Gomen Nasai (ごめんなさい)

Dewi Aichi – Brazil

 

Sebagai “gaijin” atau orang asing, adalah sangat penting belajar mengenai bagaimana tatá cara kehidupan dalam masyarakat suatu bangsa/negara yang ditinggali. Contoh ringan adalah cara mengucapkan maaf di masyarakat Jepang. Dulu, di awal saya bertempat tinggal di Jepang, saya mempunyai “sensei” atau guru yang mengajari banyak hal tentang etika masyarakat Jepang.

Pernah diajarkan tentang bagaimana memakai kimono, bagaimana membuat cha (teh hijau) dan cara meminumnya, bagaimana duduk bersimpuh dan lain-lain. Salah satu yang akan saya sampaikan di sini adalah cara mengucapkan maaf ala Jepang.

Mengucapkan maaf di Jepang bukan hanya sekedar minta maaf dan dimaafkan dan juga bukan sekedar soal pendidikan , maaf oleh bangsa Jepang merupakan salah satu pilar sosial budaya Jepang dan seni. Oleh karena itu dibutuhkan ketrampilan dan prakteknya.

Dalam banyak kasus, prakteknya, bangsa Jepang tidaklah cukup meminta maaf secara lisan. Tetapi harus disertai mempraktikkan ke dalam bahasa tubuh, menunjukkan postur/posisi tubuh yang benar dan tekuk tubuh yang benar. Ini di Jepang disebut dengan “ojigi”. Dalam arti adalah pertobatan dan menghormati orang lain. Selain pertobatan dan penghormatan, “ojigi” juga bisa dipraktikkan dalam menyambut tamu, mengucapkan terima kasih dan mengucapkan selamat tinggal.

Berjabat tangan atau “akushu” seperti yang bangsa Indonésia lakukan pada umumnya, belum terbiasa dilakukan oleh bangsa Jepang. Dengan cara membungkukkan badan, di Jepang lebih umum dilakukan. Demikian bangsa Jepang menunjukkan rasa kerendahan hatinya.

Bentuk atau ucapan permintaan maaf oleh bangsa Jepang dibedakan menjadi beberapa di antaranya adalah Gomen nasai (ごめんなさい) dan Sumimasen (すみません). Format ini dipraktikkan oleh segala umur dan segala status sosial.

Ada juga yang diucapkan spontan kepada keluarga , teman akrab seperti kalau di Indonésia misalnya mengucapkan “ eh maaf atau aduh sorry”, di Jepang bisa seperti ini ucapannya, Gomen (ごめん), Suman (すまん), Sumanai  (すまない) e Warui (わるい). Misalnya pada saat tidak sengaja menginjak kaki teman atau siapapun, dengan spontan biasanya mengucapkan ucapan itu.

Ada lagi dua format dalam mengucapkan permintaan maaf,  Shitsuree Shimasu dan Moushiwake Arimasen. Ada banyak cara untuk meminta maaf dalam bahasa Jepang. Tetapi, sebagai orang asing, saya harus belajar bagaimana menggunakan dengan benar setiap ekspresi , karena sangat tergantung pada situasi dan kasus.

Untuk mengakhiri tulisan saya kali ini, akan saya jelaskan semampu saya, setiap kata dan pengucapan agar bisa sampai ekspresinya.

  • Gomen nasai (ごめんなさい)

Yaitu sebuah ucapan paling umum diucapkan oleh masyarakat Jepang. Dalam situasi informal, kekeluargaan, atau pertemanan , bisa juga dengan cara mengucapkan “gomen” “gomen ne” dan “gomen yo”. Untuk kasus seperti ini tidak perlu melakukan “ojigi” atau membungkukkan badan.

Contoh kalimat: Gomen nasai. Daijoubu desu ka? ( ごめんなさい. だいじょうぶです?) Artinya adalah ,”Maafkan saya, anda baik-baik saja?”

Atau : Gomen, kondo harau dakara (ごめん, 今度 払う だから)

Artinya, “maaf, segera akan saya bayar!”

 

  • Sumimasen (すみません)

Yaitu untuk mengekspresikan saat meminta maaf karena mengganggu atau minta permisi. Ini sedikit formal. Sebenarnya ucapan ini merupakan multiguna, bisa digunakan pada saat ingin meminta perhatiannya, saat permisi mau mengatakan sesuatu, bahkan saat mendapatkan hadiah/kado juga bisa menggunakan kata ini.

Contoh kalimat: Sumimasen. Wakarimasen deshita(すみません.分かりませんでした). Artinya, “Maaf, Saya tidak mengerti”

Sumimasen. Kore wa ikura desu ka?( すみません. これは いくらですか?) Artinya “maaf , itu harganya berapa?”

