Nirwana

Chandra Sasadara

 

Dua tusukan menembus kulit, hanya beberapa inci dari tulang rusuk. Pisau komando menghujam di bagian atas pinggang kanan. Laki-laki itu masih sempat menghindar dari  tusukan ketiga yang menyasar lehernya. Namun pada saat bersamaan tendangan lawannya menghantam  paha kiri. Ia jatuh, mengerang dan darah mulai berasa mengalir di sela baju dan jaketnya. Tubuhnya terlentang di antara sampah belakang pasar. Ia berpikir, telah tiba saatnya untuk mati. Tidak ada penyesalan, saatnya menikmati lepasnya nyawa dari tubuh  yang mulai dingin. Menanti saat yang ditakuti oleh banyak orang, yaitu menjelang kematian.

Ia masih mendengar cacian dan makian berhamburan dari mulut lawannya. Beberapa tendangan yang bersarang di punggung dan dadanya sudah tidak berasa. Pikirannya sedang dipusatkan untuk menikmati saat bertemu dengan Sang Pencabut Nyawa. Ia ingin memberikan senyumnya. Senyum yang tidak pernah diberikan kepada siapapun kecuali kepada ibunya, nanti. Perempuan yang sampai saat ini belum pernah ditemuinya. Ia masih mencari jejak ibunya. Jejak yang hilang sejak dirinya masih bayi.

*****

Laki-laki tinggi dan berkulit bersih itu berniat untuk mengganti nomor telepon selulernya. Tiga hari berturut-turut pesan pendek dari perempuan yang mengaku sebagai asisten istri pejabat itu terus membanjiri  inbox teleponya. Hari keempat, masih pagi buta. Pesan pendek asisten itu telah masuk. Bahkan lebih dari sepuluh. Tidak ada yang berbeda. Pesan itu  berisi sama, hanya untuk meyakinkan dirinya agar mau berkencan dengan majikannya.

“Jangan sok suci.”  

“Apa kamu ga bisa baca? Aku ga ML ma istri org!” 

“Aku tau sapa kamu.”

“Aku ga peduli, aku ga layanin istri org.”

“Dasar gigolo cap kucing! Majikanku berani bayar mahal tuk tdr dgn kamu.”

“Aku emang gigolo, tpi tdk tuk muaskan istri org (titik).”

Bukan tanpa alasan kalau laki-laki yang disebut gigolo itu tidak mau melayani istri orang. Sebagai laki-laki yang biasa menjual kenikmatan seksual kepada setiap perempuan yang berani membayar sesuai dengan tarif, seharusnya tidak ada halangan baginya untuk melayani setiap tawaran berkencan. Tapi laki-laki itu memilih untuk tidak melayani  istri orang karena alasan yang menurutnya sangat prinsip. Baginya melayani istri orang adalah tindakan sesat, meskipun ia tahu bahwa menjual kenikmatan kepada orang lain juga bukan perilaku yang mulya.

 

*****

Malam yang melelahkan. Laki-laki itu masih bermalasan di atas tempat tidur di kamar hotel. Sisa cinta tadi  malam membuat tubuhnya enggan untuk diajak beranjak dari tempatnya berbaring. Perempuan yang membayarnya untuk bercinta telah meninggalkan kamar hotel. Ia melirik kertas berisi nomor rekening yang ditulis sebelum bercinta tidak ada lagi di atas meja. Perempuan itu pasti  telah mengambilnya, semoga hari ini uang yang menjadi haknya sudah  masuk ke rekeningnya.

Ia bermaksud melanjutkan tidur setelah minum dua gelas air putih. Namun sebelum kepalanya rebah di atas bantal, pesan pendek dari asisten istri pejabat mulai masuk.

“Majikanku lbh muda dari perempuan yg kamu tidurin tadi malam.” 

“Dari mana kamu tau aku tidur ma perempuan tadi malam.”

“Perempuan yg kamu tidurin baru aja kirim pesan pendek, ia teman sosialita majikanku.”

“Aku mau karna ia janda, sedangkan majikanmu istri orang.”

