Tragedi Pasfoto Ijazah

Condro Bawono

 

– sebuah renungan –

Anak saya (kelas 3 SMA) menunjukkan beberapa lembar pasfoto hitam-putih berikut CD file foto, hasil kerja seorang fotografer“ (yang katanya) profesional”, yang pada 16 Oktober 2012 “memborong proyek pemotretan pasfoto” untuk ijazah para siswa di sekolah anak saya.

Saya hampir tidak percaya bahwa itu foto anak saya. Dalam belasan detik, saya sungguh-sungguh “pangling”. Setelah mata saya berusaha mengadaptasi, barulah saya mengakui, yang ada di foto itu memang anak saya. Apa yang tadi membuat saya “pangling”? Antara lain adalah karena wajah di foto itu “kotor” pada wilayah pipi, seputar mulut ke arah dagu dan rahang, serta dahi. Di samping itu, wilayah antara pipi dan hidung terlalu cerah, seperti panu (sejenis penyakit kulit) yang lebar. Ada “garis melintang” terlalu cerah pula di tulang dahi antara alis kiri dan alis kanan. Sepintas, kombinasi antara wilayah “kotor” dan wilayah “panu lebar” itu menyebabkan wajah anak saya berkesan “horor”. Pada versi cetak, kesan “horor” lebih terasa ketimbang yang nampak di gambar 1A.

Ijazah merupakan dokumen sangat penting yang bersifat SEKALI SEUMUR HIDUP. Pasfoto ijazah, sekali ditempelkan, dicap tiga jari, distempel sekolah, maka ia menjadi pasfoto yang juga bersifat SEKALI SEUMUR HIDUP. Pasfoto ijazah TIDAK BISA DIPERBARUI seperti pasfoto KTP yang setiap 5 tahun sekali diperbarui. Maka, memotret untuk pasfoto ijazah haruslah ekstra hati-hati. Ini bukan cuma soal kualitas teknis-fotografi, namun juga soal “psikologi personalia”. Pasfoto ijazah bisa mempengaruhi nasib si pemilik ijazah dalam melamar pekerjaan. Meskipun si pemilik ijazah berwatak baik, kalau fotonya nampak “seram” atau “beraura kriminal”, maka bisa saja ia tidak diterima. Ironi yang mestinya tak perlu terjadi, lamaran kerja ditolak hanya gara-gara kesembronoan fotografer.

Saya mencoba berempati pada sang fotografer “(yang katanya) profesional” itu. Saya tidak langsung menghakimi, karena mungkin saat memotret di lokasi dia mengalami kesulitan teknis, entah dari sikon lokasinya, entah dari faktor kameranya. Saya bertanya dulu pada anak saya: “Kamera apa yang digunakan oleh sang fotografer? ”. Anak saya menjawab: “Nikon D90”. Weladalah … lha itu sama dengan kamera milik saya, maka seharusnya sang fotografer bisa membuat pasfoto yang lebih baik daripada saya. Sebab, dia kan “sudah profesional memborong proyek pemotretan massal”, sedangkan saya cuma fotografer “amatir”. Dengan kamera yang sama, seharusnya hasil jepretannya minimal berkualitas sama dengan jepretan saya.

