Orang Madura? Dhe’ remma kabereh

Ary Hana

 

Ini tulisan lama yang saya simpan sampai lumutan. Tulisan yang dihasilkan dari ngobrol basah dengan beberapa kerabat Madura. Siapa tahu berguna dibagi di sini.

Ke Madura ya? Cari apa sih, itu kan pulau kering dengan penduduknya yang gampang naik darah. Bisa-bisa kamu dicarok! Begitu komentar seorang kawan ketika mendengar niat saya ke Madura. Saya hanya tertawa. Puuhan kali ke Madura belum pernah saya merasakan diajak carok. Apa mungkin kalau saya nggak salah apa-apa tiba-tiba ada orang  melemparkan clurit ke muka saya? Aneh-aneh saja! Mirip prejudice..

Etnis Madura memang dipenuhi dengan stereotip yang miring. Ketika awal peresmian Suramadu, orang Madura dituduh mencuri baut jembatan sepanjang 5,5 km itu. Kok bisa ya? Soalnya orang Madura dikenal sebagai pengumpul besi tua. Padahal setelah ditelusur, yang diambil bukan baut yang nempel di jembatan besi yang susah dicopot, tapi besi yang teronggok dan belum digunakan untuk pembangunan jembatan.

Orang Madura juga dianggap jorok. Mayoritas pendatang Madura di Surabaya adalah pedagang. Mulai dari penjual soto, sate, rujak cingur, dawet, rujak gobet, tahu campur, semanggi, dan lain-lain. Namanya juga penjual keliling yang menjinjing makanannya di atas kepala atau bermodal mendorong gerobak, soal cuci mencuci sayur atau wadah jualan ya asal-asalan. Apalagi para pedagang Madura ini pakaiannya tampak lusuh, kumuh, bukan jenis pakaian yang dikenakan ke pesta-pesta. Halah!

Pedagang asal Madura juga banyak ditemukan di pasar tradisional Surabaya seperti Pasar Wonokromo, Keputran, atau Wonokitri yang memang terkenal kumuh alias becek dan dipenuhi sampah. Bukannya mereka membuka gerai di mall atau hypermarket.

Yang nggak enak nih, orang Madura dikenal licik. Jika Anda membeli buah salak, maka salak yang Anda coba adalah yang manis. Tapi salak yang Anda bawa pulang sepet rasanya. Belum lagi urusan timbangan yang suka dicuri. Nampaknya dia menimbang tepat sekilo salak, rupanya sekilo kurang dua ons. Karena anak timbangannya telah dimainkan.

Logat orang Madura juga kerap jadi bahan lawakan di teve-teve. Seperti yang selalu dimainkan oleh tokoh Kadir dan Doyok dengan dialog kemadura-maduraan. Padahal, saya yakin para etnis Madura tidak sedang melawak ketika bercakap-cakap. Tapi itulah, orang menganggapnya lucu dan menjadikannya obyek penderita.

Berbagai prasangka buruk atas etnis Madura ini membuat beberapa kawan yang keturunan asli Madura enggan mengakui rasnya. “Bukan, saya bukan Madura. Saya lahir di Surabaya.” Hahaha!

Berbekal stereotip ini puluhan kali saya melawat ke negeri Pak Sakerah. Kadang hanya  beberapa hari, kerap sampai seminggu. Mirip kebiasaan pesiar ke pasar kaget di Tugu Pahlawan saja. Selama perjalanan saya mengamati hal-hal apa saja yang berkaitan dengan watak, sifat, dan perilaku etnis satu ini. Saya sempatkan juga ngobrol dengan orang yang mirip kerabat untuk menguatkan dugaan dan pengamatan saya. Maka inilah hasilnya:

1. Mayoritas lelaki yang tinggal di Madura itu perokok. Kemana pun, dimana pun, dalam kondisi apapun baik di dalam bus, angkot, feri, perahu, rumah makan, selalu saya melihat lelaki Madura dengan rokoknya. Langka saya temui lelaki Madura yang tak merokok. Rokok yang disukainya adalah jenis kretek, entah itu merk satu dua tiga, merek alat buat menjahit, hingga yang mirip nama bar (topamas). Baunya… alhamdulillah haleluyah, membuat orang susah bernafas.

2. Perempuan yang tinggal di Madura itu jenis pesolek yang senang menunjukkan  perhiasan emasnya. Kalau dia memiliki lima cincin emas, maka kelimanya akan dipajang di kelima jarinya. Jika dia memiliki tiga kalung emas, maka ketiga kalung itu akan dikenakannya sekaligus di lehernya. Renteng-renteng. Gaya ‘jreng’ begini, kata kawan, erat hubungannya dengan gengsi dan harga diri. Dengan memakai semua emasnya seolah dia ingin mengatakan berasal dari keluarga orang  berada, atau punya suami yang dapat dibanggakan.

Saya sempat geleng-geleng kepala saat beli es campur di alun-alun Kota Sumenep. Penjualnya sepasang suami istri. Si istri memakai tiga cincin emas besar plus kalung yang rantainya panjang. Apa nggak takut kalau dirampok orang?

3. Orang Madura bangga dengan gelar hajinya. Itu sebabnya mereka selalu menyisihkan penghasilannya untuk ongkos naik haji. Begitu bangganya akan haji ini membuat orang Madura melakukan pesta besar-besaran menjelang keluarganya berangkat naik haji dan sepulang dari haji. Seluruh warga kampung diundang, rumah dihias seindah-indahnya. Biasanya dengan tulisan ‘Menyambut kedatangan Haji Sobirun tralalalala dari tanah suci.” Jangan heran jika bea pesta penyambutan ini lebih besar dari ongkos naik haji sendiri. Setidaknya ini saya tahu dari kerabat yang menikah dengan orang Madura. Ongkos naik haji Rp 60 juta, pesta penyambutan hajinya Rp 100 juta lebih. Wahwah!.

