[Serial Rara] Di Jogja Bimbang itu Masih Ada

Sugiyarti Ugie

 

Hari belum terlalu sore,  rasa sejuk mulai melingkupi rumah asri itu. Rara baru saja usai menyirami bunga-bunga  yang tumbuh subur di halaman. Sambil memandangi bunga-bunga yang dulu  ia tanam  Rara duduk di bale-bale bawah pohon Kersen. Ia mendengar  Lili bercakap-cakap melalui telepon genggamnya,dan sesekali terkekeh. Ada nada-nada suara yang ia sangat  kenal. Suara jernih  yang sering mengganggunya di ujung sana.

” Mau bicara  dengan  yang  Manis  yaa? Tuhh .. “

Rara mendengar Lili memperkeras suaranya.  Rupanya disengaja.  Biar didengar Rara.

Rara melotot pura-pura marah.

” Hehe.. ” Lili tersenyum  menggoda  sambil mengangsurkan telepon genggam ke bundanya.

Sambil mulutnya membentuk kata-kata,” da- ri  Om  De- wo … ” Kemudian   bocah lucu berambut ikal itu lari  keluar; mengambil sepeda.

 

” Ha… kamu ada di Jogja? Sure? ”  Rara  terpekik lirih ; ada nada  kaget bercampur  nada  gembira ketika telepon genggam sudah menempel di telinganya.

” Mi .. aku ke mbak Tyas ya .. ” Lili berteriak sambil melajukan sepedanya  ke arah sebelah   selatan rumah eyangnya menuju rumah Budhe Ratna ,sepertinya mau nyamperin Tyas  sepupunya.Rara melambai ke arah Lili sambil membuat simbol muahh.

Beberapa saat Rara terlihat berbincang asyik. Tak lama kemudian ia  bergegas keluar menyusul Lili   sambil bergumam,”dasar Dewo ..”

Sebentuk senyum kecil menyembul i sudut bibir mungilnya .

 

—————-

 

Malam turun perlahan. Bintang berkerlip menggoda hati Rara yang gundah. Rara  menghela nafas  sambil merapatkan pashmina kuning coklatnya untuk menghangatkan tubuhnya. Jogja musimmbediding, suhu Jogja  terasa  dingin dibandingkan  dengan Jakarta yang selalu panas.

Rara dan Dewo  duduk di teras  yang redup. Rupanya mereka janjian malam ini untuk bertemu.

” Mau coklat hangat? ” kata Rara sambil menatap  Dewo  dengan tatapan  sayang .Pendar-pendar cinta dan rindu  memercik memenuhi mata indahnya  yang membuat Rara   terlihat makin cantik. Tak disangkal ;  wajah memang pancaran hati .

” Mau.  Sini. ” Dewo   mengambil cangkir yang disorongkan Rara, menyruputnya pelan-pelan .

” Enak? “

Dewo mengangguk mantap .

” Hahahaha….. Tergelak Rara  melihat anggukan Dewo .

” Haiii .. kog kamu ketawa sih? ” Dewo pura-pura tersinggung .

” Ya.. kamu hanya menyenangkan hatiku, kan? Kamu gak suka  coklat,” kata Rara  sambil tertawa geli.

” Aku tahu, yang kamu suka kopi hitam. Titik ,”  lanjut Rara dengan mata berkedip jenaka .

” Yaah… ketahuan.”  Dewo  tersipu. Menutup mukanya dengan tangan, pura-pura malu .

 

Rara mencuri-curi pandang mengamati wajah laki-laki yang setahunan ini telah membuatnya seperti  terlahir kembali. Bunga-bunga menjadi indah bermekaran di lubuk hatinya setelah sekian lama lenyap, bahkan   ia mengira tak akan pernah merasakan  lagi setelah meninggalnya  Prasetyo.

Ternyata cinta itu dahsyat! Berbaur rasa yang beraneka mengisi hari-harinya. Senang, gembira, rindu, sedih, penuh harap ,melonjak-lonjak, berdebar-debar membuncah tanpa ia sanggup menghentikannya. Kadang ada rasa malu menghantam nalurinya, karena perasaan yang ia punya seperti anak SMA  baru jatuh cinta. Ada yang salahkah  dalam dirinya?  Adakah  terperangkap jiwa muda belia  pada dirinya saat  usianya yang telah lewat tigapuluh tahun ini?

Rara meneguk coklatnya dengan perlahan, sangat perlahan. Alam pikinya mengeluh. Sebenarnya ia pergi ke Jogja selain untuk berlibur beberapa hari Rara ingin tetirah, merenungkan hubungannya dengan Dewo. Apakah cintanya  pada laki-laki sawo matang  berkaca mata yang terlihat makin matang ini adalah cinta yang layak ia perjuangkan atau harus ia tinggalkan? Apakah ini benar -benar cinta? Bukan karena rasa kesepiannya, bukan karena emosinya?

Tapi ternyata oo ternyata…. baru lima  hari Dewo telah menyambanginya! Dan ini membuyarkan semuanya!

” Selamat ulang tahun ya, Ra.Semoga gusti Allah semakin  sayang padamu. Yang terbaiklah untukmu .” Kata-kata Dewo terdengar syahdu. Ia jabat tangan Rara erat-erat seolah tak mau dilepaskan.

” Aamiin .. ”  Hampir bersamaan mereka ucapkan.

Dewo mengangsurkan sesuatu.

” Buatmu, Ra.. semoga makin manis. Juga  makin…. hehe .” Dewo menggantungkan kata terakhirnya sambil tersenyum-senyum menggoda.

” Makin gendut ya? ….. Aku kan  makin gendut  ya, ” kata Rara  sambil terkikik, membuat gerakan tangan  melebar ke samping.

”  Makin gendut gak papa, to  Ra. Bagiku  gendut kan gak bakal mengurangi senyum manismu,” jawab Dewo yang  kemudian tertawa juga.

” Terimakasih. Apa ya ..ini? ” Rara menimang -nimang kotak segi -empat  hitam  berpita silver di tangannya.

” Bukalah. Semoga kamu suka. “

Rara membuka perlahan -lahan kotak mungil di tangannya.

” Aduuh … ini anting  yang aku suka. ” Rara terpekik senang dan takjub  sambil membuka kait anting emas putih dengan kerlip-kerlip bentuk  hati di bagian tengah. Manis sekali. ” Kog, kamu tahu sih? “

” Apa sih yang gak aku tahu dari kamu ,Ra?”Dewo menjawab.

“Karena aku  telah jatuh cinta padamu dari duluuu tanpa kamu sadari. Dan kamu cuekin.”

Dewo memasangkan anting di telinga Rara.  Hati Rara berdesir tak karuan. Wajahnya sangat dekat dengan Dewo laki-laki yang kini mengisi bilik hatinya membuat jantungnya bagai di sambar petir. Karenanya ia tak bisa berpikir lagi ketika tiba-tiba bibir Dewo mengecup perlahan pipinya. Rara melayang-layang seolah tak memijak bumi. Rasa yang sudah  lama tak pernah ia rasa.

” Ohhh… ”  Rara memekik kecil  sambil  gemetaran menarik pipinya beberapa detik setelah tersadar. Malu. Untunglah  keredupan malam menutupi pipinya yang mungkin memerah.

Rara duduk terpaku sambil menahan gemuruh rasa. Dewo  meremas jari-jemari lentik  di depannya.

” Maaf .. ” desis Dewo  sambil menatap lekat-lekat   wanita manis di depannya. Di mata dewo wanita ini sangat manis, dewasa, mandiri  dan penuh percaya diri. Banyak hal yang membuatnya makin  jatuh cinta. Rara bisa sangat dewasa dan matang, tapi kadang bisa seperti gadis muda yang manja menggoda.

Selama berhubungan dengan  Rara, Dewo  merasakan  energi positif  luar biasa. Ia jadi bersemangat menjalani hari-harinya. Ia merasa punya tujuan hidup.

” Haii .. jangan lihatin aku seperti itu ..” Rara berbisik. Tersipu.

” Ra.. Tahu gak kamu maniis banget kalau sedang begini .” Dewo berbisik di telinga Rara,”Persis gadis belasan.”

” Enak aja !”  Protes Rara sambil  tangannya meninju lengan Dewo. Tapi beberapa mili lagi genggaman tangan Rara menyentuh kulit  laki-laki yang disayangnya itu   dengan sigap Dewo menarik tangan itu dengan mesra .Tubuh Rara sempoyongan jatuh di pelukan Dewo.

Rara mati kutu.

” Kamu ke Jogja  menghindar dari aku ya, Ra? ” Dewo bertanya to the point. Rara terdiam kemudian menunduk menghindari tatapan tajam yang seolah menelanjangi hatinya. “Kenapa  Ra? Karena Dini yang dibilang  Uthi? “

” Bukan. Tak  hanya itu .. ” Rara mendongakkan kepalanya.

” Menikahlah denganku. ” Dewo berkata super serius. Tangannya tak bergeser dari jemari Rara yang tiba-tiba gemetar .

” Kamu tahu, siapa aku kan, Wo. Menikah denganku banyak plusnya. “

” Aku dan Lili  satu paket. Siapa aku, dan sebagainya .. sebagainya .” Rara melanjutkan argumennya.

” Aku siap. Aku sayang kalian. Aku mencintai kalian.” Dewo menjawab mantap. “Aku akan siap menua bersamamu Ra. Yakinlah.”

Mereka terdiam beberapa saat.