Tapi, masih mencoba berempati, saya bertanya lagi pada anak saya : “Lokasi pemotretannya outdoor ataukah indoor? ”. Pertanyaan itu muncul karena saya ingat, kalau outdoor maka pencahayaan memang tidak 100% di tangan fotografer. Ada pengaruh sinar matahari yang kecerahannya berubah-ubah, apalagi saat banyak awan lewat di langit antara matahari dengan lokasi pemotretan. Ada pula angin yang menggerak-gerakkan dedaunan pepohonan, sehingga bayangannya membuat wajah obyek menjadi gelap-terang-gelap-terang. Memotret outdoor memang butuh kerja ekstra dalam hal mengubah-ubah setting kamera, untuk disesuaikan dengan cahaya alam yang sering berubah-ubah dalam hitungan menit atau bahkan detik. Namun anak saya menjawab : “Indoor, di dalam ruangan.”. Weladalah … kalau indoor, sudah pasti cahaya lebih konstan, dan untuk event pemotretan pasfoto ijazah, di dalam ruangan sudah pasti tidak ada lampu-lampu yang “timing” nyala-matinya tak-terduga oleh fotografer (tidak seperti pada pertunjukan teater atau panggung musik). Kalaupun ada terobosan cahaya matahari dari luar (melalui kaca jendela atau lubang ventilasi), maka seorang fotografer “(yang mengaku) profesional” semestinya sudah mengantisipasi dengan memasang “penghalang cahaya luar”, misalnya kain, kertas, triplek, atau apapun. Pendek kata, untuk pemotretan indoor, apalagi dalam rangka membuat pasfoto ijazah, pencahayaan harus bisa dikendalikan 100% oleh fotografer, sehingga tidak boleh terjadi kamera “lupa disesuaikan settingnya”.

Masalah lain : Ada bayangan hitam PEKAT di background, yaitu bayangan telinga dan rahang, serta bayangan hitam pekat di leher, yaitu bayangan dagu dan krah-baju bagian depan. Dengan kamera digital, semestinya “kesalahan” ini tidak perlu terjadi, karena setiap kali selesai menjepret, fotografer bisa mengecek melalui layar display kamera. Kalau ada bayangan hitam pekat (“shadow”), foto bisa dihapus, kemudian jepretan diulang dengan setting dan cara lain, sampai memperoleh gambar yang lebih normal. Pada era kamera analog dahulu (kamera “film”), bayangan hitam pekat di belakang telinga atau kepala bisa dimaklumi, karena belum ada teknologi display seketika, terlebih bila pemotretan tidak menggunakan lampu studio (hanya menggunakan kamera dan blitz). Namun, pada era kamera digital sekarang, bayangan hitam PEKAT semacam itu (lihat gambar 1B) seringkali tidak bisa dimaklumi, terlebih bila pemotretan juga menggunakan bantuan lampu studio. Sebab, melalui setting tertentu, lampu studio bisa meminimalisir terjadinya bayangan hitam pekat. Maka, dengan kamera digital plus lampu studio, terjadinya bayangan hitam pekat PADA PASFOTO IJAZAH dapat dikategorikan sebagai KESALAHAN FATAL. Telinga, rahang dan kepala tidak boleh membayang hitam pekat di background. Sedangkan di leher, jika pun sangat terpaksa harus ada bayangan dagu dan krah-baju, tingkat kepekatan bayangan itu haruslah sangat minim, alias bayangan LEMBUT bergradasi halus (“shade”, BUKAN “shadow”).

Dalam soal bayangan hitam pekat di pasfoto ijazah tersebut, saya masih mencoba berempati dengan menebak-nebak kesulitan teknis sang fotografer “(yang mengaku) profesional” itu pada saat pemotretan. Barangkali dia memotret hanya dengan kamera dan blitz internal. Barangkali dia tidak menggunakan lampu studio. Barangkali dia juga menggunakan blitz external namun langit-langit ruangan terlalu tinggi, atau cukup rendah tapi tidak berwarna putih, sehingga teknik “flash bouncing” (untuk meminimalisir bayangan hitam pekat) tidak mungkin dilakukan. Barangkali pula dia sudah menggunakan peralatan komplit, namun terjadi kerusakan sehingga pas giliran anak saya pemotretan hanya menggunakan kamera dan blitz internal. Atau barangkali pula dia mengalami kesulitan teknis lain yang di luar tebak-tebakan saya.

