Hiruk Pikuk Identitas

Juwandi Ahmad

 

Membayangkan Jaman Terlawas

Saya belum berhenti untuk belajar memahami identitas saya yang kian sulit dimengerti. Agak menyesal bahwa saya lahir dan dibesarkan dalam dunia terbaru, dan bukan pada jaman-jaman terlawas yang hanya berhubungan dengan ayah, ibu, keluarga dan sedikit tetangga. Bercinta, berburu, makan dan menggelar upacara, mengagungkan roh-roh yang bersemayam di banyak ruang. Orang-orang menyebut mereka primitif, suku terbelakang. Dan saya lebih senang menyebut mereka suku-suku asli yang dalam benak saya tidak terlalu rumit bagi mereka untuk memahami identitasnya.

 

Menaiki Anak Tangga Identitas

Sekarang lihat saya yang lahir dan dibesarkan dalam dunia terbaru: Pertama-tama, saya adalah manusia Jawa yang baru pada usia 15 tahun agak sedikit menyadari bahwa Islamlah agama saya. Belum lagi Islam dapat saya pahami dengan lebih baik dan saya kerjakan dengan lebih lurus, saya dicekoki dengan Keindonesiaan. Dan keindonesiaan belum benar-benar saya hayati, saya dikejutkan, dibombardir dengan kenyataan bahwa saya adalah Warga Dunia. Sampai di sini saya berpikir, bahwa Warga Dunia adalah akhir dari anak tangga identitas saya. Dan saya kembali mengeja: Apa itu manusia Jawa? Bagaimana menjadi seorang Muslim? Keindonesiaan, apa maknanya? Dan Warga Dunia, bagaimana pula tafsirnya? Tak seorangpun pernah mendidik saya, mengajari saya untuk memahami semua itu secara bersamaan, sebagai ajaran yang utuh. Tak saya temukan peramu identitas, yang dapat menawarkan corak yang khas yang kepadanya melekat beragam corak yang tak dapat diingkari: Ada, membawa kenyataan dan sejarahnya masing-masing.

 

Di ujung Anak Tangga

Warga Dunia adalah akhir, begitu pikirku. Dan ternyata belum. Aku tersungkur, takjub dan nyaris pingsan menyadari kenyataan bahwa aku adalah Warga Alam Semesta. Dan tiba-tiba aku merasa seorang diri, dalam kesunyian yang aneh, keharuan yang unik dan kebahagiaan tanpa sebab. Seorang diri, kesunyian, keharuan, dan kebahagiaan yang hanya dapat digambarkan dengan mimpi masa kanak-kanakku, saat berlarian di bawah senja kemerahan, di antara gemericik air dan asap putih dari daun-daun kering yang terbakar. Dan ibu memanggilku dengan panggilan yang membuatku menangis saat dikenang.

 

Menemukan Kembali Diri yang Hilang

Sejak saat itu, aku selalu ingin lenyap dari beragam identitas yang dapat menghalangi kemungkinan penemuan identitas terdalamku. Dan aku ingin meninggalkan tubuhku, dengan jiwa, diri dan ruh yang kupahami dengan caraku sendiri. Tak seeorangpun dapat mewakiliku untuk menjelaskan tentang siapa diriku, terlebih saat semua orang harus menjelaskan dirinya sendiri. Setiap orang harus menemukan kembali dirinya yang hilang, terlupakan oleh tumpukan memori dan pembentukan jiwa yang seringkali menyimpang yang kemudian bertemu dengan jiwa-jiwa lain yang juga menyimpang. Dan manusia menyaksikan perselisihan, pertentangan dan benturan yang memang harus demikian adannya: agar hidup tidak membosankan, agar kita berpikir dan Dia dapat mengumpulkan data, melakukan penilaian dan membuat kesimpulan tentang siapa di antara kita yang akan mendapat sambutan paling menyenangkan. Dan kebanyakan dari hiruk pikuk menjadi penyesalan, dan di antara kita ada yang bekata: Alangkah baiknya sekiranya dulu aku adalah tanah.

 

13 Comments to "Hiruk Pikuk Identitas"

  1. juwandi ahmad  25 November, 2012 at 20:02

    he he he…Ya…tunggu saja, tulisan lain segera menyusul.

  2. Dewi Aichi  25 November, 2012 at 19:18

    Mas Juwandi…di tunggu tulisan berikutnya ya…….di tunggu pokok e………kalau sudah pokok e…harus he he he…..

  3. juwandi ahmad  25 November, 2012 at 18:41

    Yap..! Identitas sbg wanita global yg tidak akan mau dikotak-kotak krn perbedaan agama, suku, bahasa, budaya, etc.” Saya kira demikianlah kenyataan hidup yang sesunnguhnya yang perlu dijalani yang memungkinkan kebahagiaan menyembul di banyak tempat dan ruang.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *