Monolog Dalang Kenthir (3): Babak Perang Kembang

Taufik Daryanto Jokolelono

 

[Wednesday 22nd of February 2012 12:40:36 AM]

“Ibu, temanku tadi cerita kalau ibunya selalu membiarkan tangannya sendiri digigit nyamuk sampai nyamuk itu kenyang supaya ia tak menggigit temanku. Apa ibu juga akan berbuat yang sama?”

“Tidak. Tapi, Ibu akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam supaya tidak sempat menggigit kamu atau keluarga kita.”

“Terus Bu, aku waktu itu pernah dengar cerita ada ibu yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. Kalau ibu bagaimana?”

“Ibu akan bekerja keras agar kita semua bisa makan sampai kenyang. Jadi, kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ibumu menahan lapar.”

 

[Monday 12th of March 2012 05:18:44 AM]

“Kenapa kau putuskan pacarmu? Ada masalah dengan dia?”

“Hmm. . .tak ada masalah, semua baik-baik saja. . , “

“Lalu kenapa?”

“Laut yang tenang, tanpa gelombang, tanpa angin membuat perahu terlalu damai, itu bikin ngantuk, membosankan”

 

[Thursday 29th of March 2012 04:23:53 PM]

Seorang istri polisi ngomel-ngomel di depan putrinya, “tak ada pilihan lain, pertunanganmu dengan si Roy, mahasiswa berandalan itu batal, titik!”

“Tapi kami saling cinta Ma!”

“Cinta?? Apa itu cinta? Kamu liat papamu sekarang terbaring lemah di rumah sakit gara-gara ulah pacarmu si Roy itu dan teman-temannya!”

“Mereka berhak menyampaikan aspirasi ma! Mereka meneriakkan suara rakyat”

“Omong kosong! Mereka hanya mahasiswa berandal yang kurang kerjaan! Tugas mereka belajar, bukan tawuran ama polisi! Pokoknya putuskan si Roy!”

“Tidak Ma, aku sangat mencintainya, Roy bukan mahasiswa berandal, dia cerdas dan punya idealisme!”

“Makan tuh idealisme!”

 

[Friday 30th of March 2012 09:46:29 AM]

“Interupsi pimpinan. . “

“Ya silahkan”

“Demi agar tidak menyakiti hati rakyat, maka kami dari fraksi Partai Facebook Merdeka mengusulkan, agar harga eceran BBM tidak dinaikkan, dan sebagai bentuk penghematan anggaran negara, gaji pokok dan seluruh tunjangan kita sebagai anggota Dewan dipotong 50%, diikuti pemotongan gaji dan tunjangan para pejabat tinggi negara.”

“WUUUU. . . . !”

“Bagaimana peserta sidang dan fraksi-fraksi lain? Apakah setuju?”

“TIDAK. . .SETUJUUUU!”

 

[Friday 20th of April 2012 04:53:55 PM]

“Bu, Den Roy kumat lagi, di kamar dia teriak-teriak, seperti orang kesakitan, lengannya disayat-sayat sendiri dengan silet lalu dihisap dasahnya Bu. . .” suara Bi Ijah dari ujung telepon itu tak merubah keramahan dan keanggunan Bu Marta saat menjadi pembicara pada seminar emansipasi wanita.

“Ini seminar baru mau dimulai Bi. . . , jagain aja Den Roy ya!”

SELAMAT HARI KARTINI

 

[Sunday 29th of April 2012 07:32:52 AM]

Di suatu kampung kumuh, Calon Gubernur itu melakukan dialog dengan masyarakat, dalam rangkaian kampanye pencalonannya, “Kalau saya jadi Gubernur, apa harapanmu Nak??” lirih tanya calon gubernur itu sambil memeluk erat anak seorang pemulung,

“Tidak banyak harapan saya Pak, Kalau Bapak jadi gubernur saya hanya berharap hal yang sederhana.”

“Apa itu Nak??”

“Saya ingin semua plakat bertuliskan “PEMULUNG DILARANG MASUK” di kota ini dihilangkan, bapak ibu saya itu bukan pencuri Pak…”

Sang calon Gubernur hanya diam, matanya berkaca-kaca. Sebulan kemudian pemilu gubernur berlangsung, dan dia kalah dalam penghitungan suara.