Maka untuk memastikan, saya pun bertanya kepada anak saya, dan jawaban anak saya sungguh mengagetkan ………. TERNYATA sang fotografer “(yang mengaku) profesional” itu MENGGUNAKAN LAMPU STUDIO, sepasang, kanan-kiri, DAN lampu studio itu berfungsi normal (tidak rusak), selalu menyala pada setiap jepretan, sejak giliran siswa yang pertama sampai yang terakhir dipotret ………. Artinya, SEHARUSNYA (jika setting semua peralatannya benar), pasfoto anak saya tidak perlu ada bayangan hitam pekatnya (setidaknya di background) ………. Penasaran, saya bertanya: “Bagaimana dengan foto teman-temanmu? ” … Anak saya menjawab: “Beberapa teman sekelas fotonya juga demikian, telinganya membayang hitam PEKAT di background.” … Nah … Saya khawatir jangan-jangan kejadian itu bukan cuma pada pasfoto beberapa siswa sekelas anak saya saja, melainkan malah pada semua siswa dari semua kelas …

Masih coba berempati pada sang fotografer “(yang mengaku) profesional memborong proyek pemotretan massal” itu, dalam hati saya menebak-nebak lagi: Barangkali sepasang lampu studio yang digunakannya adalah yang termasuk “murahan”, berkemampuan rendah dan berkualitas buruk. Maka saya bertanya lagi pada anak saya : “Apakah kamu ingat merek dan seri lampu studio itu? ” … Dan kembali saya kaget karena anak saya menjawab: “Lampu studionya merek E-PRO, serinya lupa, tapi wujudnya besar, pokoknya E-PRO seperti yang sering dipakai motret pengantin di gedung-gedung besar itu lhooo ….” ……….  Weladalah, sekali lagi WELADALAH … sepengetahuan saya, lampu studio jenis itu, di Magelang, diakui termasuk lampu studio “kelas atas”, “mahal”, berkemampuan tinggi dan berkualitas baik … Dikombinasikan dengan kamera Nikon D90, jika settingannya semua peralatan itu benar, maka kalau “hanya untuk membuat pasfoto” SEHARUSNYA hasilnya SEMPURNA.

Sekedar perbandingan, lihat gambar 2A dan 2B, itu merupakan hasil jepretan saya untuk pasfoto KTP anak saya (29 Agustus 2012), juga dengan kamera Nikon D90, dikombinasi dengan sepasang lampu studio “kecil”, “kelas bawah”, “sangat murahan” dan hanya berteknologi “AC Slave” (saya tidak tega mencantumkan merek dan serinya di renungan ini). Gambar 2A menampakkan sebaran pencahayaan yang lebih normal, namun tidak menghilangkan “dimensi” wajah obyek, tidak ada wilayah “kotor”, tidak ada “panu lebar”, sehingga tidak muncul kesan “horor”. Pada gambar 2B, tidak ada bayangan telinga, rahang ataupun kepala di background, bahkan sekedar “shade” (bayangan LEMBUT) pun tidak ada. Di wilayah leher, bayangan dagu dan krah-baju ada namun sangat LEMBUT dengan gradasi halus. Harga lampu studio “murahan” milik saya kira-kira cuma sepersepuluh dari harga lampu studio “kelas atas” milik sang fotografer “(yang mengaku) profesional” tadi. Maka, dengan guyonan matematis, seharusnya “beliau” bisa membuat pasfoto yang berkualitas sepuluhkali lebih baik daripada pasfoto buatan saya. Namun realitanya tidak demikian, dan itu sungguh ironis.

Penasaran terhadap ironi “pasfoto buruk dari peralatan mahal” tersebut, saya coba menelusuri kemungkinan penyebabnya dari “mata obyek”. Saya lakukan “cropping” terhadap pasfoto anak saya, untuk menukik pada wilayah mata saja. Nah … ketahuan … perhatikan gambar 1C … pada mata nampak ada 3 (tiga) “titik / bulatan putih” pantulan sinar dari arah seberang-frontal eye-level. “Titik putih” yang di tengah, saya tidak tahu itu sumber cahayanya lampu apa. Tetapi 2 (dua) “titik putih” yang di “kanan-kiri” itu PASTI sumber cahayanya adalah kedua lampu studio. Gambar 1C menginformasikan bahwa letak tingginya lampu studio tidak tepat, dalam hal ini “kurang tinggi”, sehingga sinarnya bisa terekam/terpantul di bola-mata obyek yang menatap lurus ke depan. Akibatnya, untuk jenis pasfoto ijazah (bukan untuk foto “seni”) mata obyek menjadi “jelek” karena “ternodai” oleh terlalu banyak pantulan sumber cahaya. Karena letak dan arah lampu studio merupakan kombinasi antara “hanya setinggi eye-level” dengan “dari seberang-frontal wajah obyek”, ITULAH SEBABNYA (menurut dugaan saya) lampu studio yang mestinya berguna untuk mencegah timbulnya bayangan hitam-pekat telinga-rahang di background malah berlaku sebaliknya : menimbulkan bayangan hitam-pekat. Juga ITULAH SEBABNYA (menurut dugaan saya), lampu studio yang mestinya berguna untuk meratakan sebaran cahaya malah berlaku sebaliknya : memunculkan wilayah “kotor” dan wilayah “panu lebar”.