“Aturan apa yg membuat kamu menolak kencan ma istri org.”

“Aturanku.”

“Aku tahu, pasti ibu kamu pernah ditidurin gigolo berulang kali, makanya kamu nolak tidur ma istri org.”

“Baik, kalau kamu maksa. Aku minta dibayar dua kali lipat.”

“Ha.ha.ha. majikanku akan bayar kamu tiga kali lipat.”

“Di mana? kapan?”

“Besok, soal tempat  tunggu aku kabari lagi.”

Nafasnya sesak, matanya tidak lagi bisa dipejamkan. Niat untuk melanjutkan tidur hilang seketika. Kepalanya mulai dihinggapi berbagai pertanyaan. Mengapa istri pejabat itu begitu memaksa untuk bisa berkencan dengan dirinya.  Mengapa dirinya juga tiba-tiba menyetujui. Mengapa prinsip yang dipegangnya begitu erat dalam menjalani hidup sebagai laki-laki pemuas birahi tiba-tiba lenyap. Mengapa, mengapa, mengapa. Bertanyaan itu terus membanjiri otaknya.

*****

Berjalan tergesa di lorong hotel. Laki-laki itu segera menuju kamar hotel yang telah diinformasikan oleh asisten. Ia merasa ada yang berbeda. Ratusan kali melayani perempuan, baru kali ini jantungnya berdegup keras. Mengetuk dua kali, seorang perempuan muda membukakan pintu kamar hotel sambil mempersilakan masuk. Perempuan muda itu adalah asisten istri pejabat.

Laki-laki itu duduk di sofa kamar hotel. Ia tidak melihat perempuan selain asisten yang membukakan pintu kamar hotel.

“Bukan saya, Ibu datang 15 menit lagi.” Asisten itu menjelaskan sambil tersenyum.

“Saya juga tidak menganggap anda yang memesan saya.” Jawabnya enteng.

“Mengapa begitu, apakah karena saya hanya seorang asisten istri pejabat?” Asisten itu penasaran.

“Bukan, anda terlalu muda dan cantik untuk memesan orang sepertiku.” Laki-laki tidak sadar kalau pujiannya membuat hati asisten itu berloncatan.

“Ohh ya?”  Asisten itu minta penegasan.

“Sungguh, anda bisa mendapat laki-laki muda, kaya dan ganteng.” Laki-laki itu meyakinkan.

Pintu kamar diketuk. Asisten bergegas membuka pintu. Seorang perempuan cantik dengan dandanan modis masuk sambil tersenyum. Tidak kalah cantik dengan asisten yang membukakan pintu. Rambut merah tipis, kuku bercat hijau, mengenakan setelan jins warna gelap dan kaos putih. Kulit putih, wajah menggkilap kemerahan dan aroma parfum yang menggetarkan jantung.

Tidak bisa disebut muda, namun dengan tubuh yang terawat secara teratur istri pejabat itu kelihatan seperti perempuan berusia 35 tahun. Kalau hanya sekilas, pasti mengganggap ia bukan perempuan yang tengah memasuki usia 45 tahun. Tubuhnya begitu terawat, rambut merah tipis itu berandil besar menyamarkan usianya.

Istri perjabat itu meminta asistennya meninggalkan kamar.  Ia sendiri memperbaiki riasan wajahnya di depan cermin. Setelah yakin tidak ada yang salah dengan riasan wajahnya, perempuan itu duduk persis di sebelah laki-laki yang sejak tadi duduk menunggu.

“Kamu yang bernama Nirwana?”  Perempuan itu memulai percakapan.

“Benar.” Laki-laki yang dipanggil Nirwana itu menjawab pendek.

“Apakah nama itu memiliki kaitan dengan profesimu sebagai laki-laki bayaran?”  Perempuan itu seperti penasaran dengan nama Nirwana.

“Apakah kita perlu membicarakan namaku?” Laki-laki itu balik bertanya.

“Tidak juga, aku hanya penasaran dengan nama itu. Bukankah nirwana berarti surga?” Perempuan itu memancing  untuk mendapat penjelasan.