“Beliau terlalu baik untuk jadi Gubernur” celetuk seorang pemulung di warung kopi sudut pemukiman kumuh itu.

 

[Tuesday 19th of June 2012 03:14:36 AM]

Habis gelap terbitlah terang, Habis terang saatnya dandan. “Bahwa perempuan harus cantik dan pinter dandan adalah omong kosong yang disepakati banyak orang” Kata perempuan bertato itu sambil mencongkel ban, lengannya hitam berkilat.

 

[Wednesday 20th of June 2012 08:29:35 PM]

“Kita harus bergerak dan berjuang terus, menyusup masuk dalam sistem yang bobrok ini, kita akan bongkar dari dalam, banyak hal bisa kita lakukan!” menggebu-gebu aktivis mahasiswa itu berkata pada suatu diskusi.

“Sebenarnya tak perlu banyak hal yang harus kita lakukan, cukup satu saja” sahut salah satu anggota diskusi.

“Apa itu. . .”

“Ya satu saja, yaitu bertahan tetap menjadi seperti ini di sana, mengaum di kandang kerbau tentu saja bukan hal yang mudah”

 

[Wednesday 20th of June 2012 10:28:44 PM]

Pria setengah baya itu masih tampak gagah duduk di atas motor gedenya. Puluhan nama perempuan tertato rapi di sepanjang lengannya.

“Siapa saja perempuan-perempuan yang namanya ada di lengan Bapak itu?” tanya salah satu asirten barunya.

“Sebagian dr mereka adalah mantan-mantan pacarku, sebagian lagi mantan-mantan istriku, dan beberapa dari mereka hanyalah pelacur jalanan.”

“Apakah itu merupakan bukti cinta Bapak pada mereka?”

“Bukan. . . , ini hanya bukti betapa konyolnya orang yang sedang jatuh cinta.”

 

[Thursday 21st of June 2012 03:10:00 AM]

Seorang lurah yang dituduh korupsi dengann tenang keluar dari rumahnya, menemui puluhan warga yang tengah demo di halaman rumahnya, “Saya tak melakukan korupsi sedikitpun.” kata sang lurah dengan nada datar.

“Kami tidak percaya ada lurah tidak korupsi, itu tidak mungkin. Kesempatan korupsi amat terbuka, bagaimana mungkin Anda tak melakukannya?”

“Silahkan Anda buktikan tuduhan Anda itu!”

“Anda yang harus buktikan bahwa Anda tidak korupsi! Tidak mungkin pada posisi Anda yang strategis kok tidak korupsi.”

“Hmmm. . .Anda begitu yakin dan ngeyel, jangan-jangan Anda sedang mengandaikan diri Anda menjadi lurah dan ingin knrupsi?”

 

[Friday 29th of June 2012 03:05:44 AM]

“Permisi Pak. . .”

“Ga ada uang receh, udah pergi sana, masih muda udah ngemis!” sambil membetulkan posisi duduk di restoran, pria setengah baya itu berkata pada pemuda dengan baju lusuh yang menghampirinya.

“Saya bukan mau ngemis Pak, saya mau jual informasi”

“What?? Waduh. . .waduh gaya pengemis masa kini, sok-sokan jual info segala, apa yang kamu tau?”

“Emm saya akan kasih tau, tapi bapak harus membayar saya untuk itu”

“Ya udah, ntar aku kasih duit 3ribu, cepetan kasih tau, bikin penasaran aja”

“Baiklah Pak, tadi ada orang mengendarai mobil cepat sekali di depan Pak.”

“Ya biarin aja, apa urusanku, itu kan jalan raya”

“Tapi saya kenal pengendara mobil itu Pak, dan dia melemparkan duit ke saya.”

“Soal kenal apa enggak itu urusanmu, aku tak peduli, soal dia melempar duit itu soal wajar, kamu kan emang ngemis? Apa pentingnya buat ku?”

