Audrey (14): A Letter for You – 1

Anastasia Yuliantari

 

Berapa lama kita telah bersama, sweetie? Berbilang hari dan bulan, kan? Di antara waktu yang telah mencatat jejak kisah kita, aku merasakan taburan warna melintasi hidupku. Warna yang begitu indah dan beraneka. Maka sudah seharusnya aku mengucap terima kasih karena kau telah bersedia melaluinya bersama dan menaburkan keelokan itu tanpa sedikit pun meragukan kesediaanku menerimanya.

Kisah manusia, walau banyak yang berusaha mengingkarinya atau menyangkalnya, tak pernah lepas dari kisah rekaan beribu tahun, karena mungkin kisah rekaan selama ribuan tahun itu adalah kisah nyata yang menjelma di tangan para pujangga. Aku tak tahu bagaimana tepatnya, namun satu hal yang aku tahu, tak ada kisah yang benar-benar berakhir bahagia. Kisah bahagia hanyalah satu titik perhentian sebelum kisah kembali berlanjut dan mungkin tak akan berakhir seperti sebelumnya. Singkatnya, hidup adalah sebuah proses, dan sedih serta bahagia, atau bahkan rasa biasa-biasa saja merupakan rasa yang jalin-menjalin selama prose situ. Silih berganti mengisi rentang itu tanpa bisa dikendalikan oleh pemilik hati.

Bahkan untuk mendramatisir sebuah kisah, kadang sang sutradara atau penulis memotong kisah itu saat emosi sedang memuncak, seperti cerita dalam televisi yang dipotong oleh iklan ketika penonton sedang menunggu apa jawaban vital dari sang tokoh. Bukan berarti mendramatisir ketika aku mengatakan bahwa saat semua berjalan seiring-sejalan, ketika perasaan sudah saling melengkapi, biasanya kisah harus diakhiri. Terlalu kejam untuk melakukannya, terlalu menyakitkan untuk mengatakannya, namun sering banyak alasan logis yang memaksa untuk melakukannya.

Proposal penelitianku sudah sampai ke lembaga tujuan. Dalam dua atau tiga minggu lagi aku akan memperoleh jawaban. Walau seperti dua sisi mata uang, keberhasilan dan kegagalan, aku tetap mencoba meraih mimpiku. Tak gampang untuk mewujudkannya, namun aku memilih bertindak seperti anak kecil yang tak tahu betapa bahayanya menyeberangi sungai yang baru saja surut setelah diterjang banjir. Berenang saja, tak usah dipikirkan bahayanya, toh tak seorang pun benar-benar tahu apa yang akan dihadapinya. Meskipun demikian aku juga bersikap penuh perhitungan untuk mengukur kemampuan diriku menyelesaikan semuanya, seandainya keberuntungan berpihak padaku. Aku masih ingat betapa Lucinda dan Sheila mendorongku untuk melakukannya.

“Tunggu dua minggu lagi, Drey. Lalu kamu harus mempersiapkan banyak hal untuk menjemput mimpimu.” Lucinda menepuk-nempuk proposal penelitianku yang aku tunjukkan padanya. Telah terlambat untuk meminta pendapat darinya, namun kelihatannya dia merasa standar yang kupunya cukup memenuhi kriteria lembaga itu.

“Entahlah. Aku tak begitu yakin akan keinginanku sendiri.” Ucapku ragu.

Lucinda tiba-tiba memukul lenganku dengan proposal itu sehingga membuatku kaget dan meringis memegangi bahuku yang terasa panas. Aku hampir bertanya apakah dia sudah gila berani memukulku tanpa alasan, ketika kulihat matanya yang kini bermanik biru terang menatap tajam. “Jangan pernah merasa rendah diri dan tak menentu! Kamu bukan balita yang tak tahu apa yang kau maui. Sikap mengasihani diri sendiri tak pantas bagi perempuan seumurmu, terutama dengan kecerdasan yang kau miliki.”

Suaranya demikian keras dan tajam sampai aku harus menengok ke kiri-kanan ruangan untuk memastikan tak ada seorang pun mendengarnya.

“Apa aku tak boleh sedikit pun merasa ragu?” Tanyaku.

