[Roman Sepicis] Sang Sephia

Dian Nugraheni

 

Alena menatap lelaki di depannya dengan mata berbinar, menampakkan betapa senang hatinya. Rambutnya yang sangat lurus dan hitam, dipotong gaya bob di belakang, tapi  nampak seperti gaya Cleopatra bila dilihat dari sisi depan. Wajahnya hanya dipoles bedak warna natural, dan lipstiknya adalah warna “nude’.., hanya itu yang dikenakannya sehari-hari.

“Ayo, diminum dong kopinya, jangan malah ngeliatin aku kayak begitu…” kata Alena.

Anthoni, lelaki di depannya hanya klecam-klecem, matanya tersenyum menggoda, terus memperhatikan wajah Alena yang duduk di depannya. “Kalau sudah ketemu kamu, aku jadi nggak pengen ngapa-ngapain, cuma pengen liatin kamu aja…, habis kamu cantik, Alena…”

“Halah, kamu bisa aja, dulu waktu kita sama-sama kuliah, bahkan kamu nggak kenalin siapa aku…” sergah Alena dengan suara merajuk.

“Laaahh, ya maklum dong, kamu kan kakak angkatanku, Alena…, tapi kan sekarang lain, aku, bahkan sangat mengenalmu, dan..rasanya aku jatuh cinta padamu, Alena..”

“Hushh, jangan seenaknya bilang jatuh cinta, inget anak istrimu di Jawa, lagian kamu bilang-bilang jatuh cinta, kalau ntar aku juga jatuh cinta sama kamu, gimana coba..?” kata Alena.

“Yaa, kan nggak apa-apa kalau memang kita saling jatuh cinta…nggak ada yang nglarang kan..?” suara Anthoni, masih dengan candanya.

Sejak bertemu di situs jejaring sosial sakti bernama Facebook, akhir-akhir ini Alena sering bertemu darat dengan Anthoni, adik angkatannya dulu sewaktu kuliah. Alena adalah seorang perempuan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta ternama, sedangkan Anthoni adalah seorang Pegawai Negeri, yang kebetulan berada di sebuah kota yang sama, di Pulau Kalimantan.

***

Hari demi hari berlalu, sejak menemukan Alena, dan sering bertemu sekedar minum kopi di sebuah kafe di kota itu, suasana hidup Anthoni terasa lebih bergairah. Semangat menjulang tinggi, kinerja di kantor pun meningkat drastis. Sering kali, bahkan, Anthoni merasa tak lagi merindukan Istrinya nun jauh di sana. Sejenak pun, Anthoni bisa kehilangan bayang-bayang indah wajah kedua anaknya yang lucu dan menggemaskan.

Demikian juga dengan Alena, sejak bertemu dengan Anthoni, dia merasa bahwa hari-harinya menjadi lebih berwarna, lebih ceria.Yaa, hubungan Alena dengan suaminya sudah benar-benar kandas, karena banyak sebab.

Pada awal-awalnya, Alena suka tertawa ketika menemukan SMS dari Anthoni, “hai, Sayang…lagi di mana..? Lagi ngapain…?”

Wuiih, panggil-panggil Sayang pula dia.. Maka Alena akan menjawab, “nggak usah Sayang-Sayang, biasa aja kali..lagi kerja dong, gini hari..di mana lagi..?”

Biasanya Anthoni akan membalas, “Ngopi yuk..?”

Dan biasanya memang mereka akan bertemu untuk ngopi dan ngobrol-ngobrol. Begitu yang mereka lakukan.

“Alena, aku nggak tahan lagi deh, aku benar-benar jatuh cinta padamu..” suara Anthoni terdengar serius dan agak berat, tanpa wajah yang menampakkan muka klecam klecem atau tawa menggoda.

Alena pun terdiam, karena, tak bisa dipungkiri, bahwa dia pun merasakan sesuatu yang lain ketika bertemu dengan Anthoni. Merasa lebih gembira, ceria, nyaman, dan merasa diperhatikan. Jatuh cinta juga kah dia..?