“Tapi duit yang dilempar ke saya itu banyak Pak, 300rb”

“Gila kali tuh orang ngasih pengemis duit 300rb. Udah aku tak butuh info mu, pergi sana, ini duit 3rb yang aku janjikan tadi”

Pemuda itu menerimanya, lalu ngeloyor pergi, dari dekat pintu keluar dia teriak,

“Satu lagi info dari saya Pak, yang dibawa kabur itu tadi mobil Anda”

“What?? Tunggu. . .tunggu. . . , kamu kenal pencuri itu? Tau rumahnya kan? Kasih tau aku!”

“Maaf Pak, tawaran Anda pada info yang saya jual teramat murah, hanya 1% dari uang tutup mulut yang saya terima dari pencuri itu. Jadi saya akan segera pergi sesuai permintaan Anda”

“Tolooong mobilku dicuri oraaang”

 

[Wednesday 4th of July 2012 01:56:32 AM]

“Kalian ini maunya apa??” kata pemuda itu setelah memotong jalan rombongan pengendara Motor Gedhe, seluruh rombongan berhenti. di atas motor bututnya pemuda itu berkata sambil menunjuk-nunjuk muka ketua rombongan Moge itu, “mau pamer kekayaan?? Pamer harta?? Pamer kuasa?? biar semua tau kalau kalian berduit? kampungan!!!”

Beberapa anggota rombongan mulai naik pitam dan mendekati pemuda itu, ketua rombongan mencegah dengan mengangkat tangannya.

“Apa?? Kalian mau apa?? Mau mukul aku?? Silahkan… mau bunuh aku silahkan ayo…. tak akan ada yang menangisi kematianku… ayo sini maju!!” pemuda itu kian kalap. “Kalian kira dengan keliling kota dikawal polisi itu udah gagah?? Kelihatan keren?? Enggak sama sekali, malah keliatan kampungan!! Dan kamu polisi… dibayar berapa kau?? Hanya segitukah harga seragammu itu? Bahh… dan kamu… kau ketua mereka kan? Menurutmu mereka benar-benar kawanmu?? Tidak…. sama sekali tidak… mereka hanya suka hartamu, mereka suka statusmu sebagai anak jenderal… bukan dirimu!!” Ketua rombongan diam membatu, begitu juga polisi pengawal itu, angin kering bertiup kencang debu beterbangan hingga pekat, dan pemuda itu hilang bersama debu…..

 

[Monday 23rd of July 2012 07:55:35 AM]

“Bapak tak suka wanita ya?” tanya seorang wanita cantik pada tukang kebun atasannya, dia baru saja mendapat sambutan dingin dari atasannya, padahal dia sudah datang dengann membawa banyak oleh-oleh dan berdandan sangat seksi.

“Bapak suka wanita” jawab tukang kebun itu.

“Lalu. . ?”

“Tapi Bapak tak suka penjilat”

 

[Thursday 26th of July 2012 02:52:36 AM]

“Sebenarnya Anda ini jadi ustadz itu profesi apa panggilan hati, kok pake tarif segala, ada discount kalo ngundang selain hari Sabtu Minggu?”

“Tentu saja ini adalah panggilan hati, ah. . , maafkan, itu ulah manajer saya”

“Lha yang ngangkat manajer itu siapa?”

“Ya saya”

“Kenapa pake manajer-manajer segala?”

“Ya biar profesional”

 

7 Comments to "Monolog Dalang Kenthir (3): Babak Perang Kembang"

  1. Dewi Aichi  23 November, 2012 at 01:16

    Walahhh…..ora ngenteni aku, ntar nongkrong lagi yuk….di angkringan Lik Man(BUKAN LIK MAH LHO YAAAA)……sapa tau barengan Butet atau Cak Nun di sana….

  2. juwandi ahmad  23 November, 2012 at 00:45

    ha ha ha ha ha………haduh, baru saja nongkrong, makan makan di angkringan jogja dengan penulisnya.

  3. Linda Cheang  22 November, 2012 at 18:51

    kenthir tenanan, hehehe…

  4. Dj.  22 November, 2012 at 18:31

    Hahahahahaha….
    Terimakasih sudah dihibur….
    Salam

  5. Handoko Widagdo  22 November, 2012 at 17:20

    Monorelnya kapan?

  6. J C  22 November, 2012 at 16:13

    Monolog dalang cerdas…

  7. [email protected]  22 November, 2012 at 11:50

    NYEHEHEHEHEHE….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.