 

  •  Shitsurei shimashita (失礼 し まし た)

Bisa diartikan seperti please, permisi, saya mohon, maafkan saya, tetapi ini dalam bentuk formal. Bisa diucapkan di saat mau memasuki rumah orang lain. Disaat murid memasuki ruang guru, atau karyawan memasuki ruang kerja atasan. Bisa diucapkan di saat keliru dalam mengucapkan kata-kata.

Contoh kalimat: Shitsureishimashita ga, watashi wa ima nokoshiteiru (失礼しましたが 私は今残している). Artinya, “Maafkan saya, karena harus pergi segera”

  • Moushiwake gozai masen (申し訳 ござい ます ん)

Ucapan ini sering sekali saya dengar di tempat kerja saya dulu. Biasanya supervisor bagian saya melakukan permintaan maaf kepada atasannya, menggunakan ucapan ini. Hal ini merupakan kebiasaan yang perlu dicontoh, di saat melakukan kesalahan dengan menunjukkan penyesalannya. Pada kesalahan yang sepertinya sangat besar, tidak ada maaf, maka paling tepat menggunakan ucapan ini, sebagai bentuk rasa hormat juga. Saat mengucapkan ini disertai melakukan “ojigi”.

Contoh kalimat: Gomeiwaku o shite okake, hontōni mōshiwakearimasen.( ご迷惑をしておかけ, 本当に申し訳ありません.) Artinya : “Maaf atas ketidaknyaman ini”

 

Domo arigatou gozaimau, mata aimashoo

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

39 Comments to "Gomen Nasai (ごめんなさい)"

  1. Dewi Aichi  20 February, 2013 at 20:51

    Siap mas Fidelis, semoga nanti kalau aku pulkam lagi kita bisa bertemu…ngopi bareng, sambil ngobrol. boleh ajak Ririn he he he..

    Iya benar, aku jarang buka facebook, makanya aku ngga tau ada pesan, sekali buka, udah terlambat, ya sudah…

  2. Fidelis R. Situmorang  20 February, 2013 at 20:18

    Hai, Mbak. Kabar baik. Semoga Mbak Dewi juga ya.
    Iya, Mbak, sayang banget nggak ketemu kemarin. Aku tulis pesen lho ke inbox fb Mbak Dewi, tapi waktu di Indo jarang buka fb kali ya… Mudah2an di waktu yang lain bisa ngopi bareng ya… Hehehehe

  3. Dewi Aichi  4 February, 2013 at 21:56

    Ahh…ngga asik, kemarin pas aku ke Jakarta, susah menghubungi si pentulis romantis ini, apa kabar mas Fidelis?

  4. Fidelis R. Situmorang  12 December, 2012 at 01:23

    Asyik nih, bisa banyak tahu tentang budaya Jepang dari Mbak Dewi…

  5. Dj.  24 November, 2012 at 01:21

    Dewi Aichi Says:
    November 20th, 2012 at 06:13

    Komen 7 Pak DJ ha ha ha ha….yoben yo, rapopo to wakakaka….yang gomen itu Lani tuh, kebanyakan sambel terong….kalau sedang gomen , baca komen Pak DJ bisa gaswat, langsung ngakak ha ha ha ha…tambah sobek deh.
    ————————————————-

    Mbak DA…
    Lain kali kalau yu Lani sedang Gomen..
    Jangan ditanya ” Gomen ya”…???
    Mana dia bisa jewab, mau buka mulut saja sakiiiit…!!!
    Hahahahahahahaha….!!!

  6. Dewi Aichi  24 November, 2012 at 00:02

    Alvina he he…maksudnya apa ya, watashi wa Jogja bimbang itu masih ada…..kirim pesan atau gimana maksudnya?

  7. Dewi Aichi  24 November, 2012 at 00:00

    Hennie, iya ini aku sekedar mengingat apa saja yang aku peroleh saat di sana…kultur ataupun budaya dari bangsa lain, yang berbeda dengan bangsa Indonesia itulah yang sering aku amati. Di Indonesia sendiri sebenarnya terlalu banyak , beragam budaya dari berbagai suku, sungguh sangat menarik.

  8. Alvina VB  21 November, 2012 at 21:08

    Dewi-san: 私はジジョグジャBimbang Itu Masih Adaでメッセージを残した

  9. HennieTriana Oberst  21 November, 2012 at 20:38

    Dewi ternyata ada berbagai cara membungkuk.
    Waktu di Beijing ada seorang teman dari Jepang. Waktu dia undang makan di rumahnya dia mengajarkan cara menyelupkan Sushi ke saus dengan benar. Aku suka mempelajari berbagai kebiasaan multi kultural seperti ini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.