Sekedar perbandingan lagi, perhatikan gambar 2C … pada mata nampak hanya ada satu pantulan sumber cahaya, yaitu cahaya dari flash eksternal yang saya gunakan sebagai trigger bagi lampu studio. Meskipun pemotretan menggunakan 2 (dua) lampu studio “kanan-kiri”, keduanya tidak “merusak mata obyek”, tidak terpantul di mata obyek, kendati mata obyek menatap lurus ke depan. Ini berhasil karena letak lampu studio saya set “lebih tinggi”, kira-kira satu-setengah kali tinggi mata obyek. Dengan setting letak demikian pula maka lampu studio BERHASIL menunaikan tugasnya : mencegah timbulnya bayangan hitam-pekat di background pasfoto ijazah, serta mencegah timbulnya wilayah “kotor” dan wilayah “panu lebar” pada wajah obyek. Saya tidak menilai bahwa pasfoto buatan saya sudah sempurna. Dengan lampu studio “murahan”, tentu masih banyak kekurangan di pasfoto buatan saya. Namun, setidaknya, saya merasa berkewajiban moral untuk menyajikan bahan renungan, bahwa : fotografer “(yang mengaku) profesional” dengan lampu studio “kelas atas” BELUM TENTU menghasilkan pasfoto ijazah yang lebih baik ketimbang fotografer “amatir” dengan lampu studio “kelas bawah”.

Masih penasaran … CD file foto produksi sang fotografer “(yang mengaku) profesional memborong proyek pemotretan massal” itu saya masukkan ke laptop untuk melihat isinya. Saya berharap CD itu berisi file RAW (NEF) atau setidaknya file JPG berdimensi pixel Large (4288 x 2848 pada Nikon D90), supaya konsumennya memiliki kesempatan lebih luas untuk melakukan editing foto. Kalaupun “sudah editan”, saya berharap file itu berdimensi pixel tidak lebih kecil dari ukuran Medium (3216 x 2136 pada Nikon D90). Dimensi pixel paling kecil (Small) pada Nikon D90 adalah 2144 x 1424. Saya juga berharap, selain file “asli” atau setidaknya “editan asli berdimensi pixel lumayan besar”, CD itu juga sudah memuat file “editan siap cetak” pasfoto hitam-putih ukuran 3×4 (standar pasfoto ijazah).

Dan apa yang muncul di layar laptop? … Weladalah … lagi-lagi WELADALAH … CD itu ternyata cuma berisi SATU file foto BERWARNA (lihat gambar 1D), dengan dimensi pixel CUMA 1784 x 1308, lebih kecil dari standar Nikon D90 yang paling kecil (Small) pun. Artinya, file itu bukan cuma “sudah editan tapi tidak tuntas” (masih ada bayangan hitam pekat, “kotor” dan “panu lebar”), namun juga berdimensi pixel lebih kecil dari standar terkecil Nikon D90 alias “croppingan tidak sempurna” (belum siap cetak untuk 3×4), sekaligus juga masih berwarna (belum siap cetak untuk hitam-putih) alias MEREPOTKAN KONSUMEN karena saat hendak cetak ulang pasfoto 3×4 hitam-putih konsumen harus mengedit dulu dari “bahan baku yang BURUK”. Saya sebut “bahan baku yang BURUK”, karena selain sulit editingnya (bagi kebanyakan konsumen awam), jika konsumen minta tolong editor foto tentu akan kena BIAYA LAGI, biaya yang mestinya TIDAK PERLU dikeluarkan.

