…”

_______________

Tigapuluh hari setelah Karlina bersama sang Pemuda pergi ke padang Strawberry, Karlina berkata, “Sayang, kemarilah, aku mau bilang sesuatu…”

Sang Pemuda mendekat dengan muka bertanya-tanya, “apa..? sudah tau kapan kamu mau pergi, begitu..? Cuma mau bilang itu kan..? Nggak usah kasih tau aku, Karlina, kau cuma menyakiti hatiku…”

Karlina terdiam, tak jadi mengatakan hal yang akan disampaikannya. Apa yang dikatakan sang Pemuda itu memang benar, dia akan menyampaikan bahwa dia siap pergi bulan depan.

Sang pemuda mendekat pada Karlina, menyentuh pipinya dengan lembut. Tak ada kata-kata. Karlina hanya memejamkan mata, menikmati belaian di pipinya. Diraihnya tangan sang Pemuda, dan diciuminya. Karlina tau pasti, sebentar lagi, ini semua akan tak ada…

____________

Tiba saat kepergian Karlina, sang Pemuda berkata lewat pesan yang disampaikan lewat telpon genggamnya, dalam sebuah sms yang singkat, “Pergilah Karlina, bila kau harus pergi, tapi aku tak mampu menemuimu, apalagi menghantarkan kepergianmu.., aku tak akan mampu mengatasi kesedihan diriku sendiri.. I love You, Karlina, Bintang Terangku…”

____________

Karlina memandang buku passport warna hijau di tangannya, menengok sebuah stempel di dalam lembarannya. Sebuah Stempel yang mengisyaratkan, ijin memasuki negara Amerika Serikat, negara sang adidaya, katanya. Negara yang membuatnya saat ini benar-benar tanpa daya, antara tak ingin pergi, dan harus pergi….

Pesawat dari perusahaan Korean Airways segera akan menerbangkannya ke negeri antah berantah itu. Sebelum boarding, ditulisnya pesan terakhir buat Kekasihnya, “Sayang, handphoneku akan segera mati dan nggak bisa digunakan sepeninggalku dari Indonesia. Aku cuma mau bilang, Suatu hari, tolong jemput aku, di Amerika..Kutunggu kau di Amerika ketika musim Gugur tiba…”

_______________________________

Dalam pesawat yang menerbangkan Karlina ke Amerika Serikat, Karlina hanya mampu diam, dan hanya diam. Air mata yang tak mau berhenti, setia menemani perjalanan Karlina. Hatinya runtuh, berserpihan. Jiwanya mengambang, tak tau di mana tempat yang seharusnya dipijaknya. Perjalanan ini bukan keinginannya sendiri. Perjalanan ini adalah suatu keharusan, dan Karlina pun belum juga mengerti, akan menjadi bagaimana dia setibanya di negeri asing itu.

Dipasangnya headset di telinganya, sebuah alunan lagu, beratus-ratus kali diputarnya, selama dua puluh dua jam perjalanan, Dear God, dari Avenged Sevenfold …

…Dear God

the only thing I ask of you

is, to hold him when I’m not around

when I’m much too far away

we all need that person who can be true to you…

 

But I left him when I found him

and now I wish I’d stayed

“cause I’m lonely

and I’m tired

I missing you again…ohhh no…

Once again…

 

Salam Padang Strawberry…

 

Virginia,

Dian Nugraheni,

Selasa, 15 Agustus 2012, jam 12.11 malam….

(Terimakasih banyak Avenged Sevenfold dengan Dear God yang sudah inspiring me, buat nulis Serial ini, dan juga terimakasih banyak buat seorang kawan yang menemani aku lewat chating, ketika aku nulis, he2…)

 

22 Comments to "[Serial tentang Karlina] Padang Strawberrry"

  1. J C  18 November, 2012 at 21:15

    Asik banget bacanya. Alur cerita dan dialognya apik…

  2. Linda Cheang  18 November, 2012 at 13:11

    membaca saja, lah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.