Tapi Alena mengatakan ini, “Trus mau ngapain kalau jatuh cinta..? Jatuh cinta yang cuma kata-kata, itu nggak ada artinya buat aku. Aku ingin, jatuh cinta, dan bisa saling memiliki. Bila jatuh cinta, aku ingin selalu dekat…”

“Yaa, kita kan bisa ketemuan di sini, Alena, atau di mana pun..? Tinggal kamu dong yang bermasalah, nanti kalau suamimu tau, gimana..?”

Alena membuang muka, menatap jauh di luar jendela kafe. Lalu lalang kendaraan ramai siang ini, di luar, udara siang sangat panas…”Nggak tau lah..malas aku bicara ini…”

“Oke.., kita cari jalan agar kita bisa selalu bersama ya..?” kata Anthoni.

Alena menatap Anthoni, “Nggak usah mengada-ada ah, juga nggak usah janji-janji, kamu cuma bikin aku sedih saja..”

Ketika berkata demikian, Alena menatap Anthoni yang sedang menatap handphonenya, ada suara “ting” yang menandakan sebuah pesan masuk, dan Anthoni mengabaikan apa yang dikatakan Alena, karena dia sedang asyik mengetik kalimat balasan di handphonenya, “Istrimu, bukan..? Ngecek..di mana..sama siapa..? Ha..ha..ha….” Alena ketawa. tapi sebenarnya, Alena mulai merasa cemburu.

***

Tak terasa, pertemuan-pertemuan kecil minum kopi antara Alena dan Anthoni telah berjalan lebih dari satu tahun. Hingga suatu hari, “ke pantai yuk..?” begitu SMS yang diterima Alena siang itu dari Anthoni.

Dibalasnya, “Kapan..? Sekarang..? No way lah, aku sibuk…”

Kemudian, “Cari waktu, Alena..please…”

Dan di sebuah siang yang panas, Alena bersama Anthoni jalan-jalan bergandengan tangan di pantai di kota itu, mereka layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabok cinta. Meski mereka tak lagi muda, usia Alena menjelang kepala empat, sedangkan Anthoni, dua tahun lebih muda dari Alena.

Sesekali mereka berteriak, bercanda-canda, dan untuk pertama kalinya, Anthoni berhasil mendekap Alena, memeluknya seerat-eratnya, menciuminya bertubi-tubi. Alena pun tak menolak. Jalan-jalan ke pantai ini berakhir di sebuah bungalow di sekitar pantai.

***

Kini, pertemuan Alena dan Anthoni tak lagi hanya di kafe untuk ngopi, tapi lebih dari itu, mereka telah menemukan tempat bertemu yang lebih menyita waktu dan perasaan. Dan, siang ini pun mereka sepakat untuk bertemu di pantai yang biasa mereka kunjungi. Alena mengemudikan sedan merahnya menuju lokasi itu, ketika tiba-tiba diterimanya sebuah pesan, “Alena, kita batal bertemu kali ini, kamu tau nggak, tiba-tiba istriku bilang, dia sudah di Bandara sini, aku harus jemput dia..”

Alena marah dan kecewa, SMS tidak dibalasnya, tapi langsung dihubunginya Anthoni. Berkali-kali dicobanya, tak diangkat oleh Anthoni.

***

Seminggu kemudian, baru Anthoni menghubunginya, hanya lewat SMS. “Istriku sudah balik ke Jawa..ketemu yuk..?”

Alena pun langsung membalas, “Oke..”