Tadi, ketika saya masih dalam tahap melihat versi cetaknya pasfoto, walaupun kasatmata kualitas fotonya “buruk untuk standar ijazah”, saya masih berusaha menaruh empati (dan simpati) pada sang fotografer, dengan menebak-nebak kira-kira kesulitan teknis apa saja yang dia alami DI LOKASI PEMOTRETAN sehingga hasil jepretannya “jauh dari standar pasfoto ijazah”. Namun, sekali lagi NAMUN … setelah melihat isi CD, hilanglah empati (sekaligus simpati) saya pada sang fotografer “(yang mengaku) profesional memborong proyek pemotretan massal” itu. Sebab, CD itu diproduksi DI RUMAH/KANTORnya, tentu dalam sikon yang relatif lebih leluasa dan rilex dibanding sikon di lokasi pemotretan. Mestinya cukup waktu dan sumberdaya baginya untuk melakukan editing dalam rangka menyajikan “bahan baku yang tidak merepotkan konsumen” sekaligus “produk akhir berupa file 3×4 hitam-putih siap-cetak”, TETAPI ITU TIDAK DILAKUKANNYA. Artinya, sang fotografer telah menikmati uang hasil memotret tetapi TIDAK BERDEDIKASI pada profesinya sendiri, ber-ETOS KERJA RENDAH, “ASAL JADI”, cari enaknya sendiri, dan dalam tataran tertentu bisa MENCEMARKAN nama baik fotografer profesional pada umumnya. Jika jumlah “fotografer asal jadi” semacam ini semakin banyak, jangan salahkan jika kemudian masyarakat lebih memilih memotret sendiri untuk pasfoto ijazah anak-anak mereka.

Anak saya juga sedikit-banyak sudah belajar beberapa teknik memotret DAN “teknik” bersikap / memperlakukan obyek pemotretan. Untuk memotret dalam rangka membuat pasfoto, anak saya juga sudah mengerti bahwa obyek harus “dipersiapkan” semaksimal mungkin. Rambut harus ditata rapi, posisi kepala jangan sampai miring, pandangan mata harus ke arah lensa kamera, mata tidak boleh “kedhep”, krah baju harus rapi dan simetris kanan-kiri, kancing baju tidak ada yang lepas, dasi tidak miring, badan tegak, dsb dsb dsb. Di samping itu, anak saya juga sudah “terdidik” dengan etika “guyub antar fotografer”, saling membantu di lokasi pemotretan (meskipun belum pernah saling kenal secara pribadi) saat melihat fotografer lain mengalami kesulitan.

Nah, saat sesi pemotretan untuk pasfoto ijazah di sekolahnya itu, anak saya melihat bahwa sang fotografer tidak “mempersiapkan” obyek (para siswa) dengan baik. Satu per satu, siswa disuruh memposisikan diri menghadap kamera, namun tanpa “dipersiapkan dulu” (posenya, tampilan pakaiannya, rambutnya, dsb) oleh sang fotografer langsung di-”1-2-3-jepret” … Anak saya mencoba memahami proses itu sebagai wujud “kesulitan sang fotografer dalam berkomunikasi dengan obyek”, maka kemudian anak saya berinisiatif untuk membantu sang fotografer “mempersiapkan” para obyek berikutnya (siswa-siswa yang belum terlanjur difoto). Namun … apa yang terjadi? Bukannya ekspresi terima kasih dari sang fotografer karena sudah dibantu, melainkan justru tatapan mata tidak-senang dan ekspresi wajah sinis yang diberikan oleh sang fotografer … Demikian cerita anak saya …

Dari cerita itu, saya semakin bisa membayangkan karakter sang fotografer “(yang mengaku) profesional” itu, yakni karakter “merasa sudah paling pinter” dan “tidak butuh masukan dari orang lain”. Jika karakter ini dikombinasi dengan rendahnya dedikasi dan etos kerja “asal jadi” serta sikap “cari enaknya sendiri” tadi, maka KLOP-lah sudah KESIMPULAN-nya, yaitu bahwa : Pengurus SMA tempat anak saya bersekolah sudah SALAH PILIH Fotografer untuk pasfoto ijazah para siswa.