” Menikahlah denganku .” ulang Dewo penuh harap.

” Aku belum bisa menjawab,” bergetar bibir Rara mengucapkan kalimat ini.

Rara menatap  Dewo penuh rasa. Dewo, teman  SMA adiknya  telah membidikkan cinta di jantung hati Rara tanpa ampun.  Rara sudah mati-matian  mengelak karena Dewo lebih muda darinya, tapi Dewo tak pernah patah harap. Dan akhirnya Rarapun klepek-klepek tak sanggup lagi menolak. Bahkan sekarang seperti  terkurung dalam cinta Dewo. Rara merasa benar-benar jatuh cinta lagi  tapi ia tak ingin egois, karenanya ia hanya terdiam  memandangi bintang yang seperti meredup di langit Jogja seolah tahu yang ia pikirkan .Rara ingat Uthi Padmi, Eyangnya Dewo yang berkata bahwa beliau lebih setuju  Dewo memilih Dini, gadis cantik dan pintar asal Magelang yang  dipilihnya  daripada dirinya. Rara sangat  tahu diri; ia tak muda lagi;  usianya 5 tahun lebih tua dari Dewo, menyandang status  janda dengan satu anak pula…

” Beri aku waktu .” Rara kembali berucap lirih.

Angin berhembus perlahan, malam semakin dingin seiring sekeping hati yang meragu…

 

**** Sekian dulu ****

 

Jakarta, 2 November 2012

(Pagi-pagi……. seulas senyummu kurindu ..)

 

8 Comments to "[Serial Rara] Di Jogja Bimbang itu Masih Ada"

  1. ugie  23 November, 2012 at 18:53

    @P4m: ya..yaa.. biasa , tp kadang luar biasa ..hehe , makasih ya dah mampir di sini .
    @ DA : ya ..katanya, antara lain cewek ‘dewasa’ lebih cool , gak banyak tuntutan, sudah mapan ..hahhaha , makasih ya DA
    @ Alvina : jadi ini Rara termasuk ‘cougar woman ‘ ya .., hmmm 5 th , takut jadi ganjalan , Makasih ya mbak . ..
    @ Hennie : mbak , tak kenal usia memang tapii .. nanti gimana ??? hehe , makasih ya mbak Hennie
    @ JC ; ada dulu kan Rara yg pertama : Pelangi Dalam Kenangan , dah pernah gelar di sini to ? , ini dah yg ke berapa ya.. hehe ..Maksaih pujiannya ya .
    @ Anoew : …hehe ..dapat bonus ya ? bisa-bisa aja , makasih ya mas
    @ DJ: hehe pak Dj , berarti ‘pulung ‘ untuk di sayang … makasih ya pak Dj

  2. Dj.  22 November, 2012 at 03:05

    Jadi ingat dulu punya pacar yang lebih tua.
    Enak, dimanja…. hahahahahaha…!!!
    Setelah menikah,istri 6 tahun lebih muda, taunya dimanja juga….
    Terimakasih mbak Ugie.
    Salammmanis dari Mainz.

  3. anoew  21 November, 2012 at 23:26

    ” Mau coklat hangat? ” kata Rara sambil menatap  Dewo  dengan tatapan  sayang

    lalu Dewo menjawab “aku mau susu coklat” itu baru mantepss..

    @Wik, kata siapa cowok suka cewek yang lebih tua? Apa kowe teringat cerita Sumiyatun yang priksa ASI ke dokter duli itu

  4. J C  21 November, 2012 at 21:14

    Cerpen yang apik…

    Karena ini ada tulisan [Serial Rara], berarti masih ada kelanjutannya khan?

  5. HennieTriana Oberst  21 November, 2012 at 21:00

    Kalau cinta tak ada batas usia.
    Cerita yang menarik Ugie.

  6. Alvina VB  21 November, 2012 at 20:51

    Cerita yg menarik mbak Ugie, kenyataannya memang begitu saat ini.
    Wanita yg lebih tue yg pacaran sama anak muda di sini namanya ‘cougar woman’. Kl cuma beda 5 thn sich blm apa2 di sini ada anak laki-laki yg pacarnya seumur ibunya/ lebih tua dari ibunya, dah pasti keluarganya pada protest semuanya, sampe2 ada yg dilaporin ke polisi dgn alasan pedophile …
    (Dewi, ati2 sama anak semata wayangmu jangan sampe kegeret cougar woman, he..he….)

  7. Dewi Aichi  21 November, 2012 at 17:13

    Cowo lebih suka sama cewe yang lebih tua, karena banyak alasan he he…..

  8. [email protected]  21 November, 2012 at 15:39

    Jiah… jaman sekarang…. cowo lebih muda udah biasa…
    emangnya kenapa kl cowo itu suka sama cewe yang lebih tua,….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.