Ini Bukan Cerita Fiksi

Ayu Sundari Lestari

 

Dia, sudah membuka usaha kecil-kecilan di rumahnya. Ya, sebuah kedai yang sederhana dibangun dengan tujuan untuk membantu perekonomian keluarga. Sebagai ibu rumah tangga biasa, yang mengatur segala biaya hidup, haruslah pandai-pandai menggunakan uang gaji suami yang pas-pasan.

Ya, dia mampu menyekolahkan anak-anaknya dari hasil usahanya itu. Bahkan, salah satu anaknya telah duduk di perguruan tinggi yang tentunya memerlukkan biaya yang banyak.

Hingga sampai tadi sore sederit kabar mencuat. Dia tertimpah musibah. Ya, seorang lelaki yang setengah baya menipu mentah dirinya. Lelaki itu, datang ke kedai dia, sebagai seorang sales. Lelaki tersebut menawarkan setumpuk mimpi kepada dia. Dan dia pun tenggelam dalam mimpi semu itu.

“Bu, saya dari perusahan produk. Ibu, nantinya bisa menjual barang-barang dengan harga murah. Misalnya, bedak ini modalnya hanya lima ribu, terus sampoh botol ini seribu lima ratus. Ibu bisa membuka grosir di sini. Saya akan memasukkan barang dulu di sini. Ntar, tiap dua minggu datang saya ke sini, memasukkan barang dan mengutip uangnya. Ibu hanya membayar barang yang laku saja.”

Lelaki itu terus berceloteh menyematkan mimpi padanya. Dia, semakin terhanyut.

“Tapi, syaratnya ibu harus menjadi anggota dan membeli barang-barang ini (bedak, shampoo, dan handbody yang terbungkus dalam kardus yang besar) sebagai pembukaan. Besok saya datang lagi memasukkan barang yang lain.”

“Nanti, perusahaan kami juga akan memberi kulkas khusus minuman botol untuk ibu.” tambahnya.

Dan akhirnya, dia membeli barang-barang itu dengan harga enamratus ribu. Berhubung, dia hanya memiliki uang tigaratus delapanpuluh ribu. Maka dia hanya membayar segitu saja.

Hingga sore tadi, saat anaknya pulang kuliah, dia menceritakannya pada anaknya. Anaknya tidak percaya. Mereka pun, membongkar barang-barang tersebut. Dan ternyata, isi shampoo yang bermacam merek terkenal itu adalah air. Sedangkan bedak yang juga bermacam merek terkenal berisi tepung.

Dia adalah mamak saya sendiri.

# Saya hanya berbagi pengalaman kepada teman-teman agar terhindar dari modus penipuan semacam ini. Ya, satu pelajaran yang sangat berharga bahwa ketika kita hendak membeli suatu produk hendaklah kita periksa sedetil mungkin dan jangan terlalu percaya kapada orang asing. Terutama kepada orang yang datang ke rumah dengan modus apa pun. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan uang. Maka, jelas itu pasti akan merugikan.

 

Saya sekeluarga ikhlas dengan musibah yang menimpa kami. Dan semoga orang tersebut diampuni dosanya oleh Allah SWT. Amien….

 

14 Comments to "Ini Bukan Cerita Fiksi"

  1. Linda Cheang  28 November, 2012 at 08:16

    maka jangan sampai terbuai mimpi…

  2. ah  28 November, 2012 at 08:01

    pak han : teman menipu teman aja banyak hehe..

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  26 November, 2012 at 18:09

    Ooh begitu..

  4. Yuli Duryat  26 November, 2012 at 17:28

    Lah kok linknya kebawa di komen hehe….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.