Anak saya sudah beberapa kali saya ajak bergaul dengan komunitas fotografer di Magelang, sehingga kenal / tahu cukup banyak fotografer di Magelang. Saya tanya dia : “Apakah kamu kenal sang fotografer pasfoto ijazah itu? Apakah dia pernah kamu lihat ikut bergabung di perkumpulan-perkumpulan fotografi di Magelang? Apakah dia pernah kamu lihat memotret di acara-acara lain di Magelang? ” … Jawabnya: “Tidak … kemungkinan besar ia berasal dari luar Magelang.” … Saya menarik nafas agak lega … syukurlah kalau dia bukan orang Magelang … Sebab, dengan demikian, sebagai penutup renungan ini, saya memberanikan diri untuk menegaskan kepada para Pengurus Sekolah di Magelang, bahwa: Fotografer di Magelang pun banyak yang mampu memotret untuk pasfoto ijazah dengan hasil baik dan LAYANAN MEMUASKAN … maka, mengapa harus memilih fotografer dari kota-kota lain nun jauh di sana padahal hasilnya dan layanannya “memuakkan”?

 

Demikian renungan ini, semoga bermanfaat.

Salam Jepret, Salam Budaya … :)

 

Magelang, 6 November 2012

mBilung Sarawita (nama internet)

Condro Bawono (nama asli)

Toekang Potrek “Pak Ndong” (nama profesi)

 

===== Catatan :

Saya sudah minta anak saya untuk lapor pada Pengurus Sekolah, begini : “Pak/Bu … untuk ijazah saya kelak, saya tidak mau menggunakan pasfoto hasil pemotretan massal kemarin … saya akan memilih pasfoto hasil jepretan Bapak saya sendiri saja … kualitasnya lebih baik, gratis pula ! … ”

===== ;)

 

25 Comments to "Tragedi Pasfoto Ijazah"

  1. Dani  23 February, 2014 at 09:29

    Saya juga baru belajar.. namun saya mencoba berkomentar.
    Menurut saya antara foto 1 dan 2 .. sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi masih bisa diperdebatkan.
    Foto 1 :Menurut cerita di atas adl menggunakan peralatan yg sgt baik. 2 lampu. Tapi tdk diceitakan apakah pk softbox ato tidak, kl lihat gambar tidak pk softbox, sbb bayangan terlalu keras. Mungkin hny pk payung putih, ato setelan lampu terlalu kuat. Kalo melihat sudut bayangan, mk lampu pasti terlalu dekat dgn kamera, atau objek terlalu dkt dgn background. Ini biasa terjadi jk ruangan sempit.
    Bagusnya foto ini adalah tajam dan terang.
    Foto 2: Kelemahan ada di pencahayaan. Bayangan terlalu mengganggu detil dari wajah. Terutama di pipi, mata, dan leher. Halus memang, tapi bayangan ini selalu dihindari untuk pasfoto. Karena target utama pasfoto adalah jelasnya wajah orang, dan bukan keindahannya. Pd foto ini mungkin hny menggunakan 1 buah lampu. Bisa dihasilkan dengan lampu internal kamera, jika posisi kamera mendatar dan gambar di-crop. Jd 1 lampu harus di atas kamera. Hasilnya adalah bayangan yg merata di bagian bawah tonjolan. Seperti hidung, pipi, mata, dan leher.
    Bagusnya foto ini hanya pada bayangan yang soft.
    Kesimpulan: Saya cenderung mengambil jalan tengah, dan ber baik sangka. Bagi saya mempebaiki foto 1 lebih mudah. Dengan software bayangan yg menurut penulis mengganggu bisa dihilangkan. Mungkin sang fotogafer lupa atau tdk cukup waktu untuk memperbaiki semua foto-fotonya.

