Julukan

Anwari Doel Arnowo

 

Juluk atau julukan bisa berarti memberi nama kepada orang lain  di samping nama yang telah ada, boleh saja dengan itikad mengejek seperti si Pelit atau menyatakan kasih sayang layaknya si Gendut. Tulisan hebat M.H. (EMHA)  Ainun Nadjib hari ini di harian Kompas tanggal 17 Nopember, 2012,  di halaman 7 berjudul Kaum Muda Masa Depan Bangsa, saya menjumpai banyak julukan kepada bangsa dan Negara kita, Indonesia.

Antara lain ada julukan Bangsa Nekat yang dengan cara lucu digambarkan oleh EMHA, saya kutip: orang berani merundingkan rencana korupsi bahkan ketika air wudu belum kering, dengan cara keterlaluan. “Tolong 10 persen dikasih para kiai, 10 persen dihibahkan ke pesantren. Jelasnya nanti kita tahlilan di Hotel X tanggal sekian jam sekian…” Yang dimaksud para kiai adalah anggota DPR tertentu, terkait proyek yang akan disunat. Pesantren adalah pejabat Kementerian jalur proyek itu. Tahlilan maksudnya pertemuan. Idiom apel malang dan apel washington kini beralih menjadi “islami”. Dan seterusnya, etcetera. Saya bisa tertawa hahahaha dengan sedih hati. Anda kalau membaca semuanya pasti seperti saya hahahaha juga. Tidak lupa bersedih hati juga. EMHA ini juga nekad dengan menuliskan kata nekat karena kata yang menjadi lema adalah TEKAD. Yok opo sih, Cak Nun? Hahaha lagi deh … Apa yang ditulis Cak Nun ini banyak sekali benarnya mungkin hanya satu kata ini saja yang saya komentari.

Yang saya tidak terlalu senang adalah julukan bahwa Indonesia adalah sebuah Negara dengan sebutan “negeri mayoritas Muslim”. Meskipun hal itu benar beberapa puluh persen tetapi tidak seratus persen, karena di dalam tulisan yang sama ini ada bagian, saya kutip lagi: Kalau tertangkap korupsi langsung pakai peci, kerudung, bahkan jilbab. Begitu duduk di kursi pengadilan, menenteng tasbih di jari-jemarinya. Hahahaha lagi doongngng …

Lalu julukan apa yang sesuai atau yang saya kehendaki? Saya ingin pada suatu saat nanti ada komentar yang isinya kira-kira begini: Orang Indonesia adalah orang-orang yang taat beribadah dengan cara bekerja keras dan mencari nafkah dan selalu menambah pengetauannya di dalam ilmu-ilmu keduniaan untuk meningkatkan kualitas kehidupan bersama di dalam Negara Republik Indonesia. Orang Indonesia, sesuai dengan tekad dan niat pendiriannya untuk memproklamasikan satoe Repoeblik Indonesia pada tahun 1945, karena menyadari adanya sekian perbedaan dari suku, bahasa dan adat, kepercayaan serta agama yang ada di Noesantara. Sesuai alam takdir, perbedaan ini tidak dapat diingkari dengan aksioma atau dalil manapun karena itu merupakan kenyataan yang amat jelas. Apakah keinginan saya itu wishful thinking, ya?

Di bagian lain EMHA juga menulis tentang Suharto:  Suharto lengser. Ia hidup tenang, menyiram kembang di Cendana dan tidak minta suaka ke luar negeri, tidak didemo di RT-RW-nya. …… Ia tahu tak akan pernah diadili. Hanya dikutuk, dibenci dan dirasani. Sebab kebanyakan orang Indonesia ingin menjadi dia, ingin menggantikan dan memperoleh laba, keenakan dan kenikmatan yang ia peroleh 32 tahun…. Betulll ituuu….. Banyak yang begitu dan itu ada juga di kalangan para pejabat tinggi atau biasa yang ada sekarang.

“Weleh weleeehhh….“ kata Sentilun ! Bagi yang belum tau Sentilan Sentilun adalah acara parodi dan humor di salah satu stasiun Televisi yang diperankan oleh Slamet Rahardjo sebagai Setilan dan Butet Kartaradjasa sebagai Sentilun.

 

Anwari Doel Arnowo

17 Nopember, 2012

 

10 Comments to "Julukan"

  1. Anwari Doel Arnowo  20 November, 2012 at 10:19

    Kehabisan julukan
    Anwari – 2012/11/20

  2. ah  20 November, 2012 at 02:40

    wingi korupsi.. saiki jilbaban, kemarin ketangkap maling, sekarang megang alquran.. julukannya apa pak?

  3. Lani  19 November, 2012 at 23:03

    CAK DOEL : mbuntut sampeyan waelah………wahahaha……..wakakkaka………tp melu prihatin kok spt ini yak??? nelangsa

  4. Lani  19 November, 2012 at 23:00

    1 KANG ANUUU : mau tau julukanmu apa kang???

  5. Dewi Aichi  19 November, 2012 at 22:09

    Ha ha ha…kalau Cak Nun bertemu Butet memang bikin ha ha ha…

  6. Itsmi  19 November, 2012 at 19:09

    Bukan buanga lagi itu tetapi mereka merasa negara itu milik merekalah…. kebanyakan orang kaya juga begitu….

  7. Dj.  19 November, 2012 at 16:55

    Cak Doel….
    Memang benar adanya,apa yang cak Doel tulis.
    Bisa dibaca dan dilihat gambar, bahkan video di media masa.
    Hanya sangat disayangkan,, ( walau Dj. bukan orang islam ), tapi nama
    islam sudah mereka oreng-oreng dengan tingkah laku mereka yang memuakan.
    Seolah islam identik dengan korupsi dan kejahatan.
    Padahal tidak ada agama yang mengajarkan yang demikian.
    Mereka bangga bisa membantu Kiyayi atau menjt dari hasilkorupsi mereka.
    Bahkan jelas jelas ketahuan, malah memakai Jilbab, peci dan tasbih, saat di pengadilan.
    Tapi sebelumnya….???
    Benar-benar sangat disayangkan….
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  8. J C  19 November, 2012 at 11:47

    Hahaha…pak Hand, dia ngomong keras gitu justru BUANGGA lho…

    Pak Anwari, saya tidak berkomentar banyak dah…hahaha…sudah Panjenengan tulis dan kupas semua dalam artikel…hahaha…

  9. Handoko Widagdo  19 November, 2012 at 10:45

    Kemarin di Sukarno Hatta, baru saja saya punya pengalaman yang mirip. Seorang bapak yang duduk di sebelah saya di lounge Garuda (saya sangat yakin dia anggota DPR/D) sedang tipon dan marah-marah. Dia mengatakan bahwa proyek itu sudah di mark-up 65% mengapa teman-temannya masih belum mau ketok palu. Dia bertilpon keras sekali tanpa takut/malu orang-orang di lounge dengar apa yang dibicarakannya.

  10. anoew  19 November, 2012 at 10:44

    Emha sendiri juga dijuluki Kyai Mbeling haha.., sama halnya dengan Josh Chen yang dijuluki Kyai Buto.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.