“Nirwana bukan hanya berarti surga. Nama itu tidak ada kaitanya dengan pekerjaanku. Profesiku adalah satu hal, sedangkan namaku adalah hal yang lain”  Laki-laki itu menjelaskan.

“Nirwana, aku belum mendapat senyummu sejak masuk di  kamar ini.” Kalimat perempuan itu seperti diucapkan oleh penagih hutang.

“Aku dibayar untuk bercinta, bukan menjual senyum.”  Laki-laki itu menjawab dingin.

“Seperti namamu, kamu adalah surga yang aku inginkan.” Kalimat itu diucapkan sambil menggeser tubuh dan memeluk lengan laki-laki di sampingnya . Segera disambut oleh Nirwana dengan sentuhan yang biasa ia berikan kepada ratusan perempuan lain yang membayarnya.

*****

“Aku yang memerintahkan untuk memberi pelajaran kepada Nirwana, pelacurmu itu!” Kalimat itu keluar dari seorang laki-laki tambun berusia setengah abad.

“Mengapa kamu lakukan itu?”  Suara perempuan setengah menjerit meminta penjelasan.

“Kalau ia tidak mati, pasti kamu yang mati karena menyesal.” Laki-laki tambun itu menjawab dengan ketus.

“Mengapa aku harus menyesal? Kamu kira aku takut kamu ceraikan. Ceraikan saja!”  Suara perempuan itu diiringin dengan piring pecah.

“Ini bukan soal menceraikan kamu. Ini soal hubungan kamu dengan Nirwana.”  Laki-laki itu menjawab ringan.

“Aku tidak mengingkari, selama ini aku menggunakan jasa Nirwana untuk kebutuhan birahiku. Aku yakin kamu juga sudah lama tahu  hal itu.”  Kalimat itu diucapkan tanpa sesal.

“Ini juga bukan soal hubungan birahimu dengan Nirwana. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar hubungan birahi.” Laki-laki itu memang tidak bermaksud menjelaksan secara  tuntas.

“Apa maksudmu dengan sesuatu yang  lebih besar?” Perempuan itu penasaran.

“Aku tinggal menunggu satu fakta lagi untuk membuktikan dugaanku tentang kamu dan Nirwana”  Laki-laki tambun itu tetap bermain teka-teki.

*****

Laki-laki itu baru saja siuman dari komanya. Ia duduk bersandarkan bantal di ruang perawatan. Sejumlah teman mengelilingi sambil bercanda untuk menghiburnya. Menurut keterangan kawannya, ia koma selama hampir dua minggu. Ditemukan dalam keadaan pingsan dengan dua luka tusukan di antara sampah di belakang pasar kota. Luka bekas tusukan mulai mengering, tapi tiga tulang rusuk yang patah masih berasa nyeri.

Ia masih tidak mengerti, mengapa nyawanya tertolong. Pada saat tergeletak di antara sampah di belakang pasar dirinya telah bersiap menyambut kematian.  Menyambut saat-saat paling ditakuti oleh orang lain. Sebagai seorang laki-laki, kematian baginya lebih berharga dari pada melanggar prinsip hidup yang dibuat sendiri. Ia merasa telah melanggar prinsip itu berkali-kali dengan melayani tawaran bercinta dengan istri pejabat.  Orang paling brengsek seperti dirinya sekalipun tetap harus setia dengan prinsip. Pikir laki-laki itu.

Beberapa hari pasca siuman dari koma ia masih harus menghuni salah satu kamar di rumah sakit untuk pemulihan trauma. Silih berganti kawannya datang dan pergi. Namun tidak satupun dari mereka yang memberitahukan siapa pelaku atau dalang penusukan dirinya. Apakah polisi telah melakukan penyelidikan. Sampai saat ini laki-laki itu masih belum bisa menduga siapa pelaku atau dalang penusukan.

Pagi sekali seorang perempuan yang cukup dikenalnya datang berkunjung. Perempuan muda asisten istri pejabat .  Laki-laki itu bersiap untuk menolak tawaran berkencan kalau hal itu yang akan ditawarkan oleh asisten untuk majikannya. Ia merasa perlu kembali pada prinsip hidupnya, tidak melayani tawaran bercinta dengan istri orang.