“Keraguan itu bagian dari pertimbangan untuk menentukan sebuah keputusan. Bukan saat keputusan itu sudah diambil dan siap menunggu jawaban. Kamu tahu bedanya, kan?” Desisnya semakin kering dan tajam.

“Aku tidak menyesalinya. Maksudku aku tidak meragukan kemauanku ketika melakukannya, hanya saja aku merasa apakah aku memang bisa melakukannya.”

“Jadi mengapa kamu melakukannya bila masih meragukannya? Jangan bilang kamu melarikan diri dari sesuatu dengan menggunakan cara itu. It won’t work, Drey. Terlalu banyak hal yang akan dipertaruhkan.” Badannya telah maju setengah meja ke arahku. Jari-jemarinya bertaut erat membentuk sebuah kepalan dengan kuku-kuku bercat merah muda transparan. Mataku menatapi jari berkuku merah muda itu dengan khusuk untuk mencari alasan atau bahkan jawaban atas gejolak hatiku.

“Aku tak mau kehilangan mimpiku.” Jawabku pelan.

“Camkan itu, garis bawahi bila perlu. Ini perkara mewujudkan mimpi, Drey. Mimpimu, bukan mimpi orang lain.”

Di tengah rasa terluka oleh perkataan Lucinda tak pelak lagi aku mencari kesejukan pada Sheila. Perempuan itu pengasih dan selalu mempunyai empati terhadap orang-orang yang terluka.

“Astaga??? Jadi kamu memutuskan untuk pergi dari sini?” Ujarnya seraya menutup mulut dengan tangan. Kali ini aku menyaksikan jari-jemari berpulas hijau metalik.

“Aku belum tahu, Sha. Hasilnya masih harus kutunggu beberapa minggu ke depan.”

“Apa kau gila? Kau pasti pergi. Aku tahu dirimu dan kualitasmu. Pertanyaannya adalah apa kau siap untuk meninggalkan semua yang kamu miliki di sini demi mengejar mimpimu?”

“Mimpi tetaplah mimpi. Aku mengejarnya atau membiarkannya sebatas mimpi tak akan banyak bedanya.”

“Kau memang benar-benar gila!” Tangannya meraih tanganku yang ada di atas meja. “Kamu sudah terlambat untuk mundur. Sauh sudah diangkat dari dasar pantai, kau harus siap berlayar.”

Lalu aku berpaling kembali untuk melihat apa yang telah kulakukan dalam beberapa minggu ini. Malam-malam penuh perjuangan untuk merumuskan banyak hal dan menuangkannya dalam puluhan lembar kertas. Berkas-berkas waktu yang kuhabiskan melembari buku-buku, mencernanya, mempertimbangkannya, lalu kembali mencurahkannya dalam ribuan kata-kata.

Namun satu hal yang paling tersembunyi, di antara curahan kata-kata, dalil-dalil, hipotesa-hipotesa yang kubuat, selalu ada pengingkaran terhadap kehadiranmu. Rasa sepi karena berusaha melarikan rindu yang selalu tertuju padamu. Pergulatanku yang sesungguhnya tak pernah tentang pemikiran ilmiah akan sesuatu, namun upaya untuk menyingkirkan rasa mencintaimu dari hatiku. Tak pelak mengapa aku merasa demikian terluka oleh perkataan Lucinda. Banyak hal harus kukorbankan demi menyingkirkanmu, bahkan menyangkut eksistensi kehidupanku selama hampir satu dasawarsa.

Jadi apa sebenarnya yang ingin kukatakan padamu? Bila aku bilang kita akan melalui jalur yang buram dan meragukan, aku tahu kau pasti membantahnya karena aturan telah kita tetapkan menyangkut kebersamaan kita. Bila kukatakan semua harus diakhiri demi ketentraman kita berdua, rasanya telalu berat buatku untuk menipu rasaku sendiri. Maka aku memutuskan, kiranya lebih arif bila suratku ini berbicara tentang Redefining Our Relationship. Membarukan apa yang sudah ada, mencari makna baru dari hubungan yang sama.

“Kita selalu tahu apa makna di balik kisah kita, Dey.” Katamu suatu ketika. “Kamu selalu menjadi suluh bagi jalanku. Kebahagiaan untuk hari-hariku. Bahkan dalam khayalan paling liarku, kamu adalah pasangan hidupku.”