Ketika mereka bertemu, “Kita putus aja yaa, aku nggak mau dijadiin ban serep begini. Kamu bilang cinta, tapi nggak ada realisasinya. Sudahlah, kamu lebih baik balik sama istrimu…Kamu bilang, banyak masalah, nggak suka lagi sama istrimu, tapi begitu istrimu datang, kamu jadi mati kutu begitu…

“Alenaaa..sabar dong Sayang…”

“Nggak ah, aku sudah nggak bisa sabar lagi.., aku nggak mau sakit hati lagi, janji-janjimu cuma pepesan kosong doang… Aku harus pergi…, satu yang kamu harus tau, aku pun sudah sangat jatuh cinta padamu, dan aku sudah pernah bilang, kalau aku jatuh cinta, aku ingin selalu dekat, aku nggak mau lagi diganggu dengan alasan apa pun, istrimu datang lah, ini lah, itu lah. Liat aku..? Aku ambil resiko seratus persen..!”

“Yaa, kan lain Alena, kamu memang punya rencana cerai dengan suamimu..”

“Ohh, jadi begitu yaa, berarti benar kan, selama ini aku cuma kamu jadikan pelabuhan sementara, ketika kamu jauh dengan keluargamu, ketika mereka dekat denganmu, mungkin kamu nggak akan kenali aku lagi..

“Please, Alenaaa..beri aku waktu…”

“No way, Anthoni, aku kira, ketika aku menemukan kamu, aku akan benar-benar mendapatkan cinta yang sesungguhnya, ternyata, aku keliru, laki-laki di mana-mana sama saja…” Berkata begitu, Alena meneguk sedikit kopi dari cangkirnya, dan menyambar kunci kontak yang sedari tadi diletakkannya di meja…

“Alena..Alenaa..!!” seru Anthoni. Alena berlalu dengan langkah tegapnya, tanpa menoleh lagi. Sekilas dia membodoh-bodohkan dirinya sendiri. Sebagai perempuan intelek, dia sebenarnya sudah harus tau resiko apa yang akan didapatnya dalam hubungan seperti ini, tapi Alena pun tak sanggup menahan rasa cinta yang bersemi di dalam dirinya. Yaa, Alena menganggap dirinya benar-benar bodoh, mau-maunya sakit hati, cemburu, terhadap sesuatu yang tidak pasti.

***

Alena menyusun rencana matang, disewanya Lawyer terkenal untuk memproses perceraiannya dengan suaminya, kemudian dia mengajukan surat pengunduran dirinya dari perusahaan di mana dia bekerja, “Saya pengen pulang ke Jawa, Pak..” Begitu jawab Alena ketika ditanya langsung oleh atasannya, mengapa dia mengundurkan diri. Maka dengan cepat, atasannya berkata, “Alena, kamu salah satu karyawan andalan kami, kami akan sangat rugi bila melepasmu begitu saja, kebetulan di kantor pusat sedang ada satu posisi yang cocok buatmu, kalau kamu mau, nanti aku rekomendasikan ke pimpinan di Jakarta..”

Alena tak lagi menolak dua kali, dia langsung menyanggupinya untuk tidak mengundurkan diri, tapi hanya pindah ke Jakarta.

Kemudian Alena mencetak semua SMS mesra dengan kata-kata yang semestinya, sangat rahasia hanya bagi Alena dan Anthoni, yang pernah dikirim Anthoni padanya selama lebih dari setahun selama mereka berhubungan. Tak lupa, Alena juga mencetak foto-foto mesranya ketika berduaan dengan Anthoni.

***

Hari ini, Alena mengemudikan mobilnya menuju rumah Linda, sahabatnya di kota itu, berama anak semata wayangnya, Gendis, yang berusia sepuluh tahun. Pada anaknya itu, Alena sudah menerangkan beberapa hal, bahwa, “Kita akan pindah ke Jawa, Sayang… Mamah dipindah ke kantor Jakarta. Nanti Gendis akan lebih senang, karena Eyang kan ada di Jogja, kita akan lebih sering ketemu Eyang, Tante, Bude, dan sepupu-sepupumu..Ya…?”

“Mobil ini sudah dibeli tante Linda, dan Tante Linda sudah berbaik hati mau kirimkan barang-barang kita ini ke Jakarta, kita bawa baju secukupnya saja…”

***

Pada hari yang telah ditentukan, Alena dan Gendis, anaknya, terbang menuju Jakarta.