“Selamat pagi Bang Nirwan.” Asisten itu menyapa dengan suara lembut,namun tanpa senyum.

“Pagi, apa kabar?” Laki-laki yang dipanggil Nirwan itu membalas ramah.

“Kabar buruk Bang.” Asisten menjawab pendek, dingin dan serak.

“Kabar buruk bagaimana? Aku lihat kamu tetap cantik dan sehat.” Nirwana menggoda.

“Ibu Bang.” Asisten itu menjawab dengan air mata menggenang.

“Ada apa dengan majikanmu?”  Nirwana menggeser tubuhnya, berusaha  meraih kepala asisten untuk menenangkan.

Asisten itu membuka tas, mengeluarkan potongan koran yang  terbit minggu lalu dan menyodorkannya kepada Nirwana.  Laki-laki itu menerima dengan ragu-ragu. Perasaanya tidak enak. Seperti ada sesuatu yang hilang. Tapi entahlah.

Dalam kepala berita ditulis bahwa seorang istri pejabat mati gantung diri. Belum diketahui sebabnya. Nirwana tidak dapat menyimpulkan apapun selain informasi bahwa perempuan yang sudah berkali-kali dilayaninya itu sekarang telah meninggal dunia dengan cara yang tragis. Ia juga tidak mengerti mengapa berita ini perlu diketahuinya. Padahal ia lebih senang kalau berita itu berisi tentang penangkapan pelaku penusukan atau dalang yang mengotakinya.

“Apa hubungan kematian majikanmu dengan aku?” Nirwana mencoba mengorek keterangan.

“Ada Bang.” Asisten membuka tas dan menyodorkan dua lembar kertas.

“Apa ini?” Nirwana mendorong kembali kertas itu karena merasa tidak mengerti maksudnya.

“Kertas itu adalah hasil uji DNA Bang Nirwan dan Ibu.” Asisten menjawab dengan suara serak.

“Aku masih belum mengerti.”  Jantung Nirwana berdegub kencang. Ia merasa akan ada peristiwa yang menghancurkan dirinya.

“Berdasarkan dua kali uji DNA, Bang Nirwan adalah anak kandung Ibu.” Kalimat itu diucapkan dengan suara hampir redup. Sesaat asisten itu lari ke luar kamar dengan meninggalkan potongan koran, kertas hasil uji DNA dan seorang laki-laki yang jiwanya sedang mengapung di udara. Jiwa itu kemudian lenyap tertiup angin. Seperti namanya, Nirwana.

 

18 Comments to "Nirwana"

  1. triyudani  21 May, 2013 at 12:12

    hiiii…….

  2. Chandra Sasadara  26 November, 2012 at 15:36

    Alvin dan Mega : tks atas atensinya

  3. Chandra Sasadara  26 November, 2012 at 15:35

    matur Nuwun Kang Anoew : maaf telat balas.. pasti akan ada cerita lebih membuat mutah stelah epiosde Nirwana..hehehhehe

  4. Mega Vristian  22 November, 2012 at 15:27

    Tulisan yg asik

  5. Alvina VB  22 November, 2012 at 05:48

    CS: tragis sekali…
    Handoko: ada kok yg versi Bandung, nanti aku ceritakan kl ada waktu, he..he….

  6. anoew  21 November, 2012 at 21:45

    Heeeuug…, langsung mules perutku alamaaaak…

    Muantebs tenan cara Kang Chandra bercerita. Weleeeh, alamaaak… Itu pasti si pejabat itu, agen yahudi yang menyamar..

  7. Chandra Sasadara  21 November, 2012 at 11:19

    Pak DJ : kalau si Ibu sudah mengenali, sungguh mengherankan kalau masih ingin bercinta dengan Nirwana. ibu yg keterlaluan

    saya menduga suami si Ibu adalah penjabat intelijen melayu..heheheeh

  8. Chandra Sasadara  21 November, 2012 at 11:15

    bener Bu Lany..wkwkwkwkwkw

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.