  2. Dani  23 February, 2014 at 09:08

    Saya juga baru belajar.. namun saya mencoba berkomentar.
    Menurut saya antara foto 1 dan 2 .. sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi masih bisa diperdebatkan.
    Foto 1 :Menurut cerita di atas adl menggunakan peralatan yg sgt baik. 2 lampu. Tapi tdk diceitakan apakah pk softbox ato tidak, kl lihat gambar tidak pk softbox, sbb bayangan terlalu keras. Mungkin hny pk payung putih, ato setelan lampu terlalu kuat.

  3. mBilung Sarawita  26 January, 2014 at 16:05

    @ rie : siap grak … majuuuuu jalaaaan …

  4. rie  21 January, 2014 at 22:02

    Ikut nimbrung ya …
    Kebetulan saya masih belajar, sebelumnya mohon maaf kalau cara pandang saya agak berbeda..
    Untuk foto iJasah memang perlu extra hati-hati, maka semua sisi harus diperhatikan…
    Kalau melirik gambar 1 dan 2, malah saya kurang pass dengan keduanya, saya lebih melirik kepada hasil cetak klise yang pure black and white, karena hasil cetak seperti ini akan terlihat perbedaannya jika ijasah di foto copy, kontur wajah akan terlihat lebih jelas dan tidak ber bercak, akan berbeda jika foto yang di edit “grayscale” seperti diatas akan menghasilkan copy yang lebih buram, sebagai contoh saya lampirkan hasil jepretan amatir saya yang cuma menggunakan D50 + flash di bounce …
    intinya saya lebih setuju pada editan yg lebih detail black and white ketimbang proses shot yang berlebihan dan ribet…
    tapi saya masih belajar juga, No Body’s perfect .. salam shooter

  5. mBilung Sarawita  16 January, 2014 at 02:16

    @ Nova Photo :
    Matur nuwun sanget atas sharing-nya

    @ Intan :
    1. Memotret untuk pasfoto, lazimnya posisi kamera ya vertikal
    2. Kalau hanya dengan satu flash eksternal, di ruangan yang tidak berlangit-langit putih (apalagi outdoor), memang sulit untuk menghindari munculnya bayangan di belakang telinga, karena kita tidak bisa menggunakan teknik “flash bouncing” (menembakkan flash ke langit-langit putih untuk menghilangkan bayangan), KECUALI kita terlebih dahulu melakukan “kerja ekstra” : Ciptakan kondisi ruangan menjadi berlangit-langit putih (maksimum 2 meter di atas flash), dan kalau memungkinkan ya sekalian dinding kiri-kanan dan belakang-fotografer dibikin menjadi putih, misalnya menggunakan sterofom atau kain putih tebal (tapi JANGAN satin atau jenis kain yang mengkilap, supaya pantulan flash tidak terlalu keras). Kalau “rekayasa ruangan” tidak memungkinkan, ya terpaksa harus menggunakan “rekayasa digital”, hilangkan bayangan itu dengan piranti lunak pengolah foto, heheheeee …

    @ Agus Santosa :
    1. Kamera dan lampu studio sudah sip (saya malah belum punya E-PRO, hihihiii ….
    2. Hasil foto sudah lumayan (pencahayaannya dan positioning obyeknya), cuma ada sedikit yang saya perlu tanyakan :
    2.a. Posisi kerudung kurang simetris kiri-kanannya, apakah itu memang disengaja ataukah “kecelakaan” (lupa membenahi) ?
    2.b. Pada bidang putih (kerudung dan baju), di layar laptop saya nampak ada semburat warna “cyan”, itu apakah memang aslinya demikian ataukah karena setting white-balance kurang pas ?

    @ All :
    Mohon maaf njawabnya terlalu amat sangat lamaaaaa sekali, karena sudah lamaaaa sekali saya tidak berkunjung ke BALTYRA ini (lebih sering ke BALTYRA versi Facebook) …

    Salam Jepret, Salam Budaya …
    mBilung Sarawita

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.