Hari itu, Alena akan tau, bahwa bom waktu yang dipasangnya, akan meledak pada detik-detik yang sudah diaturnya.

Parcel berisi foto-foto mesra dan semua SMS Anthoni kepadanya yang sudah tercetak, akan segera sampai di tangan istri Anthoni, juga akan sampai ke tangan Pimpinan di mana Anthoni bekerja sebagai Pegawai Negeri.  Tak lupa, beberapa foto yang sudah dicetaknya pada kertas, akan sampai di tangan teman-teman sejawat di kantor Anthoni.

Alena sudah siap dengan segala hal…Dan kali ini dia berjanji dalam hatinya, “Aku harus meninggalkan semua ini, aku akan memulai hidup baru, aku akan membersihkan hidupku, dan aku akan hidup untuk anakku…”

 

(*) Judul ini diilhami oleh sebuah judul lagu, Sephia, milik Sheila on 7

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Rabu, 6 September 2012, jam 11.14 malam

(Sunyi sesunyi-sunyinya..kmana suara jangkrik yang biasa mengerik di malam hari..?)

 

8 Comments to "[Roman Sepicis] Sang Sephia"

  1. Dian Nugraheni  24 November, 2012 at 01:50

    Teman-teman, note ini adalah note dadakan, ketika seorang teman FB, laki2, menceritakan apa yang sedang dilakukannya…bagi dia mungkin semacam curhat, dan bagi saya, masih oke-oke saja dicurhatin, cuma pikiran “kreatif” saya langsung muncul untuk menjadikannya sebuah cerpen.

    Karena bikinnya dadakan, mau safe draft ternyata kepencet publish, sudah langsung dikomenin sama teman2 di FB, jadi belum sempet sampai mendalam…ha2..seperti yang diharapkan, terutama,oleh Anoew…

    Makasih banyak semua komennya…jangan lupa, perempuan akan bisa bertindak apa pun kalau sudah mangkel tenan…ha2…hayy…hayyyy….

  2. anoew  23 November, 2012 at 17:36

    Tragis. Cerdas dan berani dengan keputusan yang diambil Alena, sekaligus bom kentut bagi si Anton. Porak poranda sudah.

  3. anoew  23 November, 2012 at 17:35

    Anthoni berhasil mendekap Alena, memeluknya seerat-eratnya, menciuminya bertubi-tubi. Alena pun tak menolak. Jalan-jalan ke pantai ini berakhir di sebuah bungalow

    Iya, kuciwa. Lha kok setelah mencium bertubi-tubi, mendekap dengan brutal, menarik-narik dan, menggendong ke bungalow kok, gk diterusin lagi..

    Di, kalau makan Davos jangan separo-separo ah, tanggung pedese.

  4. juwandi ahmad  23 November, 2012 at 00:43

    he he he…..ikut coment mas Josc aja…….

  5. J C  22 November, 2012 at 16:31

    Waduh, waduh, waduh…

    Fatal Attraction, Nine and a Half Week dan Basic Instinct versi lokal…

    Sesekali mereka berteriak, bercanda-canda, dan untuk pertama kalinya, Anthoni berhasil mendekap Alena, memeluknya seerat-eratnya, menciuminya bertubi-tubi. Alena pun tak menolak. Jalan-jalan ke pantai ini berakhir di sebuah bungalow di sekitar pantai.

    Kang Anoew pasti kuciwa tidak ada detail adegan ini…

  6. Esti Yoeswoadi  22 November, 2012 at 15:32

    endingnya? Hmm mikir dong kita pembacanya ^o^

  7. Linda Cheang  22 November, 2012 at 15:30

    Cinta yang membutakan mata hati, ckckck…

  8. [email protected]  22 November, 2012 at 11:34

    jadi….. cinta itu emang buta….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.