4. Orang Madura suka pesta, terutama pesta pernikahan. Inilah pesta terbesar setelah pesta hari raya haji yang berhubungan dengan penyambutan jemaah haji pulang. Pesta pernikahan begitu wah, sampai harus memotong sapi. Ongkos pesta yang begitu besar, untungnya ditanggung semua keluarga besar. Jadi tak hanya dibebankan kepada keluarga si calon istri atau suami. Tapi semua keluarga besar terlibat. Kekerabatan antar orang Madura memang kuat. Pada saat pesta, para undangan akan berlomba-lomba memakai pakaian terbaik mereka dengan semua perhiasan emasnya. Inilah ajang pamer sekaligus kekerabatan.

5. Etnis Madura itu sangat menjunjung harga diri. Prinsip ngapotek tolang abongo poteh mata atau lebih baik berputih tulang daripada berputih mata mereka junjung tinggi. Itulah sebabnya jika harga diri mereka terluka, caroklah penyelesainnya. Apa saja yang mengganggu harga diri itu? Di antaranya tanah dan istri. Jadi jangan coba-coba mengambil tanah mereka secara licik, karena akan mereka pertahankan sampai mati. Dan jangan berani menganggu perempuan (istri, anak) mereka, karena matilah jawabannya.

6. Orang Madura sangat menghormati orang yang dituakan, diantaranya kiai, guru, dan orangtua. Bahkan apa kata kiai itulah kata mereka. Ingat kasus Nipah, ketika  petani di Nipah mempertahankan tanah mereka yang diambil paksa pemerintah untuk dibuat waduk? Pada saat itu para petani yang dipimpin KH Alawi mempertahankan tanahnya mati-matian. Banyak petani yang menjadi korban karena ditembaki polisi dan tentara.

7. Etnis Madura itu suku pengembara dan pantang menyerah menghadapi susahnya kehidupan. Nggak percaya? Jika Anda berjalan-jalan ke pelosok Nusantara, bahkan ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, bahkan Australia, pasti akan menemukan orang Madura. Orang Madura memang ada dimana-mana, umumnya mereka bekerja pada sektor ‘kotor’ yang enggan dijamah suku lain seperti rop-orop atau pengepul barang bekas hingga pedagang. Mereka meninggalkan kampung halamannya demi mencari penghidupan yang layak. Pulau Madura memang dikenal tandus. Bagi para pengembara ini berlaku moto kumpul ora kumpul sing penting mangan.

8. Orang Madura umumnya tak suka makan sayur. Mereka terbiasa makan daging, baik daging kambing maupun sapi. Sementara orang Madura kepulauan lebih suka mengonsumsi ikan. Ketidaksukaan makan sayur ini bisa kita lihat dari makanan khasnya seperti soto Madura, sop kaki, sate Madura, atau kikil. Bahkan gado-gado ala Madura berisi campuran kentang, lontong, sedikit kecambah dan kubis, serta bakso. Mungkin hal ini berhubungan dengan tanah mereka yang kering sehingga cuma bisa ditanami ubi kayu dan jagung.

9. Orang Madura di kepulauan (bukan di pulau Maduranya) ternyata sangat ramah dan membantu. Mereka tak akan membiarkan seorang perempuan berjalan sendirian tanpa tempat tujuan. Begitu tahu Anda berjalan seorang diri, segera mereka menawarkan rumahnya untuk tempat menginap. Dijamin tak ditarik bayaran, bahkan mereka juga akan menjamu  Anda dengan kopi dan makan gratis.

10. Orang Madura itu memiliki kemampuan seksual yang luar biasa, karena mereka memiliki jamu kuat yang disebut ramuan Madura dan tongkat ali. Kekuatan di atas ranjang ini sudah kondang dimana-mana. Selain itu perempuan Madura juga pandai menjaga bentuk tubuhnya dengan aneka jamu Madura. Kalau sambang pulau sapi, jangan lupa beli lulur Madura yang khas itu.

Wah, masih banyak lagi stereotip etnis satu ini. Anda pun bisa menambahkannya sendiri. Namun percayalah, selama perjalanan tak pernah saya jumpai mereka mengenakan pakaian kebesaran ‘pak sakerah’nya. Kaos putih bergaris-garis hitam/merah dengan setelan kemeja dan celana komprang warna hitam itu hanya ditemukan saat acara karapan sapi. Itu pun sapinya didatangkan dari Podai atau Pulau Sapudi. Akhirul kata, saya harap jangan ada yang tersinggung karena tulisan ini.

 

85 Comments to "Orang Madura? Dhe’ remma kabereh"

  1. Lani  23 November, 2012 at 05:44

    AH : mmgnya ada penampak-anmu di FB to?

    AL : AH kuwi wedog wpt kita2 ini ora sarungan………..kkkkkkkkk

  2. Alvina VB  22 November, 2012 at 04:17

    Wah ini sich stereotype org Madura ya bung AH? gak semuanya begitu lah… kawan saya org Madura gak gitu kok, dia gak demen pakai perhiasan, orgnya simple banget, mungkin krn dia lahir di luar p. Madura dan dia sering bilang dia bukan org Madura, ttp org Ind, he..he….

  3. ah  22 November, 2012 at 02:37

    wis omong kabeh to? saiki tak lembur nggarap buku sik

    lani: mangkane duwe fesbuk, ga perlu takon ciri2

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.