Aku berbahagia mendengarnya. Bibirku masih tetap tersenyum setiap mengingatnya. Hubungan yang tadinya tak terdefinisikan tiba-tiba muncul dalam bentuk yang nyata.

Lalu semua berjalan seturut rel hubungan itu. Benci dan rindu, marah dan tawa, bahagia dan duka cita, semua teranyam mengikuti sebuah pola. Pola baru yang nyata namun sekaligus tak kasat mata.

Kemudian aku menyadari satu hal sweetie. Kita terlalu serius membangun tembok hubungan itu hingga lalai menyiapkan bentuk bangunannya. Hendak seperti apa nantinya? Toh tak ada yang akan nyata dari apa yang kita punya.

Maafkan aku bila harus mengejar mimpiku. Memang sangat tidak fair  membuatmu menjadi alasan perbuatanku. Rasanya seperti memperalat dirimu, menjadikanmu sarana untuk menggenjot hasratku akan sesuatu yang lain. Untuk itu aku tak bisa berdusta. Untuk pertama kalinya aku membutuhkanmu untuk kepentinganku sendiri.

Jangan kau mengira hatiku tak berdarah ketika melakukannya. Sekarang pun masih kupandangi fotomu yang begitu tampan dalam balutan jaket saat musim semi menjelang. Karenanya kau tahu betapa aku merindukan saat-saat indah berulang kembali. Malam-malam penuh bintang dan canda tawa. Malam ketika kisah kita tampak begitu nyata.

“Aku sedang mendengarkan lagu kita.” Ujarmu suatu malam saat aku sedang asyik menghirup teh hangat sambil meneleponmu.

“Ah, mana bisa kamu menelepon sambil mendengarkan lagu?” Ujarku antara mencari perhatian dan membuatmu merasa bersalah karena menduakanku dengan lagu kita.

“Keduanya saling mengisi. Ceritamu dan lagu ini selalu mengingatkanku untuk menjaga apa yang kita punya.”

“Hmm…sangat gombal.” Balasku sambil tersenyum di atas bibir cangkir.

“Here, there, and everywhere.” Desahmu.

“Kenapa?”

“Janjiku untuk selalu meng-ada-kan dirimu dalam hari-hariku.”

“Ah, gomb…”

“Gila.” Potongmu cepat. “Mungkin aku sudah gila menjadikanmu bagian dari hidupku, tapi aku tak pernah membuang energi untuk mengatakan sesuatu yang tak berarti.”

Kau tahu sayangku, sampai mati aku akan tetap mengingat malam itu sebagai salah satu malam termanis dalam hidupku.

(To be continue)

 

15 Comments to "Audrey (14): A Letter for You – 1"

  1. Anastasia Yuliantari  28 November, 2012 at 17:02

    Henny apa kabar??? Nulisnya sambil nyambi2, jadinya agak lama baru muncul. Di Tubingen hujan terus, ya? Sama kayak di Jogja, dong.

  2. Anastasia Yuliantari  27 November, 2012 at 17:31

    Thanks Linda komennya. Kadang orang perlu mempunyai pengalaman mengawang-awang sebelum menjejak dengan teguh pada kenyataan….hehehe.

  3. Anastasia Yuliantari  27 November, 2012 at 17:31

    Anoew….untuk bagian 2 aku carikan gaun yang transparan, deh…..Janji…..!!!!

  4. Anastasia Yuliantari  27 November, 2012 at 17:22

    Mbak Yuli Duryat, terima kasih sdh membaca dan berkomentar. Masih jauhlah tulisan ini dengan karya Mas Leo dan Mas Kurnia, karenanya saya masih belajar dengan banyak membaca karya beliau berdua.

  5. Anastasia Yuliantari  27 November, 2012 at 17:20

    JC….pssstttt….Anita Cemerlang, tuh bacaan pertamaku yg mengenai percintaan, lho….sumprit, waktu SMP aku beli sembunyi2 krn blom boleh baca yg percintaan. Waktu itu penulis macam Mas Kurnia Effendi, Mbak Sanie Kuncoro, dll udah nulis di sana….hehehe. Mungkin krn itu jd terikut gaya2nya, ya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.